LOGINMalam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum juga pulang. Tidak ada kabar yang masuk di ponselnya. Aluna pun tidak berkeinginan untuk menghubungi Ragil. Hatinya masih sakit dan tidak terima atas apa yang didengarnya sore tadi. Namun saat Aluna tengah mengoleskan body lotion di atas kakinya, pintu kamarnya terbuka dan muncullah Ragil yang berjalan masuk dengan posisi jasnya telah ia sampirkan di bahunya. “Eh sayang…” Ragil yang melihat Aluna segera melangkah mendekati istri cantiknya itu. Tak lupa ia kecup kening Aluna yang saat ini wajahnya terlihat tenang. Namun ketenangan itu tentu membuat khawatir Ragil. “Kamu marah aku pulang telat? Sorry tadi aku keasyikan ngobrol dengan klien jadi lupa waktu. Lagian aku nggak pulang larut, kan? Masih jam setengah sepuluh juga,” ucapnya yang masih tidak mampu mengubah ekspresi wajah Aluna. “Kamu mandi dulu, Mas,” kata Aluna yang ingin sejenak saja menjauh dari suaminya itu. “Baiklah, aku mandi dulu. Nanti aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Sekali lagi dikecupnya kepala Aluna sebelum Ragil melangkah menuju kamar mandi. Aluna menatap nanar punggung Ragil. Bisa dirinya pastikan hal apa yang nanti akan disampaikan oleh Ragil padanya. l Tak lama Ragil selesai dengan mandinya. Pakaian tidur pun telah terpasang di tubuhnya. Ia segera menyusul Aluna yang kini sudah berpindah ke sofa. “Kamu belum tidur, Sayang?” tanyanya. Ia duduk persis di samping Aluna, mengelus pelan punggung istrinya yang tengah memainkan ponsel. “Bukannya ada yang ingin kamu sampaikan, Mas?” tanya Aluna balik dengan nada bicara yang tenang. Tak sedikit pun ia tampakkan kegusaran hati yang tengah ia rasakan. “Hm… Betul ada yang ingin aku sampaikan. Ini soal Papa kamu.” “Kenapa Papa?” “Kamu tahu, kan dengan tenggat waktu tiga bulan yang Papa berikan untuk kita, biar kamu hamil,” ujar Ragil pelan. “Lalu?” Aluna masih mencoba bersikap tenang walau hatinya sudah bergemuruh. “Kamu juga tahu sendiri kalau aku nggak akan pernah bisa menghamili kamu. Jadi… aku udah punya solusi untuk masalah ini.” Aluna tetap tenang dengan pandangannya yang masih menatap ke arah Ragil. Ragil semakin gelisah melihat sorot mata istrinya yang tidak biasa. Namun tidak ada jalan lain, Ragil harus berbicara dengan Aluna. “Aku mau… kamu berhubungan dengan pria lain. Sekali aja aku rasa cukup. Kalian lakukan saat kamu sedang di masa subur, jadi tidak ada pengulangan lagi. Kamu hamil, lalu Papa tetap memberikan warisannya pada kita.” Walau sudah tahu tentang ide gila ini, namun saat mendengar langsung dan duduk berhadapan seperti ini membuat gejolak amarah Aluna semakin kuat. Belum lagi Ragil membicarakannya dengan sangat santai, tanpa beban. “Tidak! Aku tidak mau!” Kalimat itu keluar dengan tegas dari bibir Aluna. “Ayolah, Sayang. Hanya ini satu-satunya cara bagi kita supaya bisa punya anak,” ucap Ragil pelan dan penuh permohonan, membujuk Aluna. “Dengan aku tidur dan melakukannya dengan pria lain? Kamu sudah gila, Mas!?” Total delapan tahun mereka bersama, mulai dari pacaran hingga akhirnya menikah, dan baru kali ini Aluna berani meninggikan suaranya dengan Ragil. Alasannya tentu saja karena ide gila yang dilontarkan oleh suaminya sendiri. Ragil menutup matanya, menarik napas panjang dengan maksud agar emosi yang ia rasakan karena Aluna yang berani meninggikan suaranya bisa hilang. Ragil tidak pernah menerima jika Aluna berbicara dengan nada tinggi. Namun untuk hari ini… ia akan membiarkannya. Hanya hari ini, agar istrinya itu mau mengabulkan permintaannya. “Terserah kamu anggap aku gila atau apa, tapi aku mohon… lakukanlah. Demi aku, Sayang.” Aluna menatap tajam ke arah suaminya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika pria yang ada di depannya ini memintanya melakukan hubungan yang harusnya hanya bisa dirinya lakukan dengan Ragil, tapi ia harus lakukan dengan pria lain. Konyol… ini terlalu konyol. Aluna menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Ragil. Ia pegang kedua tangan suaminya dan menatapnya dengan penuh cinta. “Kalau Mas takut aku nggak kuat dengan hidup sederhana tanpa harta dari papaku, Mas nggak perlu khawatir. Aku bisa kok, Mas hidup sederhana asal sama kamu.” Aluna berucap dengan pelan, berharap apa yang disampaikannya bisa membuat sang suami