Beranda / Rumah Tangga / Madu Di Kamar Tamu / Bab 6. Hari Pemeriksaan Nur

Share

Bab 6. Hari Pemeriksaan Nur

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 17:49:25

Hanif membawa mobil dengan perasaan bersalah. Dia merasa bersalah kepada Nur. Dia sangat berharap kalau istrinya akan menerima kehadiran Laila. Mereka bisa hidup bertiga dalam sebuah naungan keluarga.

"Maafkan Mas, Nur."

***

Nur pergi ke rumah sakit sendiri. Ibunya tidak bisa menemani memeriksa kandungannya lantaran ada kegiatan dengan para tetangga.

"Maaf Bu, kondisi rahim bermasalah. Ibu akan kesulitan untuk hamil," terang dokter.

"Apa maksud dokter, saya mandul?"

Hati Nur terasa hancur. Bagaimana dia dinyatakan susah memiliki anak disaat dia dan Hanif ingin memiliki anak. Selama ini dia hanya beranggapan kalau mereka belum saatnya dikasih anak sama Allah. Dia hanya melakukan pemeriksaan biasa.

"Maaf Bu, bukan mandul tapi peluang untuk memiliki anak yang kecil," koreksi dokter.

"Itu sama saja Dokter. Sekarang apa yang bisa saya lakukan agar saya mempunyai anak, Dok," mohon Nur.

"Maaf Bu, seharusnya saya menyarankan untuk melakukan pengobatan. Tapi, kondisi Ibu tidak mungkin melakukan pengobatan ini. Saya sarankan agar Ibu banyak berdoa. Semoga Allah memberikan kelebihan untuk Ibu."

"Saya sudah berdoa di setiap doa, Dok. Saya sangat ingin mempunyai anak," ujar Nur tidak bisa membendung air mata.

"Saya hanya bisa menyarankan agar Ibu mengadopsi anak."

***

Nur pulang ke rumah dengan perasaan sangat campur aduk. Hati perempuan mana yang tidak akan hancur kalau dinyatakan susah memiliki anak. Seorang perempuan yang seutuhnya adalah seorang perempuan yang bisa merasakan bagaimana hamil dan melahirkan.

"Nur, kamu kenapa sayang?" tanya Halimah menyambut kepulangan Nur.

"Bu," ucap Nur dengan mata berkaca-kaca.

"Ada apa sayang. Ayo cerita sama Ibu. Bagaimana hasil pemeriksaan kamu tadi?" tanya Halimah dengan lembut.

"Bu, Nur dinyatakan tidak mandul. Nur akan susah mempunyai anak, Bu," ujar Nur tak bisa membendung air mata.

Air mata Nur sudah tumpah. Air mata yang tidak sanggup dia tahan lagi. Sepanjang jalan dia berusaha untuk tidak menangis. Tapi sekali bercerita sama ibunya, emosinya langsung labil.

"Apa maksud kamu Nur?" tanya Halimah terkejut.

"Nur mandul Bu," ulang Nur.

"Ya Allah sayang. Kenapa ini terjadi sama kamu Nak," kata Halimah ikut hancur mendengar hasil pemeriksaan dari rumah sakit.

"Nur tidak tahu Bu. Nur tidak tahu. Sekarang Nur bukan perempuan yang sempurna," ujar Nur.

Halimah segera membawa Nur ke dalam pelukannya. Nur butuh dukungan dari orang terdekatnya.

"Jangan bilang seperti itu Nak. Bagi Ibu dan ayah, kamu adalah perempuan yang sangat sempurna," bantah Halimah tidak setuju dengan perkataan Nur.

"Tapi bagaimana dengan mas Hanis. Mas Hanif pasti ingin mempunyai anak," ujar Nur sudah berpikiran kemana-mana.

"Sayang, percayalah suami kamu dan Allah. Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kalian berdua," bujuk Halimah.

"Nur tidak mau kehilangan Hanif, Bu."

"Sayang, Ibu yakin kamu tidak akan kehilangan Hanif. Hanif bukan pria seperti itu. Lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Kamu tenangkan diri kamu ya."

