Home / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 5. Tahu Diri

Share

Bab 5. Tahu Diri

last update publish date: 2026-08-13 21:05:01

“NABILA?!”

Langkah kaki Nabila melangkah cepat meninggalkan ruang makan, mengabaikan teriakan Arga yang terus memanggil namanya dengan nada penuh amarah.

Persetan dengan pria itu! Hati Nabila sudah terlalu kebas untuk merespons kemarahan suaminya yang tak berdasar.

Harusnya ia yang marah karena sudah dikecewakan sedemikian rupa, bukan Arga!

“Teriak saja sampai mulutmu berbusa, aku tidak peduli!” Ia membuka pintu kamar Aisyah dan segera menutupnya rapat, lalu bersandar di balik pintu sambil memejamkan mata. Dadanya naik turun dengan cepat. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya lolos juga.

"Bunda?"

Suara lirih itu membuat Nabila tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, mengukir senyum senatural mungkin, lalu menoleh menatap putri sulungnya yang ternyata belum menyentuh buku PR-nya sama sekali. Gadis kecil itu duduk di tepi ranjang dengan mata yang berkaca-kaca.

Nabila berjalan mendekat, duduk di samping Aisyah dan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Kok belum dikerjakan PR-nya, Sayang? PR-nya susah?" tanya Nabila selembut mungkin, mengusap puncak kepala Aisyah.

Aisyah menggeleng pelan di pelukan ibunya. "Bunda ... kakak yang tadi siapa? Kenapa dia datang sama Ayah? Kenapa Ayah teriak-teriak ke Bunda?"

Pertanyaan beruntun dari gadis berusia delapan tahun itu bagaikan belati tak kasat mata yang menghujam jantung Nabila. Ia bingung harus menjawab apa.

Haruskah ia menghancurkan citra pahlawan seorang ayah di mata putrinya sendiri? Haruskah ia menceritakan betapa kejamnya pengkhianatan ini?

Tidak. Aisyah terlalu kecil untuk menanggung beban seberat ini.

"Dia ... dia teman kerja Ayah, Nak. Dia lagi sakit, jadi untuk sementara waktu menginap di sini," Nabila terpaksa berbohong, meski lidahnya terasa kelu. "Ayah teriak karena Ayah lagi capek habis kerja. Bunda juga tadi agak ngeyel sama Ayah. Jadi Ayah marah."

Aisyah mendongak, menatap Nabila dengan sorot mata yang terlampau dewasa untuk usianya. Tangan kecilnya terulur, mengusap pelan pipi ibunya yang sedikit memerah. "Bunda jangan nangis lagi. Kalau Ayah jahat sama Bunda, nanti kalau Aisyah sudah besar, Aisyah yang akan bawa Bunda pergi dari sini."

Tangis Nabila nyaris pecah lagi mendengar ucapan polos putrinya. Ia memeluk Aisyah semakin erat, mencium keningnya berkali-kali. 'Ya Allah, beri aku kekuatan. Aku harus bertahan demi anak-anakku. Setidaknya sampai aku bisa berdiri sendiri dengan tegak dan membawa mereka pergi dari neraka ini.

Sementara itu, di ruang makan.

Keisya menundukkan kepalanya. Ia menahan isak tangis yang terdengar begitu memilukan.

"Mas ... apa sebaiknya aku pulang saja ke kontrakan? Sepertinya Mbak Nabila sangat membenciku. Aku tidak mau gara-gara kehadiranku, rumah tangga kalian jadi hancur. Biar aku saja yang mengalah, Mas. Aku dan anak kita ... kami bisa hidup mandiri," ucap Keisya dengan suara parau, air mata buayanya mengalir deras membasahi pipi.

Arga yang melihat hal itu seketika merasa hatinya teriris. Ia langsung merengkuh tubuh Keisya, memeluknya dengan penuh kasih sayang.