mengurungkan niatnya itu. Jujur Aluna tidak pernah merasa khawatir dengan ancaman dari papanya mengenai harta warisan itu. Ia siap jika harus hidup tanpa bayang-bayang dari harta papanya. Aluna sendiri juga bingung, bagaimana bisa papanya memberikan syarat yang menurutnya aneh itu. Ingin rasanya ia jujur pada Pak Beni, sang ayah tentang keadaan sang suami. Namun Ragil menolak. Ia tidak ingin kekurangannya itu diketahui oleh orang lain. Ragil menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak! Kamu yang kuat, tapi aku tidak, Sayang. Cukup sekali aku merasakannya dulu saat usaha orang tuaku bangkrut. Tidak untuk kali ini. Apalagi itu juga masih hak kamu, Sayang.” “Tapi aku tidak mau dengan ide gila kamu itu, Mas. Itu terlalu gila. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya apalagi dengan pria asing yang tidak aku kenal. Tidak… aku tidak mau.” Aluna melepaskan genggaman tangannya dari Ragil dan berjalan menuju jendela besar yang ada di kamar mereka itu. “Kamu mengenalnya, Sayang. Bahkan sangat mengenalnya. Aku tidak mungkin memilih sembarangan orang untuk hal sebesar ini,” jawab Ragil yang ikut menyusul istrinya itu. Ia berdiri persis di belakang Aluna dan memeluk wanita itu dari belakang. Aluna tidak menjawab dan hanya diam. Dirinya masih sibuk dengan bisikan-bisikan yang ribut di kepalanya. “Kamu tidak mau tahu?” Ragil berbisik tepat ditelinga Aluna yang membuat geli wanita itu. “Dia Dirga. Teman dekatku, sekaligus kakak kelasmu saat SMA dulu.” “Dirga? Maksud Mas, Dirgantara?” Aluna pura-pura tidak tahu. “Iya, Dirgantara.” “Dia tidak akan mau!” “Siapa bilang? Dia sudah setuju dan mau aku bayar lima ratus juta untuk menghamili kamu,” jawab Ragil. “Apa?” Aluna yang terkejut langsung membalikkan tubuhnya dan menatap mata Ragil. Tidak ada keraguan di mata itu menurut Aluna. “Ya, dia setuju.” “Tidak mungkin Kak Dirga setuju,” kekeh Aluna. “Kalau tidak percaya, besok ikut denganku. Kita akan bertemu dengan dia.” Setelah mengucapkan kata itu, Ragil langsung berbalik berjalan menuju ranjang mereka, meninggalkan Aluna yang masih berdiri di tempatnya. “Kak Dirga setuju? Tidak mungkin. Bukankah tadi dia menolaknya. Apa pembicaraan mereka selanjutnya tadi,” gumam Aluna.“Aluna baru pulang dari rumah sakit, dan… dia keguguran.”Bak tersambar petir, tubuh Dirga menegang saat mendengar ucapan Pak Beni. Tubuhnya ia majukan ke depan, memastikan pendengarannya tidak salah.“Maaf, Pak. Sepertinya saya ada salah dengar tadi,” katanya dengan raut wajah yang bingung.“Tidak! Apa yang barusan kamu dengar itu nyata. Aluna keguguran,” kata Pak Beni dengan nada berat.Kepala Dirga mendadak terasa berat, tubuhnya limbung hingga bersandar pada sandaran sofa. Napasnya memburu, terasa sesak dan mencekik di tenggorokan. Seluruh dunianya seakan runtuh dalam sekejap mata. Kenyataan pahit ini terlalu mendadak, menghantam pertahanan dirinya hingga hancur berkeping-keping. Calon buah hati yang selama ini ia nantikan, kini telah tiada sebelum sempat ia timang.“Nggak… nggak mungkin,” bisik Dirga dengan suara bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dirga segera menegakkan tubuhnya kembali. Rasa syok yang tadinya melumpuhkan, kini berubah menjadi keputusasaan y
“Laki-laki, Tuan. Katanya namanya Dirga”Aluna menegang seketika saat mendengar nama yang disebut oleh Tini.“Ngapain dia kesini?” bisik Aluna dengan gelisah.Dengan gerakan takut wanita itu melirik ke arah sang ayah, memperhatikan perubahan wajah pria tua itu yang kini tengah menegang.“Suruh dia tunggu di bawah!”“Yah…” cicit Aluna.“Kamu tunggu di kamar!” Nada suara Pak Beni terdengar tidak ingin dibantah, hingga membuat Aluna tidak berani untuk membantah.Pria tua itu melangkah keluar dari kamar Aluna, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah tegas. Setiap pijakannya di anak tangga terdengar menggema, memecah keheningan rumah.Dirga langsung berdiri begitu melihat Pak Beni berjalan mendekat.“Siang, Pak,” sapanya, berusaha tetap tenang. Tidak ada raut gugup yang ia tunjukkan, meskipun detak jantungnya kini berpacu cepat karena tidak menyangka Pak Beni berada di rumah.“Siang. Silakan duduk,” balas Pak Beni datar.Dirga kembali duduk setelah pria tua itu mengambil posisi di hadapa
