Accueil / Rumah Tangga / Madu Di Kamar Tamu / Bab 5. Penolakan Laila

Share

Bab 5. Penolakan Laila

last update Dernière mise à jour: 2025-10-16 18:54:26

Hanif pulang ke hotel yang tidak jauh dari rumah Laila. Kakinya berjalan lesu ke arah pintu kamar. Setelah berada di kamar, dia duduk di kasur memandang ke arah jendela. Menyajikan panorama malam yang sangat indah. Bertolak belakang dengan suasana hatinya malam ini.

"Nur, maafkan Mas. Mas harap kamu mau mengerti keadaan Mas. Mas tidak akan pernah bisa bertemu kamu kalau tidak ada Arif. Apapun yang terjadi, Mas tidak mau kehilangan kamu. Kamu bagian terpenting dalam hidup Mas," gumam Hanif memikirkan keadaan Nur.

Hanif sepintas membayangkan hubungannya dengan Nur selama ini. Hubungan mereka dibilang cukup baik. Jarang sekali ada perselisihan pendapat.

Hanif memutuskan untuk mandi dulu sebelum tidur. Sekalian menenangkan pikiran yang masih kusut.

Setelah mandi dia segera menghadap Ilahi. Memohon petunjuk dan minta dimudahkan segala urusannya.

***

Pada keesokan harinya, Hanif menemui Laila sesuai dengan janjinya. Dia harus bicara langsung kepada Laila. Dia tidak mau terlalu lama meninggalkan Nur. Semakin melihat b wajah Nur akan semakin baik.

"Assalamualaikum," ucap Hanif memberi salam.

"Waalaikumsalam," sahut orang yang berada di rumah Laila.

"Oh, Bapak yang semalam. Ayo masuk," ucap ibu itu masih mengenal wajah Hanif.

"Iya Bu. Apa Laila ada Bu?" tanya Hanif dengan sopan.

"Ada, tunggu sebentar. Akan saya panggilkan dulu. Ayo duduk dulu," ujarnya mempersilahkan Hanif duduk.

Hanif duduk di sofa menunggu tetangga tadi memanggil Laila. Sambil menunggu, dia melihat sekilas keadaan rumah Arif yang cukup sederhana. Ciri khas dari Arif yang tidak suka terlalu mewah.

"Mas Hanif," ujar Laila.

Laila segera ke ruang tamu saat tetangga bilang Hanif datang. Tadi dia masih duduk merenung di dalam kamar.

Hanif berdiri kembali. Menghormati kedatangan pemilik rumah.

"Laila, apa kita bisa bicara?" tanya Hanif.

"Bicara tentang apa Mas?"

"Bagaimana kalau kita duduk dulu," tawarin Hanif supaya lebih nyaman.

"Oh, maaf Mas Hanif. Silahkan duduk," sahut Laila.

Laila sebagai tuan rumah jadi tidak enak. Dia tidak mempersilahkan tamu untuk duduk.

Setelah Hanif duduk, Laila juga ikut duduk.

"Laila, sebelumnya saya minta Maaf. Saya tahu kalau kamu masih berkabung, tapi masalah ini harus segera diluruskan. Masalah tentang permintaan Arif," ujar Hanif membuka suara.

Laila membenarkan apa yang dikatakan Hanif. Masalah itu harus segera dibahas. Dia sudah terlanjur berjanji kepada Arif sebelum pergi. Jadi dia sudah siap menjalankan janji itu nanti setelah masa iddahnya selesai.

Laila percaya dengan pilihan almarhum suami. Suaminya mengusahakan yang terbaik untuk dia. Jika Hanif adalah pilihan terbaik, dia akan berusaha menerima Hanif sebagai calon suaminya kelak.

"Jadi, apa yang Mas Hanif ingin bicarakan?"

"Jadi kamu tidak keberatan kalau menikah dengan saya setelah masa iddah kamu selesai?"

"Iya Mas. Ini adalah janji yang saya buat dengan almarhum suami saya. Saya akan berusaha menerima kehadiran Mas Hanif," sahut Laila dengan yakin.

"Saya juga ingin menjalankan janji saya dengan Arif. Tapi, ada satu hal yang harus saya ceritakan terlebih dahulu kepada kamu Laila," kata Hanif meremas kedua tangan yang mengepal.

