LOGIN"Hanif, tolong jaga mereka untuk aku dengan baik," pinta Arif sambil tersenyum.
"Mereka? Apa maksud kamu?" tanya Hanis bingung dengan perkataan Arif. "Argh!" teriak Arif dengan badan tersentak. "Mas!" teriak Laila lebih keras. "Arif!" Alat medis berbunyi dengan deras. Kesadaran Arif tiba-tiba menurun. Sebentar lagi dia beneran akan pergi. "Mas!" "Kamu tunggu di sini. Saya akan memanggilkan dokter," ujar Hanif panik. "Ha-Hanif, ja-jangan pergi," cegah Arif dengan suara terbata-bata. "Arif, kamu membutuhkan pertolongan dokter," sahut Hanif. "Hanif, tolong antar aku ya. Aku mau pergi," pinta Arif dengan air mata yang menetes. "Mas!" ucap Laila dengan tubuh lemas mendengar perkataan Arif. Hanif tidak jadi pergi mencari dokter. Dia tahu sang sahabat sedang menghadapi sakaratul maut. Langkahnya mendekat dan berdiri di samping Arif. Arif meraih ingin tangan Hanif dengan tangan kanannya. Tangannya meraba-raba mencari tangan Hanif secara tidak beraturan. Tubuhnya sudah sangat tidak bertenaga. Hanif berinisiatif menangkap Arif. Membuat Arif tersenyum setelah hasil memegang tangan Hanif. Kemudian tangan kirinya juga berusaha untuk meraih tangan Laila. "Iya Mas, Lailai sini," kata Laila menangkap tangan Arif. Arif membawa kedua tangan itu ke atas dadanya. Menggenggam kedua tangan seerat yang dia bisa. "Agh!" Arif kembali berteriak kesakitan. "Mas!" "Arif!" "Hanif," pinta Arif sudah siap. Laila meneteskan air matanya. Dia tidak ingin melepaskan kepergian Arif. Tapi, jika semua demi kebaikan sang suami, dia harus mengikhlaskan semuanya. "Asyhadu an laa ilaaha illallaah," ucap Hanif. "Asyhadu an laa ilaaha illallaah," ikut Arif. "Wa asyhadu anna muhammadan Rasullullah," lanjut Hanif. "Wa asyhadu anna muhammadan Rasullullah," sambung Arif. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Alif kembali tersenyum ke arah Laila dan Hanif bergantian. Kemudian dia menutup mata. Kedua tangannya melepaskan b tangan Laila dan Hanif. Alat medis kembali berbunyi dengan keras. Semua organ tubuh Arif sudah berhenti bekerja. Arif sudah pergi dengan tenang. "Mas Arif!" teriak Laika menangis histeris. "Laila kamu harus mengikhlaskan kepergian Arif. Kamu jangan membuat dia pergi dengan berat. Tolong jaga air matamu. Ini sudah panggilan Allah." Laila sekuat tenaga menahan air matanya. Seorang manusia tidak boleh menolak ketentuan Allah. Hidup dan mati sudah diatur. "Kamu tunggu di sini. Aku memanggil Dokter dan mengurus semua surat-suratnya." *** "Ada apa Nur?" tanya Halimah. Halimah segera mendekat ke arah putrinya. Dia sangat kaget melihat pecahan bingkai foto di kaki anaknya. "Kamu tidak apa-apa sayang? Apa kamu terluka?" tanya Halimah khawatir. "Nur tidak terluka Bu," sahut Nur tersadar dari kaget. "Kenapa bingkai foto ini bisa pecah?" "Nur tidak tahu Bu. Tadi Nur hanya ingin pegang sebentar. Tiba-tiba jatuh sendiri dari tangan Nur," sahut Nur. Nur tidak sengaja menjatuhkan bingkai foto. Dia tadi berniat ingin merapikan bingkai foto yang berada di atas laci yang miring. Matanya menatap foto tersebut beberapa saat. Ketika ingin meletakkan kembali, bingkai itu jatuh dari tangannya. "Sayang, ada apa?" tanya Burhan, suami dari Halimah. Burhan segera berlari saat