Aluna kini sudah pulang ke rumah setelah dirinya memaksa untuk pulang setelah satu malam harus menginap di rumah sakit. Ragil masih tidak diperbolehkan untuk melihat dirinya maupun mendekatinya.“Jangan pernah biarkan pria itu masuk ke dalam rumah ini!” kata Aluna pada seluruh pekerja yang ada di rumah ayahnya itu.Seluruh pekerja, mulai dari asisten rumah tangga hingga para satpam hanya bisa mengangguk patuh. Namun setelah Aluna pergi, bisik-bisik mereka mulai terdengar.“Ada apa ya, kira-kira?”“Sepertinya mereka lagi berantem hebat.”“Tapi terakhir Non Aluna pulang itu mukanya udah kusut banget. Kayak habis nangis.”“Apa Tuan Ragil selingkuh, ya? Karena kepikiran terus syok, makanya Non Aluna jadi keguguran.”“Bodoh banget Tuan Ragil, spek bidadari seperti Non Aluna dibuang gitu aja. Nyari apaan lagi di luar.”Desas-desus itu hanya terus berkembang di rumah tanpa Aluna ingin ikut di dalamnya. Wanita itu hanya larut dalam rasa kehilangannya. Bahkan ponselnya pun turut ia matikan, me
“Ini gimana, pakai nelpon segala,” gumam Ragil panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menyugar rambutnya kasar. Ia tiba-tiba bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Aluna pada sang mertua.“Ah udahlah, nanti aja,” putusnya lalu melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi untuk mengurus kamar perawatan Aluna.Tiba di bagian pengurusan kamar, ponsel miliknya kembali berdering dan kembali nama sang mertua muncul pada layar.“Ini ngapain masih nelpon lagi sih,” gerutu pria itu.Ponsel yang terus berdering itu membuat dirinya semakin panik hingga susah fokus.“Tanda tangan saja kalau tidak, Pak. Biar untuk data-data Ibu nanti saya yang isi,” ucap petugas yang menyadari kepanikan Ragil. Petugas itu tentu saja mengira jika kondisi Ragil saat ini diakibatkan karena sang istri yang tengah berada di IGD.Tanpa menjawab, Ragil mengikuti instruksi sang petugas.“Terima kasih,” ucapnya. Pria itu kemudian langsung beranjak dari meja petugas, berjalan kembali ke arah IGD.Namun
Suara derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Langkah itu berhenti tepat di depan Mbak Sri yang sedang menundukkan kepala.“Mbak, di mana Aluna?”Suara pria yang penuh kepanikan itu terdengar jelas di telinga Mbak Sri. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Ragil dengan raut gelisah.“Tuan… Non Aluna masih di dalam. Masih ditangani sama dokter,” jelasnya dengan suara bergetar.Ragil menatap ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Ia menyugar kasar rambutnya ke belakang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, berbaur dengan perasaan bersalah yang begitu besar.“Semoga kamu enggak apa-apa, Lun,” bisiknya dalam hati.Detik berganti menit, suasana lorong terasa makin mencekam bagi Ragil. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, mengabaikan tatapan iba dari Mbak Sri. Setiap tarikan napasnya terasa berat, dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan hal terburuk.Klek.Suara engsel pintu terbuka memecah keheningan. Seorang dokter wanita paruh baya melangka
Matahari sudah condong ke barat saat Dirga tiba di kediaman Aluna. Ia sengaja menunda perjalanan pulang demi membiarkan gemuruh di dada wanita itu mereda. Aluna turun perlahan dari boncengan. Wajah sembabnya tak mampu menyembunyikan kesedihan, sementara sisa tangis masih sesekali terdengar dari napasnya yang berat.“Terima kasih, Kak,” katanya pelan saat baru saja turun dan langsung berdiri di depan Dirga.“Sama-sama, Al. Kamu udah oke?” tanya pria itu yang masih mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.Wanita itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, Kak,” katanya pelan.“Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mau mengantarku pulang,” tambahnya dengan senyum yang dipaksakan.Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia mulai melangkah naik ke atas teras, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendorong pelan pintu besar bercat putih itu.Dirga masih belum beranjak dari tempatnya, memandang
Malam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi ya
Aluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya. “Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna. Tak lama taksi
Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja. Ke
“Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pad







