LOGINAluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa
“Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har
Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima
Aluna membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya sebelum tersadar sepenuhnya adalah langit-langit kamar yang temaram, dan dirinya dirinya berada di dalam dekapan erat Ragil. Pria itu masih terlelap pulas dalam kondisi belum berpakaian, menyisakan sisa-sisa kehangatan dari pergulatan intim yang mereka lalui beberapa jam lalu.Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, Aluna berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar Ragil. Kandung kemihnya terasa penuh, mendesaknya untuk segera buang air kecil. Ragil sempat melenguh pelan dan bergerak sedikit akibat pergeseran tubuh Aluna, namun sedetik kemudian pria itu hanya memutar arah tidurnya hingga kini posisi tubuhnya memunggungi Aluna.Aluna bergegas melangkah menuju kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat tanpa menimbulkan suara. Setelah menyelesaikan hajatnya, ia berdiri di bawah guyuran air hangat untuk sekalian membersihkan sisa-sisa percintaan mereka sore tadi. Rasa lelah fi
Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri mematung dengan sepasang mata membelalak sempurna di ambang pintu. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi ketika Ragil melangkah lebar dan langsung memeluk erat tubuhnya. Ragil mendekap Aluna begitu kencang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, seolah-olah dirinya sedang ketakutan yang akan kehilangan wanita itu dari hidupnya.“Mas…” lirih Aluna. Kedua tangannya menggantung kaku di udara dan tampak ragu untuk membalas dekapan tersebut.“Kamu dari mana saja? Aku sudah menunggu kamu di sini dari tadi, Luna,” bisik Ragil dengan suara yang serak dan bergetar tepat di telinga Aluna.Dahi Aluna mengernyit di balik dekapan hangat pria itu. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat peruba
Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan sindiran tajam dari Anggun terus berdenging berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.Di tengah langkahnya yang tertatih, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti mendadak tepat di sampingnya yang membuat wanita itu tersentak kecil. Ketika pengendara itu membuka kaca helm hitamnya, barulah Aluna menyadari jika pria itu adalah pria yang sangat dikenalnya.“Al? Kamu kenapa? Ngapain siang-siang begini jalan kaki di trotoar? Ini lagi panas banget, Al. Nggak baik untuk kondisi kamu,” tanya Dirga beruntun dengan nada suara yang dipenuhi rasa panik sekaligus heran melihat kondisi kacau wanita di hadapannya.Aluna tidak langsung menjawab. Sepasang matanya mendadak berkaca-ka
Ririn memundurkan tubuhnya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi sembari melipat kedua lengan di dada. Sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis, ia tahu kapan harus memberikan analisis medis dan kapan harus memberikan empati sebagai seorang sahabat.“Lun, dengar aku,” buka Ririn dengan
“Kamu mau cerita apa?” tanya Ririn.Netranya memancarkan rasa penasaran yang besar. Ia meletakkan garpunya, dan bersiap mendengarkan keluh kesah sahabatnya.“Hmmm…”Aluna kembali terdiam, menimbang-nimbang apakah dirinya harus bercerita atau tidak. Di satu sisi ia butuh validasi atas ketakutannya.
“Bagaimana Ayah bisa tahu?”Pak Beni hanya diam. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya. Wajah paruh bayanya yang terukir ketenangan itu justru menjadi teka-teki yang paling menakutkan bagi Aluna. Dalam diamnya sang ayah, Aluna sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang b
Aluna menatap potongan cake cokelat di depannya, lalu beralih menatap jemari Dirga yang masih bertengger hangat di bahunya. Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Aluna langsung menyadari sesuatu.Aroma parfum maskulin Dirga yang begitu dekat dengannya, sentuhan lembut pria itu di bah







