LOGIN"Solusinya adalah ... aku yang menikah lagi."
Deg! Hening. Udara di dalam kamar itu seketika terasa membeku. Nabila menatap Arga dengan mata membelalak, jantungnya seolah ingin lepas dari tempatnya saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Apa tadi kata sang suami? Solusinya apa? Menikah lagi? Solusi gila macam apa itu? Nabila menatap lekat wajah suaminya, mencoba mencari kebohongan atau setidaknya raut bercanda di wajah suaminya. Ia bahkan sampai menunggu beberapa detik, menunggu suaminya mengatakan kata, ‘Praaank! Aku cuma prank kamu doang, Sayang. Hahaha ….’ Namun, yang ia temukan hanyalah keseriusan yang terasa menusuk dadanya. Dengan cepat, Nabila menarik tangannya dari genggaman Arga seolah baru saja menyentuh bara api. "Kamu bercanda kan, Mas? Sumpah! Demi apa pun bercanda kamu gak lucu, Mas!" "Apa wajahku ini terlihat seperti sedang bercanda? Aku serius, Nabila!" "Kamu gila?" desis Nabila. Suaranya tidak bergetar karena tangis, melainkan karena amarah yang tiba-tiba mendidih hingga ke ubun-ubun. Arga menghela napas panjang, seolah sudah menduga reaksi dari sang istri. "Nabila, tolong dengarkan aku dulu—" "Gak. Aku gak setuju!" potong Nabila cepat dan tegas. Matanya menatap tajam langsung ke manik mata Arga. "Aku tidak mau di madu! Ada banyak solusi lain agar rumah tangga kita kembali hangat seperti dulu. Kita bisa liburan keluarga atau apa pun itu! Menikah lagi dan memberikan aku madu bukan solusi!" ucap Nabila dengan nada yang tegas. "Kenapa? Kamu baru saja bilang akan menerima solusi apa pun asalkan aku nyaman dan keluarga kita kembali seperti dulu. Ya ini solusinya!" "Solusi untuk kamu, tapi neraka buat aku, Mas!" balas Nabila dengan nada yang sedikit meninggi. "Dan kenapa kamu harus tanya kenapa? Kamu tuli atau bagaimana? Barusan aku bilang! Karena aku gak mau dimadu. Nggak ada satu pun wanita waras di dunia ini yang rela berbagi suami, yang rela berbagi ranjang dan berbagi segalanya. Dan aku bukan salah satu wanita yang mau menerima hal konyol itu. Aku tidak setuju. Titik." "Kamu jangan egois, Nabila!" Arga mulai terpancing. Suaranya kini terdengar menekan. "Aku ingin punya anak laki-laki. Kamu tahu itu sejak dulu! Aku ingin penerus keluargaku! Aku kerja banting tulang dari pagi sampai malam, sampai akhirnya kita punya banyak aset, untuk siapa nanti kalau bukan untuk anak laki-laki? Aisyah dan anak yang ada di kandunganmu ini perempuan, mereka nanti akan dibawa suaminya!" Nabila tersenyum miring, sebuah senyum getir yang penuh kekecewaan. Juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. "Terus kalau dibawa suaminya kenapa? Mereka tetap bisa kok jadi penerus usaha-usaha kita. Please ya, Mas, jangan patriarki! Stop berpikir anak laki-laki itu segalanya! Anak perempuan juga sama segalanya! Pikiran kamu tuh terlalu jadul tau gak sih? Kita hidup di jaman yang udah modern! Anak perempuan juga sama berartinya! Kamu selalu berpikir kalau anak perempuan setelah dewasa endingnya di dapur dan mengurus anak. Enggak ya! Semua pekerjaan yang ada di rumah itu bukan cuma tugas perempuan doang, tapi seharusnya laki-laki juga ikut andil! Mengurus anak juga bukan cuma tugas istri, tapi suami juga! Stop berpikir kalau anak laki-laki itu penguasa dan perempuan harus nurut! Gak begitu konsepnya!” Mendengar Nabila berkata demikian, kedua tangan Arga terkepal kuat. “Dan perlu kamu tahu, Mas, jenis kelamin anak itu kehendak Allah. Dan kalau kamu mau bicara soal medis, kromosom penentu jenis kelamin itu dari laki-laki, dari kamu! Bukan dari