ログイン"Istri mas itu orang yang egois, dia tidak pernah menghargai mas sebagai suaminya. Dia tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah termasuk mengurus keperluan mas. Padahal selama ini, semua keinginannya selalu mas penuhi, tapi di matanya, semua pengorbanan mas itu tidak ada artinya sama sekali. Jujur, mas capek menjalani rumah tangga seperti ini. Mas menginginkan seorang wanita yang baik dan lembut serta bisa menghargai mas sebagai suaminya. Dulunya mas kira kriteria itu ada padanya, tapi te
"Papa kok lama kali sih datang ke sini. Randy sudah lapar tau," omelnya dengan mulut manyun."Maafkan Papa, Sayang. Tadi papa ada sedikit urusan. Sekarang kita makan aja, yuk," ajak Randy."Oke, ayok Papa.""Papa aja yang diajak makan. Mama gimana? Mama jadi sedih deh kalau Randy gak ngajakin mama." Feyla berpura-pura merajuk dan memasang raut wajah sedih."Iya, mama juga. Ayok," sahut Randy sambil menggandeng tangan Feyla dan Yanto masing-masing di sisi kiri dan kanan tubuhnya.Susi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum tipis. Di satu sisi dia sedikit terbawa arus dalam suasana bahagia yang diperlihatkan oleh keluarga kecil itu, tetapi di satu sisi, hatinya miris mengingat bahwa kebahagiaan itu dibangun di atas penderitaan wanita lain."Mbak Susi, aku mau suap sendiri saja," pinta Randy sambil mengambil alih piringnya dari tangan Susi.Setelah menyerahkan piring kepada Randy, Susi segera undur diri untuk mengambil tas sekolah Randy sekaligus mengecek buku dan peralatan sekolahnya
"Kenapa harus begitu, Kak? Kan Kakak tau sendiri kalau hubunganku dengan si Viana itu tidak baik. Jadi mana mau dia kalau aku suruh – suruh," ucap Runi kala itu."Ya, itu sih tergantung pandai-pandainya kamu saja. Jika dia tidak mau, ya kamu coba saja kerjakan sendiri atau kalau tidak, kamu pakai jasa orang lain. Kalau aku, bila lagi mood aku akan lakukan pekerjaan rumah, tapi kalau tidak, aku akan sewa jasa pembersih rumah dan memesan makanan dari luar. Beres, kan?""Tapi Kak, nanti uangku jadi cepat habis. Lagipula aku lihat si Viana ini tidak seperti yang Kakak harapkan. Dia sering memesan makanan dari luar, sesekali saja dia memasak dan itu pun hanya untuk dirinya sendiri, kalau untuk urusan bersih-bersih, dia hanya mau membersihkan kamarnya saja dan bagian dapur kalau dia selesai memasak serta piring bekas makan dan gelas bekas minumnya. Benar-benar bergaya seperti nyonya dia," adu Runi dengan maksud agar Feyla memarahi Viana."Aku tau itu. Makanya kemarin ini aku pekerjakan Bik
Namun, sejurus kemudian kesadarannya kembali ditarik ke tempatnya semula dan dalam hitungan waktu yang singkat, sebuah keputusan besar telah diambilnya. Keputusan yang diharapkan Viana dapat memberikan warna kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.Dengan gerakan tegas, perempuan berambut sebahu itu segera bangkit dari duduknya dan berniat untuk segera melaksanakan rencananya. Di tengah pergerakannya, tanpa sengaja kakinya menyepak paper bag yang tadi di bawa oleh Yanto.Viana menatap tajam ke arah paper bag itu kemudian mengambil benda itu dengan gerakan kasar. Alih-alih ingin melihat isinya, Viana justru malah membuang paper bag itu ke dalam tong sampah yang terletak di sudut kamar sambil tersenyum puas.Setelah itu dia kembali bergerak melakukan beberapa hal yang merupakan bagian dari rencana yang telah tersusun dalam benaknya.Satu tekad telah dia genggam yaitu bahwa dia harus segera meninggalkan kediaman yang bagaikan neraka ini secepat mungkin.Beberapa jam kemudian, pagi hari
"Ah, persetan dengan surat perjanjian itu." Yanto tersenyum menyeringai menatap Viana."Asal kau tahu Viana, surat perjanjian itu sudah aku robek dan bakar.""Apa?! seru Viana tak percaya."Ya, itu benar. Beberapa hari yang lalu, diam-diam aku masuk ke kamarmu, mencari surat itu dan aku berhasil menemukannya. Lalu aku merobek dan membakarnya. Sekarang kau tidak punya pegangan lagi untuk memaksaku menceraikanmu," ujar Yanto sambil tersenyum puas."Tidak mungkin! Kau Pasti bohong, Mas!" Viana menolak untuk percaya."Aku tidak bohong. Kau bisa periksa sendiri laci tempat kau menyimpan surat itu."Viana bergegas menghambur ke laci yang dimaksud, membongkar semua barang yang ada di dalamnya dan pada akhirnya dia jatuh terduduk lemas di lantai saat tidak menemukan surat itu di sana.Yanto yang melihat hal tersebut tersenyum penuh kemenangan. Dengan langkah santai dia mendekati Viana lalu berjongkok di sebelah Viana."Sudahlah, Dek. Hapus saja keinginanmu untuk bercerai dariku. Aku masih san
Oleh karena itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki itu segera menyatukan tubuhnya dengan tubuh sang istri yang masih dalam keadaan pingsan itu.Di tengah malam Viana siuman dari pingsannya. Dia melenguh pelan sambil mengusap kepalanya yang terasa pusing.Perlahan dia membuka matanya, mengerjapkannya sejenak untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menerangi kamar itu.Sejenak dia terlihat kebingungan karena merasakan kulit tubuhnya menggigil diterpa udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan yang terpasang di dalam kamar tersebut.Viana spontan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena tidak kuat menahan dingin. Saat itu barulah dia menyadari bahwa tubuhnya tidak ditempeli oleh satu helai benang pun.Viana menjadi syok. Otaknya berputar cepat, berusaha mengingat rentetan kejadian yang membuatnya jadi begini.Akhirnya, setelah beberapa saat berpikir Viana pun bisa mengingat kembali hal yang sudah terjadi padanya. Dia mengingat bahwa pada malam itu Yanto datang ke kam
"Aku tidak percaya, Mas. Aku harus lihat sendiri keadaan di dalam. Minggir, Mas! Aku mau masuk!" Feyla berusaha mendorong tubuh Yanto yang menghalangi pintu masuk.Akan tetapi, Yanto bergeming. Sedikit pun dia tidak bergeser dari posisinya. Hal tersebut membuat Feyla semakin terbakar api cemburu."Kenapa kamu tidak mau minggir, Mas. Apa sebenarnya yang kalian lakukan di dalam, hah?!" sentak Feyla dengan mata yang mulai mengembun."Jangan membentakku, Fey. Aku suamimu! Aku ke sini karena ada sedikit keperluan dengan Viana dan kalau pun aku berlama-lama di sini, memangnya ada yang salah. Viana itu istriku, aku berhak atas dirinya, berhak menuntut nafkah batin darinya. Ingat Fey, dulu kamu sendiri yang bersedia untuk menjadi istri kedua. Tentunya kamu sudah tahu konsekuensi menikah dengan pria beristri. Jadi seharusnya kamu tidak perlu lagi mempermasalahkan hal ini," jelas Yanto panjang lebar."Tapi Mas, aku-""Sudahlah, Kak. Apa yang dibilang bang Yanto itu benar. Lebih baik sekarang ki







