Home / Rumah Tangga / Madu Di Kamar Tamu / S2 Bab 6. Ketahuan

Share

S2 Bab 6. Ketahuan

last update Last Updated: 2026-01-29 08:59:13

"Nur tidak argh …."

Nur kembali berteriak kesakitan. Perutnya kembali berdenyut lebih sakit dari tadi. Kali ini sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Sampai dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

"Nur! Nu!" seru Hanif.

"Bunda! Bunda!" teriak Yusuf dengan suara keras sambil menangis.

Yusuf sedih melihat sang Bunda jatuh pingsan.

"Bunda!" Rauzah juga tidak kalah histeris dari Yusuf. Ada rasa bersalah karena dia tadi yang memeluk Bunda dengan erat.

"Bunda, maapin Lau. Lau janji ndak akan natal lagi. Bangun Bunda," sambung Rauzah dengan isak tangisan.

"Tidak apa-apa sayang. Itu bukan salah kamu. Bunda memang dari tadi sudah tidak enak badan," bujuk Laila menenangkan Rauzah.

"Mas tolong bawa Kak Nur ke rumah sakit. Biar anak-anak Laila yang jaga," suruh Laila beralih ke Hanif.

"Iya."

Hanif segera mengangkat tubuh Nu menuju ke mobil. Di belakang, Laila yang menggendong Rauzah dan Yusuf mengikuti Hanif.

Hanif membawa masuk Nur ke dalam mobil dibantu Pak Yuda yang merupakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 7. Perdebatan

    "Nur, Mas tahu anak ini adalah anak yang kita tunggu selama bertahun-tahun. Tapi Mas tidak mau kehilangan kamu gara-gara anak ini. Lebih baik kita gugurkan saja anak ini dan menganggap rahim kamu. Kesehatan kamu lebih penting untuk sekarang. Kita sudah mempunyai Yusuf dan Rauzah," kata Hanif dengan sesak. Hanif menangis dalam diam. Takut jika suatu saat Nur akan meninggalkannya dengan penyakit itu. Dia belum siap kehilangan Nur. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nur adalah wanita yang sangat dicintainya. Bahkan melebihi Laila. Bukan karena Hanif tidak mencintai Laila, lantaran Nur lah yang telah menemaninya dari mereka nol. Jadi ada posisi khusus di hati Hanif untuk Nur yang tidak bisa digantikan dan disentuh oleh orang lain. Termasuk anak-anaknya. *** Nur baru tersadar setelah satu jam kemudian. Saat dia terbangun, perutnya sudah mulai sedikit lebih enak dibandingkan sebelum dia pingsan. Di samping Nur, Hanif sama sekali tidak meninggalkan Nut satu senti pun. Untuk ke kamar mandi s

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 6. Ketahuan

    "Nur tidak argh …." Nur kembali berteriak kesakitan. Perutnya kembali berdenyut lebih sakit dari tadi. Kali ini sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Sampai dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. "Nur! Nu!" seru Hanif. "Bunda! Bunda!" teriak Yusuf dengan suara keras sambil menangis. Yusuf sedih melihat sang Bunda jatuh pingsan. "Bunda!" Rauzah juga tidak kalah histeris dari Yusuf. Ada rasa bersalah karena dia tadi yang memeluk Bunda dengan erat. "Bunda, maapin Lau. Lau janji ndak akan natal lagi. Bangun Bunda," sambung Rauzah dengan isak tangisan. "Tidak apa-apa sayang. Itu bukan salah kamu. Bunda memang dari tadi sudah tidak enak badan," bujuk Laila menenangkan Rauzah. "Mas tolong bawa Kak Nur ke rumah sakit. Biar anak-anak Laila yang jaga," suruh Laila beralih ke Hanif. "Iya." Hanif segera mengangkat tubuh Nu menuju ke mobil. Di belakang, Laila yang menggendong Rauzah dan Yusuf mengikuti Hanif. Hanif membawa masuk Nur ke dalam mobil dibantu Pak Yuda yang merupakan