"Sstt, jangan bicara sembarangan. Kamu mau tinggal di mana di luar sana dengan kondisi hamil begini? Ini juga rumahku, Keisya. Aku berhak membawa siapa pun ke mari. Nabila itu cuma sedang marah dan kecewa, nanti juga dia akan sadar diri kalau dia yang salah karena tidak bisa memberiku anak laki-laki," bujuk Arga seraya mengusap punggung istri mudanya.

Dalam dekapan Arga, sudut bibir Keisya terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang penuh kemenangan. 'Lihat saja nanti, Nabila. Sedikit demi sedikit, aku akan merebut semua yang ada di rumah ini, termasuk posisimu sebagai ratu.'

***

Keesokan paginya.

Aroma harum nasi goreng sosis dan telur dadar menguar memenuhi area dapur. Nabila sudah bangun sejak subuh, membersihkan rumah, dan kini tengah menyiapkan sarapan serta bekal untuk Aisyah sekolah. Ia melakukan rutinitasnya seperti biasa, seolah semalam tidak terjadi apa-apa, seolah rumah ini tidak kedatangan penghuni tak diundang.

Baru saja Nabila menata piring di atas meja makan, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Arga turun dengan kemeja kantor yang belum dikancingkan sempurna, didampingi Keisya yang mengenakan baju tidur satin selutut yang terlihat sangat menggoda.

Nabila hanya melirik sekilas dengan ekor matanya, lalu membuang muka, merasa muak hingga ingin muntah.

"Wah, harum banget," puji Arga sambil menarik kursi meja makan. Ia menatap hidangan di atas meja dengan perut keroncongan. "Tumben kamu masak nasi goreng sosis kesukaanku pagi-pagi."

Keisya ikut duduk di samping Arga, memasang wajah manis tak berdosa. "Wah, Mbak Nabila baik banget. Kebetulan aku juga lagi ngidam nasi goreng. Makasih ya, Mbak," ucapnya seraya meraih sebuah piring kosong, berniat mengambil nasi goreng tersebut.

Trak!

Nabila menahan tangan Keisya dengan ujung spatula yang ia pegang. Tatapannya tajam menukik.

"Ge-er banget kalian! Maaf ya, aku masak bukan untuk kalian berdua," ucap Nabila dingin. Ia menarik mangkuk besar berisi nasi goreng itu mendekat ke arahnya. "Ini sarapan dan bekal khusus untuk Aisyah. Kalau kalian mau sarapan, silakan masak sendiri atau beli di luar. Enak saja datang-datang langsung mau makan, situ bukan princess ya! Masak sendiri! Jadi istri kok gak guna!”

Tangan Keisya menggantung. Matanya langsung berkaca-kaca menatap Arga, seolah ia baru saja ditampar oleh ucapan Nabila.

"Nabila! Apa-apaan kamu ini?!" bentak Arga, tak terima melihat istri mudanya diperlakukan dengan kasar. "Masakannya kan banyak, kenapa kamu pelit sekali?! Keisya ini lagi hamil, dia butuh nutrisi!"

Nabila berbalik, mencuci spatulanya di wastafel dengan santai, tak sedikit pun gentar mendengar bentakan Arga. Ia berbalik, bersedekap dada menatap dua sejoli yang sedang bermain drama di meja makannya.

"Aku masak sesuai takaran perutku dan anakku, Mas. Lagipula, tangannya istrimu itu masih utuh kan? Kakinya masih bisa jalan kan? Dapur ada, bahan makanan di kulkas penuh. Suruh dia masak sendiri. Aku ini istri, bukan pembantu baru yang kamu pekerjakan untuk ngurusin selingkuhanmu!" jawab Nabila telak. "Kan katanya dia istri, bukan LC, ya kerjakan dong tugas istri. Urusin suaminya! Enak aja bangun langsung makan. Jangan jadikan kehamilan sebagai alasan! Aku juga hamil, tapi gak nyusahin orang!" ucap Nabila dengan nada yang ketus.

