ログイン"Ah, persetan dengan surat perjanjian itu." Yanto tersenyum menyeringai menatap Viana."Asal kau tahu Viana, surat perjanjian itu sudah aku robek dan bakar.""Apa?! seru Viana tak percaya."Ya, itu benar. Beberapa hari yang lalu, diam-diam aku masuk ke kamarmu, mencari surat itu dan aku berhasil menemukannya. Lalu aku merobek dan membakarnya. Sekarang kau tidak punya pegangan lagi untuk memaksaku menceraikanmu," ujar Yanto sambil tersenyum puas."Tidak mungkin! Kau Pasti bohong, Mas!" Viana menolak untuk percaya."Aku tidak bohong. Kau bisa periksa sendiri laci tempat kau menyimpan surat itu."Viana bergegas menghambur ke laci yang dimaksud, membongkar semua barang yang ada di dalamnya dan pada akhirnya dia jatuh terduduk lemas di lantai saat tidak menemukan surat itu di sana.Yanto yang melihat hal tersebut tersenyum penuh kemenangan. Dengan langkah santai dia mendekati Viana lalu berjongkok di sebelah Viana."Sudahlah, Dek. Hapus saja keinginanmu untuk bercerai dariku. Aku masih san
Oleh karena itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki itu segera menyatukan tubuhnya dengan tubuh sang istri yang masih dalam keadaan pingsan itu.Di tengah malam Viana siuman dari pingsannya. Dia melenguh pelan sambil mengusap kepalanya yang terasa pusing.Perlahan dia membuka matanya, mengerjapkannya sejenak untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menerangi kamar itu.Sejenak dia terlihat kebingungan karena merasakan kulit tubuhnya menggigil diterpa udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan yang terpasang di dalam kamar tersebut.Viana spontan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena tidak kuat menahan dingin. Saat itu barulah dia menyadari bahwa tubuhnya tidak ditempeli oleh satu helai benang pun.Viana menjadi syok. Otaknya berputar cepat, berusaha mengingat rentetan kejadian yang membuatnya jadi begini.Akhirnya, setelah beberapa saat berpikir Viana pun bisa mengingat kembali hal yang sudah terjadi padanya. Dia mengingat bahwa pada malam itu Yanto datang ke kam
"Aku tidak percaya, Mas. Aku harus lihat sendiri keadaan di dalam. Minggir, Mas! Aku mau masuk!" Feyla berusaha mendorong tubuh Yanto yang menghalangi pintu masuk.Akan tetapi, Yanto bergeming. Sedikit pun dia tidak bergeser dari posisinya. Hal tersebut membuat Feyla semakin terbakar api cemburu."Kenapa kamu tidak mau minggir, Mas. Apa sebenarnya yang kalian lakukan di dalam, hah?!" sentak Feyla dengan mata yang mulai mengembun."Jangan membentakku, Fey. Aku suamimu! Aku ke sini karena ada sedikit keperluan dengan Viana dan kalau pun aku berlama-lama di sini, memangnya ada yang salah. Viana itu istriku, aku berhak atas dirinya, berhak menuntut nafkah batin darinya. Ingat Fey, dulu kamu sendiri yang bersedia untuk menjadi istri kedua. Tentunya kamu sudah tahu konsekuensi menikah dengan pria beristri. Jadi seharusnya kamu tidak perlu lagi mempermasalahkan hal ini," jelas Yanto panjang lebar."Tapi Mas, aku-""Sudahlah, Kak. Apa yang dibilang bang Yanto itu benar. Lebih baik sekarang ki
"Lepaskan aku, Mas! Lepaskan!""Tidak akan! Kau masih istriku dan kau wajib melayaniku, suamimu! Ayolah, Viana. Jangan jual mahal seperti itu. Aku tahu kau juga menginginkannya bukan? Sudah lama juga kita melakukannya. Aku merindukan tubuhmu, Dek."Seketika itu juga bulu-bulu di tubuh Viana meremang. Dia paham akan maksud perkataan suaminya itu."Tidak, jangan lakukan itu. Ingat Mas, kau sudah menandatangani persyaratan yang aku ajukan dan jika kau melanggarnya, kau harus menceraikan aku. Apa kau memang ingin kita bercerai?" Viana berusaha mengingatkan Yanto akan konsekuensi yang harus dihadapinya jika melanggar perjanjian tersebut.Akan tetapi, Yanto yang sudah dikuasai nafsu tidak memedulikan peringatan Viana itu. Rasa rindu, amarah dan kecewa dengan sikap Viana akhir-akhir ini membuatnya gelap mata. Sambil tersenyum menyeringai, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Viana."Persetan dengan semua perjanjian itu! Bagiku yang penting saat ini adalah kau harus melayani hasratku."Setelah
Malam hari itu di kamar Viana."Mau apa lagi kamu ke sini, Mas? Nanti istri muda mu marah kalau tahu kamu ke sini," ucap Viana dengan nada datar."Jangan begitu, Dek. Bagaimana pun juga kamu masih istri mas dan menjadi tanggung jawab mas untuk memperhatikanmu," ucap Yanto."Sudahlah, jangan bertele-tele. Sekarang katakan saja apa mau Mas dan setelah itu keluarlah dari kamarku!"Yanto menatap Viana dengan kecewa. Hatinya terasa sakit melihat perubahan sikap Viana yang begitu dingin padanya."Mas ke sini mau memberikan oleh-oleh untuk kamu. Terimalah, semoga kamu suka. Maaf, mas terlambat memberikannya karena mas tiba-tiba ada urusan pekerjaan mendadak," sesal Yanto seraya menyodorkan sebuah paper bag berukuran cukup besar.Viana hanya melirik sekilas kemudian kembali memalingkan wajah ke arah semula."Aku gak butuh barang-barang itu, Mas. Lebih baik kamu bawa kembali dan berikan pada adikmu. Aku rasa dia lebih membutuhkan barang-barang itu daripada aku."Penolakan dari Viana itu sontak
Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Tanpa terasa seminggu pun telah berlalu dan hari ini adalah hari kepulangan Yanto dan Feyla dari acara bulan madu mereka.Sekitar tengah hari mereka telah sampai ke rumah. Ternyata, Runi pun juga pulang pada hari itu. Hanya saja dia pulang lebih awal dari Yanto dan Feyla.Viana yang waktu itu memang tengah berada di rumah, memperhatikan suami dan madunya yang melangkah masuk ke dalam rumah.Dia melihat keduanya tampak gembira dengan raut wajah yang selalu dihiasi dengan senyuman.Feyla yang menyadari Viana tengah memperhatikan mereka makin mengeratkan pegangannya pada tangan sang suami dengan tujuan untuk membuat Viana menjadi panas dan cemburu.Akan tetapi, Viana hanya mengedikkan bahu, bersikap tidak peduli pada kedatangan kedua orang itu.Berbeda dengan Runi yang tampak begitu antusias menyambut kedatangan Yanto dan Feyla dengan sebuah maksud yang terselubung di baliknya yaitu mendapatkan oleh-oleh dari Feyla."Selamat pulang kembali ke







