LOGINTik...tok...tik... tok...Detak suara jam dinding dengan ritme yang teratur mengalun dengan cukup jelas di tengah keheningan ruangan berukuran 4x4 m tersebut. Meskipun ada dua manusia di dalamnya, tetapi keheningan terasa begitu nyata karena kedua orang tersebut sedang dibelit masalah yang membuat mereka lebih memilih berdiam diri daripada berkomunikasi satu sama lainnya. Mereka adalah Yuda dan Clara, keduanya duduk di tempat yang berbeda dengan raut wajah yang muram. Clara duduk meringkuk di atas ranjang dengan kedua lengan memeluk kaki dan dagu yang ditumpukan pada kedua lututnya sedangkan Yuda duduk di sofabed, terpekur menatap lantai. Sesekali Yuda melirik Clara yang masih diam membisu dengan pandangan menerawang.Bosan dengan keheningan yang menyelimuti mereka, Yuda mencoba memulai pembicaraan.“Clara, bicaralah sesuatu. Jangan hanya diam saja. Aku jadi bingung melihatmu seperti ini.”Clara bergeming, tidak sedikit pun dia menoleh ke arah Yuda, membuat Yuda menjadi gemas. Dia seg
Plak!“Hei, apa-apaan kamu, Clara?! Kenapa kau menamparku? Apa kau sudah gila, hah?!” pekik Runi saat sebuah hadiah tamparan dari Clara singgah di pipinya.“Kau yang gila! Kau wanita yang tidak punya perasaan! Kau setuju menikah dengan mas Yuda padahal kau tahu dia adalah suamiku. Kau adalah temanku, tapi kau menusukku dari belakang! Apa kau tidak punya hati nurani, hah?!” seru Clara dengan dada naik turun karena emosi yang meletup – letup dalam dadanya.Keduanya tampak bersitegang di halaman belakang rumah. Ya, setelah keluar dari kamar Elvina, Clara segera membawa Runi ke halaman belakang untuk melampiaskan amarah dan perasaan kecewanya atas sikap Runi yang mau-mau saja menyetujui permintaan Bu Elvina untuk menjadi istri kedua Yuda.Runi tersenyum kecil, sikapnya terlihat santai seolah-olah tidak terpengaruh akan kemarahan Clara.“Bukan salahku, Clara. Ibu mertuamu yang memaksa aku. Bukankah aku sudah menolaknya tadi,” ucap Runi dengan tenang.“Kau wanita licik. Aku tahu sebenarnya
Sontak keduanya saling bertatapan penuh keheranan, tetapi sedetik kemudian seperti dikomando, Yuda dan Clara segera berlari menuju ke kamar Bagas dan Elvina.Setibanya di ambang pintu, Yuda dan Clara terkejut melihat pemandangan yang terhampar di depan mereka.Mereka melihat Bagas terduduk di lantai, sebelah tangannya tampak merangkul tubuh Elvina yang terbaring di pangkuannya dengan mata terpejam sedangkan satu tangan lagi menepuk-nepuk pelan pipi Elvina.“Ma! Ma! Bangun, Ma! Sadar, Ma!” serunya berulang-ulang. Kecemasan tergambar jelas di raut wajah pria paruh baya itu.“Pa, mama kenapa?” tanya Yuda yang langsung menghambur masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Clara.Bagas mengangkat wajahnya, menatap putra dan menantunya itu.“Ini, mamamu tiba-tiba pingsan, nggak tahu kenapa. Ayo, bantu papa meletakkan mamamu di atas ranjang!”Ketiganya segera mengangkat tubuh Elvina dan meletakkannya dengan perlahan di atas ranjang.“Bik! Bik Siti!” seru Bagas dengan suara keras.Tidak berapa lama k
“APA?! MENIKAH LAGI?!” teriak Yuda dengan mata melotot.“Iya, Yud. Mama sama papa sudah tidak bisa lagi menunggu. Teman-teman mama semuanya sudah pada punya cucu bahkan ada anaknya yang baru satu tahun menikah malah sudah melahirkan. Ini kalian malah belum sama sekali. Jangankan melahirkan, hamil pun belum,” ucap Elvina sedikit ketus.Yuda menyugar rambutnya ke belakang. Sungguh, dia tidak pernah menduga kedua orang tuanya mempunyai rencana seperti ini. Selama ini dia melihat hubungan istri dengan kedua orang tuanya itu baik-baik saja, tidak pernah terlihat Elvina maupun Bagas menekan Clara untuk segera hamil sehingga Yuda beranggapan bahwa kedua orang tuanya itu fine – fine saja dengan masalah ini.Akan tetapi, pada malam hari ini semuanya terungkap bahwa sebenarnya ayah dan ibunya tidak sepenuhnya bisa menerima kondisi Clara yang masih belum hamil sampai detik ini.“Tapi, Ma... aku sangat mencintai Clara dan tak ada sedikit pun keinginan di hatiku untuk menikah dengan perempuan lain
