Share

Bab 3

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-04-16 12:58:46

Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja.

Keheningan melanda tanpa ada seorangpun yang ingin berbicara duluan. Aluna masih dengan wajah tenang duduk di samping Ragil. Sedang pria itu masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang dilakukannya Aluna pun tidak ingin tahu. Dirga yang duduk di seberang mereka merasa kikuk. Apalagi saat dirinya beradu tatap dengan Aluna ketika baru saja memasuki ruangan. Tatapan tajam dan kekecewaan yang Dirga tangkap dari sorot mata itu.

“Maaf maaf, tadi ada yang harus aku selesaikan dulu.” Suara Ragil memecah keheningan yang sudah terjadi hampir selama lima menit itu.

Ragil yang baru menyadari atau pura-pura menyadari ketegangan yang terjadi mencoba untuk mencairkan suasana.

“Kita makan dulu saja. Takutnya nanti dingin dan jadi tidak enak. Aku sering makan di restoran ini kalau menjamu klien dari luar. Kalian pasti suka.”

Ragil kemudian menatap ke arah Dirga yang masih tetap diam. “Ga, ayo makan. Aku yakin kamu pasti tidak pernah makan di tempat mewah dan private seperti ini.”

Aluna langsung menoleh, menatap suaminya yang masih bisa bersikap santai setelah merendahkan seseorang.

“Mas…” tegur Aluna dengan sorot mata yang tajam.

“Kenapa?” tanyanya.

Aluna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah bagaimana bisa Ragil berkata demikian kepada sahabatnya sendiri.

“Sudah sudah. Kita makan saja.” Dirga dengan cepat mencoba melerai pertikaian yang hampir terjadi.

Aluna mengembalikan pandangannya ke depan, menatap sungkan ke arah Dirga atas perkataan sang suami yang mungkin menyinggung. Dirga yang bisa membca sorot mata itu hanya mengangguk tipis. Dirinya sangat tahu bagaimana angkuhnya pria yang menjadi sahabatnya itu.

Keheningan yang sempat melanda kini berganti dengan suara piring dan sendok yang saling beradu. Sesekali Ragil menanyakan tentang pekerjaan Dirga yang bekerja di gudang plastik itu. Aluna tidak ikut dalam percakapan. Dirinya hanya mendengarkan sambil terus menyuapkan makanan miliknya hingga tak bersisa.

“Oke, kita langsung ke tujuan pertemuan ini,” kata Ragil saat ketiganya telah selesai menyantap makan malam mereka.

“Ga, seperti yang aku bilang sebelumnya dan kamu setujui, aku minta kerja sama kita ini segera dilaksanakan. Aluna juga menuju hari suburnya.”

“Kapan aku menyetujuinya?” tanya Dirga dengan nada bingung.

“Kemarin kamu setuju. Aku bahkan sudah mentransfer dua ratus juta itu ke rekeningmu,” jawab Ragil.

“Aku tidak menyetujuinya. Kamu saja yang langsung kirim uang itu ke rekeningku,” kilah Dirga.

“Aku kemarin sudah bilang, aku butuh pendapat Aluna tentang hal ini,” lanjutnya.

“Aku menolak.” Dengan suara yang pelan namun tegas Aluna menjawab.

“Sayang…”

“Kamu pikir aku perempuan apa, Mas? Aku seperti perempuan pelacur yang sedang dijajakan mucikari pada pria hidung belang.”

“Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Sayang,” protes Ragil.

“Lalu ini apa? Kamu memberikan uang yang sangat banyak sama Kak Dirga untuk menyetubuhiku. Gila! Ini gila, Mas!” pekik Aluna.

“Cuma ini satu-satunya cara biar papa kamu tetap memberikan warisannya pada kita, Luna!” balas Ragil dengan suara yang tak kalah besar dari Aluna. Beruntung saat ini mereka sedang berada di ruangan private yang kedap suara, sehingga suara mereka tidak sampai menembus keluar.

Aluna menarik napasnya panjang, mencoba mengurai emosi yang menyesakkan dadanya.

Kali ini Aluna kembali bersuara namun dengan suara yang pelan. “Kenapa kamu hanya berfokus dengan harta aja sih, Mas. Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja hidup tanpa bayang-bayang harta dari papaku. Kita bisa buka usaha dimulai dari awal.”

“Sudah ku katakan kalau aku tidak bisa!” sembur Ragil.

“Tapi aku bukan wanita murahan dan hina seperti itu, Mas,” balas Aluna dengan suara yang kembali besar.

“Kamu lupa, bahkan kamu sudah tidak perawan saat pertama kali aku menyentuhmu?”

Ucapan itu membuat tubuh Aluna menegang seketika. Ia benar-benar tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari bibir suaminya. Bahkan harus ada orang lain disana yang ikut mendengarnya. Aib yang harusnya tertutup rapat, kini diketahui oleh mantan kakak kelasnya. Benar-benar memalukan, pikir Aluna.

