MasukSementara itu, Yanto yang masih berada dalam kamar tiba – tiba merasa menyesal telah memarahi Viana. Dalam hatinya, dia menyadari bahwa Runi lah yang bersalah dalam hal ini. Oleh karena itu, dia berniat menyusul istrinya untuk minta maaf.
"Dek, maafin mas atas sikap mas tadi. Mas telah menyakiti hati kamu," ucap Yanto yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Viana.
Viana bergeming. Jujur, untuk saat ini, dia masih malas bertatap muka dengan suaminya itu. Bayang-bayang perdebatan dengan suaminya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya.
Sakit rasanya mendapat bentakan dari seseorang yang selama ini bersikap lembut kepadanya hanya demi membela adiknya yang menurut Viana tidak pantas dibela.
Viana mencoba mengeraskan hati untuk mengabaikan suaminya itu.
Akan tetapi, hati kecilnya justru memerintahkan yang sebaliknya. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba Viana tersadar bahwa posisi suaminya itu serba salah. Di satu sisi, ada istri yang harus dijaga perasaannya, sedangkan di sisi lain, ada adik yang harus dia lindungi dan perhatikan.
Viana menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kuat. Setelah itu, wanita bertubuh mungil itu membalikkan tubuhnya. Kini mereka berdiri dalam posisi yang saling berhadapan. Sepersekian detik, mereka saling berpandangan dan akhirnya meluncurlah sebuah ucapan dari bibir Viana.
"Aku juga minta maaf, Mas. Tadi itu, aku masih terbawa emosi sehingga tidak mampu mengontrol perkataanku."
Seulas senyum lebar menghiasi wajah Yanto. Awalnya dia takut, kalau-kalau Viana akan memperpanjang masalah ini sehingga bisa memperburuk hubungannya dengan sang istri.
Namun, kini dia boleh berlega hati karena apa yang ditakutkannya itu tak menjadi kenyataan.
"Jadi sekarang kita saling memaafkan ya, Dek. Mas janji akan menasehati Runi agar dia tidak bertingkah seenaknya lagi," tutur Yanto menatap lekat wajah sang istri.
"Yah...semoga usahamu berhasil, Mas," tukas Viana sekenanya karena dia tahu bukanlah hal yang mudah untuk membuat Runi bisa patuh kepada mereka.
"Ya, udah. Sekarang kita makan ya. Mas udah lapar nih," ucap Yanto sembari mengusap-usap perutnya.
Viana mengangguk lalu bangkit berdiri membuka tudung saji yang masih terhampar di atas meja makan.
"Wah...kamu masak rendang, Dek? Tumben," ucap Yanto dengan wajah berbinar setelah melihat ada makanan favoritnya ikut tersaji di meja makan.
Selama ini boleh dikata jarang sekali Viana memasak rendang. Bukan karena malas, tetapi lebih kepada masalah penghematan di mana gaji Raka setiap bulannya sudah Viana sisihkan menurut kebutuhannya masing-masing sehingga untuk menu makan sehari-hari Viana biasa memasak menu sederhana yang tidak sampai menguras pos yang sudah dianggarkannya. Hanya sekali-kali saja dia membuat masakan yang tergolong mewah dan terkhusus pada hari ini, Viana memasak rendang dikarenakan kedatangan Runi pada hari itu. Meski dia belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran sang ipar di rumah itu, tetapi Viana tidak sampai hati hanya menyuguhkan makanan ala kadarnya di hari pertama kedatangan Runi. Akan tetapi, kejadian barusan membuatnya menyesal mengambil keputusan tersebut.
"Iya, Mas," jawab Viana sembari tangannya terulur menjangkau sebuah piring bermotif pemandangan kemudian mengambilkan nasi untuk Yanto.
Dengan cekatan, Viana meletakkan sepotong daging rendang, berikut sayuran dan lauk lainnya di atas piring Yanto.
"Ini Mas," ucap Viana seraya meletakkan piring di hadapan Yanto yang menyambutnya dengan senyuman lebar.
"Makasih, Dek. Wah, bakalan nambah banyak aku nih," gurau Yanto yang disambut oleh senyuman manis milik Viana.
Viana pun lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Oh ya, tunggu bentar ya, Dek. Mas panggilin Runi dulu di kamarnya, mau ngajak dia sekalian makan."
