Share

Bab 2

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-04-16 12:58:30

Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya.

Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum juga pulang. Tidak ada kabar yang masuk di ponselnya. Aluna pun tidak berkeinginan untuk menghubungi Ragil. Hatinya masih sakit dan tidak terima atas apa yang didengarnya sore tadi.

Namun saat Aluna tengah mengoleskan body lotion di atas kakinya, pintu kamarnya terbuka dan muncullah Ragil yang berjalan masuk dengan posisi jasnya telah ia sampirkan di bahunya.

“Eh sayang…” Ragil yang melihat Aluna segera melangkah mendekati istri cantiknya itu. Tak lupa ia kecup kening Aluna yang saat ini wajahnya terlihat tenang. Namun ketenangan itu tentu membuat khawatir Ragil.

“Kamu marah aku pulang telat? Sorry tadi aku keasyikan ngobrol dengan klien jadi lupa waktu. Lagian aku nggak pulang larut, kan? Masih jam setengah sepuluh juga,” ucapnya yang masih tidak mampu mengubah ekspresi wajah Aluna.

“Kamu mandi dulu, Mas,” kata Aluna yang ingin sejenak saja menjauh dari suaminya itu.

“Baiklah, aku mandi dulu. Nanti aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Sekali lagi dikecupnya kepala Aluna sebelum Ragil melangkah menuju kamar mandi.

Aluna menatap nanar punggung Ragil. Bisa dirinya pastikan hal apa yang nanti akan disampaikan oleh Ragil padanya.

l

Tak lama Ragil selesai dengan mandinya. Pakaian tidur pun telah terpasang di tubuhnya. Ia segera menyusul Aluna yang kini sudah berpindah ke sofa.

“Kamu belum tidur, Sayang?” tanyanya. Ia duduk persis di samping Aluna, mengelus pelan punggung istrinya yang tengah memainkan ponsel.

“Bukannya ada yang ingin kamu sampaikan, Mas?” tanya Aluna balik dengan nada bicara yang tenang. Tak sedikit pun ia tampakkan kegusaran hati yang tengah ia rasakan.

“Hm… Betul ada yang ingin aku sampaikan. Ini soal Papa kamu.”

“Kenapa Papa?”

“Kamu tahu, kan dengan tenggat waktu tiga bulan yang Papa berikan untuk kita, biar kamu hamil,” ujar Ragil pelan.

“Lalu?” Aluna masih mencoba bersikap tenang walau hatinya sudah bergemuruh.

“Kamu juga tahu sendiri kalau aku nggak akan pernah bisa menghamili kamu. Jadi… aku udah punya solusi untuk masalah ini.”

Aluna tetap tenang dengan pandangannya yang masih menatap ke arah Ragil. Ragil semakin gelisah melihat sorot mata istrinya yang tidak biasa. Namun tidak ada jalan lain, Ragil harus berbicara dengan Aluna.

“Aku mau… kamu berhubungan dengan pria lain. Sekali aja aku rasa cukup. Kalian lakukan saat kamu sedang di masa subur, jadi tidak ada pengulangan lagi. Kamu hamil, lalu Papa tetap memberikan warisannya pada kita.”

Walau sudah tahu tentang ide gila ini, namun saat mendengar langsung dan duduk berhadapan seperti ini membuat gejolak amarah Aluna semakin kuat. Belum lagi Ragil membicarakannya dengan sangat santai, tanpa beban.

“Tidak! Aku tidak mau!” Kalimat itu keluar dengan tegas dari bibir Aluna.

“Ayolah, Sayang. Hanya ini satu-satunya cara bagi kita supaya bisa punya anak,” ucap Ragil pelan dan penuh permohonan, membujuk Aluna.

“Dengan aku tidur dan melakukannya dengan pria lain? Kamu sudah gila, Mas!?” Total delapan tahun mereka bersama, mulai dari pacaran hingga akhirnya menikah, dan baru kali ini Aluna berani meninggikan suaranya dengan Ragil. Alasannya tentu saja karena ide gila yang dilontarkan oleh suaminya sendiri.

Ragil menutup matanya, menarik napas panjang dengan maksud agar emosi yang ia rasakan karena Aluna yang berani meninggikan suaranya bisa hilang. Ragil tidak pernah menerima jika Aluna berbicara dengan nada tinggi. Namun untuk hari ini… ia akan membiarkannya. Hanya hari ini, agar istrinya itu mau mengabulkan permintaannya.

“Terserah kamu anggap aku gila atau apa, tapi aku mohon… lakukanlah. Demi aku, Sayang.”

Aluna menatap tajam ke arah suaminya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika pria yang ada di depannya ini memintanya melakukan hubungan yang harusnya hanya bisa dirinya lakukan dengan Ragil, tapi ia harus lakukan dengan pria lain. Konyol… ini terlalu konyol.

