LOGINRagil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja.
Keheningan melanda tanpa ada seorangpun yang ingin berbicara duluan. Aluna masih dengan wajah tenang duduk di samping Ragil. Sedang pria itu masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang dilakukannya Aluna pun tidak ingin tahu. Dirga yang duduk di seberang mereka merasa kikuk. Apalagi saat dirinya beradu tatap dengan Aluna ketika baru saja memasuki ruangan. Tatapan tajam dan kekecewaan yang Dirga tangkap dari sorot mata itu. “Maaf maaf, tadi ada yang harus aku selesaikan dulu.” Suara Ragil memecah keheningan yang sudah terjadi hampir selama lima menit itu. Ragil yang baru menyadari atau pura-pura menyadari ketegangan yang terjadi mencoba untuk mencairkan suasana. “Kita makan dulu saja. Takutnya nanti dingin dan jadi tidak enak. Aku sering makan di restoran ini kalau menjamu klien dari luar. Kalian pasti suka.” Ragil kemudian menatap ke arah Dirga yang masih tetap diam. “Ga, ayo makan. Aku yakin kamu pasti tidak pernah makan di tempat mewah dan private seperti ini.” Aluna langsung menoleh, menatap suaminya yang masih bisa bersikap santai setelah merendahkan seseorang. “Mas…” tegur Aluna dengan sorot mata yang tajam. “Kenapa?” tanyanya. Aluna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah bagaimana bisa Ragil berkata demikian kepada sahabatnya sendiri. “Sudah sudah. Kita makan saja.” Dirga dengan cepat mencoba melerai pertikaian yang hampir terjadi. Aluna mengembalikan pandangannya ke depan, menatap sungkan ke arah Dirga atas perkataan sang suami yang mungkin menyinggung. Dirga yang bisa membca sorot mata itu hanya mengangguk tipis. Dirinya sangat tahu bagaimana angkuhnya pria yang menjadi sahabatnya itu. Keheningan yang sempat melanda kini berganti dengan suara piring dan sendok yang saling beradu. Sesekali Ragil menanyakan tentang pekerjaan Dirga yang bekerja di gudang plastik itu. Aluna tidak ikut dalam percakapan. Dirinya hanya mendengarkan sambil terus menyuapkan makanan miliknya hingga tak bersisa. “Oke, kita langsung ke tujuan pertemuan ini,” kata Ragil saat ketiganya telah selesai menyantap makan malam mereka. “Ga, seperti yang aku bilang sebelumnya dan kamu setujui, aku minta kerja sama kita ini segera dilaksanakan. Aluna juga menuju hari suburnya.” “Kapan aku menyetujuinya?” tanya Dirga dengan nada bingung. “Kemarin kamu setuju. Aku bahkan sudah mentransfer dua ratus juta itu ke rekeningmu,” jawab Ragil. “Aku tidak menyetujuinya. Kamu saja yang langsung kirim uang itu ke rekeningku,” kilah Dirga. “Aku kemarin sudah bilang, aku butuh pendapat Aluna tentang hal ini,” lanjutnya. “Aku menolak.” Dengan suara yang pelan namun tegas Aluna menjawab. “Sayang…” “Kamu pikir aku perempuan apa, Mas? Aku seperti perempuan pelacur yang sedang dijajakan mucikari pada pria hidung belang.” “Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Sayang,” protes Ragil. “Lalu ini apa? Kamu memberikan uang yang sangat banyak sama Kak Dirga untuk menyetubuhiku. Gila! Ini gila, Mas!” pekik Aluna. “Cuma ini satu-satunya cara biar papa kamu tetap memberikan warisannya pada kita, Luna!” balas Ragil dengan suara yang tak kalah besar dari Aluna. Beruntung saat ini mereka sedang berada di ruangan private yang kedap suara, sehingga suara mereka tidak sampai menembus keluar. Aluna menarik napasnya panjang, mencoba mengurai emosi yang menyesakkan dadanya. Kali ini Aluna kembali bersuara namun dengan suara yang pelan. “Kenapa kamu hanya berfokus dengan harta aja sih, Mas. Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja hidup tanpa bayang-bayang harta dari papaku. Kita bisa buka usaha dimulai dari awal.” “Sudah ku katakan kalau aku tidak bisa!” sembur Ragil. “Tapi aku bukan wanita murahan dan hina seperti itu, Mas,” balas Aluna dengan suara yang kembali besar. “Kamu lupa, bahkan kamu sudah tidak perawan saat pertama kali aku menyentuhmu?” Ucapan itu membuat tubuh Aluna menegang seketika. Ia benar-benar tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari bibir suaminya. Bahkan harus ada orang lain disana yang ikut mendengarnya. Aib yang harusnya tertutup rapat, kini diketahui oleh mantan kakak kelasnya. Benar-benar memalukan, pikir Aluna. “Ragil!” tegur Dirga. Pria itu sendiri tidak menyangka jika Ragil harus berkata demikian yang pastinya menyakiti hati Aluna. “Sorry kalau kamu jadi harus mendengar ini, Ga,” ujar Ragil. Dirga menggelengkan kuat kepalanya. “Bukan padaku, tapi istrimu!” Hati Aluna kini berasa dihancurkan berkeping-keping oleh sosok yang dianggapnya suami itu. Ragil kini kembali menatap ke arah istrinya yang mengalihkan pandangannya ke samping dan membelakanginya. “Setidaknya untuk itu… aku mohon lakukan seperti ucapanku. Lakukan dengan Dirga. Kamu hamil, warisan kamu tetap aman, dan anak itu akan kita besarkan bersama.” Tanpa menunggu jawaban dari Aluna, Ragil segera berdiri meninggalkan keduanya di ruangan itu. Barulah setelah pintu tertutup, suara isak tangis terdengar dari bibir Aluna. “Maaf Kakak harus mendengarnya,” ucap Aluna ditengah tangisnya. “Tidak perlu minta maaf. Bukan salah kamu, Al. Kamu jangan memikirkan itu. Aku tidak akan berpikir buruk tentangmu, dan aku juga tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Kamu tenanglah,” ujar Dirga yang entah bagaimana terasa menenangkan di hati Aluna. Wanita itu bahkan semakin kencang menangisnya tanpa perlu merasa malu pada Dirga. Dirga yang duduk diseberangnya mulai gelisah. Ingin rasanya ia rengkuh tubuh itu dalam dekapannya dan menenangkannya. Tapi tentu saja tidak bisa ia lakukan. Aluna menumpahkan semua rasa yang sudah dirinya tahan sejak kemarin. “Bahkan aku juga bukan yang pertama baginya. Lalu kenapa dia hanya melihat kesalahanku saja,” cecar Aluna. Dirga hanya diam tanpa ingin menanggapi ataupun menyela. Ia benar-benar memberikan waktu untuk Aluna menumpahkan semuanya. Namun tak lama Aluna menoleh, menatapnya dengan tatapan tajam. “Kak Dirga menyetujui ide gila ini?” Dirga menggeleng kuat. “Aku tidak pernah setuju.” “Tapi Kakak menerima uangnya,”balas Aluna. “Dia sendiri yang mengirimkan, padahal aku tidak menyetujuinya,” belanya. “Kamu tidak perlu khawatir, Al. Aku bukan pria seperti itu. Walaupun saat ini aku membutuhkan banyak uang untuk biaya Bibiku berobat dan sekolah adikku, aku tidak akan menerima tawaran suamimu. Aku akan mengembalikan uangnya!” Aluna hanya diam. Namun dari sorot mata Dirga, dirinya bisa melihat kesungguhan pria itu untuk menolak ide tergila yang pernah ia dengar seumur hidupnya.“Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk
“Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti
Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki
Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa
“Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har
Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima
Waktu seolah berhenti saat Ragil berdiri diam tanpa ekspresi di hadapan Aluna. Tatapan pria itu datar dan tenang hingga tanpa sadar membuat Aluna merasa takut.Dadanya pun terasa sesak. Entah karena gugup atau cemas, Aluna sampai merasa udara di sekelilingnya perlahan menipis dan membuatnya sulit b
“Bude yang paling ujung di kiri.” Dirga menunjukkan salah satu bed pasien di mana Budenya berada saat mereka telah masuk ke dalam ruangan rawat inap.Aluna mengikuti langkah Dirga yang berjalan pelan. Beruntung hari ini Aluna tidak memakai heels seperti biasanya sehingga suara dari langkahnya tidak
Keduanya terus berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit. Tujuan mereka adalah gedung belakang, tempat Bude Dirga menjalani perawatan selama beberapa hari ini.Dari penjelasan Dirga tadi Aluna akhirnya mengerti. Rupanya Ragil sempat memberikan ide jika uang yang ia berikan untuk Dirga waktu
“Al…”Aluna mengangkat pelan kepalanya, menatap datar ke arah seseorang yang memanggil namanya. Orang itu berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan pandangan harap.“Aku boleh duduk disini?”“Aku larang pun Kak Dirga pasti akan tetap duduk,” jawab Aluna dengan pandangan yang masih datar.Dirga k







