Home / Rumah Tangga / Madu Pemberian Ipar / Undangan Pernikahan 

Share

Undangan Pernikahan 

Author: Kurnia_cy
last update publish date: 2026-03-03 08:47:16

Viana terdiam, dia mencoba mempertimbangkan saran dari Mika itu.

'Bagaimana ya, apa aku harus menerima saran dari mbak Mika itu? Apakah aku sanggup bertahan jika melihat mereka bermesraan di depan mataku? Tapi jika tidak dengan cara ini, aku tidak bisa mendapatkan bukti yang kuinginkan. Mbak Mika benar, hanya dengan tinggal bersama mereka aku baru bisa mendapatkan bukti-bukti itu.'

Di tengah kebimbangan Viana, Mika tiba-tiba bersuara meminta pendapat Galuh.

"Gimana menurutmu saranku ini, Galuh?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Peristiwa Tidak Terduga.

    Siang itu, Bu Ajeng tampak tengah bersiap-siap hendak pergi. Kali ini dia akan membawa Riani ikut serta dengannya berhubung Riani sedang libur sekolah karena guru-guru rapat. Setelah keduanya siap, mereka lalu duduk di teras, menunggu kedatangan taksi online yang sudah dipesan oleh Bu Ajeng"Kita mau kemana, Nek?" tanya Riani. Bocah perempuan itu sudah tampak rapi dan cantik dengan dress selutut berwarna merah muda. Riani memang penyuka warna merah muda sehingga barang-barang kepunyaannya didominasi oleh warna merah muda mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan rambut hingga tas sekolahnya juga berwarna merah muda."Kita mau ke rumah Tante Veby," jawab Bu Ajeng singkat sambil matanya menatap ponsel untuk mengetahui posisi driver taksi online yang sudah dipesannya. Ya, Bu Ajeng mengetahui bahwa hari ini Veby tidak masuk kerja karena mengambil cuti dan kesempatan itu digunakannya untuk mendekatkan Veby dengan Riani. Bu Ajeng yang menyadari bahwa Bayu menaruh hati kepada Viana memutuskan un

  • Madu Pemberian Ipar    Membujuk Bayu

    Keesokan siangnya, dengan menumpang mobil travel, Viana berangkat ke Kota M. Sebelum berangkat, dia menerima banyak nasehat dari orang tuanya perihal hidup mandiri di tempat orang dan itu membuat Viana jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dia tadi seperti anak kecil yang diceramahi saat orang tuanya memberi nasehat.Viana kemudian melemparkan pandangan keluar jendela, memperhatikan deretan bangunan dan pepohonan yang dilewati oleh mobil tersebut. Beberapa saat kemudian, Viana merasakan matanya mulai berat dan pelan-pelan, kedua kelopak mata yang berbulu lentik itu mulai mengatup, mengantarkan empunya ke alam mimpi di tengah gerak mobil yang masih melaju.***Dua hari kemudian pasca berkomunikasi dengan Viana melalui telepon, Bayu kembali dari luar kota dan dia tiba di rumah pada sore hari. Pria berwajah tampan itu melangkah gontai memasuki rumahnya. Perasaannya saat itu sedang tidak baik-baik saja. Kenyataan bahwa Viana menolak lamarannya, resign dari kantor dan memutuskan pinda

  • Madu Pemberian Ipar    Berbicara Jujur

    "Bagaimana ini, Bu? Apa Bayu menelepon karena ingin tahu jawabanku atas lamarannya tempo hari?" tanya Viana sedikit cemas.Bu Resti terdiam, tampak berpikir dan sejurus kemudian ibu angkat Viana itu berkata,"Angkat saja, Vi. Kalau memang itu yang dia tanyakan, jawab apa adanya sesuai hati nuranimu, tidak mungkin kan kamu mengelak selamanya.""Tapi Bu, aku...aku tidak sampai hati melihat Bayu sedih nantinya.""Dengar, Viana. Ibu tahu hal ini tidak mudah bagi Bayu, tapi kasihan dia kalau kamu terlalu lama menggantungnya. Dia bisa berpikir kalau kamu mempunyai perasaan yang sama denganmu dan itu akan semakin membuat dia kecewa jika pada akhirnya kamu menolaknya. Lagipula kamu akan segera pindah ke kota M, itu berarti kalian akan berjauhan, jadi selesaikan semuanya sebelum kamu pergi."Viana menggigit bibir bawahnya, dia mengakui kebenaran ucapan Bu Resti. Viana mengumpulkan keberaniannya lalu dengan tangan sedikit bergetar, dia menerima panggilan telepon itu."Ha-Hallo, Bayu...""Hallo,

  • Madu Pemberian Ipar    Perbincangan Bu Resti dan Viana.

