Share

Perdebatan

Author: Kurnia_cy
last update publish date: 2025-10-09 18:45:44

"Ini kamarmu. Sekarang kau beresi barang-barangmu, setelah itu mandilah karena sebentar lagi kita akan makan malam. Kamar mandinya terletak di belakang, bersebelahan dengan dapur. Kalau kau tidak tahu, nanti abang tunjukkan. Abang keluar dulu." 

Yanto segera berlalu keluar dari kamar itu lalu menuju ke kamarnya untuk menemui Viana.

"Sialan! Gue harus tidur di kamar jelek ini. Benar-benar keterlaluan tuh, Bang Yanto. Nggak ada perhatian sedikitpun sama adiknya sendiri. Pasti ini semua karena ulah istrinya. Emang dasar ipar songong! Udah berani pula dia menamparku. Awas kamu, Mbak! Suatu saat akan kubalas kamu!" umpat Runi sambil mengepalkan kedua tangannya.

Sebenarnya kamar itu cukup bersih dan nyaman untuk ditempati. Akan tetapi, bagi seorang Runi yang selama bersama suaminya selalu hidup mewah, kamar yang demikian sangatlah tidak layak dimatanya.

Sambil terus menggerutu, Runi mulai membereskan barang-barangnya dan setelah itu dia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena ukuran rumah itu tidak terlalu luas, Runi jadi tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kamar mandi yang dimaksudkan oleh Yanto tadi.

Sementara itu, Yanto yang sudah tiba di dalam kamarnya, melihat Viana tengah terduduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk, menandakan bahwa emosi wanita itu masih belum reda.

Yanto langsung mengambil posisi duduk di samping istrinya. Perlahan, dia menyentuh bahu wanita yang telah diikatnya dalam janji suci pernikahan selama lima tahun itu.

"Dek, kamu masih marah sama Runi?"

Viana melirik sekilas ke arah Yanto, lalu berdecih pelan.

"Nggak perlu ditanyakan lagi, Mas! Sudah pasti iyalah jawabannya," tukas Viana sewot.

Yanto menghela nafas, lalu menatap sang istri.

"Dek, mas tau Runi emang udah keterlaluan banget. Mas pun juga kesal padanya, tapi....." Ucapan Yanto mendadak terhenti.

"Tapi apa, Mas?" tanya Viana penasaran.

"Mas tidak suka dengan tindakanmu barusan," tegas Yanto sambil menghujam manik hitam milik sang istri.

Viana mengernyitkan dahi.

"Tindakan yang mana? Oh...maksud Mas, tindakanku yang tadi menampar Runi? Iya?"

"Iya, Dek. Harusnya kamu nggak usah bertindak sejauh itu. Di kasih tau aja baik-baik, mas yakin Runi pasti mau mendengarkanmu."

"Apa? Bicara baik-baik? Sama adikmu itu? Ha...ha...ha...Kamu jangan membuatku geli, Mas. Adikmu itu mana bisa diajak ngomong baik-baik. Ditampar kayak tadi pun, belum tentu juga dia sadar. Kamu jangan pura-pura nggak tahu bagaimana sifat adikmu itu, Mas!" pungkas Viana dengan nada tinggi.

"Jangan begitu, Dek. Bagaimanapun juga dia adalah adik kandungku, aku tidak tega melihat dia disakiti. Apalagi di saat dia sedang terpuruk seperti sekarang ini," tandas Yanto.

"Aku malah sama sekali nggak melihat adikmu itu sedang terpuruk, Mas. Dia terlihat biasa-biasa saja seperti nggak ada masalah, malahan masih bisa menghina-hina orang. Mas juga, harus objektif dikit dong, kalau salah ya harus ditegur. Jangan mentang – mentang itu adiknya, semua kesalahannya dibiarkan saja. Kapan dia sadarnya kalau kayak gitu. Apa selama hidupnya dia mau kayak gitu terus, jadi orang sombong yang gak tahu diri. Lama – lama bisa jadi benalu dia dalam hidup orang!" sarkas Viana

"Cukup, Dek!" seru Yanto mulai emosi mendengar Viana menjelek – jelekkan Runi.

 "Apanya yang cukup, Mas? Mas jangan protes kalau memang itu kebenarannya. Mas lihat aja sendiri, baru saja dia tiba di rumah ini, dia sudah berani berbicara hal yang menyakitkan kita. Aku nggak bisa ngebayangin bagaimana hari-hariku kalau harus setiap hari bertemu dengannya. Lama-lama aku bisa GILA, Mas!" seru Viana yang mulai tersulut kembali emosinya.