Wajah Arga sontak memerah padam. "Jaga bicaramu, Nabila! Dia madumu, harusnya kamu bisa mengemong dia karena kamu istri pertama!"

“Dih! Ngemong? Ora sudi! Liat mukanya aja bikin jijik.”

"Mbak ... kalau Mbak tidak suka padaku tidak apa-apa, tapi jangan hukum anak di dalam kandunganku. Dia kan anak Mas Arga juga," lirih Keisya sambil mengusap perutnya yang belum terlihat membesar.

Nabila tertawa sinis, tawa yang meremehkan. "Apa sih? Gak jelas! Lagi main drama murahan? Denger ya, Keisya. Jangan berlagak jadi korban di depanku. Kamu ini pelaku ya! Peranmu di sini antagonis! Jadi udah deh, gak usah so jadi korban! Ini kamu kalau aku viralin, kamu yang dirujak netizen!”

Keisya menelan salivanya saat kata viral terucap dari mulut Nabila. Jujur saja ia cukup takut juga dengan ancaman Nabila.

“Denger! Kamu yang masuk ke rumah ini, kamu yang harus tahu diri. Jangan pernah berharap aku akan melayanimu. Jangan pernah berpikir aku akan diam saja seperti di drama-drama dimana istri pertama hanya bisa pasrah dan menangis. Aku tidak setolol itu!”

"Cukup, Nabila!" Arga menggebrak meja hingga piring-piring bergemeretak.

Aisyah yang baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan sontak menghentikan langkahnya, menatap takut ke arah ayahnya yang sedang marah besar. Namun Nabila langsung memberi isyarat dengan matanya agar putrinya tetap duduk di ujung meja, tak jauh darinya.

Arga menatap Nabila dengan raut wajah bengis. Ego laki-lakinya benar-benar terluka melihat Nabila yang tidak bisa ditundukkan.

Pria itu memperbaiki kerah kemejanya, lalu menatap Nabila dengan sorot mata yang tajam.

"Kalau kamu mau main keras, aku juga bisa main keras, Nabila," desis Arga.

Pria itu menarik napas panjang, lalu menjatuhkan bom yang tak pernah disangka-sangka oleh Nabila.

“Setelah sarapan, bereskan barang-barangmu. Pindahkan semua pakaianmu ke kamar tamu di lantai bawah. Mulai hari ini, kamar utama di atas akan ditempati oleh Keisya."

Udara di sekitar Nabila seolah tersedot habis. Matanya membelalak tak percaya. Sementara Keisya, ia menunduk dan tersenyum puas.

"A-apa ... kamu bilang?"

"Kamu tidak tuli, Nabila. Keisya butuh kamar yang lebih luas, dan dia butuh kamar mandi di dalam kamar yang ada bathtub-nya supaya dia bisa berendam merilekskan otot-ototnya karena kehamilannya agak rentan. Kamu pindah ke kamar tamu."

Nabila mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kamar itu adalah mamar impiannya, sekarang Arga ingin memberikannya pada wanita pelakor ini?!

Nabila melangkah maju mendekati meja makan, kedua tangannya menumpu pada tepian meja, menatap tepat ke manik mata Arga dengan kilatan amarah yang menyala-nyala.

"Sampai neraka membeku pun, aku tidak akan pernah keluar dari kamarku!" desis Nabila penuh penekanan.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Adalah Maut    Bab 14. Berselingkuh

    "Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da

  • Madu Adalah Maut    Bab 13. Merebut Kembali Berlian

    "Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca

  • Madu Adalah Maut    Bab 12. Cinta Pertama Masa SMA

    Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh

  • Madu Adalah Maut    Bab 11. Karma Belum Berjalan

    "Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening

  • Madu Adalah Maut    Bab 10. Ceraikan Aku

    Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan

  • Madu Adalah Maut    Bab 9. Istri Sah VS Istri Siri

    "Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?" Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV.""Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila. Skakmat!Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya."A-akh! Mas!" Keisya mendadak memega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status