mendengar suara benda pecah. Dia takut kalau terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya. Satu tiba di tempat Nur dan Halimah, Nur sudah menangis di pelukan Halimah. "Bapak!" "Apa yang terjadi sama Nur, Bu?" "Ibu juga tidak tahu Pak, tiba-tiba Nur menangis seperti ini setelah menjatuhkan barang," sahut Halimah. "Sayang, kamu kenapa?" sambung Halimah. "Bu, bawa Nur ke dalam kamar. Biar Bapak yang membereskan ini," suruh Burhan. "Baik Pak. Ayo Nur, kita ke kamar," ajak Halimah tetap memeluk Nur. Nur menganggukkan kepala. Sebesar apapun dia, dia tetap anak-anak di depan ibunya. "Syukurlah mereka tidak apa-apa. Aku harus membereskan semua ini sekarang sebelum melukai mereka," gumam Burhan. Burhan segera mencari sapu untuk membersihkan beling. Beling itu bisa melukai siapapun yang menginjak nya. *** Halimah mendudukkan Nur di atas tempat tidur beserta dirinya. Dia berniat melepaskan tangannya dari Nur, tapi Nur dengan cepat kembali memeluk pinggang Halimah. Kepalanya diletakkan di pangkuan ibunya. "Nur!" "Bu!" "Ada apa lagi sayang. Ayo cerita sama Ibu," ujar Halimah mengelus kepala anak kesayangannya. "Nur tidak tahu Bu. Nur hanya sedih saja," sahut Nur gelisah tanpa penyebab. "Nur, sekarang kamu pergilah ambil wudhu. Kamu pasti sedang yang diganggu oleh jin. Dia yang membuat hati kamu seperti Nur," suruh Halimah. Nur segera pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu. Sekaligus dia mau salat Ashar. Halimah keluar dari kamar saat Nur sudah berada di dalam kamar mandi. "Ya Allah, apa yang terjadi sama hamba hari ini. Kenapa hati hamba terasa sangat berat tanpa alasan. Tolong lindungi hamba dan juga keluarga hamba ya Allah," doa Nur di akhir sembahyang. *** Arif langsung dimakamkan pada hari itu juga. Tidak banyak yang datang saat Arif di antar ke tempat peristirahatan terakhir. Hanya ada Laila, Hanif dan beberapa warga yang bertempat tinggal dekat dengan rumah Arif. Keluarga Arif yang lain tidak ada yang terlihat satupun. Laila sudah mengabari mereka semua. Namun mereka tidak kunjung datang sampai proses pemakaman selesai. "Mas Arif, Mas sudah tenang di sana," ucap Laila. "Laila, ayo kita pulang," ajak Hanif. "Sebentar Pak, saya masih mau menemani mas Arif sebentar lagi," sahut Laila. "Baiklah." Hanif menemani Laila. Laila masih membutuhkan waktu sedikit lagi. Sekarang di kuburan hanya tinggal mereka berdua. "Ayo Laila," ajak Hanif lagi. "Hari sudah semakin sore." *** Hanif ikut pulang ke kediaman milik Laila dan Arif. Dia ingin mengantar Laila saja. Di sana ada beberapa orang yang masih berada di rumah Laila. Jadi mereka tidak hanya berdua saja. Mereka adalah para tetangga yang baik dan ramah dengan Laila dan juga almarhum Arif. "Silahkan duduk Pak. Apa Bapak mau minum?" tawar Laila. "Tidak perlu, Laila. Saya mau langsung pulang," tolak Hanif. "Bapak mau pulang ke kota?" "Kamu jangan panggil saya Pak lagi. Kamu bisa memanggil saya dengan Mas, sama dengan memanggil Arif," saran Hanif. Mereka berdua terlihat seperti bos dan bawahan. "Baik Mas Hanif." "Saya mau pulang ke tempat penginapan. Besok saya akan kembali lagi. Kamu butuh istirahat yang cukup," ujar Hanif. Hanif meninggalkan kediaman Arif. *** Laila berjalan ke