Hanif dari tadi duduk dengan kedua tangan yang saling bertautan. Kebiasaan kalau dia sedang gugup atau gelisah.

"Apa itu Mas?" tanya Laila penasaran.

"Maaf, saya tahu, ini mungkin cukup berat untuk kamu ketahui. Sebenarnya ini juga berat untuk saya. Saya tetap ingin mengabulkan permintaan terakhir Arif untuk menikah dengan kamu."

"Iya Mas, saya mengerti," jawab Laila paham.

"Tapi sebelum itu, saya ingin bilang kalau saya sudah menikah dan masih mempunyai istri," kata Hanif tidak mau menutupi tentang Nur.

"Apa? Mas Hanif sudah menikah?" tanya Laila terkejut.

Laila tidak pernah membayangkan kalau Hanif sudah menikah. Dia mengira kalau Hanif masih single atau duda.

'Tentu saja mas Hanif sudah memiliki istri. Dia pria dewasa dan juga sudah mapan. Tapi kenapa dia mau menerima permintaan mas Arif. Terus bagaimana dengan istrinya mas Hanif,' batin Laila dilema.

Sekarang Laila jadi berpikir lagi untuk memenuhi permintaan Arif. Dia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang. Mereka sama-sama perempuan. Tidak ada perempuan yang suka melihat suaminya menikah lagi.

"Saya berencana untuk sementara ingin mendekatkan kamu dengan istri saya terlebih dulu sambil menunggu masa iddah kamu. Setelah kalian berdua akrab, baru saya akan bercerita kepada istri saya," terang Hanif.

"Mas Hanif ingin merahasiakan ini dari istri Mas?" tanya Laila terluka.

"Iya," sahut Hanif menunduk.

Laila ikut terluka mendengar jawaban Hanif. Dia bisa memposis diri sebagai istri Hanif.

"Mas Hanif, apa Mas tahu bagaimana hancurnya hati istri Mas Hanif saat mengetahui kalau Mas Hanif ingin menikah lagi. Apa Mas bisa membayangkan itu?" tanya Laila sedikit marah.

"Saya tahu ini berat. Saya yakin kita bisa menjalani ini semuanya dengan baik."

"Mas Hanif, tidak ada satu orang perempuan pun di dunia ini yang mau di madu. Istri yang menerima suaminya menikah lagi itu karena keterpaksaan, bukan ikhlas. Mereka tidak mempunyai pilihan lain. Hanya segelintir orang saja yang rela dimadu. Sebaiknya Mas lupakan saja permintaan dari mas Arif. Saya sudah berubah pikiran," putus Laila.

Laila tidak mau bersikap gegabah. Demi melindungi diri sendiri, dia harus menyaksikan orang lain terluka. Itu bukan gayanya. Lebih baik dia hidup kesusahan daripada membuat orang lain kesusahan.

"Tidak Laila. Saya tidak akan mengingkari janji saya. Tolong berikan saya waktu untuk menjelaskan kepada istri saya. Saya ingin menjaga kamu," mohon Hanif ingin menjalankan amanat dari Arif.

"Maaf Mas, saya menolaknya. Mas Hanif bisa menjaga saya tanpa perlu menikahi saya."

"Saya tidak mau timbul fitnah di antara kita. Bagaimana seorang laki-laki menjaga seorang istri yang ditinggalkan suaminya. Saya ingin menjaga kehormatan kamu juga. Apa kamu tidak mau menjalankan permintaan terakhir Arif begitu saja?"

Laila sangat ingin memenuhi permintaan terakhir dari suaminya. Namun dia tidak ingin merusak rumah tangga orang lain. Apalagi orang sebaik Hanif dan istrinya.

"Laila, saya yakin, istri saya suatu saat pasti bisa menerima kamu. Dia adalah orang yang baik. Jadi, tolong pertimbangkan ini lagi," mohon Hanif.

"Baiklah, Laila mau menerima ini. Tapi dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Seandainya nanti istri Mas benar-benar tidak bisa menerima Laila, tolong pilih istri Mas. Laila akan berusaha sampai batas waktu kita menikah. Jika saat itu istri Mas tidak bisa menerima kehadiran saya, tolong lupakan masalah ini," pinta Laila.

