Home / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 4. Istri Atau LC

Share

Bab 4. Istri Atau LC

last update publish date: 2026-08-12 21:16:19

"Demi apa pun, aku gak sudi nyambut wanita murahan itu! Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkan wanita itu menginjakkan kakinya di rumah ini, Mas! Jangan harap!"

"Terserah kamu mau menerima keputusanku atau tidak! Yang jelas, nanti malam Keisya akan mulai tinggal di rumah ini! Aku tidak tega membiarkan dia tinggal di rumah kontrakan kecil sendirian, apalagi dia sedang hamil anakku."

"Kamu jahat tau, Mas! Apa tidak cukup membuatku sakit dengan menikahi wanita itu? Menjadikan selingkuhanmu itu sebagai maduku? Dan sekarang, kamu mau membawa dia ke rumah ini? Gila kamu, Mas! Jahat!" ucap Nabila dengan nada suara yang gemetar. Tenggorokannya tercekat, hingga udara rasanya seperti pecahan kaca yang menerobos masuk sampai ke tenggorokan.

Dadanya terasa perih dan juga sesak, entah belati jenis apa yang menusuknya berkali-kali.

Ia sudah hancur saat sang suami mengatakan jika dia berselingkuh dan dia sudah menikahi wanita itu. Dan sekarang, dengan tega dan tidak warasnya, dia malah ingin membawa wanita itu ke rumah yang dibangun dengan jerih payah mereka berdua selama sembilan tahun menikah.

Ia yang menemani dari nol, tapi wanita lain ikut menikmati hasilnya.

"Jahat? Justru kamu yang jahat kalau membiarkan Keisya tetap tinggal di rumah kontrakan sendirian padahal dia sedang mengandung. Kalau kamu jadi dia, kamu mau tinggal di kontrakan?"

Nabila tersenyum ketir, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak, lalu kembali menatap Arga dengan sinis. "Kalau aku jadi dia? Kalau aku jadi dia, aku tidak sudi menjadi yang kedua! Aku tidak akan pernah mengganggu pria yang sudah beristri! Aku tidak semurahan itu sampai mau dinikahi oleh suami orang!"

Plak!

Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Nabila dengan sangat keras hingga wanita itu terhuyung hampir terjatuh. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjatuh, agar bayi dalam kandungannya tetap baik-baik saja.

"Kurang ajar kamu! Maksudnya apa bicara seperti itu? Kamu mengatai Keisya murahan?!" pekik Arga dengan mata yang terbelalak terbuka sempurna karena amarah yang membara. Kulitnya mendadak langsung memerah seketika.

Nabila tak menjawab, tapi ia menatap suaminya dengan mata yang merah padam, menatapnya dengan tatapan kesal dan benci. Jika bukan karena Aisyah dan bayi dalam kandungannya, rasanya ia ingin sekali pergi dan meminta cerai.

Tapi, karena ia yang tahu bagaimana beratnya hidup tanpa peran ayah, ia terpaksa bertahan. Dan terlebih lagi, ia tidak mau wanita lain menikmati semua jerih payah yang sudah ia bangun sejak awal menikah.

Enak saja, ia yang dulu bangun pagi dan tidur paling malam untuk menyiapkan masakan-masakan untuk di jual di warung sederhana hingga akhirnya menjadi sebuah restoran besar dan memiliki cabang dimana-mana, tapi malah wanita lain yang menikmati hasilnya.

Ia tidak rela!

"Lama-lama kamu ini makin kurang ajar! Berani kamu ngomong kayak begitu."

"Aku begini karena kamu yang main gila duluan, Mas! Kalau kamu anteng-anteng aja, aku juga tidak mungkin seberani ini menatap kamu dengan wajah yang terangkat kayak begini!"

"Aku bakalan anteng kalau kamu bisa memberikan apa yang aku mau! Aku mau anak laki-laki Nabila! Tapi kamu gak bisa kasih aku anak laki-laki. Masih untung kamu nggak aku ceraikan! Delapan tahun aku nunggu loh, tapi begitu hamil lagi, kamu malah hamil anak perempuan lagi! Gak guna! Lihat Keisya, belum setahun dia aku nikahi, dia langsung hamil anak laki-laki. Gak kayak kamu!"