Beberapa hari kemudian di sebuah kafe...“Selamat siang, Tante. Maaf, saya terlambat dan membuat Tante menunggu lama,” ucap Runi sembari memasang wajah penuh penyesalan di hadapan seorang wanita paruh baya. Wanita itu adalah Elvina, mertua Clara.“Tidak apa-apa, Runi. Duduklah. Sebelum kita ngobrol, ada baiknya kita makan dulu. Kamu mau pesan apa?”Runi menatap wanita paruh baya di depannya itu seraya menyunggingkan senyum manisnya.“Terserah Tante saja. Saya tidak cerewet untuk urusan makanan. Semua makanan saya suka,” bual Runi.“Baiklah, kalau gitu tante pesan yang sama dengan punya tante saja, ya.”“Boleh, Tan.”Elvina segera memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk Runi.Sembari menunggu, mereka berdua mulai mengobrol.“Bagaimana keadaan Tante sekarang? Apakah luka Tante sudah sembuh?”“Sudah Runi dan tante terima kasih banget sama kamu. Karena pertolonganmu, tante bisa selamat dari para perampok itu.”Runi tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya.“Sama – sama,
Seraut wajah tampan menyapa indra penglihatannya. Rahang yang tegas dan kokoh, hidung yang mancung dan alis mata yang tebal ditambah lagi dengan tubuh yang tegap berbalut jas mahal berwarna hitam dan aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat Runi seketika menjadi mabuk kepayang.‘Siapa gerangan laki-laki tampan ini? Tadi kalau aku tidak salah dengar, dia memanggil Clara dengan sebutan ‘sayang’ Apakah dia kekasih Clara atau malah suaminya?’ Pertanyaan itu bergema di dalam hati Runi.“Oh ya? Tunggu sebentar ya, Hubby. Aku lagi bicara sama temanku. Sebentar lagi aku akan ke sana,” ucap Clara.“Baiklah, kalau gitu aku tinggal dulu ya. Aku mau ketemu sebentar dengan relasi bisnisku,” pamit pria yang dipanggil hubby oleh Clara tersebut tanpa sedikit pun menoleh ke arah Runi.“Oke,” jawab Clara singkat lalu kembali menghadapkan tubuhnya kepada Runi.“Itu siapa Cla? Pacarmu?” tanya Runi yang tidak dapat lagi membendung rasa penasarannya karena selama bergabung di circle nya Cla
Viana hanya melirik malas ke arah Runi tanpa memberi respon apa-apa. Bukannya Viana takut, tapi suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya malas meladeni ocehan Runi.Melihat Viana yang hanya diam saja, Runi semakin berani berbicara."Lebih baik Mbak terima saja kak Feyla menjadi m
Feyla kemudian menghampiri Yanto lalu menyodorkan kertas itu ke arah Yanto."Apa ini, Fey?" tanya Yanto seraya mengambil kertas itu dari tangan Feyla."Itu adalah surat persetujuan dari istri pertama dan kamu harus bisa membujuk Viana agar mau menandatangani surat ini sehingga pernikahan kita kelak
Yanto bergegas menghampiri kedua orang wanita itu dan dia tercekat saat melihat wanita yang bersitegang dengan istrinya itu adalah Feyla, calon istri barunya.“Feyla? Apa yang kamu lakukan di sini?”Melihat Yanto sudah muncul di sana, seketika itu terbit sebuah akal licik di benak Feyla. Ekspresi w
Raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan rasa menyesal atau bersalah karena telah merusak rumah tangga Viana. Yang ada, dia tampak berbahagia, terlebih lagi saat melihat wajah Viana yang sembab. Dia bisa menduga bahwa wanita di hadapannya ini telah menghabiskan waktu semalam dengan menangisi nas







