Accueil / Rumah Tangga / Madu Di Kamar Tamu / Bab 7. Keikhlasan Hanif

Share

Bab 7. Keikhlasan Hanif

last update Dernière mise à jour: 2025-11-02 17:50:11

Halimah sangat menunggu kedatangan Hanif. Dia tidak mau merahasiakan tentang kondisi Nur kepada Hanif. Sebuah kebohongan suatu saat akan terungkap juga. Tidak ada bangkai yang tidak mempunyai bau.

Lebih baik Hanif mengetahui sekarang daripada nanti. Jadi mereka bisa bersiap-siap dengan keputusan Hanif.

"Siapa Bu?" tanya Burhan.

"Tadi Nak Hanif telepon, Pak," sahut Halimah.

"Sekarang dia ada di mana?"

"Katanya sebentar lagi dia akan ke sini untuk menjemput Nur."

"Nanti kalau Hanif sudah datang, panggil Bapak. Bapak mau ke rumah pak RT sebentar," pesan Burhan.

"Baik, Pak."

***

Hanif sudah tiba di depan rumah Halimah. Keadaan depan rumah sangat sepi. Tidak ada suara siapapun dari dalam rumah. Biasanya, setiap sore ibu dan ayah mertuanya sering duduk di teras rumah.

"Assalamu'alaikum," ucap Hanif sambil mengetuk pintu.

"Wa'alaikumsalam," sahut Halimah dari dalam.

Halimah membuka pintu rumah. Setelah pintu terbuka, Hanif segera mencium tangan Halimah.

"Apa kabar Bu?"

"Ibu baik-baik saja. Ayo masuk. Bapak ingin bicara sama kamu," ajak Halimah.

"Bapak ingin bicara? Ada apa Bu? Sepertinya ada serius?" tanya Hanif curiga.

"Nanti di dalam saja. Biar bapak yang bicara," sahut Halimah menatap Hanif dengan lekat.

'Ada apa ini? Kenapa ibu bersikap aneh. Apa terjadi sesuatu sama Nur. Jangan-jangan mereka sudah tau tentang Laila. Tidak,aku tidak boleh berburuk sangka dulu,' batin Hanif cemas.

Hanif mengikuti Halimah ke ruang keluarga. Disana Burhan sudah menunggu dari tadi.

"Assalamu'alaikum Pak."

"Wa'alaikumsalam. Ayo duduk," suruh Burhan.

Hanif duduk di depan Burhan. Tidak lupa dia bersalaman dulu dengan Burhan sebelum duduk.

"Pak, ada apa Pak? Apa terjadi sesuatu?"

"Hanif/ apa kamu mencintai anak Bapak dengan tulus?" tanya Burhan membuka suara.

"Bapak, kenapa Bapak bertanya seperti itu?" tanya Hanif mencium keanehan.

Burhan tidak pernah bertanya seperti ini. Kecuali saat dia melamar Nur sebelum menikah. Burhan telah mempercayai dia bertahun-tahun. Satu pertanyaan dari Burhan membuat Hanif tidak tenang.

"Kamu jawab saja," kata Burhan tegas tidak mau dibantah.

"Bapak dan Ibu tidak perlu ragu lagi sama Hanif. Hanif akan selalu mencintai Nur sampai kapanpun. Bagi Hanif, Nur adalah bagian dari hidup Hanif. Hanif tidak bisa hidup tanpa Nur, Bapak," sahut Hanif.

"Hanif, apa yang akan kamu lakukan kalau Nur tidak akan pernah bisa memberikan kamu seorang anak. Apa kamu akan menceraikan dia?" tanya Burhan meremas kedua lututnya. Bersiap dengan segala jawaban dari Hanif.

"Pak, kenapa Bapak bertanya seperti ini. Hanif sudah bilang sama Nur, anak itu adalah berkah. Kalau Allah belum mengizinkan kehadiran seorang anak pada pernikahan kami, Hanif tetap ingin bersama Nur," sahut Hanif.

"Jadi kamu tidak masalah kalau Nur tidak bisa hamil?" tanya Burhan lagi.

Burhan sangat lega dengan pilihan Hanif. Hanif begitu lapang dada menerima Nur. Jarang ada laki-laki yang mau bertahan dengan perempuan yang tidak bisa hamil.