    Viana duduk termenung di dalam kamarnya. Rentetan peristiwa tadi siang di kantor membayang di pelupuk matanya. Hatinya bimbang, mempertanyakan sudah tepatkah keputusan yang diambilnya ini mengingat konsekuensi yang harus dihadapinya adalah menjadi seorang pengangguran.Dia juga sudah menceritakan masalahnya ini kepada Bu Resti dan ibu angkatnya itu berusaha menyikapinya dengan bijak.Saat tengah duduk melamun, Viana dikejutkan oleh suara pintu kamar yang dibuka dari luar."Ibu," ucapnya lirih ketika melihat siapa yang datang.Bu Resti tersenyum lalu berjalan menghampirinya."Kenapa? Masih memikirkan yang tadi siang?"Viana mendesah pelan sambil menatap Bu Resti."Jujur, iya Bu. Menurut ibu, aku salah atau tidak ya mengambil keputusan ini? Soalnya aku kok tiba-tiba merasa menyesal sekarang." Viana mengungkapkan unek-uneknya."Mau menyesal pun sekarang gak ada gunanya lagi, Vi. Semuanya telah terjadi dan sekarang yang kamu bisa hanyalah menatap ke depan dan melanjutkan hidupmu. Terkadan

  • Madu Pemberian Ipar    Viana Dipecat

    Suasana di dalam ruangan berukuran 4 x 5 meter itu tampak hening, yang terdengar hanyalah suara pendingin ruangan yang berputar pelan menyemburkan hawa dingin yang menyejukkan. Beberapa hiasan yang terpasang dalam ruangan itu memanjakan mata setiap orang di sana, yang seharusnya bisa menciptakan suasana hangat dan menyenangkan hati.Akan tetapi, semua hal tersebut tidak bisa meredam aura ketegangan yang saat ini tengah meliputi ruangan tersebut.Seorang wanita paruh baya dengan stelan pakaian kantor berwarna abu-abu dan rambut yang ditata apik tengah menatap tajam seorang wanita muda yang duduk di seberang mejanya.Wanita itu duduk dengan sikap tenang, tetapi masih dapat dilihat sedikit raut kegelisahan membayang di wajahnya."Viana, apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?" tanya wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Bu Irma."Tidak, Bu," jawab Viana jujur.Bu Irma melemparkan tatapan sinis."Benar - benar kamu itu, ya. Sudah bikin salah, tapi malah bersikap seperti orang ya

  • Madu Pemberian Ipar    Konfrontasi

    Beberapa hari telah berlalu, tetapi gosip yang menimpa Viana masih belum reda, yang ada malah semakin hot dengan bumbu-bumbu penyedap yang ditaburkan Veby. Hal tersebut membuat Viana menjadi jengah terlebih lagi masalah ini merembet ke urusan pekerjaan. Mereka bertindak tidak profesional kepada Viana. Laporan yang Viana butuhkan seringkali mereka tahan dengan alasan belum selesai atau harus direvisi dulu.Terang saja hal itu membuat Viana jadi keteteran dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Karena hal ini juga lah, Viana mendapat teguran secara halus dari Bu Selly yang menilai kinerjanya tidak bagus.Viana mencoba menjelaskan bahwa keterlambatannya, tetapi Bu Selly tidak percaya karena orang-orang yang berhubungan dengan Viana selama ini tidak pernah membuat kesalahan dalam pekerjaan dan mereka adalah orang-orang yang kompeten menurut pandangan Bu Selly.Ingin rasanya juga dia melaporkan fitnahan yang dibuat Veby, tetapi lagi-lagi dia terkendala dengan bukti karena grup

  • Madu Pemberian Ipar    Niat Buruk Feyla

    Seorang wanita berbalut kimono tidur sutra warna merah tampak duduk melamun di balkon depan kamarnya. Wajahnya menengadah menatap langit yang hitam pekat di malam itu. Sedari pertama dia ada di situ, senyuman bahagia tak pernah luntur dari bibir merahnya."Ternyata dia adalah abangnya Runi

  • Madu Pemberian Ipar    Feeling Runi

    'Ini Kak Feyla kenapa ya, dari tadi merhatiin bang Yanto terus. Apa dia naksir sama bang Yanto? Ah, gak mungkinlah. Dia orang kaya, mana mungkin mau dengan abangku yang hanya orang biasa saja. Tapi kenapa perasaanku bilang kalau dia ada feeling sama abangku. Ah, lebih baik aku pantau saja dulu da

  • Madu Pemberian Ipar    Mita Adalah Feyla

    Keesokan harinya, Runi diizinkan oleh dokter untuk pulang setelah kondisinya dinyatakan sudah membaik, tapi sebelum itu mereka harus mengambil obat-obatan di apotik rumah sakit.Mendengar itu, Yanto segera menyelesaikan mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang lalu menuju ke apotik

  • Madu Pemberian Ipar    Adu Mulut

    "Terserahlah. Sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan. Yang jelas abang mau setelah kamu sembuh total, kamu harus kerja di perusahaan iparnya mbak Mika. Kalau kamu tidak mau, tanggung resiko sendiri. Abang tidak mau mengeluarkan sepeser uang pun untuk menanggung biaya hidupmu," ucap Yanto deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status