aku! Dan perlu kamu tahu! Usaha itu dibangun dari nol bersamaku! Masa setelah besar seperti sekarang, yang menikmati bukan anak-anakku tapi anak dari perempuan lain! Kamu ini punya otak gak sih? Dimana letak otakmu itu, hah? Dulu aku yang sampai begadang, setelah besar malah wanita lain ikut menikmati. Demi apa pun, kalau sampai itu terjadi, aku tidak ikhlas!" Wajah Arga memerah. Harga dirinya sebagai laki-laki merasa diinjak oleh fakta yang dilontarkan istrinya. "Lalu aku harus bagaimana?!" bentak Arga, membuat Nabila sedikit tersentak namun wanita itu tetap menahan dagunya tinggi-tinggi. "Pokoknya aku mau anak laki-laki! Masa bodo dengan semua ucapanmu yang katanya patriarki lah! Aku mau anak laki-laki! Lagi pula kenapa sih?! Yang banyak berusaha di sini juga aku! Otomatis uangku lebih banyak! Dan secara finansial aku sangat mampu membiayai dua istri. Kebutuhanmu dan Aisyah tidak akan ada yang kurang sedikit pun. Kamu tetap jadi ratu di rumah ini. Kenapa kamu malah mempersulit keadaan dan jadi istri yang pembangkang?!" "Karena pernikahan bukan cuma soal uang bulanan, Mas Arga!" Nabila membalas tak kalah keras, napasnya memburu. "Pernikahan itu soal kesetiaan. Kalau kamu pikir dengan uang kamu bisa membeli hatiku untuk rela diduakan, kamu salah besar. Aku lebih baik hidup susah daripada harus berbagi ranjang dengan wanita lain. Keputusanku bulat, aku tidak mau dimadu!" Arga membuang muka, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah tidak lagi di atas ranjang, ia mondar-mandir di samping ranjang dengan napas yang memburu. Istrinya ini ternyata jauh lebih keras kepala dari yang ia duga. Ia pikir, dengan menekan Nabila lewat kesalahan karena tidak bisa memberi anak laki-laki, wanita ini akan pasrah sambil menangis seperti istri-istri penurut pada umumnya. Namun, Nabila yang sekarang duduk di hadapannya adalah seorang wanita yang jauh berbeda dengan perempuan-perempuan biasanya. Arga berhenti melangkah. Ia menoleh kembali menatap Nabila. Tatapannya kini berubah dingin, tidak ada lagi raut memohon atau mencoba membujuk seperti tadi. Dia diam sejenak dengan mata yang terpejam seolah sedang berpikir dan ragu untuk mengatakan sesuatu, kemudian menatap Nabila kembali. "Kamu benar-benar tidak mau menerima keputusanku?" tanya Arga, suaranya merendah namun terdengar mengancam. "Sampai mati pun, aku tidak akan pernah rela suamiku menikah lagi," jawab Nabila dengan mantap, tak gentar sedikit pun. Arga tersenyum sinis. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tidurnya. "Sayang sekali," ucap Arga dengan nada meremehkan. "Terserah kamu mau menolak sekeras apa pun, Nabila. Karena persetujuanmu sekarang sudah tidak ada artinya lagi." Dahi Nabila berkerut. Firasat buruk langsung menghantam dadanya. "Maksud kamu apa?" "Aku tidak butuh persetujuanmu untuk menikah lagi." Arga menatap tepat ke dalam mata Nabila. "Karena nyatanya ... aku sudah menikahinya secara siri berbulan-bulan yang lalu." Deg! Bersambung."Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da
"Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca
Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh
"Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening
Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan
"Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?" Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV.""Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila. Skakmat!Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya."A-akh! Mas!" Keisya mendadak memega







