LOGINYanto terhenyak. Tangisan sekaligus ungkapan kekecewaan Silvia membuatnya semakin malu dan marah atas perbuatan Runi itu. Yanto menjadi gamang. Dua kali dia mendapat hantaman berupa berita buruk tentang kelakuan Runi di luaran sana yang telah merusak rumah tangga orang lain.
Yanto masih terdiam, tak tahu harus berucap apa, begitu pun halnya dengan Viana. Peristiwa ini sudah pasti akan menjadi sebuah aib di keluarga suaminya dan Viana sebagai istri Yanto juga akan ikut ter
Viana duduk termenung di dalam kamarnya. Rentetan peristiwa tadi siang di kantor membayang di pelupuk matanya. Hatinya bimbang, mempertanyakan sudah tepatkah keputusan yang diambilnya ini mengingat konsekuensi yang harus dihadapinya adalah menjadi seorang pengangguran.Dia juga sudah menceritakan masalahnya ini kepada Bu Resti dan ibu angkatnya itu berusaha menyikapinya dengan bijak.Saat tengah duduk melamun, Viana dikejutkan oleh suara pintu kamar yang dibuka dari luar."Ibu," ucapnya lirih ketika melihat siapa yang datang.Bu Resti tersenyum lalu berjalan menghampirinya."Kenapa? Masih memikirkan yang tadi siang?"Viana mendesah pelan sambil menatap Bu Resti."Jujur, iya Bu. Menurut ibu, aku salah atau tidak ya mengambil keputusan ini? Soalnya aku kok tiba-tiba merasa menyesal sekarang." Viana mengungkapkan unek-uneknya."Mau menyesal pun sekarang gak ada gunanya lagi, Vi. Semuanya telah terjadi dan sekarang yang kamu bisa hanyalah menatap ke depan dan melanjutkan hidupmu. Terkadan
Suasana di dalam ruangan berukuran 4 x 5 meter itu tampak hening, yang terdengar hanyalah suara pendingin ruangan yang berputar pelan menyemburkan hawa dingin yang menyejukkan. Beberapa hiasan yang terpasang dalam ruangan itu memanjakan mata setiap orang di sana, yang seharusnya bisa menciptakan suasana hangat dan menyenangkan hati.Akan tetapi, semua hal tersebut tidak bisa meredam aura ketegangan yang saat ini tengah meliputi ruangan tersebut.Seorang wanita paruh baya dengan stelan pakaian kantor berwarna abu-abu dan rambut yang ditata apik tengah menatap tajam seorang wanita muda yang duduk di seberang mejanya.Wanita itu duduk dengan sikap tenang, tetapi masih dapat dilihat sedikit raut kegelisahan membayang di wajahnya."Viana, apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?" tanya wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Bu Irma."Tidak, Bu," jawab Viana jujur.Bu Irma melemparkan tatapan sinis."Benar - benar kamu itu, ya. Sudah bikin salah, tapi malah bersikap seperti orang ya
Beberapa hari telah berlalu, tetapi gosip yang menimpa Viana masih belum reda, yang ada malah semakin hot dengan bumbu-bumbu penyedap yang ditaburkan Veby. Hal tersebut membuat Viana menjadi jengah terlebih lagi masalah ini merembet ke urusan pekerjaan. Mereka bertindak tidak profesional kepada Viana. Laporan yang Viana butuhkan seringkali mereka tahan dengan alasan belum selesai atau harus direvisi dulu.Terang saja hal itu membuat Viana jadi keteteran dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Karena hal ini juga lah, Viana mendapat teguran secara halus dari Bu Selly yang menilai kinerjanya tidak bagus.Viana mencoba menjelaskan bahwa keterlambatannya, tetapi Bu Selly tidak percaya karena orang-orang yang berhubungan dengan Viana selama ini tidak pernah membuat kesalahan dalam pekerjaan dan mereka adalah orang-orang yang kompeten menurut pandangan Bu Selly.Ingin rasanya juga dia melaporkan fitnahan yang dibuat Veby, tetapi lagi-lagi dia terkendala dengan bukti karena grup
