Share

Bab 14

Penulis: Mumu Mooi
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 15:23:38

“Al…”

Aluna mengangkat pelan kepalanya, menatap datar ke arah seseorang yang memanggil namanya. Orang itu berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan pandangan harap.

“Aku boleh duduk disini?”

“Aku larang pun Kak Dirga pasti akan tetap duduk,” jawab Aluna dengan pandangan yang masih datar.

Dirga kemudian langsung duduk tepat di depan Aluna. Baru saja ia membuka mulut, Aluna langsung berbicara.

“Kakak nggak perlu minta maaf.”

Ucapan Aluna sontak membuat Dirga terkejut. Ia kembali menatap dalam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 84

    “Bu Aluna…”Aluna menoleh, lalu mengernyitkan dahinya saat melihat sosok wanita yang kini berdiri tepat di samping mejanya. Wanita itu berpenampilan rapi dengan celana kain gelap dan kemeja formal berwarna merah muda khas pakaian kerja kantoran.Wajah wanita itu terasa sangat tidak asing bagi Aluna, tetapi dalam kondisi pikirannya yang sedang kacau, ia sama sekali tidak bisa mengingat siapa namanya.“Maaf, siapa, ya?” tanya Aluna ragu sembari mengusap pelan sisa air mata di sudut matanya.“Saya Citra, Bu. Asisten Manajer Keuangan di perusahaan keluarga Bu Aluna,” jawabnya. Wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang teramat sopan dan segan.“Oh…” Aluna mengangguk lambat, sambil mencoba mengingat staff di divisi keuangan.“Maaf sebelumnya, Bu. Boleh saya ikut bergabung duduk di sini bersama Bu Aluna?” tanya Citra lagi.Nada suaranya terdengar sangat ragu-ragu dan canggung. Ia tahu betul tindakan mendadaknya ini mungkin terkesan kurang ajar atau lancang. Namun rahasia besar yan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 83

    Aluna mengemudikan mobilnya tanpa arah. Untuk pulang ke rumah pun rasanya enggan, karena pikirannya saat ini masih kusut. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan mengendarai mobil putih kesayangan itu membelah jalanan kota Jakarta, walau dirinya sendiri sama sekali tidak punya tujuan yang pasti.Di telinganya suara bentakan keras dari Ragil dan untaian kalimat provokasi beracun dari Anggun masih saja berdenging kencang, seolah-olah kedua orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Hal ini terus-menerus menyiksa batinnya.“Dia pantas, Luna! Aku yang lebih tahu dia seperti apa! Aku yang tahu kemampuan dia!”“Pak Ragil benar-benar pria yang sangat menepati ucapannya jika menyangkut kenyamanan saya…”“Aku yakin kalian berdua punya hubungan istimewa. Kamu tidak mungkin membelanya segila itu jika dia hanya sebatas sekretaris biasa!” Aluna bermonolog lirih dengan suaranya tercekat di tenggorokan.Kedua tangan Aluna menggenggam erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah canti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 82

    “Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 81

    “Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 80

    Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 79

    Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 60

    “Non Luna…”Suara ketukan pelan di daun pintu kamar seketika memutus fokus Aluna yang tengah bersiap-siap itu. Salah seorang ART di rumah Pak Beni memanggilnya dari luar kamar.“Iya, Mbak? Sebentar,” sahut Aluna setengah berteriak. Ia melangkah anggun, lalu membuka pintu kamarnya.“Ada kiriman maka

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 59

    Kamar tidur itu mendadak kembali diliputi keheningan yang mencekam. Aluna masih berdiri terpaku di dekat lemari pakaian. Matanya menatap punggung tegap Ragil yang terasa sedingin es. Air matanya mengalir kian deras tanpa suara hingga membasahi piyama tidurnya. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 58

    “Mikirin apaan?”Suara berat Ragil seketika memecah keheningan hingga membuat Aluna tersentak kaget dari lamunannya. Ia benar-benar tidak menyadari kapan suaminya itu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar tidur mereka.“Lho, Mas. Kamu sudah pulang?” Aluna mengerjapkan mata, berusaha meng

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 57

    Ririn memundurkan tubuhnya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi sembari melipat kedua lengan di dada. Sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis, ia tahu kapan harus memberikan analisis medis dan kapan harus memberikan empati sebagai seorang sahabat.“Lun, dengar aku,” buka Ririn dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status