LOGINDari balik tirai jendela kamarnya, Dania melihat perlahan mobil Angger bergerak membelah kegelapan malam, menjauh dari pelataran rumah Bram. Deru mesinnya kian menyamar hingga akhirnya hilang sepenuhnya ditelan hening.Dania menghembuskan napas panjang. Beban berat di dadanya seolah terangkat sedikit. Rasa aman yang ditinggalkan Angger memberinya kekuatan baru untuk bertahan di tengah sarang serigala ini. Tanpa melucuti gaun hitam dukanya, Dania merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang king-size miliknya. Dua tangannya terlipat di atas perut, mengusap lembut perutnya yang masih datar. ---Tiga hari kemudian.Suasana tenang di kediaman utama seketika pecah oleh suara klakson mobil yang berhenti tergesa-gesa di depan gerbang utama. Pintu megah itu terdorong lebar. Suara langkah kaki menyusuri lantai marmer ruang tamu.Bram, yang sedang duduk gelisah di sofa utama seraya membolak-balik berkas keuangan bersama Siska melalui panggilan suara, mendadak membeku. Cangkir kopi di tangann
"Angger! Dania! Kembalilah kalian, bajingan!"Suara Bram memecah keheningan ruangan megah itu. Namun, langkah Angger dan Dania tak sedikit pun terhenti. Pintu utama terbanting keras, mengunci Bram dalam ketakutan dan kehancurannya sendiri.Angger merengkuh bahu Dania rapat-rapat, menuntunnya masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat, Dania hanya membisu. Tatapannya hampa menembus kaca mobil yang dibasahi sisa hujan. Duka yang datang bertubi-tubi telah meremukkan jiwanya hingga tak tersisa.Di rumah sakit, Angger mengambil alih seluruh proses administrasi dan pelunasan medis tanpa hambatan. Dania hanya berdiri kaku di sudut lorong, menyaksikan pria yang sempat dia kira telah tewas itu mengurus jenazah ibunya dengan penuh hormat.---Pemakaman berlangsung tenang dan khidmat. Saat tanah merah menyelimuti peristirahatan terakhir ibunya, Dania berlutut menahan kepedihan yang menyayat."Ibu... maafkan Dania yang terlambat," bisiknya parau.Rasa bersalah mencabik
Ujung rahang Bram menegang kaku, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meledak sampai ke ubun-ubun. Sorot matanya liar, dipenuhi kebuasan yang tak lagi terkendali. Gertakan Dania soal infertilitas dan laporan KDRT benar-benar memojokkannya ke sudut jurang."Kurang ajar kamu, Dania... Aku cekik kamu sampai mati!" geram Bram, suara beratnya bergetar oleh dendam.Bram mengusap kasar wajahnya yang basah oleh peluh dingin. Dua tangannya terangkat di udara, jemarinya terkembang siap mencengkeram leher Dania yang berdiri tegak tanpa gentar di hadapannya.Namun, sebelum jemari beracun itu menyentuh kulit Dania—BUGH!Sebuah hantaman keras mendarat telak di tengkuk belakang Bram. Suara benturan tumpul itu bergaung nyaring di dalam ruangan. Pria itu mengerang kesakitan, pandangannya berkunang-kunang hebat saat gelombang rasa pening menghantam otaknya. Tubuh yang terbalut jas mahal terhuyung kaku, melayang jatuh hingga tersungkur kasar di atas lantai marmer yang dingin.Bruk!"Bang
"Kamu..."Bram yang melangkah terburu-buru dengan emosi membakar mendadak tak memperhatikan jalan di koridor.Bruk!Tubuhnya berbenturan keras dengan seorang perawat yang sedang mendorong troli obat-obatan. Botol-botol antiseptik dan cairan infus bergetar hebat, hampir saja berhamburan ke lantai. "Maaf, Pak! Tolong hati-hati!" tegur perawat itu kaget seraya menyeimbangkan trolinya.Bram tersentak, dadanya naik-turun menahan terkejut di tengah kepalanya yang mau pecah oleh tumpukan masalah. Wajahnya pucat pasi sejenak, namun gengsi dan amarah melilit akal sehatnya. Tanpa mengucap kata maaf, Bram mendesis gusar, memperbaiki posisi jas mewahnya, lalu kembali melangkah lebar meninggalkan rumah sakit begitu saja.Satu minggu berlalu bagaikan mimpi buruk yang berjalan lambat.Suasana duka dan ketegangan mencekam masih menyelimuti kediaman utama keluarga besar. Renata dan Dania sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, meski kedua wanita itu melangkah dengan jiwa yang hancur. Renata lebi
Mata Bram yang tadinya melotot berubah stabil. Sebuah pikiran terlintas di benaknya, melunturkan rasa panik yang baru saja mencengkeram tenggorokannya. Cengkeraman jemarinya pada leher gaun Dania melemas perlahan, lalu dia menghempaskan tubuh istrinya itu hingga punggung Dania membentur dinding dengan desakan napas tertahan.Bram mundur dua langkah, merapikan kembali kerah kemejanya yang agak kusut seraya mengusap wajahnya yang tegang. Sebuah tawa renyah, gila, dan penuh ledekan mendadak meluncur bebas dari tenggorokannya, memecah ketegangan yang pekat di dalam ruangan."Ha... Haha! Hahaha!"Bram menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menunjuk wajah Dania yang masih menyandarkan tubuh di dinding. Binar kejengkelannya berganti menjadi raut kemenangan penuh kelicikan."Hampir saja aku lupa, Dania!" celetuk Bram dengan intonasi yang sengaja dipanjangkan, penuh penekanan yang menembus tanggul pertahanan Dania. "Bukannya sejak dua bulan lalu, seluruh biaya perawatan rumah sakit ibumu yang s
Bram melangkah lebar menyusuri koridor rumah sakit yang lengang, memandu kursi roda Dania dengan gerakan kasar dan tergesa-gesa. Bentakan Renata dan tuduhan terselubung soal hasil otopsi masih berputar-putar bagai gema yang memekakkan telinga. Kemurkaan dan kepanikan bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Klek.Bram mendorong kursi roda itu masuk ke dalam ruang perawatan VIP Dania, lalu menendang pintunya hingga tertutup rapat. Dania memiringkan kepalanya sedikit, menatap bayangan Bram di balik cermin seraya mengelus pelan permukaan perutnya. Udara dingin di ruangan itu mendadak terasa pekat dan menekan."Mas..." panggil Dania datar, suaranya tenang namun sarat akan intonasi menghujam. "Apakah yang merencanakan pembakaran rumah Mbak Sofia itu... kamu?"Bram membeku seketika. Tangan yang baru saja hendak merapikan jasnya menegang di udara. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, menatap Dania dengan mata memerah dipenuhi kebuasan gila."Jangan gila kamu, Dania!" sembur Bram meletup-letu