"Ada apa ini Pak. Kenapa Bapak bertanya hal aneh seperti ini? Apa ada yang kalian tutupi dari Hanif?" tanya Hanif sudah tidak sabar dengan pertanyaan Burhan yang tidak bisa diterka.

"Hanif, Bapak Harap kamu bersiap dengan kabar buruk ini," kata Burhan memperingati.

Perasaan Hanif semakin tidak enak. Bersiap? Bersiap untuk apa.

"Tadi Nur ke rumah sakit. Dia dinyatakan susah memiliki anak," kata Burhan dengan berat.

"Apa? Nur susah mempunyai anak?"

Dunia Hanif seketika runtuh. Dia memang bilang kalau tidak masalah jika belum diberikan anak. Tapi mendengar langsung Nur tidak bisa mempunyai anak, hatinya ikut hancur.

Nur sudah berulang kali mengatakan ingin punya anak. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Nur.

"Hanif, sekarang keadaan Nur sangat terpukul. Sejak pulang dari rumah sakit, dia berada di dalam kamar terus."

'Ya Allah, apalagi yang terjadi di sekarang. Apa yang aku harus aku katakan kalau Nur tahu aku akan membawa Laila. Aku takut kalau dia mengira aku membawa Laila karena menginginkan seorang anak,' batin Hanif dilema.

Hanif memegang rambutnya. Kenapa cobaannya harus datang disaat bersama. Dia harus menjaga Laila dan mendengar kabar buruk dari Nur.

'Ya Allah, kenapa harus sekarang. Saya siap menerima Nur apa adanya. Apa Nur bisa menerima Laila. Tolong berikan kami kelapangan hati ya Allah.'

"Hanif ada apa Nak?" tanya Halimah khawatir dengan respon yang diberikan Hanif.

Hanif duduk diam dengan kepala menunduk. Mereka tidak bisa membaca raut wajah Hanif sama sekali.

"Hanif tidak apa Bu. Hanif cuma terkejut," jawab Hanif.

"Hanif, sekarang apa keputusan kamu. Apa kamu masih mau bersama dengan Nur?"

"Maksud Bapak?"

"Kalau kamu tidak bisa menerima keadaan Nur, tolong jangan sakit dia. Kembalikan dia ke Bapak seperti saat kamu menjemputnya. Biar Bapak yang akan membahagiakan anak Bapak."

"Pak," tegur Halimah tidak suka.

"Tidak apa Bu. Nur masih memiliki kita. Kita masih membahagiakan Nur. Kita adalah keluarganya," hibur Burhan.

"Pak, Bapak jangan bicara seperti itu. Hanif tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Nur. Hanif mencintai Nur apa adanya. Hanif tidak akan meninggal Nur," bantah Hanif.

"Meskipun dia tidak bisa memberikan kamu keturunan?" tanya Burhan memastikan lagi.

"Iya Pak. Hanif juga bukan lelaki yang sempurna. Hanif belum bisa membahagiakan Nur. Hanif janji akan menjaga Nur seperti janji Hanif dulu."

Burhan sangat lega dengan jawaban Hanif. Hanif mau menerima semua kekurangan Nur. Ini jauh dari harapan nya.

"Bu, Pak, apa Hanif bisa menemui Nur," pinta Hanif.

"Nur dia ada di kamar. Malam ini kalian menginap lah di sini. Ibu dan Bapak kangen makan bersama dengan kalian," pinta Halimah.

"Baik Bu. Malam ini Hanif dan Nur akan menginap di sini."

***

Hanif berjalan ke arah kamar milik Nur semasa gadis. Kamar yang mereka tempati setelah mereka menikah saat menginap.

Hadi duduk di samping Nur yang masih tertidur lelap. Dia menatap wajah sang istri sebentar. Setelah itu mengecup kening istrinya dengan lembut.

"Mas, Mas sudah pulang," ujar Nur membuka mata.

Nur terbangun oleh sentuhan Hanif. Dia tipe orang yang cepat terbangun jika ada gangguan kecil.

"Apa Mas mengganggu kamu?" tanya Hanif tidak enak.

"Tidak Mas," sahut Nur.