Jarum jam di dinding ruangan telah berdentang sebanyak dua belas kali, pertanda jam istirahat siang telah tiba. Satu persatu karyawan mulai beranjak meninggalkan tempat mereka menuju ke kantin perusahaan termasuk rekan-rekan satu divisi Viana kecuali Viana dan Nuri.Setelah melihat semua orang sudah keluar, tanpa basa basi lagi, Viana langsung menghampiri Nuri dan bertanya kepada wanita berambut sebahu itu."Sekarang Nuri, tolong beritahu aku apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kenapa semua orang bersikap aneh padaku hari ini," pinta Viana.Nuri menatap Viana sejenak lalu menghela napas."Kamu tau nggak, saat ini kamu sedang jadi bahan gosip para karyawan di kantor ini.""Hah? Aku? Gosip apa?" Mendadak perasaan Viana jadi tidak enak."Sebenarnya ini berawal dari berita yang disebarkan Veby di grup chat karyawan. Intinya, Veby mengatakan bahwa kamu itu adalah cewek murahan yang berani menggoda pak Bayu supaya bisa masuk dan bekerja di kantor ini.""Lebih lanjut lagi menurut Veby, kamu i
"Apa?! Jadi dia bilang gitu ke kamu?" ucap Bu Resti setengah berteriak karena kaget sekaligus tidak percaya."Iya, benar, Bu. Aku pun sungguh tidak percaya Tante Ajeng bisa bersikap seperti itu. Padahal kemari ini, dia sangat ramah menyambut kedatanganku di rumahnya. Apa jangan-jangan ada yang menghasutnya, ya?" tebak Viana."Tidak usah menduga yang bukan-bukan. Yang jelas, dengan adanya kejadian ini, sudah positif kamu harus cepat bertemu dengan Bayu dan menyampaikan keputusanmu. Tapi kamu tidak perlu bilang perihal ibunya yang datang kemari dan memintamu menjauh darinya. Bayu anak yang baik dan ibu tidak mau Bayu bersedih karena kelakuan ibunya itu serta tidak mau juga membuat hubungan anak dan ibu itu menjadi renggang. Ibu khawatir jika itu terjadi maka si Ajeng akan playing victim seolah-olah kamulah penyebab hubungan mereka berdua jadi rusak dan itu akan memancing reaksi negatif dari masyarakat sekitar tentang dirimu," papar Bu Resti panjang lebar.Viana mengangguk paham."Baik,
Sabtu siang.Viana memarkirkan motornya di depan pagar rumah kemudian dia turun dari motor untuk membuka pagar rumah. Siang itu Viana baru saja pulang kerja karena pada hari Sabtu dia hanya bekerja setengah hari saja. Tadi di kantor, dia ingin langsung memberitahukan Bayu tentang keputusannya, tetapi hari itu dia tidak menjumpai Bayu di kantor karena pada hari itu Bayu mempunyai banyak agenda meeting di luar kantor. Alhasil, sampai tiba jam pulang, Viana belum bisa bertemu dengan Bayu, yang ada dia malah bertemu dengan Veby.Veby sempat melontarkan beberapa kalimat sindiran dan cemoohan untuk Viana, tapi Viana berusaha untuk tidak menggubrisnya supaya tidak terjadi keributan di dalam kantor.Setelah pintu pagar terbuka, Viana segera mendorong motornya masuk ke dalam rumah lalu bersiap mengunci pintu pagar.Akan tetapi, satu tangan seseorang menahan pagar tersebut sehingga Viana jadi tidak menguncinya."Tante Ajeng?" ucap Viana setelah melihat siapa orang tersebut."Ya, bisa kita bicar
"Ngapain kamu di sana? Kenapa pulang malah marah-marah kayak gini?" cecar Yanto ketika Runi sudah tiba kembali di rumah."Sombong banget tuh laki! Masak aku mau kenalan ditolaknya, malah aku diusir pula. Apa matanya buta, gak bisa liat kalau aku ini cantik makanya dia nolak untuk kenalan,"
Sembari memanaskan motornya di teras rumah, pandangan Yanto terarah ke rumah Mika yang ada di seberang jalan. Dia berharap dapat melihat Viana keluar dari rumah itu dan kembali ke kediaman mereka.Namun, harapannya tidak menjadi kenyataan karena sosok yang ditunggunya tidak kunjung menampi
"Viana apa-apaan kamu ini! Kenapa kau bicara seperti itu," tukas Yanto dengan kesal karena secara blak-blakan Viana membuka aibnya berupa perlakuan kasarnya kepada Viana.Mika mendadak ragu, dia menoleh pada orang yang berdiri di sebelahnya seolah meminta pendapat orang tersebut."Jimmy, bagaimana
Viana melirik ke kiri dan ke kanan, memutar otaknya untuk mencari cara bagaimana bisa kabur dari sana.Sejurus kemudian dia mendapatkan sebuah ide. Dengan cepat dia menghampiri lemari kecil yang ada di sudut ruang tamu yang berada di samping tempat Runi berdiri tadi.Dalam lemari ke