"Itu semua karena kamu nggak mau mencoba untuk dekat dengan Runi, Dek. Kamu selalu menganggap Runi sebagai sumber masalah, makanya kalian berdua itu tak pernah bisa akur!" seru Yanto.

"Oh ya? Kalau begitu lebih baik kamu juga nasehati adik kamu itu. Ingat ya, Mas. Aku ini bukan tipe orang yang suka membuat keributan, tapi jika ada orang yang mencoba memancing masalah denganku, maka jangan salahkan aku kalau aku akan membalasnya. Aku nggak peduli siapa pun orangnya, termasuk adikmu itu. Camkan itu, Mas!" tekan Viana sambil berdiri lalu keluar dari kamar dengan langkah lebar, meninggalkan Yanto sendirian di sana.

Berdebat dengan sang suami cukup menguras energi sehingga membuat perutnya mengirimkan sinyal minta segera diisi. 

Berhubung jam sudah menunjukkan waktu untuk makan malam maka Viana bergegas menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya.

Sembari berjalan menuju ke ruang makan, pikiran Viana mulai dipenuhi dengan bayangan tentang bagaimana hari-hari yang akan dilaluinya dengan keberadaan Runi di rumah itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Memutuskan Pergi 

    Namun, sejurus kemudian kesadarannya kembali ditarik ke tempatnya semula dan dalam hitungan waktu yang singkat, sebuah keputusan besar telah diambilnya. Keputusan yang diharapkan Viana dapat memberikan warna kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.Dengan gerakan tegas, perempuan berambut sebahu itu segera bangkit dari duduknya dan berniat untuk segera melaksanakan rencananya. Di tengah pergerakannya, tanpa sengaja kakinya menyepak paper bag yang tadi di bawa oleh Yanto.Viana menatap tajam ke arah paper bag itu kemudian mengambil benda itu dengan gerakan kasar. Alih-alih ingin melihat isinya, Viana justru malah membuang paper bag itu ke dalam tong sampah yang terletak di sudut kamar sambil tersenyum puas.Setelah itu dia kembali bergerak melakukan beberapa hal yang merupakan bagian dari rencana yang telah tersusun dalam benaknya.Satu tekad telah dia genggam yaitu bahwa dia harus segera meninggalkan kediaman yang bagaikan neraka ini secepat mungkin.Beberapa jam kemudian, pagi hari

  • Madu Pemberian Ipar    Gejolak Emosi Viana

    "Ah, persetan dengan surat perjanjian itu." Yanto tersenyum menyeringai menatap Viana."Asal kau tahu Viana, surat perjanjian itu sudah aku robek dan bakar.""Apa?! seru Viana tak percaya."Ya, itu benar. Beberapa hari yang lalu, diam-diam aku masuk ke kamarmu, mencari surat itu dan aku berhasil menemukannya. Lalu aku merobek dan membakarnya. Sekarang kau tidak punya pegangan lagi untuk memaksaku menceraikanmu," ujar Yanto sambil tersenyum puas."Tidak mungkin! Kau Pasti bohong, Mas!" Viana menolak untuk percaya."Aku tidak bohong. Kau bisa periksa sendiri laci tempat kau menyimpan surat itu."Viana bergegas menghambur ke laci yang dimaksud, membongkar semua barang yang ada di dalamnya dan pada akhirnya dia jatuh terduduk lemas di lantai saat tidak menemukan surat itu di sana.Yanto yang melihat hal tersebut tersenyum penuh kemenangan. Dengan langkah santai dia mendekati Viana lalu berjongkok di sebelah Viana."Sudahlah, Dek. Hapus saja keinginanmu untuk bercerai dariku. Aku masih san

  • Madu Pemberian Ipar    Viana Kalap

    Oleh karena itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki itu segera menyatukan tubuhnya dengan tubuh sang istri yang masih dalam keadaan pingsan itu.Di tengah malam Viana siuman dari pingsannya. Dia melenguh pelan sambil mengusap kepalanya yang terasa pusing.Perlahan dia membuka matanya, mengerjapkannya sejenak untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menerangi kamar itu.Sejenak dia terlihat kebingungan karena merasakan kulit tubuhnya menggigil diterpa udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan yang terpasang di dalam kamar tersebut.Viana spontan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena tidak kuat menahan dingin. Saat itu barulah dia menyadari bahwa tubuhnya tidak ditempeli oleh satu helai benang pun.Viana menjadi syok. Otaknya berputar cepat, berusaha mengingat rentetan kejadian yang membuatnya jadi begini.Akhirnya, setelah beberapa saat berpikir Viana pun bisa mengingat kembali hal yang sudah terjadi padanya. Dia mengingat bahwa pada malam itu Yanto datang ke kam

