Share

Maaf, Kurebut Istrimu!
Maaf, Kurebut Istrimu!
Penulis: Mumu Mooi

Bab 1

Penulis: Mumu Mooi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 12:58:10

“Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.

“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pada pria yang menjadi sahabatnya itu.

Tanpa keduanya sadari, wanita yang menjadi bahan perbincangan mendengar percakapan kedua pria itu yang membuat hatinya begitu sakit.

Aluna Putri.

Wanita itu awalnya memiliki janji temu dengan salah seorang sahabatnya di sebuah kafe yang terletak di pusat kota. Ririn—sang sahabat— tiba-tiba mengirim pesan jika dirinya dipanggil oleh dokter konsulen untuk membantunya operasi seorang pasien sore itu, hingga dirinya meminta maaf tidak bisa datang. Aluna yang sudah terlanjur datang memilih untuk tetap makan dan bersantai di kafe itu. Jika awalnya ia berpikir akan bosan karena sendirian, namun siapa sangka dirinya akan mendengar ucapan pahit dan menyakitkan dari sang suami.

Kursi yang tinggi dan saling bersandar satu sama lain membuat tubuh Aluna tidak dapat terlihat oleh Ragil dan juga Dirga. Belum lagi posisi duduk Aluna yang membelakangi pintu masuk, membuat keduanya semakin tidak tahu, jika pengunjung kafe yang ada di meja belakang mereka adalah sosok yang sedang dibicarakan.

Selain menahan sesak di dada, Aluna juga menahan tangis yang sedari tadi ingin meledak. Awalnya ia terkejut karena mendengar suara yang begitu ia kenali ternyata duduk di belakangnya. Hendak menghampiri namun ia mengurungkan niat itu saat mendengar ucapan gila yang diucapkan sang suami.

“Aku nggak mau warisan mertua yang harusnya dikasih ke aku dan juga Aluna malah dikasih ke yayasannya semua. Kamu tahu sendiri kan, Ga seberapa kayanya mertua aku itu.” 

Aluna kembali mendengar suara Ragil yang berbicara.

“Aku juga nggak bakalan punya ide gila ini kalau tu orang tua nggak kasih deadline dalam tiga bulan ini Aluna harus sudah hamil,” tambahnya dengan nada bicara yang lesu.

Sesak semakin dirasakan oleh Aluna. Bagaimana tidak, suaminya meminta pria lain yang merupakan sahabat sekaligus kakak kelasnya dulu untuk tidur bersama, hanya untuk mendapatkan anak. 

Ralat… bukan demi untuk mendapatkan anak, namun hanya karena harta.

What a mess!

Beni Kusuma—papa Aluna—yang sejak lama mengharapkan kehadiran seorang cucu dari putri tunggalnya, akhirnya memberikan ultimatum kepada Aluna dan Ragil. Ia meminta agar dalam waktu tiga bulan ke depan sudah ada kabar kehamilan. Jika tidak, ia mengancam tidak akan menyerahkan harta warisannya kepada mereka berdua.

Setahun lalu saat usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun kedua, Aluna mengajak Ragil untuk memeriksakan kesehatan mereka. Saat itulah keduanya baru mengetahui, alasan terbesar kenapa dirinya tidak kunjung hamil.

Dari hasil pemeriksaan Aluna dinyatakan sehat, sedangkan Ragil mengidap azoospermia. Azoospermia adalah suatu kondisi dimana tidak ada sperma yang ditemukan saat ejakulasi.

Keduanya sempat terpukul mendengar vonis yang dijatuhkan oleh dokter. Ragil tentu saja sempat down dan tidak percaya diri. Namun berkat cinta yang luar biasa dari sang istri, Ragil akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan.

Aluna pikir ia akan hidup bahagia berdua dengan Ragil hingga usia tua walaupun tanpa kehadiran anak. Namun apa ini? Ia mendengar langsung jika Ragil memintanya untuk tidur bersama pria lain?

“Kenapa tega kamu, Mas,” bisik Aluna. Ia bahkan sampai menggigit bibirnya hanya agar suara isaknya tidak sampai terdengar ke meja Ragil.

Aluna merasa terhina, seakan seperti seorang pelacur yang sedang dijajakan oleh mucikarinya. Dan sayangnya, sang mucikari adalah suaminya sendiri.

“Emang kamu udah nggak bisa sama sekali bikin bini kamu hamil?” Kali ini Aluna mendengar suara Dirga yang berbicara.

Terdengar helaan napas kasar dari Ragil.

“Aku bahkan sudah berobat sampai Jerman, dan hasilnya tetap sama. Sel sperma aku kualitasnya nggak bagus.”