arah kamar dengan lesu. Kamar yang sudah ditempati bertahun-tahun bersama-sama dengan mendiang almarhum suami. Sekarang hatinya sangat hancur. Laila telah kehilangan orang yang sangat dicintainya, keluarga satu-satunya. Dia dan sang suami sama-sama yatim piatu. Bedanya, Laila sama sekali tidak mempunyai sanak saudara yang lain. Sedangkan Arif memiliki saudara yang lain tapi tidak akrab. Bersambung ….Ibu, apa Ayah balu cayang Jen kalau Jen ikut Bunda?" tambah Zain dengan mata yang sudah dibasahi air mata. "Kamu jangan pernah berbicara seperti itu, Zain," ujar Laila menangis dan memegang kedua bahu Zain. "Jen ingin Ayah menyayangi Zain sepelti Ayah menyayangi Kakak Yucuf dan Kak Lau. Dada Jen celalu catit kalau Ayah mengabaikan Jen. Apa Jen bukan anaknya Ayah?" "Siapa bilang Ayah tidak sayang sama Zan. Ayah sayang sama Zain," sahut Laila cepat. Laila membawa Zain kedalam pelukannya. Memeluk Zain dengan erat. Entah apa yang dipikirkan Zain sampai dia mengungkit masalah ini. 'Apa ini gara-gara kepergian Dika dan pelukan Papa Dika. Kenapa Zain bisa berpikir yang aneh-aneh Tuhan,' ratap Laila dalam hati. "Ibu jangan bohong. Jen tahu Ayah tidak cayang cama Jen. Ayah tidak pelnah mau main sama Jen. Tidak pelnah meluk Jen. Ayah tidak pelnah bemain sama Jen. Ayah tidak pelnah beli Jen mainan. Ayah tidak pelnah …." "Cukup sayang, cukup. Ibu mohon, hentikan. Ini tidak sanggup mendenga
"Tuan, apa Tuan mau lihat-lihat dulu," ujar karyawan dengan cepat menghampiri Hanif yang berdiri di depan toko mereka. Mencoba menarik perhatian calon pembeli untuk cuci mata terlebih dahulu. Biasanya pelanggan banyak beli barang saat tidak berniat belanja. "Tidak, tidak usah," tolak Hanif. "Lihat aja dulu Tuan. Kalau misalkan tidak ada yang tertarik, tidak apa-apa," bujuknya lagi. Hanif luluh, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam toko mainan sebentar. Hanya lihat-lihat saja. Tanpa niat beli. "Tuan, apa ada yang ingin Tuan beli? Tuan bisa menjelaskan mainan apa yang ingin dibeli. Biar kami bisa rekomendasi barang terbaru?" *** Setelah dari pusat perbelanjaan, Hanif mampir pulang ke rumah untuk mengambil dokumen yang tertinggal di rumah. Dokumen yang harus segera diselesaikan. Ketika berada di depan rumah Hanif berpapasan dengan Bibi. Lalu menemukan sebuah kardus besar di samping Bibi. "Bi, apa ini?" tanya Hanif. "Barang ini di antar oleh kurir Pak. Barusan kurirnya per
"Kenapa Bu?" "Sayang, kamu harus janji sama Ibu. Jangan pernah katakan seperti itu lagi sama Ibu," ujar Laila memeluk Zain dengan cepat dan erat."Emm iya," balas Zain tidak mengerti. Namun tetap mengiyakan permintaan Laila. "Zain harus janji sama Ibu," tambah Laila. "Iya, Jen janji." "Zain juga harus janji, tidak akan meninggalkan Ibu sendiri." "Janji." "Kamu harus tumbuh menjadi anak yang besar dan kuat." "Humm," angguk Zain. Laila melepaskan pelukannya. Menatap wajah Zain lalu mencium kening dan pipinya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah Rauzah. *** "Kalian mau main sampai jam berapa. Ini sudah malam. Sana tidur," suruh Hanif menegur Rauzah, Zain dan Yusuf yang masih bermain. Yusuf dan Rauzah sedang memainkan robot baru yang dibawa pulang oleh Zain. Zain menunjukkan kepada mereka berdua, membiarkan mereka untuk bermain dengan robot tersebut. Sehingga mereka belum mau tidur. Masih ingin bermain. Laila sudah menjelaskan kepada Hanif bahwa Zain mendapatkan mainan