  • Madu Pemberian Ipar    Viana Pingsan

    "Aku tidak percaya, Mas. Aku harus lihat sendiri keadaan di dalam. Minggir, Mas! Aku mau masuk!" Feyla berusaha mendorong tubuh Yanto yang menghalangi pintu masuk.Akan tetapi, Yanto bergeming. Sedikit pun dia tidak bergeser dari posisinya. Hal tersebut membuat Feyla semakin terbakar api cemburu."Kenapa kamu tidak mau minggir, Mas. Apa sebenarnya yang kalian lakukan di dalam, hah?!" sentak Feyla dengan mata yang mulai mengembun."Jangan membentakku, Fey. Aku suamimu! Aku ke sini karena ada sedikit keperluan dengan Viana dan kalau pun aku berlama-lama di sini, memangnya ada yang salah. Viana itu istriku, aku berhak atas dirinya, berhak menuntut nafkah batin darinya. Ingat Fey, dulu kamu sendiri yang bersedia untuk menjadi istri kedua. Tentunya kamu sudah tahu konsekuensi menikah dengan pria beristri. Jadi seharusnya kamu tidak perlu lagi mempermasalahkan hal ini," jelas Yanto panjang lebar."Tapi Mas, aku-""Sudahlah, Kak. Apa yang dibilang bang Yanto itu benar. Lebih baik sekarang ki

  • Madu Pemberian Ipar    Keributan Di Tengah Malam 

    "Lepaskan aku, Mas! Lepaskan!""Tidak akan! Kau masih istriku dan kau wajib melayaniku, suamimu! Ayolah, Viana. Jangan jual mahal seperti itu. Aku tahu kau juga menginginkannya bukan? Sudah lama juga kita melakukannya. Aku merindukan tubuhmu, Dek."Seketika itu juga bulu-bulu di tubuh Viana meremang. Dia paham akan maksud perkataan suaminya itu."Tidak, jangan lakukan itu. Ingat Mas, kau sudah menandatangani persyaratan yang aku ajukan dan jika kau melanggarnya, kau harus menceraikan aku. Apa kau memang ingin kita bercerai?" Viana berusaha mengingatkan Yanto akan konsekuensi yang harus dihadapinya jika melanggar perjanjian tersebut.Akan tetapi, Yanto yang sudah dikuasai nafsu tidak memedulikan peringatan Viana itu. Rasa rindu, amarah dan kecewa dengan sikap Viana akhir-akhir ini membuatnya gelap mata. Sambil tersenyum menyeringai, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Viana."Persetan dengan semua perjanjian itu! Bagiku yang penting saat ini adalah kau harus melayani hasratku."Setelah

  • Madu Pemberian Ipar    Emosi Yanto

    Malam hari itu di kamar Viana."Mau apa lagi kamu ke sini, Mas? Nanti istri muda mu marah kalau tahu kamu ke sini," ucap Viana dengan nada datar."Jangan begitu, Dek. Bagaimana pun juga kamu masih istri mas dan menjadi tanggung jawab mas untuk memperhatikanmu," ucap Yanto."Sudahlah, jangan bertele-tele. Sekarang katakan saja apa mau Mas dan setelah itu keluarlah dari kamarku!"Yanto menatap Viana dengan kecewa. Hatinya terasa sakit melihat perubahan sikap Viana yang begitu dingin padanya."Mas ke sini mau memberikan oleh-oleh untuk kamu. Terimalah, semoga kamu suka. Maaf, mas terlambat memberikannya karena mas tiba-tiba ada urusan pekerjaan mendadak," sesal Yanto seraya menyodorkan sebuah paper bag berukuran cukup besar.Viana hanya melirik sekilas kemudian kembali memalingkan wajah ke arah semula."Aku gak butuh barang-barang itu, Mas. Lebih baik kamu bawa kembali dan berikan pada adikmu. Aku rasa dia lebih membutuhkan barang-barang itu daripada aku."Penolakan dari Viana itu sontak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status