LOGIN"Lho, kenapa Run? Kok berhenti?" tanya Mita.
"Mmm...gimana ya." Runi terlihat ragu-ragu.
Dia sibuk melirik ke kanan dan kiri. Perseteruannya tadi dengan Silvia dan Dinta telah menyita perhatian cukup banyak pengunjung. Dia khawatir kalau nanti ada lagi orang yang akan membullynya jika masih dia masih berada di dalam mall itu.
Akan tetapi, perutnya yang tengah keroncongan saat ini menuntut untuk bisa segera bertemu dengan makanan.
"Gimana apanya? Apa ada masalah?" c
Flashback on. “Selamat sore, Bu. Ada keluhan apa?” tanya seorang wanita paruh baya berpakaian serba putih khas seorang bidan dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya.Runi yang kini tengah duduk di hadapan bidan itu melepas kacamata hitam yang sedari tadi melekat di wajahnya. Tatapan matanya menelisik sosok di depannya, menilai dalam hati apakah wanita ini bisa diajak kerjasama untuk menjalankan rencananya atau tidak.“Ibu, ada apa?” panggil bidan bernama Minar itu kala melihat Runi hanya terdiam menatapnya.Runi tersenyum tipis, tapi tidak segera menjawab pertanyaan Bidan Minar. Kini Runi mengalihkan tatapannya pada sekeliling ruang kamar periksa pasien dimana dirinya berada saat ini lalu sejurus kemudian dia menatap Bidan Minar.“Nama saya Runi. Saya istri dari Yuda, anaknya Bu Elvina. Ibu pasti kenal, bukan? Kami tinggal tidak jauh dari sini.”Bidan Minar menganggukkan kepalanya. Dia memang kenal dengan keluarga Yuda, tetapi hanya sebatas tahu begitu saja, tidak ada hubung
Sebulan kemudian.“Huekk.... huekkk....” Keheningan pagi itu dipecahkan oleh suara muntah seseorang di dalam kamar mandi. “Runi? Kamu kenapa?” tanya Yuda dengan nada panik. Ternyata yang sedang muntah-muntah itu adalah Runi dan Yuda yang mendengar hal tersebut langsung menghambur ke dalam kamar mandi.Runi berbalik badan dan Yuda bisa melihat betapa pucat wajah istrinya itu.“Kamu kenapa, Run? Kamu sakit?” tanya Yuda lagi sambil memijit pelan kedua bahu Runi.“Nggak tahu nih, Mas. Tiba-tiba saja badanku terasa lemas, kepalaku pusing dan perutku mual seperti diaduk-aduk,” ucap Runi sambil memijit dahinya.“Kamu sakit maag? Atau jangan-jangan...” Bola mata Yuda berputar liar, dadanya berdegup kencang, sebuah prasangka muncul di benaknya.“Jangan – jangan apa, Mas?”“Jangan – jangan kamu hamil, Run,” bisiknya dengan suara lirih.“Ha-hamil?” Runi tampak kaget.“Ya, siapa tahu. Soalnya beberapa minggu lalu, Richard, temanku bercerita bahwa istrinya tengah hamil muda dan pada awal kehamil
Yanto menghembuskan napas kasar dan menatap istrinya dengan rasa iba. Meski sedikit kecewa mendengar berita barusan, tetapi Yanto masih bisa menerimanya karena dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi sehingga dia sudah mempersiapkan mentalnya. “Mas Yanto, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kamu bicara dong, Mas. Jangan diam saja seperti patung!” seru Feyla dengan kesal. “Sudah, Feyla. Berhenti berharap pada orang lain. Kita jalani saja dulu apa yang ada di depan kita. Seperti kataku tadi, besok aku akan mencari pekerjaan untuk menghidupi kita bertiga dan aku juga akan mencari sekolah di sekitar sini untuk Randy. Aku akan mengurus surat pindah Randy dari sekolah yang lama dan kamu sekarang bertanggung jawab mengurus rumah dan menyediakan makanan untuk kita semua.” Yanto mulai menegaskan pembagian tugas di antara mereka.“Apa? Aku disuruh ngurus rumah? Kamu pikir aku ini pembantu, Mas?! Aku istrimu dan aku tidak suka disuruh-suruh seperti itu! Satu lagi, aku juga tidak mengizink