Nur segera bagun dari berbaringan. Dia duduk di depan Hanif dengan mata yang sedikit bengkak.

Hanif menatap sendu mata istri yang bengkak. Bengkak karena terlalu lama menangis.

"Mas, ini sudah jam berapa?" tanya Nur.

"Ini hampir sore," jawab Hanif membetulkan rambut Nur yang berantakan.

"Ya Allah Mas. Nur belum salat Ashar. Nur terlalu lama tidur. Kenapa ibu tidak membangukkan Nur. Sebentar Mas, Nur mau salat dulu," ujar Nur panik.

Nur dengan cepat mencium tangan suaminya. Setelah itu dia segera berlari ke kamar.

Hanif menatap tingkat sang istri yang lucu menurutnya. Nur masih sama seperti dulu. Tapi bedanya cintanya kepada Nur semakin bertambah.

Bersambung ….

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 48

    *** Begitu bel berbunyi, Lisa dengan cepat mengemas barang-barang miliknya. Semuanya dimasukan dengan sembarang. Asal masuk saja. "Bu, sudah bel," kata Lisa tidak sabaran. "Anak-anak, sekarang sudah waktunya pulang." "Hore!" seru anak-anak sudah bisa pulang. Lisa segera menghampiri Bu Guru yang berada di depan kelas yang sedang salim dengan anak-anak lain. "Bu, di mana rumahnya Zain. Ayo tulis di sini," ujar Lisa menyerahkan satu lembar kertas kepada Ibu Guru. Ibu Guru membuka handphone mencari data tentang Zain. Setelah ditemukan, dia menuliskan alamat rumah Zain. "Ibu antar ke depan ya. Ibu mau pastikan biar kamu tidak nekat pergi sendiri," ujar Bu Guru setelah selesai menuliskan alamat. "Lisa tidak akan pergi sendiri Bu," sahut Lisa. "Ibu Guru kurang percaya sama Lisa. Tadi saja nekat pergi." Lisa mengurutkan bibirnya. Tadi sama sekarang kan sudah beda. *** Zain dan Laila sudah tiba di rumah. Laila memarkirkan mobil di bagasi. Lalu turun duluan untuk membuka pintu untu

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 47. Rumah Sendiri

    Laila sudah selesai mengambil obat milik Zain. Lalu dia langsung menuju ke ruangan milik Dika. Setelah beberapa saat berjalan mencari ruangan Dika, dia menemukan ruang Dika. Suara Dika dan Zain bisa terdengar sampai arah luar. Dengan segera tangannya membuka pintu ruangan. Laila senang melihat Zain yang sudah tertawa gembira bersama dengan Dika. Dari tadi pagi Zain hanya terlihat lesu. Beda dengan sekarang. "Bu, Ibu udah datang," ujar Zain menyadari kehadiran Laila. Zain turun dari sofa dan menuju ke arah Laila yang berada di depan. "Ibu sudah selesai. Ayo kita pulang," ajak Laila. Laila suka melihat Zain sudah senang lagi. Tapi Zain harus segera beristirahat agar cepat sembuh. Jadi terpaksa mengajak Zain untuk segera pulang. "Zain mau pulang sekarang," ujar Dika dengan sedih. "Zain harus segera pulang untuk istirahat agar cepat sembuh," sahut Laila dengan lembut. "Baiklah," jawab Dika tidak semangat lagi. "Dika, Dika juga harus istirahat. Kalian kan sudah main tadi," ujar M

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 46

    ***Pada keesokan paginya, sakit perut masih terasa. Jadi pada hari itu Zain tidak pergi ke sekolah. Laila kembali membawa Zain ke rumah sakit.Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter, Zain disarankan untuk beberapa hari kemudian makan makanan yang lunak dan tidak berat. Biar kinerja perutnya tidak berat. Agar proses pemulihan pencernaan bisa berjalan dengan normal kembali."Zain!" panggil Dika dari kejauhan dengan suara besar.Dika langsung menghampiri Zain yang baru keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat senang melihat Zain lagi. Sudah berhari-hari menunggu Zain kembali ke rumah sakit."Kamu dari mana aja. Aku lama menunggu kamu disini," ujar Dika dengan nafas memburu."Dika, kamu jangan ganggu temanmu," tegur Mama Dika ikut mengejar Dika."Lihat, teman kamu lagi pucat," sambungnya lagi."Kamu sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Dika ingin tahu."Zain hanya sakit perut saja," sahut Laila karena Zain hanya diam saja. Zain terlihat sangat lesu dan kurang bersemangat sejak tadi pagi