Halimah mengantar Nur ke dalam kamar. Setelah putrinya tidur, baru dia meninggalkan kamar.

***

Di depan pintu kamar Burhan sudah menunggu Halimah. Dia baru saja pulang dan melihat Nur yang sedang menangis di bawa ke kamar. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Oleh karena itu, dia memutuskan menunggu Halimah keluar dari kamar Nur.

"Ada apa Bu. Kenapa Nur menangis lagi?" tanya Burhan.

"Kita duduk dulu ya Pak. Jangan bicara di sini. Takut mengganggu Nur," pinta Halimah melirik ke arah kamar Nur.

"Baik Bu."

***

"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Burhan ulang.

"Pak, anak kita … anak kita," ujar Halimah dengan berat.

Halimah tidak kuat mengetahui kondisi putrinya. Andai saja dia bisa menanggung beban putrinya. Dia rela dan ikhlas menjalaninya.

"Ada apa dengan putri kita, Bu. Jangan buat Bapak khawatir," ujar Burhan panik melihat reaksi Halimah.

Burhan bisa merasakan suatu firasat buruk. Istri dan anaknya bersikap sangat aneh.

"Pak, anak kita dinyatakan susah hamil. Nur beranggapan jika dia mandul, Pak," cerita Halimah dengan mata yang mulai basah.

"Ya Allah," ucap Burhan memegang dada yang berdenyut.

Burhan sangat terkejut mendengar Nur susah Hamil.

"Jadi itu yang menyebab Nur menangis?" tanya Burhan dengan perasaan campur aduk.

"Iya, Pak. Nur takut kalau Hanif akan meninggalkan dia."

"Ibu tenang saja. Nanti biar Bapak yang akan cerita sama Hanif. Jika dia tidak bisa menerima anak kita lagi, maka biar kita yang menjaga anak kita Bu. Kita masih sanggup membahagiakan anak kita," ujar Burhan menguatkan diri atas apapun keputusan Hanif.

Burhan tidak mau memaksakan Hanif tetap menerima Nur. Hanif berhak dan halal memiliki anak dari perempuan lain. Namun dia berharap agar Hanif bisa memutuskan yang terbaik.

"Ibu nurut saja Pak. Mana yang bagus menurut Bapak."

"Nanti kalau Hanif telepon atau datang ke sini, suruh temui Bapak dulu," pesan Burhan.

***

Setelah dari tempat Laila, Hanif segera pulang ke rumah. Dia ingin memeluk Nur. Suasana rumah sangat sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Nur.

"Bi, Bibi," panggil Hanif kepada asisten rumah tangga.

"Iya, Pak," sahut Bibi.

"Bi, Ibu kemana?"

"Ibu belum pulang dari kemarin Pak," sahut bibi.

"Ya, sudah. Bibi bisa kerja lagi," ujar Hanif.

"Baik, Pak."

Hanif menatap kepergian Bibi. Dia memikirkan kemungkinan Nur berada.

"Apa mungkin dia di rumah ibu dan bapak. Kemarin dia minta izin ke sana. Coba aku telepon dulu," gumam Hanif.

Hanif berjalan ke arah sofa. Setelah itu dia mencari handphone di dalam saku jas dan langsung menelepon Nur.

Hanif sudah beberapa kali mencoba menghubungi Nur. Sama sekali tidak ada balasan.

"Kemana Nur. Apa dia lagi tidak pegang handphone. Coba aku telepon ibu saja," putus Hanif memilih menelepon Halimah.

Hanif takut terjadi sesuatu sama Nur. Dia akan lebih tenang kalau sudah mendapatkan kabar tentang Nur.

"Assalamu'alaikum Nak Hanif," sahut Halimah dari seberang telepon.

"Wa'alaikumsalam Bu."

"Ada apa Nak Hanif?"

"Bu, apa Nur ada di rumah Ibu? Hanif sudah berapa kali telepon Nur. Sama sekali tidak ada balasan," terang Hanif.

