Home / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 8. Terpesona Istri Pertama

Share

Bab 8. Terpesona Istri Pertama

last update publish date: 2026-10-01 12:51:25

"Mas ... sakit banget kepalaku, Mas. Kulit kepalaku rasanya mau mengelupas," adu Keisya dengan suara bergetar, air mata buayanya mengalir deras membasahi dada bidang Arga.

Malam itu, di dalam kamar tamu yang kini menjadi kamar Keisya, wanita muda itu sengaja merengek manja. Ia memeluk pinggang Arga erat-erat, menyembunyikan wajah liciknya di balik isak tangis yang dibuat-buat.

Arga yang baru saja pulang kerja dan masih lelah, seketika mengerutkan kening. Ia menangkup wajah istri mudanya itu dengan raut khawatir. "Sakit kenapa, Sayang? Kepala kamu memangnya kebentur atau bagaimana?" tanya Arga.

"Bukan, Mas!" Keisya pura-pura terisak semakin keras. "Ini gara-gara Mbak Nabila! Tadi siang waktu aku mau numpang nyuci baju di ruang belakang, tiba-tiba dia ngamuk, Mas! Dia jambak rambutku kuat banget, ditarik sampai aku jatuh ke lantai! Dia bahkan ngancam mau masukin kepalaku ke mesin cuci! Aku takut banget, Mas ... aku takut anak kita juga kenapa-kenapa gara-gara siksaan dia!"

Mendengar aduan itu, mata Arga seketika membelalak. Urat-urat di pelipisnya menonjol keluar. Amarahnya yang memang sudah menumpuk sejak penolakan Nabila tempo hari kini mendidih hingga ke ubun-ubun.

"Apa?! Nabila berani melakukan itu ke kamu?!" geram Arga dengan rahang mengeras.

Keisya mengangguk cepat. "Iya, Mas. Dia bener-bener udah berubah jadi monster. Dia benci banget sama aku. Dia juga kayaknya iri karena aku berhasil hamil anak laki-laki. Untung aja anak kita gak kenapa-kenapa," ucap Keisya seraya mengelus perutnya.

"Kurang ajar! Biar aku kasih pelajaran perempuan sok jagoan itu!" Arga melepaskan pelukan Keisya dengan kasar. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar keluar dari kamar, menaiki tangga dengan langkah berat dan penuh amarah menuju kamar utama.

Keisya yang tertinggal di bawah, mengusap air matanya dan menyunggingkan senyum miring. Ia lalu berjalan mengendap-endap mengikuti Arga dari belakang, ingin menonton langsung bagaimana madunya itu dihina dan dimaki oleh suami mereka.

Brak!

Arga membuka pintu kamar Nabila tanpa mengetuknya sama sekali. Kata-kata makian sudah berada di ujung lidahnya, siap ia muntahkan.

"Nabila! Kamu bener-bener—"

Suara Arga mendadak tercekat di tenggorokan. Matanya yang semula menyalang marah kini terpaku, membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.

Nabila berdiri di depan meja rias, baru saja selesai mandi. Wanita itu hanya mengenakan slip dress berbahan satin warna maroon yang sangat tipis dan jatuh pas di lekuk tubuhnya.

Tali dress itu juga sedikit melorot ke bagian lengan, mengekspos bahu mulusnya dan belahan dadanya yang tampak lebih berisi.

Tetesan air masih membekas di ujung rambut Nabila yang basah, menetes perlahan menyusuri leher jenjangnya hingga ke tulang selangka. Aroma sabun mandi beraroma vanilla dan mawar langsung menguar, memenuhi indra penciuman Arga.

Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Sudah berbulan-bulan ia tidak menyentuh Nabila, dan entah mengapa, malam ini istri pertamanya itu terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda dibandingkan Keisya. Ada aura keibuan yang bercampur dengan keanggunan dewasa yang membuat Arga seketika lupa pada tujuan awalnya.