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 45. Mainan Baru

    Zain baru terbangun pada sore hari. Keadaan perutnya masih terasa sakit. Laila sudah memberikan obat satu kali yang telah diresepkan oleh Dokter. Setelah Hanif membelikan obat, Laila membangunkan Zain dan menyuruh Zain untuk minum obat. Beri setelah itu Zain tidur lagi."Sayang kamu sudah bangun," ujar Laila membuka pintu kamar Zain. "Bu," ucap Zain ingin bangun. Tapi ujung-ujungnya dia hanya bisa meringkuk, ketika bergerak perut terasa terlilit. "Zain masih sakit. Tiduran saja," suruh Laila duduk di atas kasur di samping Zain."Jen ndak apa-apa," ujar Zain bohong. "Mana mungkin kamu tidak apa-apa sayang. Perut kamu masih sakit kan? Tidak perlu bohong di depan Ibu," tegur Laila.Zain mengganggu kepala sebagai jawaban masih sakit."Sudah Ayah bilang kamu tidak boleh jajan sembarangan. Masih saja tidak dengar," ujar Hanif ikut masuk ke dalam kamar Zain."Mas!" seru Laila tidak suka dengan perkataan Hanif yang bisa membuat Zain terpuruk."Lagian, darimana kamu bisa beli jajan seperti

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 44.

    Zain menatap tukang siomay memasukkan siomay ke dalam kantong plastik dengan fokus. Bola matanya bergerak searah gerakan tangan tukang siomay. Tukang siomay menambah saus sambal, saus kacang dan juga kecap. Dia belum pernah jajan seperti itu. Setelah menerima siomay, Zain memberikan uang yang dikasih Yusuf tadi dengan semangat. "Ayo kita masuk lagi. Kita makan di teras saja," ajak Yusuf biar mereka tidak bermain di jalanan. Rauzah duluan lari ke teras. Dia sudah sabar ingin makan. Tadi dia harus menunggu Yusuf dan Zain selesai dibungkus juga. Zain menatap siomay yang ada di depannya dengan berbinar. Memencet bulatan siomay dengan tangan kecilnya. "Zain kenapa tidak makan. Tidak suka ya?" tanya Yusuf yang sudah menggigit ujung plastik. Setelah plastik diikat terlebih dahulu. Dia lebih suka makan seperti itu daripada pakai tusukan. "Buat Rau aja kalau nggak mau," pinta Rauzah. "Jangan rakus, habisin punya sendiri. Jangan minta punya Zain," tegur Yusuf. Zain mulai makan miliknya

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 43. Jajan

    Laila kasihan mendengar kata Zain yang segitunya ingin menjadi anak normal seperti yang lainnya. Tapi tidak dengan obat kuat juga. Itu bukan obat untuk anak kecil. "Obat kuat itu apa Bu? Apa bisa menjadi seperti superhero?" tanya Rauzah yang juga penasaran. Mana tahu bisa menjadi superhero seperti yang di TV. Laila kehabisan kata-kata. Tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Zain dan Rauzah tentang obat kuat. Otaknya berpikir keras mencari jawaban untuk berbohong. Kali ini dia harus berbohong. "Mana ada minum obat bisa jadi superhero. Kamu jangan ngawur," sahut Yusuf yang lebih logis. "Siapa tahu ada," bantah Rauzah. "Jadi Bu, apa Jen boleh minta?" "Sayang, itu bukan obat …." "Sudah-sudah, sekarang sudah malam. Kalian pergi tidur," usir Hanif agar tidak meminta yang aneh-aneh. "Tapi," ucap Zain yang masih ingin obat kuat. "Kamu juga tidur. Besok kalian harus sekolah," sahut Hanif cepat. "Mas," tegur Laila saat Hanif mengabaikan perkataan Zain. "Ayo Zain, kita ke kamar," aja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status