Masuk“Bu Aluna…”Aluna menoleh, lalu mengernyitkan dahinya saat melihat sosok wanita yang kini berdiri tepat di samping mejanya. Wanita itu berpenampilan rapi dengan celana kain gelap dan kemeja formal berwarna merah muda khas pakaian kerja kantoran.Wajah wanita itu terasa sangat tidak asing bagi Aluna, tetapi dalam kondisi pikirannya yang sedang kacau, ia sama sekali tidak bisa mengingat siapa namanya.“Maaf, siapa, ya?” tanya Aluna ragu sembari mengusap pelan sisa air mata di sudut matanya.“Saya Citra, Bu. Asisten Manajer Keuangan di perusahaan keluarga Bu Aluna,” jawabnya. Wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang teramat sopan dan segan.“Oh…” Aluna mengangguk lambat, sambil mencoba mengingat staff di divisi keuangan.“Maaf sebelumnya, Bu. Boleh saya ikut bergabung duduk di sini bersama Bu Aluna?” tanya Citra lagi.Nada suaranya terdengar sangat ragu-ragu dan canggung. Ia tahu betul tindakan mendadaknya ini mungkin terkesan kurang ajar atau lancang. Namun rahasia besar yan
Aluna mengemudikan mobilnya tanpa arah. Untuk pulang ke rumah pun rasanya enggan, karena pikirannya saat ini masih kusut. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan mengendarai mobil putih kesayangan itu membelah jalanan kota Jakarta, walau dirinya sendiri sama sekali tidak punya tujuan yang pasti.Di telinganya suara bentakan keras dari Ragil dan untaian kalimat provokasi beracun dari Anggun masih saja berdenging kencang, seolah-olah kedua orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Hal ini terus-menerus menyiksa batinnya.“Dia pantas, Luna! Aku yang lebih tahu dia seperti apa! Aku yang tahu kemampuan dia!”“Pak Ragil benar-benar pria yang sangat menepati ucapannya jika menyangkut kenyamanan saya…”“Aku yakin kalian berdua punya hubungan istimewa. Kamu tidak mungkin membelanya segila itu jika dia hanya sebatas sekretaris biasa!” Aluna bermonolog lirih dengan suaranya tercekat di tenggorokan.Kedua tangan Aluna menggenggam erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah canti
“Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk
“Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti
Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki
Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa
“Kamu mau cerita apa?” tanya Ririn.Netranya memancarkan rasa penasaran yang besar. Ia meletakkan garpunya, dan bersiap mendengarkan keluh kesah sahabatnya.“Hmmm…”Aluna kembali terdiam, menimbang-nimbang apakah dirinya harus bercerita atau tidak. Di satu sisi ia butuh validasi atas ketakutannya.
“Bagaimana Ayah bisa tahu?”Pak Beni hanya diam. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya. Wajah paruh bayanya yang terukir ketenangan itu justru menjadi teka-teki yang paling menakutkan bagi Aluna. Dalam diamnya sang ayah, Aluna sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang b
Aluna menatap potongan cake cokelat di depannya, lalu beralih menatap jemari Dirga yang masih bertengger hangat di bahunya. Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Aluna langsung menyadari sesuatu.Aroma parfum maskulin Dirga yang begitu dekat dengannya, sentuhan lembut pria itu di bah
"Ih, apa sih, Kak. Nggak ditelantarkan juga kali, ini kan kemauanku sendiri," sahut Aluna, mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda yang dipaksakan."Iya, iya, percaya," goda Dirga lembut.Ia kemudian melambaikan tangan ke arah pelayan kafe, memesan secangkir Americano dingin untuk dirinya s