Viana tertegun. Dia baru sadar bahwa ada satu orang penghuni baru di rumah mereka. Penghuni yang tak diundang.
"Ya, Mas." Akhirnya Viana menjawab dengan singkat.
Yanto segera bergerak menuju ke kamar yang ditempati oleh Runi.
Tak berselang lama, kedua orang itu sudah hadir di ruang makan.
Viana melirik sekilas ke arah Runi, nampak olehnya wajah Runi yang masih cemberut. Viana menyunggingkan senyum sinis, tak habis pikir akan tingkah adik iparnya yang masih terlihat kekanak-kanakan itu walaupun usianya sudah dua puluh lima tahun dan sudah pernah menjadi istri orang.
"Mbak masak apa aja? Kira-kira makanannya cocok nggak dengan seleraku?" tukas Runi sambil menyapukan pandangan ke arah meja makan.
Viana menoleh sekilas ke arah Runi, kemudian melanjutkan makannya tanpa berniat menjawab pertanyaan Runi.
"Runi!" tegur Yanto dengan kening berkerut.
"Apaan sih Abang ini. Bertanya gitu aja, juga ditegur," protes Runi.
"Kamu jangan banyak bicara. Makan saja dulu!" titah Yanto.
Sementara itu di kamarnya, Viana tampak duduk termenung di pinggir ranjang.Dia tengah memikirkan cara untuk membuat Yanto menceraikannya. Dia sudah mantap dan bulat dengan keputusannya itu karena dia menyadari Yanto tidak akan mundur dari niatnya semula yaitu menikahi Feyla.Walaupun dari hati kecilnya yang paling dalam ada sedikit perasaan tidak rela untuk berpisah dari lelaki yang telah membersamainya selama lima tahun itu, tetapi dia sadar dia tidak akan kuat menjalani kehidupan rumah tangga dimana cinta suaminya telah terbagi dua untuk wanita lain.'Apa aku minta tolong saja sama mbak Mika supaya membantuku bicara dengan mas Yanto? Ah, tidak tidak. Aku tidak boleh merepotkan orang dengan masalahku. Atau kalau tidak aku pergi diam-diam saja dari rumah ini? Aku bisa menunggu saat Runi lengah untuk kabur. Tapi kalau aku kabur, aku harus kemana? Sedangkan aku tidak punya sanak saudara di kota ini. Ah, kau betul-betul membuatku pusing, mas,' gerutunya dalam hati.Tengah sibuk melamun,
Mendengar itu, Pak Indra langsung mencondongkan sedikit badannya ke depan."Lalu?" tanya nya seraya menatap Yanto dan Feyla bergantian.Feyla dan Yanto terdiam, keduanya saling lirik satu sama lain."Kenapa kalian diam? Apa keputusanmu, Yanto?" cecar Pak Indra.Yanto mengangkat wajahnya, memutuskan untuk bicara jujur."Saya tidak ingin menceraikannya, Pak. Saya masih sangat mencintainya. Saya berjanji akan berusaha membujuknya.""Dan kalau dia masih tidak mau juga?" kejar Pak Indra."Saya yakin, dia pasti akan mau," ucap Yanto.Brakk!Pak Indra menggebrak meja di depannya, membuat Feyla dan Yanto terlonjak kaget."Yanto, apa kau ingin mempermainkan putriku, hah?! bentak Pak Indra dengan suara yang cukup keras."Mak-maksud Bapak apa?" tanya Yanto dengan tergagap."Kemarin kau bilang padaku bahwa kau akan siap menghadapi segala resiko sehubungan akan rencana pernikahanmu dengan Feyla termasuk bercerai dengan istrimu.""Tapi mengapa sekarang kau terkesan plin plan dan tidak bisa mengambi
"Aku gak masak malam ini," jawab Viana akhirnya dengan nada ogah-ogahan."Lho, kalau Mbak gak masak, lalu Mbak makan apa malam ini?" tanya Runi lagi dengan heran."Tadi aku ditraktir makan oleh mbak Mika dan sekarang perutku masih kenyang. Jadi sepertinya aku gak akan makan malam lagi," jawab Viana."Lah, trus gimana dengan aku dan bang Yanto, Mbak? Masa Mbak sendiri yang kenyang, trus kami dibiarin gak makan dan kelaparan gitu?" protes Runi."Itu terserahmu lah. Kalau kamu mau makan, masak sono di dapur dan kalau kamu malas masak, ya pesan aja makanan secara online. Gampang, kan? Kan kamu dapat gaji dari hasil kerja kamu nemenin calon kakak iparmu itu," sindir Viana"Lalu bang Yanto gimana? Apa Mbak juga nggak mau masak untuk bang Yanto?" Runi mencoba menggunakan nama Yanto untuk meluluhkan hati Viana.Secara Yanto adalah suaminya, tentu Viana akan mau menyiapkan makan malam untuk Yanto, dengan demikian dia juga bisa ikut nebeng makan malam, demikian pertimbangan yang ada dalam pikir