“Ragil!” tegur Dirga. Pria itu sendiri tidak menyangka jika Ragil harus berkata demikian yang pastinya menyakiti hati Aluna.

“Sorry kalau kamu jadi harus mendengar ini, Ga,” ujar Ragil.

Dirga menggelengkan kuat kepalanya. “Bukan padaku, tapi istrimu!”

Hati Aluna kini berasa dihancurkan berkeping-keping oleh sosok yang dianggapnya suami itu.

Ragil kini kembali menatap ke arah istrinya yang mengalihkan pandangannya ke samping dan membelakanginya.

“Setidaknya untuk itu… aku mohon lakukan seperti ucapanku. Lakukan dengan Dirga. Kamu hamil, warisan kamu tetap aman, dan anak itu akan kita besarkan bersama.”

Tanpa menunggu jawaban dari Aluna, Ragil segera berdiri meninggalkan keduanya di ruangan itu. Barulah setelah pintu tertutup, suara isak tangis terdengar dari bibir Aluna.

“Maaf Kakak harus mendengarnya,” ucap Aluna ditengah tangisnya.

“Tidak perlu minta maaf. Bukan salah kamu, Al. Kamu jangan memikirkan itu. Aku tidak akan berpikir buruk tentangmu, dan aku juga tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Kamu tenanglah,” ujar Dirga yang entah bagaimana terasa menenangkan di hati Aluna. Wanita itu bahkan semakin kencang menangisnya tanpa perlu merasa malu pada Dirga.

Dirga yang duduk diseberangnya mulai gelisah. Ingin rasanya ia rengkuh tubuh itu dalam dekapannya dan menenangkannya. Tapi tentu saja tidak bisa ia lakukan.

Aluna menumpahkan semua rasa yang sudah dirinya tahan sejak kemarin.

“Bahkan aku juga bukan yang pertama baginya. Lalu kenapa dia hanya melihat kesalahanku saja,” cecar Aluna.

Dirga hanya diam tanpa ingin menanggapi ataupun menyela. Ia benar-benar memberikan waktu untuk Aluna menumpahkan semuanya. Namun tak lama Aluna menoleh, menatapnya dengan tatapan tajam.

“Kak Dirga menyetujui ide gila ini?”

Dirga menggeleng kuat. “Aku tidak pernah setuju.”

“Tapi Kakak menerima uangnya,”balas Aluna.

“Dia sendiri yang mengirimkan, padahal aku tidak menyetujuinya,” belanya.

“Kamu tidak perlu khawatir, Al. Aku bukan pria seperti itu. Walaupun saat ini aku membutuhkan banyak uang untuk biaya Bibiku berobat dan sekolah adikku, aku tidak akan menerima tawaran suamimu. Aku akan mengembalikan uangnya!”

Aluna hanya diam. Namun dari sorot mata Dirga, dirinya bisa melihat kesungguhan pria itu untuk menolak ide tergila yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 116

    “Aluna baru pulang dari rumah sakit, dan… dia keguguran.”Bak tersambar petir, tubuh Dirga menegang saat mendengar ucapan Pak Beni. Tubuhnya ia majukan ke depan, memastikan pendengarannya tidak salah.“Maaf, Pak. Sepertinya saya ada salah dengar tadi,” katanya dengan raut wajah yang bingung.“Tidak! Apa yang barusan kamu dengar itu nyata. Aluna keguguran,” kata Pak Beni dengan nada berat.Kepala Dirga mendadak terasa berat, tubuhnya limbung hingga bersandar pada sandaran sofa. Napasnya memburu, terasa sesak dan mencekik di tenggorokan. Seluruh dunianya seakan runtuh dalam sekejap mata. Kenyataan pahit ini terlalu mendadak, menghantam pertahanan dirinya hingga hancur berkeping-keping. Calon buah hati yang selama ini ia nantikan, kini telah tiada sebelum sempat ia timang.“Nggak… nggak mungkin,” bisik Dirga dengan suara bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dirga segera menegakkan tubuhnya kembali. Rasa syok yang tadinya melumpuhkan, kini berubah menjadi keputusasaan y

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 115

    “Laki-laki, Tuan. Katanya namanya Dirga”Aluna menegang seketika saat mendengar nama yang disebut oleh Tini.“Ngapain dia kesini?” bisik Aluna dengan gelisah.Dengan gerakan takut wanita itu melirik ke arah sang ayah, memperhatikan perubahan wajah pria tua itu yang kini tengah menegang.“Suruh dia tunggu di bawah!”“Yah…” cicit Aluna.“Kamu tunggu di kamar!” Nada suara Pak Beni terdengar tidak ingin dibantah, hingga membuat Aluna tidak berani untuk membantah.Pria tua itu melangkah keluar dari kamar Aluna, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah tegas. Setiap pijakannya di anak tangga terdengar menggema, memecah keheningan rumah.Dirga langsung berdiri begitu melihat Pak Beni berjalan mendekat.“Siang, Pak,” sapanya, berusaha tetap tenang. Tidak ada raut gugup yang ia tunjukkan, meskipun detak jantungnya kini berpacu cepat karena tidak menyangka Pak Beni berada di rumah.“Siang. Silakan duduk,” balas Pak Beni datar.Dirga kembali duduk setelah pria tua itu mengambil posisi di hadapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 114