"Iya Nak Hanif, Nur ada disini. Dia sedang istirahat. Mungkin dia tidak dengar."

"Baiklah."

"Apa mau Ibu bangunkan?"

"Tidak perlu Bu, biarkan Nur istirahat. Hanif akan segera kesana," larang Hanif.

"Baiklah, hati-hati dijalan."

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Hanif segera pergi ke kamar. Badannya sudah sangat lengket. Dia mandi dulu sebelum menjemput Nur. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, baru dua berangkat ke rumah mertua.

Bersambung ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 48

    *** Begitu bel berbunyi, Lisa dengan cepat mengemas barang-barang miliknya. Semuanya dimasukan dengan sembarang. Asal masuk saja. "Bu, sudah bel," kata Lisa tidak sabaran. "Anak-anak, sekarang sudah waktunya pulang." "Hore!" seru anak-anak sudah bisa pulang. Lisa segera menghampiri Bu Guru yang berada di depan kelas yang sedang salim dengan anak-anak lain. "Bu, di mana rumahnya Zain. Ayo tulis di sini," ujar Lisa menyerahkan satu lembar kertas kepada Ibu Guru. Ibu Guru membuka handphone mencari data tentang Zain. Setelah ditemukan, dia menuliskan alamat rumah Zain. "Ibu antar ke depan ya. Ibu mau pastikan biar kamu tidak nekat pergi sendiri," ujar Bu Guru setelah selesai menuliskan alamat. "Lisa tidak akan pergi sendiri Bu," sahut Lisa. "Ibu Guru kurang percaya sama Lisa. Tadi saja nekat pergi." Lisa mengurutkan bibirnya. Tadi sama sekarang kan sudah beda. *** Zain dan Laila sudah tiba di rumah. Laila memarkirkan mobil di bagasi. Lalu turun duluan untuk membuka pintu untu

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 47. Rumah Sendiri

    Laila sudah selesai mengambil obat milik Zain. Lalu dia langsung menuju ke ruangan milik Dika. Setelah beberapa saat berjalan mencari ruangan Dika, dia menemukan ruang Dika. Suara Dika dan Zain bisa terdengar sampai arah luar. Dengan segera tangannya membuka pintu ruangan. Laila senang melihat Zain yang sudah tertawa gembira bersama dengan Dika. Dari tadi pagi Zain hanya terlihat lesu. Beda dengan sekarang. "Bu, Ibu udah datang," ujar Zain menyadari kehadiran Laila. Zain turun dari sofa dan menuju ke arah Laila yang berada di depan. "Ibu sudah selesai. Ayo kita pulang," ajak Laila. Laila suka melihat Zain sudah senang lagi. Tapi Zain harus segera beristirahat agar cepat sembuh. Jadi terpaksa mengajak Zain untuk segera pulang. "Zain mau pulang sekarang," ujar Dika dengan sedih. "Zain harus segera pulang untuk istirahat agar cepat sembuh," sahut Laila dengan lembut. "Baiklah," jawab Dika tidak semangat lagi. "Dika, Dika juga harus istirahat. Kalian kan sudah main tadi," ujar M

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 46

    ***Pada keesokan paginya, sakit perut masih terasa. Jadi pada hari itu Zain tidak pergi ke sekolah. Laila kembali membawa Zain ke rumah sakit.Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter, Zain disarankan untuk beberapa hari kemudian makan makanan yang lunak dan tidak berat. Biar kinerja perutnya tidak berat. Agar proses pemulihan pencernaan bisa berjalan dengan normal kembali."Zain!" panggil Dika dari kejauhan dengan suara besar.Dika langsung menghampiri Zain yang baru keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat senang melihat Zain lagi. Sudah berhari-hari menunggu Zain kembali ke rumah sakit."Kamu dari mana aja. Aku lama menunggu kamu disini," ujar Dika dengan nafas memburu."Dika, kamu jangan ganggu temanmu," tegur Mama Dika ikut mengejar Dika."Lihat, teman kamu lagi pucat," sambungnya lagi."Kamu sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Dika ingin tahu."Zain hanya sakit perut saja," sahut Laila karena Zain hanya diam saja. Zain terlihat sangat lesu dan kurang bersemangat sejak tadi pagi