Ruangan rumah sakit itu membisu selama beberapa menit. Setelah Papa Dika sedikit bisa mengobati rasa Rindunya kepada sang anak melalui pelukan Zain, baru dia melepaskan pelukannya. "Om jangan nangis ya," bujuk Zain. "Iya, Om tidak akan menangis lagi," sahut Papa Dika menahan air mata yang ingin keluar kembali. "Jadi Zain, apa Zain mau membawa kembali robot itu," ujar Papa Dika. "Tapi …." "Om juga mau memberikan beberapa boneka milik Dika kepada kamu. Kamu sudah dianggap adik oleh Dika. Mau ya." "Emmm," gumam Zain bingung. "Sebentar." Papa Dika berdiri, lalu berjalan ke arah salah satu mainan milik Dika. Setelah itu berjongkok lagi di depan Zain." "Ini adalah mainan robot yang paling Dika suka. Sekarang dia kesepian, sudah tidak ada Dika. Zain mau bermain dengan robot ini. Dia bisa jadi teman bermain robot yang Zain pegang." Zain menatap antara robot di tangannya dan yang ada di tangan Papa Dika. Dia tidak tega jika robot itu tidak ada teman bermain. Pasti kesepian jika send
"Kemarin, tiba-tiba tubuhnya drop. Ini kami mau bereskan semua barang-barang. Kemarin kami tidak sempat membereskannya." "Kak Dika sudah sembuh dong," ujar Zain dengan polos. Zain tidak mengerti sepenuhnya apa yang Laila dan Mama Dika bicarakan. Hanya satu yang dia tangkap, Dika tidak akan sakit lagi. Artinya Dika sudah sembuh. "Zain!" seru Laila. "Jadi Dika ada dimana Tante?" tanya Zain mengabaikan seruan Laila. Papa Dika dengan perlahan berjalan ke arah Zain. Setiap dia mengunjungi anaknya beberapa minggu belakangan ini, Dika sering menyebut dan membahas tentang Zain. Lalu dia berjongkok di depan Zain. Memandang wajah Zain mengingatkannya pada Dika yang sudah pergi. Zain memperhatikan apa yang dilakukan Papa Dika dengan seksama. "Sekarang Dika sudah pergi jauh," sahut Papa Dika dengan sendu menahan tangisan. "Jauh? Ke mana Om? Apa Jen boleh ikut?" "Zain!" seru Laila ingin memeluk Zain. Laila tidak akan membiarkan Zain pergi dari sisinya. Walaupun Zain tidak tahu makna da
Laila tersenyum melihat Zain yang keluar bersama Lisa dari ruangan kelas. Zain bisa mengikuti pembelajaran sampai jam berakhir. Tidak ada kendala. "Sayang, bagaimana sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Laila saat Zain dan Lisa sudah berdiri di depannya. "Seru Tante. Tadi kami disuruh menyanyi dan menari," sahut Lisa, bukan Zain. *Benarkah?" balas Laila tidak mempermasalahkan Lisa yang mewakili Zain untuk menjawab pertanyaannya. "Iya Tante. Tante tau, Minggu depan kami mau ada pentas. Lisa akan menjadi bunga matahari," cerita Lisa dengan semangat. "Wah, pasti sering. Terus Zain jadi apa?" "Zain jadi pohon, Tante. Nanti Lisa mau suruh Papa cariin kostum bunga matahari yang cantik, buat Lisa. Biar Lisa tampil cantik juga." "Berarti Ibu juga harus cari kostum untuk Zain." "Ibu mau beliin?" tanya Zain buka suara. Zain dari tadi berdiri di samping Lisa tanpa bicara. Dia tidak ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan Laila. Semua di borong sama Lisa. "Harus dong sayang. Za