Laila hanya bisa mengusulkan ini. Jika dia beneran berjodoh dengan Hanif dan istrinya, nanti mereka akan ada jalan sendiri untuk bisa bersama. Setidaknya mereka sudah berusaha untuk mengabulkan permintaan terakhir Arif.

"Baiklah," sahut Hanif terpaksa berbohong.

Apapun yang terjadi Hanif akan tetap menjaga Laila. Dia juga akan berusaha untuk mempertahankan Nur.

"Mas Hanif harus memegang janji."

"Iya. Kalau begitu, dua minggu lagi saya akan menjemput kamu. Saya harus segera kembali ke kota," pamit Hanif.

"Baik Mas."

"Assalamualaikum," ucap Hanif memberi salam.

"Waalaikumsalam," sahut Laila.

Laila menatap kepergian Hanif. Dia tahu jalan yang sudah dipilih tidak baik. Dia hanya berdoa semoga kedepannya baik-baik saja. Mereka juga bisa menemukan kebahagiaan tersendiri.

Bersambung ….

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 48

    *** Begitu bel berbunyi, Lisa dengan cepat mengemas barang-barang miliknya. Semuanya dimasukan dengan sembarang. Asal masuk saja. "Bu, sudah bel," kata Lisa tidak sabaran. "Anak-anak, sekarang sudah waktunya pulang." "Hore!" seru anak-anak sudah bisa pulang. Lisa segera menghampiri Bu Guru yang berada di depan kelas yang sedang salim dengan anak-anak lain. "Bu, di mana rumahnya Zain. Ayo tulis di sini," ujar Lisa menyerahkan satu lembar kertas kepada Ibu Guru. Ibu Guru membuka handphone mencari data tentang Zain. Setelah ditemukan, dia menuliskan alamat rumah Zain. "Ibu antar ke depan ya. Ibu mau pastikan biar kamu tidak nekat pergi sendiri," ujar Bu Guru setelah selesai menuliskan alamat. "Lisa tidak akan pergi sendiri Bu," sahut Lisa. "Ibu Guru kurang percaya sama Lisa. Tadi saja nekat pergi." Lisa mengurutkan bibirnya. Tadi sama sekarang kan sudah beda. *** Zain dan Laila sudah tiba di rumah. Laila memarkirkan mobil di bagasi. Lalu turun duluan untuk membuka pintu untu

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 47. Rumah Sendiri

    Laila sudah selesai mengambil obat milik Zain. Lalu dia langsung menuju ke ruangan milik Dika. Setelah beberapa saat berjalan mencari ruangan Dika, dia menemukan ruang Dika. Suara Dika dan Zain bisa terdengar sampai arah luar. Dengan segera tangannya membuka pintu ruangan. Laila senang melihat Zain yang sudah tertawa gembira bersama dengan Dika. Dari tadi pagi Zain hanya terlihat lesu. Beda dengan sekarang. "Bu, Ibu udah datang," ujar Zain menyadari kehadiran Laila. Zain turun dari sofa dan menuju ke arah Laila yang berada di depan. "Ibu sudah selesai. Ayo kita pulang," ajak Laila. Laila suka melihat Zain sudah senang lagi. Tapi Zain harus segera beristirahat agar cepat sembuh. Jadi terpaksa mengajak Zain untuk segera pulang. "Zain mau pulang sekarang," ujar Dika dengan sedih. "Zain harus segera pulang untuk istirahat agar cepat sembuh," sahut Laila dengan lembut. "Baiklah," jawab Dika tidak semangat lagi. "Dika, Dika juga harus istirahat. Kalian kan sudah main tadi," ujar M

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 46

    ***Pada keesokan paginya, sakit perut masih terasa. Jadi pada hari itu Zain tidak pergi ke sekolah. Laila kembali membawa Zain ke rumah sakit.Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter, Zain disarankan untuk beberapa hari kemudian makan makanan yang lunak dan tidak berat. Biar kinerja perutnya tidak berat. Agar proses pemulihan pencernaan bisa berjalan dengan normal kembali."Zain!" panggil Dika dari kejauhan dengan suara besar.Dika langsung menghampiri Zain yang baru keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat senang melihat Zain lagi. Sudah berhari-hari menunggu Zain kembali ke rumah sakit."Kamu dari mana aja. Aku lama menunggu kamu disini," ujar Dika dengan nafas memburu."Dika, kamu jangan ganggu temanmu," tegur Mama Dika ikut mengejar Dika."Lihat, teman kamu lagi pucat," sambungnya lagi."Kamu sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Dika ingin tahu."Zain hanya sakit perut saja," sahut Laila karena Zain hanya diam saja. Zain terlihat sangat lesu dan kurang bersemangat sejak tadi pagi