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 5. Nur Pingsan

    "Iya Dok, saya mengerti. Dokter sudah menjelaskan semuanya kemarin.""Baiklah, jika itu keputusan kalian. Saya akan memberikan obat-obatan agar bisa menekan sel kanker. Jadi usahakan agar Ibu tetap rutin untuk minum obat ini," ujar Dokter dengan pasrah. Tidak bisa memaksa pasien. Pasien bisa memilih sendiri bagaimana kesanggupan mereka. Itu diluar tanggung jawabnya."Baik Dok. Tapi seberapa pengaruhnya obat ini untuk calon anak saya?""Sudah saya bilang kemarin, kalau Ibu minum obat ini, maka anak Ibu bisa lahir dengan cacat. Ibu tidak bisa tidak memilih satu dari ketiga prosedur itu sekaligus. Jika Ibu tidak mau pembedahan, setidaknya Ibu harus minum obat ini untuk memperlambat sel kanker.""Baik Dok, terima kasih," ujar Nur dengan tenang. "Jangan lupa setiap minggu Ibu harus melakukan cek rutin, ya," kata Dokter memperingati."Iya Dok."***Nur keluar dari ruangan Dokter setelah menerima obat yang harus diminum. Begitu dia tiba di dekat tong sampah, dia membuang semua obat-obat itu

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 4. Keputusan Nur Sudah Bulat

    "Tumben kamu manja sama Bunda," timpal Laila meneruskan acara memasaknya "Apa Rauzah sudah tidak sayang lagi sama Ayah," ujar Hanif merubah raut wajah sesedih mungkin untuk menarik perhatian Rauzah. Rauzah paling tidak suka dia sedih. Rauzah melirik ke arah Hanif untuk memeriksa raut wajah sang Ayah yang kesepian ditinggal olehnya. Tapi hanya sebentar saja, dia kembali menenggelamkan wajahnya di perut Nur. 'Apa Rauzah bisa merasakan kalau aku sedang hamil. Biasanya anak kecil lebih sensitif. Mereka bisa merasakan ada bayi di dalam kandungan untuk menjadi temannya. Tidak, aku harus menjauhkan Rauzah untuk sementara. Aku tidak mau membuat Mas Hanif dan Laila curiga,' batin Nur mulai panik dengan keanehan Rauzah yang lebih lengket kepadanya daripada Hanif. "Sayang, main sama Ayah dulu ya. Ibu dan Bunda harus masak," bujuk Hanif setelah menghela nafas dengan keanehan Rauzah. "Ndak mau," tolak Rauzah lagi. "Kalau Rauzah ganggu Bunda dan Ibu terus, nanti jangan nangis kalau kamu kel

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 3. Merahasiakan

    "Sebaiknya Ibu istirahat dan berbicara dulu dengan suami Ibu. Biar pikiran Ibu jauh lebih jernih dan bisa mengambil keputusan yang lebih baik. Jika Ibu masih memaksa ikut kemoterapi untuk menekan sel kanker agar tidak menyebar luas, kami akan berusaha membantu Ibu sebisa kami. Ibu harus secara rutin untuk memastikan sekarang kanker tidak menyebar lebih luas. Jika anak dalam kandungan Ibu bisa bertahan selama 24 Minggu, kita bisa mengeluarkan dia lebih cepat," ujar sang Dokter mengambil jalan tengah. "Iya Dok, saya setuju," sahut Nur cepat dengan wajah yang lebih cerah. Sekarang kemungkinan anaknya lahir dengan selamat sudah terbuka. "Tapi jika ada komplikasi atau masalah di trimester pertama, kami tidak merekomendasikan untuk mempertahankan anak itu. Ibu harus melakukan pembedahan saat itu juga. Tolong Ibu pikirkan baik-baik hal ini lagi. Minggu depan Ibu boleh kembali dengan suami Ibu. Kita akan konsultasi lagi bagaimana dengan keputusan Ibu dan suami Ibu. Suami Ibu juga berhak tah

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 2. Kanker

    Jantung Nur seperti di lambung sangat tinggi saat mendengar positif hamil. Sekarang dibanting kembali dengan kecepatan melebihi roket yang menembus ke dalam tanah. Rasanya sakit melebihi apapun. Dia harus melepaskan calon anaknya. Anak yang tidak tahu kapan bisa hadir lagi. Ditambah rahimnya harus diangkat, sehingga dia tidak ada kemungkinan bisa hamil lagi. Sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuknya."Apa maksud Dokter? Bagaimana mungkin saya harus melepaskan calon anak ini? Jika rahim saya diangkat, saya tidak akan pernah mempunyai kesempatan hamil lagi Dok. Ini kehamilan pertama saya," ujar Nur tidak terima dengan kabar buruk yang disampaikan oleh Dokter."Maaf Bu, ini sudah terlambat. Selama ini Ibu mengabaikan penyakit Ibu. Penyakit Ibu sudah sangat berbahaya. Bisa mengancam nyawa Ibu dalam waktu dekat. Sekarang rahim Ibu sudah terkena kanker, harus segera diangkat agar tidak menyebar lebih luas ke organ lainnya. Jika sudah menyebar, lebih sulit ditangani bahkan bisa menye

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status