Nabila yang terkejut melihat pintu kamarnya didobrak, refleks menyilangkan tangan menutupi dadanya. Tatapannya menajam.

"Ngapain kamu masuk tanpa ketuk pintu, Mas?!" desis Nabila tajam.

Namun Arga seolah terhipnotis. Amarahnya menguap entah ke mana. Langkahnya yang tadi menghentak kini berubah pelan, perlahan mendekati Nabila dengan tatapan memuja. Mata pria itu turun menyusuri leher, bahu, hingga perut Nabila yang membuncit di balik kain satin itu.

"Nabila. ..." panggil Arga lirih, suaranya mendadak serak. Tangannya tanpa sadar terulur, ingin menyentuh bahu telanjang istrinya yang terlihat begitu lembut. "Kamu ... makin cantik kalau habis mandi, Bil."

Nabila mundur satu langkah, menepis udara kosong sebelum tangan Arga menyentuhnya. "Jangan sentuh aku! Keluar kamu! Aku udah mau tidur!"

"Mas Arga!"

Sebuah jeritan nyaring dari ambang pintu memecah suasana canggung itu. Keisya berdiri di sana dengan wajah memerah padam menahan cemburu yang membakar hatinya.

Niatnya menghampiri ialah untuk melihat drama live depan mata, tapi apa yang ia lihat?

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya menatap Nabila layaknya serigala kelaparan!

"Mas! Kok malah diam aja sih?! Kamu bilang mau marahin dia! Kenapa malah ngeliatin dia kayak gitu?!" rengek Keisya sambil menghentakkan kakinya keras-keras, berjalan masuk dan langsung menarik lengan kemeja Arga.

Arga tersentak kaget. Kewarasannya mendadak kembali begitu mendengar lengkingan suara Keisya. Ia berdehem canggung, membuang muka dari Nabila dan berusaha merapikan ekspresi wajahnya agar kembali terlihat garang.

"Ekhm! I-iya!" Arga menatap Nabila, namun kali ini ia berusaha menghindari kontak mata dengan bahu istrinya. "Nabila! Apa maksudmu menyiksa Keisya di ruang cuci tadi siang?! Kamu jambak rambutnya sampai dia jatuh, hah?! Kamu mau bunuh dia dan anakku?!"

Nabila yang kini sudah meraih cardigan panjang dan menutupi tubuhnya, tersenyum sinis. Ia bersedekap dada, menatap dua manusia di depannya dengan tatapan merendahkan.

"Menyiksa? Menjambak? Jatuh?" Nabila mengulang kata-kata itu dengan nada mengejek. Ia lalu menatap Keisya yang berlindung di balik lengan Arga. "Hebat juga karangan ceritamu, Keisya."

"Jangan mengelak kamu, Nabila! Keisya sambil nangis-nangis cerita ke aku! Kulit kepalanya sampai merah!" bentak Arga berusaha membela.

"Aku memang menarik rambutnya, Mas," jawab Nabila tenang, sangat tenang hingga membuat Arga dan Keisya sedikit terkejut. "Tapi coba kamu suruh istrimu yang suci bak malaikat ini untuk cerita dari awal. Tanya pada dia alasan aku jambak dia itu apa. Dan kalimat kotor apa yang keluar dari mulutnya sebelum tanganku mendarat di kepalanya? Tanya sama dia tujuan dia nyamperin aku ke belakang itu untuk apa. Coba, tanya!" ucap Nabila dengan nada yang penuh penekanan.

"A-aku gak ngomong apa-apa, Mas! Dia bohong! Dia tiba-tiba nyerang aku pas aku mau nyuci baju!" bantah Keisya cepat, suaranya bergetar panik. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Arga. "Jangan percaya sama dia, Mas!"

Nabila tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat elegan namun mematikan. Ia melangkah maju perlahan, membuat Keisya secara refleks mundur selangkah.