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 45. Mainan Baru

    Zain baru terbangun pada sore hari. Keadaan perutnya masih terasa sakit. Laila sudah memberikan obat satu kali yang telah diresepkan oleh Dokter. Setelah Hanif membelikan obat, Laila membangunkan Zain dan menyuruh Zain untuk minum obat. Beri setelah itu Zain tidur lagi."Sayang kamu sudah bangun," ujar Laila membuka pintu kamar Zain. "Bu," ucap Zain ingin bangun. Tapi ujung-ujungnya dia hanya bisa meringkuk, ketika bergerak perut terasa terlilit. "Zain masih sakit. Tiduran saja," suruh Laila duduk di atas kasur di samping Zain."Jen ndak apa-apa," ujar Zain bohong. "Mana mungkin kamu tidak apa-apa sayang. Perut kamu masih sakit kan? Tidak perlu bohong di depan Ibu," tegur Laila.Zain mengganggu kepala sebagai jawaban masih sakit."Sudah Ayah bilang kamu tidak boleh jajan sembarangan. Masih saja tidak dengar," ujar Hanif ikut masuk ke dalam kamar Zain."Mas!" seru Laila tidak suka dengan perkataan Hanif yang bisa membuat Zain terpuruk."Lagian, darimana kamu bisa beli jajan seperti

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 44.

    Zain menatap tukang siomay memasukkan siomay ke dalam kantong plastik dengan fokus. Bola matanya bergerak searah gerakan tangan tukang siomay. Tukang siomay menambah saus sambal, saus kacang dan juga kecap. Dia belum pernah jajan seperti itu. Setelah menerima siomay, Zain memberikan uang yang dikasih Yusuf tadi dengan semangat. "Ayo kita masuk lagi. Kita makan di teras saja," ajak Yusuf biar mereka tidak bermain di jalanan. Rauzah duluan lari ke teras. Dia sudah sabar ingin makan. Tadi dia harus menunggu Yusuf dan Zain selesai dibungkus juga. Zain menatap siomay yang ada di depannya dengan berbinar. Memencet bulatan siomay dengan tangan kecilnya. "Zain kenapa tidak makan. Tidak suka ya?" tanya Yusuf yang sudah menggigit ujung plastik. Setelah plastik diikat terlebih dahulu. Dia lebih suka makan seperti itu daripada pakai tusukan. "Buat Rau aja kalau nggak mau," pinta Rauzah. "Jangan rakus, habisin punya sendiri. Jangan minta punya Zain," tegur Yusuf. Zain mulai makan miliknya

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 43. Jajan

    Laila kasihan mendengar kata Zain yang segitunya ingin menjadi anak normal seperti yang lainnya. Tapi tidak dengan obat kuat juga. Itu bukan obat untuk anak kecil. "Obat kuat itu apa Bu? Apa bisa menjadi seperti superhero?" tanya Rauzah yang juga penasaran. Mana tahu bisa menjadi superhero seperti yang di TV. Laila kehabisan kata-kata. Tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Zain dan Rauzah tentang obat kuat. Otaknya berpikir keras mencari jawaban untuk berbohong. Kali ini dia harus berbohong. "Mana ada minum obat bisa jadi superhero. Kamu jangan ngawur," sahut Yusuf yang lebih logis. "Siapa tahu ada," bantah Rauzah. "Jadi Bu, apa Jen boleh minta?" "Sayang, itu bukan obat …." "Sudah-sudah, sekarang sudah malam. Kalian pergi tidur," usir Hanif agar tidak meminta yang aneh-aneh. "Tapi," ucap Zain yang masih ingin obat kuat. "Kamu juga tidur. Besok kalian harus sekolah," sahut Hanif cepat. "Mas," tegur Laila saat Hanif mengabaikan perkataan Zain. "Ayo Zain, kita ke kamar," aja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status