Kedua tangan Nabila terkepal kuat.

"Sudah! Keputusanku pokoknya sudah final, kamu siapkan kamar tamu, kamar itu akan menjadi kamar Keisya. Aku mau kerja, nanti malam aku jemput Keisya.”

"Apa? Ini aku gak salah denger? Kamu nyuruh aku bersihin kamar untuk wanita itu. Gak sudi!" Tanpa mendengar jawaban dari suaminya lagi, Nabila langsung berbalik dan pergi dari hadapan suaminya.

"Astaga!" Arga berbalik juga, pergi dari rumah.

Tanpa mereka sadari, gadis kecil berusia delapan tahun sejak tadi terus mengintip di balik pintu kamarnya. Dengan jelas, gadis itu melihat pertengkaran ayah dan ibunya. Ia bahkan dengan jelas melihat bagaimana telapak tangan kekar sang ayah yang mendarat di pipi sang ibu begitu kasar.

Dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dan menangis dalam diam dan tanpa suara.

Gadis sekecil itu, harus melihat tegangnya pertengkaran orang dewasa.

Jarum jam di dinding ruangan berputar perlahan, hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.

"Sudah makannya? Kalau sudah, lanjut kerjakan PR ya, Kakak kerjakan dulu sendiri, nanti Bunda periksa PR-nya."

Dengan senyuman yang tipis, gadis itu mengangguk. "Iya, Bun."

"Ya sudah, kerjakan sekarang. Nanti Bunda susul setelah Bunda beres cuci piring."

Gadis kecil itu kembali mengangguk. Ia langsung beranjak turun dari kursi dan berbalik hendak pergi ke kamarnya setelah selesai mengisi perut. Namun, ia mengurungkan niatnya dan kembali berbalik, menatap sang ibu yang kini sedang membereskan piring-piring kotor bekas makan malam.

Nabila yang menyadari putrinya tak pergi itu sontak menatap Aisyah. "Kenapa, Nak?"

"Pipi Bunda masih sakit gak? Ayah ... kok sekarang jahat ya, Bun?" tanya Aisyah dengan nada yang sedikit ragu.

Deg!

Jantung Nabila rasanya ingin terlepas dari tempatnya saat sang putri berkata demikian.

'Jadi Aisyah tadi melihat apa yang Mas Arga lakukan padaku?'

"Bunda—"

Belum selesai Nabila bersuara, suara pintu terbuka diiringi panggilan yang memanggil nama Nabila terdengar.

"Bil? Nabila?"

Ia dan Aisyah sontak melihat ke arah pintu yang mengarah ke ruang tengah, lalu selang beberapa detik kemudian, Arga bersama seorang wanita yang usianya sekitar 20 tahunan itu tiba-tiba datang dan berjalan ke arah mereka.

Begitu masuk ruang makan, pandangan Arga langsung tertuju pada Aisyah yang sedang menatapnya.

Walau begitu sangat menginginkan anak laki-laki, tapi Arga begitu sangat menyayangi Aisyah, apalagi Aisyah adalah anak pertamanya, dia yang pertama kali memberikannya gelar sebagai seorang ayah padanya.

Aisyahlah bayi pertama yang ia gendong dalam dekapannya.

"Aisyah sudah selesai makan?" tanya Arga dengan nada yang lembut.

Aisyah tak menjawab, tapi ia mengangguk.

"Kalau sudah, Aisyah masuk kamar ya, ayah ingin bicara dengan Bunda."

Aisyah tetap tak menjawab, tapi ia langsung berjalan dan melewati Ayahnya serta wanita yang sama sekali tidak ia kenal yang berdiri berdampingan dengan sang ayah.

Sementara Nabila, tangannya mulai mengepal dengan sangat kuat. Suaminya ternyata benar-benar membawa istri keduanya ke rumah yang mereka bangun dari hasil kerja keras mereka dari nol!