"Kenapa harus berdebat soal siapa yang berbohong?" Nabila menghentikan langkahnya tepat di hadapan Arga. Matanya menatap lurus, mengintimidasi suaminya itu. "Kamu lupa, Mas? Waktu rumah kita kemalingan tahun lalu, kamu sendiri yang pasang CCTV di beberapa sudut rumah ini, termasuk di ruang cuci belakang."

Tubuh Keisya seketika kaku. Matanya membelalak lebar, wajahnya yang tadi memerah kini berubah seputih kertas. *

CCTV? Di ruang cuci ada CCTV?!

Nabila menyeringai tipis melihat perubahan drastis di wajah madunya. Ia lalu kembali menatap Arga dengan sorot mata yang tak terbantahkan.

"Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ...." Nabila memiringkan kepalanya, menantang Arga dengan senyum meremehkan. "Kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?"

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Adalah Maut    Bab 14. Berselingkuh

    "Apa maksudmu?! Berlian apa?!" bentak Arga. Meski suaranya keras, ada rasa panik yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat sorot mata mematikan dari pria asing di hadapannya.Dennis menatap Arga dengan pandangan merendahkan, seolah pria di depannya ini hanyalah serangga yang tak berharga. Dengan satu entakan kasar, Dennis melepaskan cengkeramannya, membuat Arga terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak pilar teras.Arga meringis, memegangi pergelangan tangannya yang seketika memerah dan berdenyut nyeri. Tenaga pria berjas abu-abu itu ternyata jauh di luar dugaannya.Mata Dennis beralih menatap Keisya yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat santai, bahkan senyuman sinis terlihat di bibirnya. 'Siapa wanita ini? Adik? Tidak mungkin!' batin Dennis. Ia tahu jelas, Arga tidak punya adik atau sepupu perempuan. Dulu, saat tahu Nabila menjalin hubungan dengan Arga, Dennis mencari tahu latar belakang Arga. Ia baru ikhlas melepaskan saat tahu bagaimana background pria itu da

  • Madu Adalah Maut    Bab 13. Merebut Kembali Berlian

    "Kamu... sedang bercanda, kan, Dennis?"13 tahun lalu, ialah saat mereka masih duduk di bangku SMA. Kekasih Dennis saat itu ialah dirinya. Mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA dan putus beberapa bulan masa kuliah, bahkan belum selesai semester 1. Nabila menelan ludah, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak karuan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dennis tersenyum getir. Ia memajukan langkahnya sedikit, masih menyisakan jarak aman untuk menghormati batasan Nabila. "Aku pengusaha, Bil. Aku terbiasa menghitung untung rugi dalam setiap detik waktuku. Untuk apa aku membuang waktuku mengarang kebohongan tentang perasaanku sendiri?"Belum sempat Nabila membalas, sebuah suara dari arah belakang memecah ketegangan itu. "Wah, wah, wah! Pemandangan langka macam apa ini? Tuan Muda Dennis Pratama akhirnya turun gunung dan menampakkan wujudnya di acara receh begini?!"Maya melangkah mendekat dengan dua gelas mocktail di tangannya, matanya membelalak tak perca

  • Madu Adalah Maut    Bab 12. Cinta Pertama Masa SMA

    Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota. Alunan musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan riuh rendah suara tawa dan obrolan dari ratusan orang yang hadir malam itu.Malam ini adalah acara reuni akbar SMA Bina Bangsa angkatan Nabila. Sebenarnya, di tengah kekacauan rumah tangganya, Nabila sangat malas menghadiri acara semacam Namun, Maya sahabat karibnya sejak masa putih abu-abu memaksanya datang untuk sekadar melepas penat dan mencari udara segar.Nabila tentu saja tidak datang sendiri. Tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil Aisyah. Ia menolak keras meninggalkan putri sulungnya itu di rumah bersama Arga dan Keisya. Insting keibuannya mengatakan bahwa rumah mewahnya kini bukanlah tempat yang aman untuk Aisyah jika ia tidak ada di sana.Malam itu, Nabila tampil memukau meski perutnya membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulan. Ia mengenakan gaun maternity berbahan sutra jatuh

