Masuk"Berdasarkan pengalaman Anda membangun dan mengelola jaringan restoran yang sangat sukses dari nol, kami benar-benar terkesan. Selamat bergabung, Bu Nabila. Anda resmi diterima sebagai salah satu Chef di dapur utama hotel kami."Senyum tipis dan penuh kelegaan akhirnya terukir di wajah Nabila setelah sekian lama. Ia menyalami tangan Manajer HRD di hadapannya dengan mantap."Terima kasih banyak atas kesempatannya, Pak. Saya berjanji akan memberikan dedikasi terbaik saya untuk dapur hotel ini," jawab Nabila sungguh-sungguh.Keluar dari ruang interview, Nabila menghela napas panjang karena begitu lega.Akhirnya ia akan bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Langkah pertamanya untuk bangkit telah dimulai. Ia sengaja tidak melamar posisi manajerial yang mencolok, melainkan memilih kembali ke dapur, tempat di mana ia pertama kali merintis mimpinya. Di hotel bintang lima yang bergengsi ini, ia akan mengumpulkan kembali pundi-pundi uangnya, membangun ulang harga dirinya, dan menyiapkan amunisi
"Kamu serius, May? Tolong jangan mengarang cerita hanya untuk membuatku merasa lebih baik," ucap Nabila, ia menatap sahabatnya dengan tatapan tak percaya."Ya ampun, Nabila! Buat apa aku bohong untuk hal kayak begini? Gak ada untuknya juga buat aku. Aku cuma mengatakan apa yang aku tahu." Maya lalu menggenggam kedua tangan Nabila dengan erat. "Dennis sendiri yang ngomong sama aku. Dua hari setelah reuni kalau gak salah, aku lupa. Pokoknya dia nemuin aku di kantor dan nanyain tentang kamu. Dia nanya gimana kabar rumah tangga kamu dengan Arga. Kamu bahagia gak sama dia, dia nanya kamu curhat gak sama aku. Terus aku bilang gak tau kan, terus aku nanya kenapa masih tanya-tanya tentang kamu. Terus dia jawab kalau dia masih sayang sama kamu," jelas Maya. Nabila menelan salivanya. Mendengar itu, entah kenapa ada rasa senang di hatinya. Bolehkah ia mulai berharap? Tapi, jahat rasanya jika ia kembali pada Dennis dengan kondisi dirinya yang kini banyak kekurangan dan hancur oleh pria lain.
"Habisin tehnya, Bil. Tangan kamu dingin banget kayak es, muka kamu juga pucet lagi kek mayat. Kamu minum, biar badanmu angetan."Maya duduk lalu mengelus punggung sahabatnya di atas sofa ruang tengah apartemennya. Dennis baru saja mengantar Nabila sampai ke lobi sebelum akhirnya pamit undur diri, sangat menghargai keputusan Nabila yang tidak ingin diantar sampai ke depan pintu demi menjaga nama baik wanita itu menjelang persidangan cerai.Di elus seperti itu, pertahanan Nabila yang sedari tadi terbuat dari baja perlahan melunak. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu menceritakan seluruh rasa sakit yang menimpanya dalam beberapa bulan terakhir. Ia menceritakan pengkhianatan Arga yang menikah lagi, kemudian menjebaknya menandatangani surat pemindahan aset saat ia sedang meregang nyawa di ruang persalinan. Ia menceritakan keegoisan pria itu yang membiarkan Aisyah tewas tersambar mobil demi menemani Keisya berbelanja. Dan yang paling menghancurkan hati, ia menceritakan detik-
"Tapi ... kamu benar-benar ingin cerai, kan dengannya?""Tentu saja. Aku lebih memilih mati daripada harus terus menjadi istrinya," jawab Nabila tanpa keraguan sedikit pun. Tatapannya lurus menembus kaca mobil, dingin dan tajam.Nabila lalu menoleh, menatap mata Dennis dalam-dalam. "Aku sudah menganggapnya mati sejak melihat Rania dimasukan ke liang lahat. Aku sudah tidak menganggapnya sebagai suami sejak saat dia lalai menjemput Aisyah dan membuat Aisyah tiada," jawab Nabila dengan nadanya yang teramat tenang namun mematikan. "Jangankan berstatus sebagai istrinya, menghirup udara yang sama dengan pria pembunuh itu saja membuatku mual."Dennis mengembuskan napas lega. Ketegangan yang sejak tadi mengikat dadanya perlahan mengendur. Ia mengangguk pelan. "Kamu tidak perlu khawatir, Bil. Malam ini juga pengacaraku akan menyusun draf gugatannya. Besok pagi, atau paling lambat besok sore, surat itu akan mendarat di hadapan bajingan itu," "Tapi Dennis... soal menghancurkan Arga dan merebu
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Nabila! Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Arga. Pria itu menolak bangkit dari tanah merah yang mengotori celananya. Ia justru merangkak maju, berusaha menggapai ujung baju gamis hitam Nabila dengan tangan bergetar. Rasa bersalah dan ketakutan kehilangan wanita yang menemaninya berjuang dari nol itu tiba-tiba meremukkan sisa-sisa kesombongannya. "Aku tahu aku salah! Aku juga sadar kalau aku ini memang bajingan! Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, Bil..." isak Arga terdengar begitu menyedihkan. "Aku masih sayang sama kamu, aku masih mencintai kamu. Kita bisa perbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Oke? Aku mohon. Aku tidak bisa kalau tidak bersama kamu. Tolong ... beri aku kesempatan, tolong kamu ingat bagaimana dulu kita berjuang bersama." Nabila menatap tangan Arga yang mencengkeram ujung bajunya dengan tatapan jijik. Dengan satu sentakan keras, ia menarik kain itu hingga Arga kembali terjerembap ke tanah."Demi apa pu
"Maafkan kami, Bu Nabila, Pak Arga. Selama dua hari ini kami sudah berjuang memberikan penanganan medis yang paling maksimal, namun... tubuh kecilnya tidak lagi mampu bertahan. Bayi Rania telah berpulang."Kalimat dari dokter anak itu mengakhiri segala sisa harapan yang Nabila miliki. Selama empat puluh delapan jam terakhir, Nabila tak beranjak dari depan kaca ruang NICU, menatap putrinya yang dipenuhi selang dan alat bantu napas. Namun pada akhirnya, maut tetap merenggut nyawa bayi tak berdosa itu.Arga yang berdiri tak jauh dari sana langsung merosot jatuh ke lantai rumah sakit. Pria itu menangis terisak. Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, ia telah mengantarkan dua putri kandungnya menuju kematian akibat kelalaian dan keegoisannya sendiri.Namun berbeda dengan Arga, Nabila tidak menangis histeris. Air matanya memang mengalir, tapi wajahnya sedingin es. Jiwanya seolah telah ikut mati. Ia sudah tidak lagi punya semangat untuk hidup. Rasanya, dunia berhenti berputar. **Hari