Sontak Yanto tercengang melihat reaksi Feyla. “Loh, kenapa kamu kaget begitu? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?”Feyla menggeleng dengan kuat-kuat. “Aku tidak mau! Masakan aku seorang pemilik perusahaan besar melakukan pekerjaan receh seperti itu. Bisa jatuh harga diriku, Mas!”“Tapi sekarang kamu bukan lagi seorang pemilik perusahaan, Fey. Sadar kamu, jangan kebanyakan berhalusinasi!” ketus Yanto.Feyla terdiam, dalam hatinya membenarkan perkataan Yanto tersebut. Akan tetapi, perempuan itu tetap tidak ingin melakukan saran Yanto. Dia yang selama ini bekerja di balik meja, berteman dengan komputer dan kertas-kertas dokumen menyebabkan Feyla enggan untuk menyentuh bidang pekerjaan yang memang bukan ranahnya.“Mas, bagaimana kalau kita minta tolong sama Yuda, suaminya Runi?” cetus Feyla tiba-tiba.“Yuda?” “Iya, Mas. Yuda itu kan pengusaha terkenal juga, jadi kita minta saja bantuannya untuk mengambil alih kembali perusahaan dan aset-aset milikku. Aku yakin dia punya kenalan p
“Mas, serius kita tinggal di sini?” tanya Feyla sedikit bergidik melihat penampakan bangunan di depan matanya. Yanto, Feyla, dan Randy kini tengah berdiri di depan sebuah rumah tipe minimalis. Setelah terusir dari rumah Feyla sebelumnya, Yanto memutuskan mencari sebuah penginapan untuk mereka tinggali buat sementara waktu karena mereka belum tahu akan pergi kemana. Feyla sempat protes, kenapa Yanto memilih penginapan bukan hotel karena selama ini dia terbiasa menginap di hotel jika ada keadaan yang memaksanya tidak bisa pulang ke rumah seperti urusan kerja di luar kota sehingga perempuan itu merasa tidak nyaman harus menginap di tempat yang memang tidak semewah hotel yang biasa ditempatinya.Yanto menjelaskan alasannya yaitu penghematan biaya. Saat ini keuangan mereka sepenuhnya bergantung pada uang cash dan tabungan yang dimiliki Yanto. Meskipun jumlahnya masih cukup banyak, tetapi mengingat dirinya yang masih belum mempunyai pekerjaan untuk saat ini menyebabkan Yanto mulai melakuka
Kini semua pandangan mata terarah pada Feyla. Jika Yanto dan Randy menunjukkan ekspresi sangat terkejut dan khawatir, lain hal nya dengan Deon dan kedua anak buahnya yang menunjukkan ekspresi biasa saja bahkan Deon sempat-sempatnya menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya. “Mama!” seru Randy dengan mata terbelalak.“Feyla, jangan konyol! Buang pisau itu, cepat!!” perintah Yanto dengan nada panik. Ya, rupanya Feyla menekankan sebilah pisau pemotong buah ke lehernya yang entah darimana diperolehnya. Ujung pisau yang runcing tampak berkilat tertimpa cahaya lampu yang menyala, menggetarkan hati orang-orang yang melihatnya. “Tidak mau! Selama bedebah itu beserta anjing peliharaannya masih terlihat di depan mataku, aku tidak akan melepaskan pisau ini!” balas Feyla dengan suara nyaring. “Jangan bodoh, Feyla! Kau pikir Deon akan takut pada ancamanmu itu! Aku yakin tidak, Feyla! Sekarang dengarkan kata-kataku, jangan bertindak konyol, buang pisau itu! Lihat Randy, dia ketakutan meliha
Beberapa hari kemudian tiba lah hari yang dinantikan oleh Feyla dan Runi untuk menjalankan rencana mereka.Kebetulan hari itu jatuh pada hari Sabtu dimana Yanto hanya kerja setengah hari saja. Seharian itu Runi hanya berdiam saja di rumah, tetapi ekspresi wajahnya memancarkan kegembiraan.
Tring!Suara notifikasi chat masuk terdengar dari ponsel Feyla yang terletak di atas meja. Feyla yang sedang asyik bercengkerama dengan Randy seketika itu juga menghentikan aktivitasnya dan kini fokusnya teralih pada ponselnya itu."Runi?" gumamnya keheranan saat melihat siapa orang
"Hallo, Kak. Tumben ngajakin aku makan siang kali ini. Biasanya Kakak sibuk terus kalau aku ajakin," cetus Runi setengah menyindir ketika pada siang hari itu Feyla mengajaknya ketemuan sekaligus makan siang di restoran langganan Feyla.Feyla yang menyadari bahwa Runi tengah menyindirnya ha
"Arrrghh...brengsek! Sialan! Kenapa susah sekali untuk mendapatkanmu, Mas Yanto. Sudah banyak hal yang kulakukan untuk menarik perhatianmu termasuk memberikanmu gaji di luar batas kewajaran, tetapi tidak sedikitpun kau menyadari semuanya itu. Malah dengan bangganya engkau mengajak istrimu itu mak