  • Madu Adalah Maut    Bab 11. Karma Belum Berjalan

    "Aku juga ingin tahu, kalau kekayaanmu berkurang saat pembagian harta gono-gini nanti, apa wanita ini masih mau menerima kamu yang tidak kaya? Atau malah meninggalkan kamu?"Keheningan seketika menyelimuti lantai dua itu. Udara rasanya berhenti mengalir.Arga mematung. Mulutnya yang tadi terbuka untuk melontarkan makian, kini terkunci rapat. Wajahnya yang memerah padam perlahan memucat. Ancaman cerai yang selama ini ia gunakan sebagai senjata pamungkas untuk menundukkan Nabila, justru berbalik menyerangnya seperti bumerang yang mematikan.Di dalam kepalanya, otak bisnis Arga berputar dengan sangat cepat. Jika ia menjatuhkan talak malam ini juga, gugatan harta gana-gini akan langsung berjalan. 60% dana likuid perusahaan sudah ada di tangan Nabila. Sertifikat rumah mewah ini atas nama Nabila. Mobil-mobil atas nama Nabila. Jika mereka bercerai, Arga bukan hanya akan kehilangan separuh kekayaannya, tapi bisnis restoran yang ia banggakan bisa lumpuh total tanpa suntikan dana dari rekening

  • Madu Adalah Maut    Bab 10. Ceraikan Aku

    Malam harinya, suara rintik hujan di luar jendela berpadu dengan suara isak tangis dramatis yang sengaja dikeraskan dari arah ruang keluarga lantai bawah.Begitu Arga melangkahkan kakinya melewati pintu utama sepulang dari kantor, Keisya langsung berhambur memeluknya. Wanita muda itu membenamkan wajahnya di dada Arga, menangis tersedu-sedu seolah baru saja mengalami penyiksaan yang sangat kejam."Loh, Sayang? Kamu kenapa nangis begini? Ada apa?" tanya Arga panik. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja menguap. Ia menangkup wajah Keisya, mengusap air mata buatan yang membasahi pipi istri mudanya itu."Mas ... hiks ... aku mau pindah aja dari rumah ini, Mas. Aku gak kuat! Aku mau ngekos aja di luar gak apa-apa, asal aku gak terus-terusan dihina di sini," rengek Keisya dengan napas tersengal-sengal.Dahi Arga berkerut tajam. Urat di lehernya mulai bermunculan. "Dihina? Siapa yang berani menghina kamu? Nabila berulah lagi?!"Keisya mengangguk lemah, memasang raut wajah paling menyedihkan

  • Madu Adalah Maut    Bab 9. Istri Sah VS Istri Siri

    "Cek saja rekaman jam dua siang tadi, Mas. Dan setelah kamu melihat sendiri kelakuan asli istrimu yang menjijikkan itu dari layar ... kita lihat, apa kamu masih punya muka untuk marah padaku?" Kata CCTV yang keluar dari mulut Nabila bagaikan mantra mematikan yang seketika membekukan darah di pembuluh Keisya. Wajah wanita muda yang tadinya memerah penuh amarah itu kini pias, seputih kapas. Matanya bergerak liar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.Arga menoleh menatap Keisya dengan kening berkerut dalam. "CCTV? Kenapa aku baru ingat?" gumamnya. "Ayo, kita liat CCTV.""Ayo, siapa takut. Pokoknya, yang salah, harus keluar dari rumah ini hari ini juga! Dia harus hengkang dari rumah ini hari ini juga!" ucap Nabila. Skakmat!Otak licik Keisya berputar cepat mencari jalan keluar. Sadar bahwa kebohongannya akan terbongkar jika Arga benar-benar mengecek rekaman itu, Keisya langsung menggunakan senjata andalannya, air mata dan kehamilannya."A-akh! Mas!" Keisya mendadak memega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status