“Gara-gara hobi kamu dengan rokok dan mabuk sejak SMA,” cemooh Dirga.

Aluna menutup matanya. Memang benar jika mereka telah berobat ke banyak dokter bahkan hingga ke Jerman. Semua hasil tes dari beberapa rumah sakit menunjukkan hasil yang sama, jika sel sperma yang Ragil hasilkan tidak bagus. Program bayi tabung pun mustahil mereka lakukan.

Tetapi… dirinya yang harus bercinta dengan pria lain hanya untuk mendapatkan anak, bukankah itu adalah hal gila?

“Kenapa hanya karena harta, Mas Ragil harus mengorbankan aku?”

“Aku tidak yakin Aluna mau melakukannya,” kata Dirga, melontarkan pemikirannya. “Aluna bukan wanita yang seperti itu, yang bisa tidur dengan sembarang orang.”

“Aku yakin dia mau.” Ragil berucap dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sama sekali di nada bicaranya.

Hati Aluna kembali sakit, bagai tersayat tajamnya silet mendengar kata-kata yang keluar dari bibir sang suami. Hanya demi harta rela tubuh istrinya dijamah pria lain. Ingin rasanya Aluna pergi, tetapi ia urungkan karena dirinya pasti harus melewati meja keduanya. Ia tidak mau Ragil maupun Dirga tahu jika dirinya daritadi mendengar obrolan mereka. 

Tidak mau mendengar ucapan-ucapan menyakitkan dari suaminya lagi, Aluna mengambil earphone yang ada di dalam tasnya. Ia pasang di kedua telinganya lalu ia sambungkan ke smartphone miliknya. Aluna memutar lagu dengan volume sangat keras, menyamarkan suara pria-pria yang ada dibelakangnya.

Aluna menutup matanya, seakan menghayati lirik dari lagu yang terputar. Kali ini Aluna benar-benar sudah tidak mau tahu mengenai perbincangan gila antara suami dan sahabat suaminya itu. Biarlah nanti ia sendiri yang akan berbicara langsung dengan sang suami saat mereka sudah di rumah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Raska Aufa
Kurang ajar bgt Ragil ya? Kasihan Aluna
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 83

    Aluna mengemudikan mobilnya tanpa arah. Untuk pulang ke rumah pun rasanya enggan, karena pikirannya saat ini masih kusut. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan mengendarai mobil putih kesayangan itu membelah jalanan kota Jakarta, walau dirinya sendiri sama sekali tidak punya tujuan yang pasti.Di telinganya suara bentakan keras dari Ragil dan untaian kalimat provokasi beracun dari Anggun masih saja berdenging kencang, seolah-olah kedua orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Hal ini terus-menerus menyiksa batinnya.“Dia pantas, Luna! Aku yang lebih tahu dia seperti apa! Aku yang tahu kemampuan dia!”“Pak Ragil benar-benar pria yang sangat menepati ucapannya jika menyangkut kenyamanan saya…”“Aku yakin kalian berdua punya hubungan istimewa. Kamu tidak mungkin membelanya segila itu jika dia hanya sebatas sekretaris biasa!” Aluna bermonolog lirih dengan suaranya tercekat di tenggorokan.Kedua tangan Aluna menggenggam erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah canti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 82

    “Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 81

    “Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 80

    Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 79

    Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 78

    “Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 21

    Waktu seolah berhenti saat Ragil berdiri diam tanpa ekspresi di hadapan Aluna. Tatapan pria itu datar dan tenang hingga tanpa sadar membuat Aluna merasa takut.Dadanya pun terasa sesak. Entah karena gugup atau cemas, Aluna sampai merasa udara di sekelilingnya perlahan menipis dan membuatnya sulit b

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 16

    “Bude yang paling ujung di kiri.” Dirga menunjukkan salah satu bed pasien di mana Budenya berada saat mereka telah masuk ke dalam ruangan rawat inap.Aluna mengikuti langkah Dirga yang berjalan pelan. Beruntung hari ini Aluna tidak memakai heels seperti biasanya sehingga suara dari langkahnya tidak

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 15

    Keduanya terus berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit. Tujuan mereka adalah gedung belakang, tempat Bude Dirga menjalani perawatan selama beberapa hari ini.Dari penjelasan Dirga tadi Aluna akhirnya mengerti. Rupanya Ragil sempat memberikan ide jika uang yang ia berikan untuk Dirga waktu

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 14

    “Al…”Aluna mengangkat pelan kepalanya, menatap datar ke arah seseorang yang memanggil namanya. Orang itu berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan pandangan harap.“Aku boleh duduk disini?”“Aku larang pun Kak Dirga pasti akan tetap duduk,” jawab Aluna dengan pandangan yang masih datar.Dirga k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status