"Kamu ini, dari tadi aku panggil-panggil bukannya nyaut!"

"Masih butuh aku ternyata? Mau apa? Istrimu loh ada di sampingmu, ngapain nyari aku?"

"Huuuhh!" Arga membuang napas dengan kasar. "Mulai deh, mulai! Kamu mau ngajak debat lagi? Gak bosen apa, huh?" tanya Arga dengan dagu yang terangkat. "Sudah! Cukup ya, Nabila! Aku sedang tidak ingin berdebat."

Nabila tak menjawab, ia memutar kedua bola matanya malas. "Kenapa? Ada apa? Mau apa kamu manggil aku?"

"Mau kenalin Keisya ke kamu, kalian akan bersama selamanya sebagai istriku, jadi akur-akur dan jangan saling membuat drama!"

Nabila memasang wajah julid.

Apa tadi kata suaminya?

Tinggal bersama selamanya?

Cih! Gak sudi!

Nabila sudah memikirkan matang-matang, setelah putrinya beranjak dewasa nanti, dan ia juga sudah bisa hidup mandiri, memindahkan beberapa aset atas namanya, ia akan pergi dan meninggalkan Arga! Ia tidak sudi jika harus hidup bersama madunya untuk selamanya.

Ia bertahan sekarang itu demi anak! Tidak lagi ada alasan yang lain. Apalagi cinta!

Cintanya perlahan pudar setelah ia tahu sang suami berbagi hati.

"Aku sih gak pernah ya buat drama! Kamu tahu betul aku bagaimana. Kita kenal bukan setahun dua tahun loh, sudah dua belas tahun! Sejak awal kenal di kampus sampai kita menikah dan hidup bersama. Harusnya kamu tahu dengan jelas aku ini bagaimana. Kalau kedepannya ada apa-apa, ada masalah, harusnya kamu bisa mikir sih siapa yang mulai duluan. Yang jelas bukan aku! Ini aja drama ada madu, bukan aku yang mulai!"

Nabila merapatkan kedua tangannya di bawah dada setelah berbicara demikian.

Sementara Arga, ia hanya membuang napas. "Terserah kamu! Sekarang aku laper, siapin aku makan."

"Kamu nyuruh aku? Gak ada segannya gitu kamu nyuruh istri yang kamu sakiti untuk siapin kamu makan? Kenapa kamu gak nyuruh istri barumu itu buat nyiapin kamu makan? Ada guna sedikit dong kalau jadi istri tuh. Jangan bisanya cuma ngangkang doang terus terima duit!" ucap Nabila dengan nada yang ketus. “Dia istri, bukan LC!”

"Dia sedang hamil!" ucap Arga dengan gigi yang menggertak mulai kesal.

"Heeeiii ... kamu buta, Mas? Look at me. Perut aku segede gini gak keliatan? Aku juga sama lagi hamil, tapi gak manja ya!"

"Mas?" Keisya yang berdiri di samping Arga itu menatap suaminya dengan raut wajah yang terlihat sedih.

"Nabila?"

Nabila enggan meneruskan perdebatan mereka, akhirnya ia memilih untuk melangkahkan kaki dan keluar dari ruang makan. Tanpa memperdulikan ucapan Arga yang memintanya menyiapkan makan.

"Nabila? NABILA?!"

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Adalah Maut    Bab 14. Berselingkuh

    "Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da

  • Madu Adalah Maut    Bab 13. Merebut Kembali Berlian

    "Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca

  • Madu Adalah Maut    Bab 12. Cinta Pertama Masa SMA

    Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh

  • Madu Adalah Maut    Bab 11. Karma Belum Berjalan

    "Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening

  • Madu Adalah Maut    Bab 10. Ceraikan Aku

    Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan

  • Madu Adalah Maut    Bab 9. Istri Sah VS Istri Siri

    "Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?" Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV.""Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila. Skakmat!Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya."A-akh! Mas!" Keisya mendadak memega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status