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 45. Mainan Baru

    Zain baru terbangun pada sore hari. Keadaan perutnya masih terasa sakit. Laila sudah memberikan obat satu kali yang telah diresepkan oleh Dokter. Setelah Hanif membelikan obat, Laila membangunkan Zain dan menyuruh Zain untuk minum obat. Beri setelah itu Zain tidur lagi."Sayang kamu sudah bangun," ujar Laila membuka pintu kamar Zain. "Bu," ucap Zain ingin bangun. Tapi ujung-ujungnya dia hanya bisa meringkuk, ketika bergerak perut terasa terlilit. "Zain masih sakit. Tiduran saja," suruh Laila duduk di atas kasur di samping Zain."Jen ndak apa-apa," ujar Zain bohong. "Mana mungkin kamu tidak apa-apa sayang. Perut kamu masih sakit kan? Tidak perlu bohong di depan Ibu," tegur Laila.Zain mengganggu kepala sebagai jawaban masih sakit."Sudah Ayah bilang kamu tidak boleh jajan sembarangan. Masih saja tidak dengar," ujar Hanif ikut masuk ke dalam kamar Zain."Mas!" seru Laila tidak suka dengan perkataan Hanif yang bisa membuat Zain terpuruk."Lagian, darimana kamu bisa beli jajan seperti

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 44.

    Zain menatap tukang siomay memasukkan siomay ke dalam kantong plastik dengan fokus. Bola matanya bergerak searah gerakan tangan tukang siomay. Tukang siomay menambah saus sambal, saus kacang dan juga kecap. Dia belum pernah jajan seperti itu. Setelah menerima siomay, Zain memberikan uang yang dikasih Yusuf tadi dengan semangat. "Ayo kita masuk lagi. Kita makan di teras saja," ajak Yusuf biar mereka tidak bermain di jalanan. Rauzah duluan lari ke teras. Dia sudah sabar ingin makan. Tadi dia harus menunggu Yusuf dan Zain selesai dibungkus juga. Zain menatap siomay yang ada di depannya dengan berbinar. Memencet bulatan siomay dengan tangan kecilnya. "Zain kenapa tidak makan. Tidak suka ya?" tanya Yusuf yang sudah menggigit ujung plastik. Setelah plastik diikat terlebih dahulu. Dia lebih suka makan seperti itu daripada pakai tusukan. "Buat Rau aja kalau nggak mau," pinta Rauzah. "Jangan rakus, habisin punya sendiri. Jangan minta punya Zain," tegur Yusuf. Zain mulai makan miliknya

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 43. Jajan

    Laila kasihan mendengar kata Zain yang segitunya ingin menjadi anak normal seperti yang lainnya. Tapi tidak dengan obat kuat juga. Itu bukan obat untuk anak kecil. "Obat kuat itu apa Bu? Apa bisa menjadi seperti superhero?" tanya Rauzah yang juga penasaran. Mana tahu bisa menjadi superhero seperti yang di TV. Laila kehabisan kata-kata. Tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Zain dan Rauzah tentang obat kuat. Otaknya berpikir keras mencari jawaban untuk berbohong. Kali ini dia harus berbohong. "Mana ada minum obat bisa jadi superhero. Kamu jangan ngawur," sahut Yusuf yang lebih logis. "Siapa tahu ada," bantah Rauzah. "Jadi Bu, apa Jen boleh minta?" "Sayang, itu bukan obat …." "Sudah-sudah, sekarang sudah malam. Kalian pergi tidur," usir Hanif agar tidak meminta yang aneh-aneh. "Tapi," ucap Zain yang masih ingin obat kuat. "Kamu juga tidur. Besok kalian harus sekolah," sahut Hanif cepat. "Mas," tegur Laila saat Hanif mengabaikan perkataan Zain. "Ayo Zain, kita ke kamar," aja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status