LOGINIbu, apa Ayah balu cayang Jen kalau Jen ikut Bunda?" tambah Zain dengan mata yang sudah dibasahi air mata. "Kamu jangan pernah berbicara seperti itu, Zain," ujar Laila menangis dan memegang kedua bahu Zain. "Jen ingin Ayah menyayangi Zain sepelti Ayah menyayangi Kakak Yucuf dan Kak Lau. Dada Jen celalu catit kalau Ayah mengabaikan Jen. Apa Jen bukan anaknya Ayah?" "Siapa bilang Ayah tidak sayang sama Zan. Ayah sayang sama Zain," sahut Laila cepat. Laila membawa Zain kedalam pelukannya. Memeluk Zain dengan erat. Entah apa yang dipikirkan Zain sampai dia mengungkit masalah ini. 'Apa ini gara-gara kepergian Dika dan pelukan Papa Dika. Kenapa Zain bisa berpikir yang aneh-aneh Tuhan,' ratap Laila dalam hati. "Ibu jangan bohong. Jen tahu Ayah tidak cayang cama Jen. Ayah tidak pelnah mau main sama Jen. Tidak pelnah meluk Jen. Ayah tidak pelnah bemain sama Jen. Ayah tidak pelnah beli Jen mainan. Ayah tidak pelnah …." "Cukup sayang, cukup. Ibu mohon, hentikan. Ini tidak sanggup mendenga
"Tuan, apa Tuan mau lihat-lihat dulu," ujar karyawan dengan cepat menghampiri Hanif yang berdiri di depan toko mereka. Mencoba menarik perhatian calon pembeli untuk cuci mata terlebih dahulu. Biasanya pelanggan banyak beli barang saat tidak berniat belanja. "Tidak, tidak usah," tolak Hanif. "Lihat aja dulu Tuan. Kalau misalkan tidak ada yang tertarik, tidak apa-apa," bujuknya lagi. Hanif luluh, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam toko mainan sebentar. Hanya lihat-lihat saja. Tanpa niat beli. "Tuan, apa ada yang ingin Tuan beli? Tuan bisa menjelaskan mainan apa yang ingin dibeli. Biar kami bisa rekomendasi barang terbaru?" *** Setelah dari pusat perbelanjaan, Hanif mampir pulang ke rumah untuk mengambil dokumen yang tertinggal di rumah. Dokumen yang harus segera diselesaikan. Ketika berada di depan rumah Hanif berpapasan dengan Bibi. Lalu menemukan sebuah kardus besar di samping Bibi. "Bi, apa ini?" tanya Hanif. "Barang ini di antar oleh kurir Pak. Barusan kurirnya per
"Kenapa Bu?" "Sayang, kamu harus janji sama Ibu. Jangan pernah katakan seperti itu lagi sama Ibu," ujar Laila memeluk Zain dengan cepat dan erat."Emm iya," balas Zain tidak mengerti. Namun tetap mengiyakan permintaan Laila. "Zain harus janji sama Ibu," tambah Laila. "Iya, Jen janji." "Zain juga harus janji, tidak akan meninggalkan Ibu sendiri." "Janji." "Kamu harus tumbuh menjadi anak yang besar dan kuat." "Humm," angguk Zain. Laila melepaskan pelukannya. Menatap wajah Zain lalu mencium kening dan pipinya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah Rauzah. *** "Kalian mau main sampai jam berapa. Ini sudah malam. Sana tidur," suruh Hanif menegur Rauzah, Zain dan Yusuf yang masih bermain. Yusuf dan Rauzah sedang memainkan robot baru yang dibawa pulang oleh Zain. Zain menunjukkan kepada mereka berdua, membiarkan mereka untuk bermain dengan robot tersebut. Sehingga mereka belum mau tidur. Masih ingin bermain. Laila sudah menjelaskan kepada Hanif bahwa Zain mendapatkan mainan
Ruangan rumah sakit itu membisu selama beberapa menit. Setelah Papa Dika sedikit bisa mengobati rasa Rindunya kepada sang anak melalui pelukan Zain, baru dia melepaskan pelukannya. "Om jangan nangis ya," bujuk Zain. "Iya, Om tidak akan menangis lagi," sahut Papa Dika menahan air mata yang ingin keluar kembali. "Jadi Zain, apa Zain mau membawa kembali robot itu," ujar Papa Dika. "Tapi …." "Om juga mau memberikan beberapa boneka milik Dika kepada kamu. Kamu sudah dianggap adik oleh Dika. Mau ya." "Emmm," gumam Zain bingung. "Sebentar." Papa Dika berdiri, lalu berjalan ke arah salah satu mainan milik Dika. Setelah itu berjongkok lagi di depan Zain." "Ini adalah mainan robot yang paling Dika suka. Sekarang dia kesepian, sudah tidak ada Dika. Zain mau bermain dengan robot ini. Dia bisa jadi teman bermain robot yang Zain pegang." Zain menatap antara robot di tangannya dan yang ada di tangan Papa Dika. Dia tidak tega jika robot itu tidak ada teman bermain. Pasti kesepian jika send
"Kemarin, tiba-tiba tubuhnya drop. Ini kami mau bereskan semua barang-barang. Kemarin kami tidak sempat membereskannya." "Kak Dika sudah sembuh dong," ujar Zain dengan polos. Zain tidak mengerti sepenuhnya apa yang Laila dan Mama Dika bicarakan. Hanya satu yang dia tangkap, Dika tidak akan sakit lagi. Artinya Dika sudah sembuh. "Zain!" seru Laila. "Jadi Dika ada dimana Tante?" tanya Zain mengabaikan seruan Laila. Papa Dika dengan perlahan berjalan ke arah Zain. Setiap dia mengunjungi anaknya beberapa minggu belakangan ini, Dika sering menyebut dan membahas tentang Zain. Lalu dia berjongkok di depan Zain. Memandang wajah Zain mengingatkannya pada Dika yang sudah pergi. Zain memperhatikan apa yang dilakukan Papa Dika dengan seksama. "Sekarang Dika sudah pergi jauh," sahut Papa Dika dengan sendu menahan tangisan. "Jauh? Ke mana Om? Apa Jen boleh ikut?" "Zain!" seru Laila ingin memeluk Zain. Laila tidak akan membiarkan Zain pergi dari sisinya. Walaupun Zain tidak tahu makna da
Laila tersenyum melihat Zain yang keluar bersama Lisa dari ruangan kelas. Zain bisa mengikuti pembelajaran sampai jam berakhir. Tidak ada kendala. "Sayang, bagaimana sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Laila saat Zain dan Lisa sudah berdiri di depannya. "Seru Tante. Tadi kami disuruh menyanyi dan menari," sahut Lisa, bukan Zain. *Benarkah?" balas Laila tidak mempermasalahkan Lisa yang mewakili Zain untuk menjawab pertanyaannya. "Iya Tante. Tante tau, Minggu depan kami mau ada pentas. Lisa akan menjadi bunga matahari," cerita Lisa dengan semangat. "Wah, pasti sering. Terus Zain jadi apa?" "Zain jadi pohon, Tante. Nanti Lisa mau suruh Papa cariin kostum bunga matahari yang cantik, buat Lisa. Biar Lisa tampil cantik juga." "Berarti Ibu juga harus cari kostum untuk Zain." "Ibu mau beliin?" tanya Zain buka suara. Zain dari tadi berdiri di samping Lisa tanpa bicara. Dia tidak ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan Laila. Semua di borong sama Lisa. "Harus dong sayang. Za