Aluna menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Ragil. Ia pegang kedua tangan suaminya dan menatapnya dengan penuh cinta.

“Kalau Mas takut aku nggak kuat dengan hidup sederhana tanpa harta dari papaku, Mas nggak perlu khawatir. Aku bisa kok, Mas hidup sederhana asal sama kamu.”

Aluna berucap dengan pelan, berharap apa yang disampaikannya bisa membuat sang suami mengurungkan niatnya itu. Jujur Aluna tidak pernah merasa khawatir dengan ancaman dari papanya mengenai harta warisan itu. Ia siap jika harus hidup tanpa bayang-bayang dari harta papanya.

Aluna sendiri juga bingung, bagaimana bisa papanya memberikan syarat yang menurutnya aneh itu. Ingin rasanya ia jujur pada Pak Beni, sang ayah tentang keadaan sang suami. Namun Ragil menolak. Ia tidak ingin kekurangannya itu diketahui oleh orang lain.

Ragil menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak! Kamu yang kuat, tapi aku tidak, Sayang. Cukup sekali aku merasakannya dulu saat usaha orang tuaku bangkrut. Tidak untuk kali ini. Apalagi itu juga masih hak kamu, Sayang.”

“Tapi aku tidak mau dengan ide gila kamu itu, Mas. Itu terlalu gila. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya apalagi dengan pria asing yang tidak aku kenal. Tidak… aku tidak mau.” Aluna melepaskan genggaman tangannya dari Ragil dan berjalan menuju jendela besar yang ada di kamar mereka itu.

“Kamu mengenalnya, Sayang. Bahkan sangat mengenalnya. Aku tidak mungkin memilih sembarangan orang untuk hal sebesar ini,” jawab Ragil yang ikut menyusul istrinya itu. Ia berdiri persis di belakang Aluna dan memeluk wanita itu dari belakang.

Aluna tidak menjawab dan hanya diam. Dirinya masih sibuk dengan bisikan-bisikan yang ribut di kepalanya.

“Kamu tidak mau tahu?” Ragil berbisik tepat ditelinga Aluna yang membuat geli wanita itu.

“Dia Dirga. Teman dekatku, sekaligus kakak kelasmu saat SMA dulu.”

“Dirga? Maksud Mas, Dirgantara?” Aluna pura-pura tidak tahu.

“Iya, Dirgantara.”

“Dia tidak akan mau!”

“Siapa bilang? Dia sudah setuju dan mau aku bayar lima ratus juta untuk menghamili kamu,” jawab Ragil.

“Apa?” Aluna yang terkejut langsung membalikkan tubuhnya dan menatap mata Ragil. Tidak ada keraguan di mata itu menurut Aluna.

“Ya, dia setuju.”

“Tidak mungkin Kak Dirga setuju,” kekeh Aluna.

“Kalau tidak percaya, besok ikut denganku. Kita akan bertemu dengan dia.”

Setelah mengucapkan kata itu, Ragil langsung berbalik berjalan menuju ranjang mereka, meninggalkan Aluna yang masih berdiri di tempatnya.

“Kak Dirga setuju? Tidak mungkin. Bukankah tadi dia menolaknya. Apa pembicaraan mereka selanjutnya tadi,” gumam Aluna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Raska Aufa
Kasian Aluna.... Salam kenal saya Deyulia... heheheh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 82

    “Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 81

    “Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 80

    Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 79

    Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 78

    “Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 77

    Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 56

    “Kamu mau cerita apa?” tanya Ririn.Netranya memancarkan rasa penasaran yang besar. Ia meletakkan garpunya, dan bersiap mendengarkan keluh kesah sahabatnya.“Hmmm…”Aluna kembali terdiam, menimbang-nimbang apakah dirinya harus bercerita atau tidak. Di satu sisi ia butuh validasi atas ketakutannya.

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 54

    “Bagaimana Ayah bisa tahu?”Pak Beni hanya diam. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya. Wajah paruh bayanya yang terukir ketenangan itu justru menjadi teka-teki yang paling menakutkan bagi Aluna. Dalam diamnya sang ayah, Aluna sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang b

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 53

    Aluna menatap potongan cake cokelat di depannya, lalu beralih menatap jemari Dirga yang masih bertengger hangat di bahunya. Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Aluna langsung menyadari sesuatu.Aroma parfum maskulin Dirga yang begitu dekat dengannya, sentuhan lembut pria itu di bah

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 52

    "Ih, apa sih, Kak. Nggak ditelantarkan juga kali, ini kan kemauanku sendiri," sahut Aluna, mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda yang dipaksakan."Iya, iya, percaya," goda Dirga lembut.Ia kemudian melambaikan tangan ke arah pelayan kafe, memesan secangkir Americano dingin untuk dirinya s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status