LOGINKetegasan Nabila rupanya benar-benar ia buktikan. Ia sama sekali tidak memindahkan sehelai benang pun dari kamar utamanya. Pada akhirnya, Arga yang malas berdebat panjang lebar terpaksa mengalah dan membawa Keisya menempati kamar tamu di lantai bawah.
Sejak saat itu, rumah yang dulunya hangat dan penuh canda tawa Aisyah berubah menjadi arena perang dingin yang mencekam. Keisya yang merasa sudah mendapat angin dari Arga, semakin hari semakin berani menunjukkan taringnya. Jika ada Arga, ia akan bersikap layaknya istri idaman yang rapuh dan penyayang. Namun begitu mobil Arga meninggalkan pekarangan rumah, Keisya akan bertingkah layaknya nyonya besar. Siang itu, Aisyah belum pulang sekolah. Nabila sedang berada di ruang cuci belakang, memasukkan pakaian seragam putrinya dan pakaiannya sendiri ke dalam mesin cuci. Ia mengusap keringat di pelipisnya, merasakan pinggangnya yang mulai pegal karena usia kehamilan yang semakin besar. Tiba-tiba, suara decitan langkah kaki terdengar. Keisya datang menenteng sebuah keranjang kecil berisi tumpukan pakaian kotor miliknya. Wanita itu mengenakan daster tipis, wajahnya dipoles make up tebal meski hanya berada di dalam rumah. Dengan gerakan sengaja yang sangat meremehkan, Keisya menendang pelan keranjang itu hingga meluncur dan menabrak kaki Nabila. "Mbak, mumpung lagi nyuci, sekalian cucikan bajuku ya. Terutama lingerie yang warna merah itu, tolong kucek pakai tangan, jangan masukin mesin. Itu belinya mahal pakai uang Mas Arga," ucap Keisya dengan nada memerintah, disusul senyum miring di bibirnya. Nabila menghentikan gerakannya. Ia menatap keranjang pakaian kotor itu, lalu mengangkat pandangannya menatap wajah songong Keisya. Kesabaran Nabila sudah benar-benar menipis. "Punya tangan, kan?" balas Nabila dingin. "Cuci sendiri. Aku bukan pembantumu." Keisya berdecak pinggang. Ia melangkah maju, mencoba mengintimidasi Nabila yang perutnya sudah membuncit besar. "Mbak ini sadar posisi gak, sih? Di rumah ini, aku yang lagi hamil anak laki-laki. Anak yang sangat diharapkan sama Mas Arga! Sebentar lagi posisiku bakal jauh di atas Mbak! Harusnya Mbak tuh ngelayanin aku biar Mas Arga gak marah. Sadar diri dong, Mbak itu cuma parasit yang udah gak berguna buat Mas Arga!" hina Keisya dengan mata melotot menantang. Tidak cukup dengan kata-kata, jari telunjuk Keisya dengan lancang mendorong bahu Nabila. "Jadi, cuci bajuku sekarang!" Detik itu juga, sesuatu di dalam diri Nabila putus. Tanpa aba-aba, tangan Nabila melesat ke depan. Dengan gerakan kilat, jemarinya mencengkeram kuat rambut panjang Keisya yang tergerai. Ia menariknya ke bawah dan memelintirnya dengan keras hingga kepala wanita itu mendongak paksa ke atas. "Aaaaaakkhh! Sakit! Lepasin, Mbak! Gila ya kamu?!" jerit Keisya histeris. Tangannya meronta-ronta mencoba melepaskan cengkeraman Nabila, namun tenaga Nabila yang didorong oleh amarah ternyata jauh melebihi dugaannya. "Parasit katamu?!" desis Nabila tepat di depan wajah Keisya. Matanya menatap bengis, menyiratkan kebencian yang mendalam. Cengkeramannya pada rambut Keisya semakin ia kuatkan hingga wanita itu meringis kesakitan, air matanya kini keluar sungguhan tanpa dibuat-buat. "Dengar baik-baik ya, wanita murahan!" umpat Nabila dengan suara rendah yang menggetarkan. "Kamu pikir dengan perut buncitmu itu kamu sudah menang? Kamu itu cuma pelacur yang dibeli Mas Arga dengan harta yang aku ikut bangun dari nol! Kamu ini tidak lebih dari sekadar benalu menjijikkan yang merusak rumah tangga orang! Jangan pernah berani memerintahku di rumahku sendiri!" "S-sakit, Mbak ... aakh, tolong! Aku bilangin Mas Arga kalau kamu aniaya aku!" ancam Keisya terbata-bata, nyalinya tiba-tiba menciut melihat kilatan membunuh di mata Nabila. "Bilang saja! Aku tidak peduli!" bentak Nabila nyaring. Ia mengentakkan kepala Keisya dengan kasar hingga tubuh wanita itu terhuyung. "Sekali lagi kamu berani menyentuhku atau memerintahku, aku gak akan segan-segan masukin kepalamu ke dalam mesin cuci ini! Paham kamu, hah?! Dasar parasit! Wanita menjijikan! Aku doakan karma buruk segera menghampirimu." Nabila menendang keranjang cucian Keisya. Keisya menatap Nabila dengan tubuh gemetar hebat. Rasa takut benar-benar merayapi tengkuknya. Ia tidak menyangka istri pertama yang terlihat kalem dan religius ini bisa menjelma menjadi singa betina yang beringas. Sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, Keisya buru-buru merangkak bangun, menarik keranjang cuciannya, dan berlari ketakutan kembali ke kamarnya. Nabila membuang napas kasar. Dadanya naik turun. Jantungnya berdegup kencang, namun ada kepuasan yang melegakan di hatinya. Ia tidak akan pernah membiarkan wanita jalang itu menginjak harga dirinya lagi. *** Malam harinya, hujan turun rintik-rintik di luar sana. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Nabila baru saja membacakan dongeng untuk Aisyah di kamar putrinya, lalu kembali ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang luas, mencoba mencari posisi nyaman untuk pinggangnya. Baru saja matanya terpejam, suara knop pintu kamarnya terdengar diputar dari luar. Ceklek. Pintu terbuka. Nabila sontak membuka mata dan mendapati Arga masuk ke dalam kamarnya dengan wajah kusut dan lelah. Pria itu sudah memakai piyama tidurnya. Tanpa mengatakan apa-apa, Arga berjalan ke arah ranjang dan berniat merebahkan dirinya di sebelah Nabila. Dengan cepat, Nabila menarik selimutnya dan beringsut duduk, menjauh dari jangkauan suaminya. "Ngapain kamu ke sini?" tembak Nabila dengan nada ketus. Arga menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terlihat stres. "Aku mau tidur di sini, Nabila. Pinggangku sakit tidur di kasur kamar tamu, sempit. Terus Keisya dari tadi rewel banget, minta dipijat, ngeluh kepanasan padahal AC udah paling dingin. Aku capek, seharian kerja dan lagi banyak masalah. Aku butuh ketenangan." Mendengar itu, Nabila tertawa sumbang. Tawa yang mengiris tajam. "Ketenangan? Bukannya wanita itu surgamu? Bukannya dia yang ngasih kamu anak laki-laki kebanggaanmu itu? Sana, urus surgamu! Jangan lari ke sini," sindir Nabila. "Nabila, tolonglah. Jangan mulai lagi," keluh Arga. Ia beringsut mendekat, mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh perut Nabila. "Aku ini suamimu. Aku berhak tidur di kamarku sendiri, di samping istri pertamaku." "Jangan sentuh aku!" Nabila menepis tangan Arga dengan keras sebelum pria itu sempat menyentuhnya. Arga tersentak. Wajahnya langsung menegang melihat penolakan kasar itu. "Kamu ini kenapa sih?! Aku cuma mau tidur! Dosa menolak suami yang meminta haknya!" "Jangan bawa-bawa dosa kalau kelakuanmu sendiri lebih rendah dari sampah, Mas!" desis Nabila muak. "Kamu pikir aku sudi tidur satu ranjang dengan pria yang baru saja berbagi ranjang dengan wanita lain? Tanganmu yang kamu pakai untuk menyentuhku ini, adalah tangan yang sama yang kamu pakai untuk membelai wanita murahan itu! Aku jijik, Mas! Jijik!" Perkataan Nabila bagaikan tamparan keras di wajah Arga. Ego kelaki-lakiannya hancur berkeping-keping. Pria mana yang terima dikatakan menjijikkan oleh istrinya sendiri? "Kamu benar-benar sudah kurang ajar, Nabila!" bentak Arga dengan urat leher menegang. "Lama-lama kamu persis seperti monster! Tidak ada lagi Nabila yang lembut dan penurut! Kamu pantas aku duakan kalau kelakuanmu sekasar ini!" "Kalau aku berubah jadi monster, itu karena kamu yang menciptakannya!" balas Nabila tak kalah keras. Ia menunjuk ke arah pintu kamarnya dengan tangan gemetar namun tegas. "Sekarang, keluar dari kamarku! Keluar!" Arga menatap Nabila dengan dada kembang kempis. Matanya menyiratkan amarah yang memuncak. Pria itu akhirnya menendang kaki ranjang dengan kasar, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar Nabila. Brak! Pintu ditutup dengan bantingan yang luar biasa keras, menggetarkan pigura foto pernikahan mereka yang masih menggantung di dinding. Nabila terdiam dalam kesunyian kamarnya. Perlahan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Sakit, rasanya begitu sakit. Tapi Nabila bersumpah pada dirinya sendiri, mulai detik ini, ia tidak akan pernah lagi terlihat lemah di depan Arga maupun Keisya. Bersambung..."Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da
"Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca
Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh
"Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening
Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan
"Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?" Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV.""Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila. Skakmat!Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya."A-akh! Mas!" Keisya mendadak memega