Sementara itu, Viana masih bergeming di tempatnya menatap kepergian Yanto dan Feyla.Bohong jika hatinya tidak terluka melihat semua itu.'Akhirnya aku akan mencapai titik ini juga. Tidak ku sangka kisah perselingkuhan suami yang selama ini aku tonton di sinetron-sinetron kini malah ku alami sendiri. Mana janjimu dulu, mas yang katamu dulu akan selalu setia padaku. Ternyata semua itu hanya bualanmu semata. Setelah semua kejadian ini, aku tidak mungkin lagi bisa percaya padamu. Ya, bercerai adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kewarasan hati dan pikiranku.''Mungkin sekarang mas Yanto bisa bicara bahwa dia akan bersikap adil pada kami berdua, tapi aku yakin nanti setelah dia menikah dengan Feyla, perempuan itu pasti akan berusaha menguasai Mas Yanto seorang diri dan dengan status yang dimilikinya, apa yang bisa aku lakukan.'' Ya, aku sudah yakin jalan inilah yang akan kupilih, tapi bagaimana caranya untuk bisa membuat mas Yanto mau menceraikan aku? Dia masih ingin mempertahankan ak
"Lho, kok aku sih, Bang?" protes Runi. Bagimana dia tidak akan protes. Viana adalah orang yang dibencinya, tapi sekarang Yanto malah menyuruhnya untuk menjadi pengawas Viana. Disamping itu dia juga merasa ruang geraknya akan menjadi terbatas karena dengan tugas barunya ini, dia tidak akan leluasa kemana-mana."Kalau tidak kamu, siapa lagi? Hanya kamu yang bisa ada di rumah selama dua puluh empat jam sedangkan abang harus kerja. Masa gitu aja gak ngerti," tukas Yanto."Tapi kan aku juga kerja sama kak Feyla, Bang. Lagian untuk apa dia diawasi. Kayak anak kecil saja," sungut Runi."Kerja apaan? Feyla sudah bilang sama abang kalau kamu itu gak betul-betul kerja. Kamu hanya jadi teman Feyla saat dia keluar untuk refreshing, jadi teman untuk ngobrol dan nongkrong."Viana tersenyum sinis mendengar penuturan Yanto.'Ternyata selama ini itu pekerjaan yang dibangga – banggakannya, bukan pekerjaan seperti orang-orang pada umumnya. Bahkan perempuan yang selalu disanjungnya itu pun bisa melihat
'Kenapa sorot mata Viana begitu menakutkan, ya? Dadaku sampai berdebar begini,' gumam Yanto dalam hatinya.Hal yang sama juga dirasakan oleh Feyla kecuali Runi yang masih dalam mode emosi.'Astaga, itu si Viana kenapa kayak gitu mukanya. Serem banget, apa jangan-jangan dia kesurupan?' Feyla membatin.Tidak tahu saja mereka kalau semua yang terjadi pada Viana saat ini adalah imbas dari rasa sakit dan kekecewaannya karena ulah Yanto yang telah tega menduakannya dan hinaan Runi tadi ibarat minyak tanah yang disiramkan ke atas bara api, membuat kobaran api kemarahannya kian bernyala – nyala."Kenapa? Kau tidak terima adik kesayanganmu ini kutampar?" tanya Viana dengan nada dingin. Tidak ada lagi panggilan 'mas' disematkan di sana, membuat hati Yanto berdenyut nyeri."Bukan begitu. Aku hanya-""Sudahlah, Mas. Tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang Mas putuskan sendiri, mau cerai atau tidak!" tantang Viana."Mas tidak akan menceraikanmu. Mas percaya kita bertiga bisa hidup rukun. Feyla wa