    Aluna kini sudah pulang ke rumah setelah dirinya memaksa untuk pulang setelah satu malam harus menginap di rumah sakit. Ragil masih tidak diperbolehkan untuk melihat dirinya maupun mendekatinya.“Jangan pernah biarkan pria itu masuk ke dalam rumah ini!” kata Aluna pada seluruh pekerja yang ada di rumah ayahnya itu.Seluruh pekerja, mulai dari asisten rumah tangga hingga para satpam hanya bisa mengangguk patuh. Namun setelah Aluna pergi, bisik-bisik mereka mulai terdengar.“Ada apa ya, kira-kira?”“Sepertinya mereka lagi berantem hebat.”“Tapi terakhir Non Aluna pulang itu mukanya udah kusut banget. Kayak habis nangis.”“Apa Tuan Ragil selingkuh, ya? Karena kepikiran terus syok, makanya Non Aluna jadi keguguran.”“Bodoh banget Tuan Ragil, spek bidadari seperti Non Aluna dibuang gitu aja. Nyari apaan lagi di luar.”Desas-desus itu hanya terus berkembang di rumah tanpa Aluna ingin ikut di dalamnya. Wanita itu hanya larut dalam rasa kehilangannya. Bahkan ponselnya pun turut ia matikan, me

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 113

    “Ini gimana, pakai nelpon segala,” gumam Ragil panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menyugar rambutnya kasar. Ia tiba-tiba bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Aluna pada sang mertua.“Ah udahlah, nanti aja,” putusnya lalu melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi untuk mengurus kamar perawatan Aluna.Tiba di bagian pengurusan kamar, ponsel miliknya kembali berdering dan kembali nama sang mertua muncul pada layar.“Ini ngapain masih nelpon lagi sih,” gerutu pria itu.Ponsel yang terus berdering itu membuat dirinya semakin panik hingga susah fokus.“Tanda tangan saja kalau tidak, Pak. Biar untuk data-data Ibu nanti saya yang isi,” ucap petugas yang menyadari kepanikan Ragil. Petugas itu tentu saja mengira jika kondisi Ragil saat ini diakibatkan karena sang istri yang tengah berada di IGD.Tanpa menjawab, Ragil mengikuti instruksi sang petugas.“Terima kasih,” ucapnya. Pria itu kemudian langsung beranjak dari meja petugas, berjalan kembali ke arah IGD.Namun

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 112

    Suara derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Langkah itu berhenti tepat di depan Mbak Sri yang sedang menundukkan kepala.“Mbak, di mana Aluna?”Suara pria yang penuh kepanikan itu terdengar jelas di telinga Mbak Sri. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Ragil dengan raut gelisah.“Tuan… Non Aluna masih di dalam. Masih ditangani sama dokter,” jelasnya dengan suara bergetar.Ragil menatap ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Ia menyugar kasar rambutnya ke belakang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, berbaur dengan perasaan bersalah yang begitu besar.“Semoga kamu enggak apa-apa, Lun,” bisiknya dalam hati.Detik berganti menit, suasana lorong terasa makin mencekam bagi Ragil. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, mengabaikan tatapan iba dari Mbak Sri. Setiap tarikan napasnya terasa berat, dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan hal terburuk.Klek.Suara engsel pintu terbuka memecah keheningan. Seorang dokter wanita paruh baya melangka

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 111

    Matahari sudah condong ke barat saat Dirga tiba di kediaman Aluna. Ia sengaja menunda perjalanan pulang demi membiarkan gemuruh di dada wanita itu mereda. Aluna turun perlahan dari boncengan. Wajah sembabnya tak mampu menyembunyikan kesedihan, sementara sisa tangis masih sesekali terdengar dari napasnya yang berat.“Terima kasih, Kak,” katanya pelan saat baru saja turun dan langsung berdiri di depan Dirga.“Sama-sama, Al. Kamu udah oke?” tanya pria itu yang masih mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.Wanita itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, Kak,” katanya pelan.“Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mau mengantarku pulang,” tambahnya dengan senyum yang dipaksakan.Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia mulai melangkah naik ke atas teras, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendorong pelan pintu besar bercat putih itu.Dirga masih belum beranjak dari tempatnya, memandang

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 5

    Malam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi ya

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 4

    Aluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya. “Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna. Tak lama taksi

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 2

    Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum j

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 1

    “Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status