ログインBandara Malpensa sore itu dipenuhi turis dan pebisnis yang lalu-lalang, tapi dari sekian banyak wajah, dua sosok perempuan yang baru turun dari pintu kedatangan internasional itu mencuri perhatian lebih dari separuh mata yang melihat.``` Mereka tampil dengan pakaian sopan dan tak terlalu terbuka di tengah banyaknya para wanita berpakaian kurang bahan yang ada di sana. Memang ya, barang-barang dari brand mewah yang mereka pakai tidak bisa berbohong, ditambah lagi dengan wajah mereka yang goodlooking. Semuanya ibarat paket komplit. Zila berjalan paling dulu, gaun biru langit yang membalut tubuhnya jatuh anggun mengikuti langkah kaki. Sepatu boot putih yang sampai betis membuatnya tampak seperti model yang kabur dari runway. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, memberi kesan mudah tapi mahal. Satu tangan menarik koper besar berwarna navy, tangan lainnya menyampirkan tas selempang kecil di salah satu bahunya. Di dekatnya, Maira bahkan lebih mencolok. Dress moca yang membent
Maira tersenyum sendu. "Kalau ditanya kasihan, ya aku kasihan sama dia, Zil. Aku masih sangat menyayangi dia, tapi semua itu kalah dengan rasa sakit yang dia torehkan. Keputusan aku untuk benar-benar berpisah dan pergi jauh dari dia sudah menjadi yang terbaik."Zila mengangguk mengerti, biar bagaimanapun tidak mudah menjadi Maira yang harus menyaksikan pengkhianatan sang suami."Kayaknya aku mau keberangkatan kita dipercepat, aku nggak mau goyah lagi kalau sewaktu-waktu Mas Revan menemui aku lagi," ujar Maira."Nggak masalah sih kalau kamu memang mau keberangkatan kita dipercepat. Tapi, Na. Bagiamana dengan rumah yang diberikan Revan sama kamu?" Zila cukup penasaran, apakah benar Maira akan menjual rumah itu."Sesuai dengan yang aku bilang tadi, kalau rumah itu benar-benar dikasih ke aku, maka aku akan jual rumah itu sebelum balik ke Milan." Maira sangat santai mengatakan ingin menjual rumah itu."Kenapa harus dijual? Apa kamu nggak sayang menjual rumah itu?" Zila semakin penasaran d
Meskipun dalam hatinya Maira sangat mengutuk wanita di hadapannya ini, tapi bibir Maira tetap tersenyum. Tidak akan Maira tunjukkan dengan lantang bahwa dia membenci Riri.“Untuk maaf mungkin nggak semudah itu, Riri. Tapi kalau kamu udah sadar ya itu bagus, aku harap nggak ada lagi korban berikutnya dari serakahnya kamu,” balas Maira sangat menohok hati Riri.Maira masih mempertahankan senyumnya. “Aku permisi, carilah kehidupan terbaik dan aku harap kamu terhindar dari rasa sakit yang aku rasakan karena ulah kamu.”Riri hanya bisa menelan ludah dengan kelu menatap punggung Maira perlahan menghilang.Sedangkan Revan, pria itu sangat kacau. Revan sampai jalan kaki dari pengadilan agama sampai ke rumahnya sambil melamun. Revan bahkan sampai melupakan mobilnya yang masih ditinggal di pengadilan agama.Pria itu sangat linglung dan ingin menolak kenyataan bahwa Maira sudah bukan lagi miliknya.Sesampainya di rumah, Revan
Di depan ruang sidang, beberapa orang sudah duduk menunggu. Namun pandangan Maira langsung tertarik pada satu sosok yang berdiri dekat pintu.Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas hitam, tapi wajahnya terlihat jauh lebih kusut dibandingkan biasanya. Di sampingnya berdiri seorang pengacara, merapikan berkas-berkasnya sambil sesekali berbisik pada Revan, namun Revan tidak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada Maira sejak detik ia muncul di lorong.Maira merasakan tatapan itu seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak terucap. Tapi Maira memilih memalingkan mata. Ia sudah terlalu lelah untuk mencari makna dari sorot pria itu.Pintu ruang sidang akhirnya dibuka. Panitera mempersilakan kedua pihak masuk.Maira duduk di kursi sebelah kiri bersama pengacaranya, sementara Revan duduk di kanan bersama tim hukumnya. Suasana tegang, namun hening. Hanya suara kertas yang dibalik dan detak jam di dinding yang terdengar jelas.Majelis hakim memasuki r
Hari ini adalah sidang pertama perceraian Maira dan Revan. Suasana di sekitar pengadilan agama sudah cukup ramai, namun di sebuah restoran kecil tak jauh dari gerbang utama, Maira duduk berdua dengan Zila ditemani segelas teh hangat yang sudah mulai kehilangan asapnya. Maira menatap jam. Masih ada satu jam sebelum sidang dimulai. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Perasaannya tegang, tapi hatinya sudah mantap dengan keputusan ini. Ia sudah mempersiapkan mental sejak lama untuk hari seperti ini. Namun sebelum Maira sempat menyesap tehnya, suara langkah tergesa-gesa datang dari arah pintu masuk restoran. “Maira!” Maira langsung menoleh. Wita dan Mario berdiri di sana dengan wajah kusut, jelas sekali mereka sudah menunggu momen untuk bisa menemui Maira sebelum sidang dimulai. Maira hanya merapikan duduknya, tidak kaget, tidak pula ramah melihat dua orang yang paling berperan dalam hancurnya rumah tangga
"Sangat berusaha," jawab Revan, "hanya kalian yang menutup mata dari perjuangan Maira sampai aku pun tersesat lewat jalan pilihan kalian." "Tapi tetap saja kan dia susah untuk punya anak." Wita masih tidak mau disalahkan. "Ma, jangan kayak orang yang nggak tau terimakasih gitu. Dulu Maira keguguran sampai susah hamil lagi juga gara-gara kebodohan aku sebagai suami, jadi stop nyalahin Maira," tegas Revan. Wita berdiri mematung di ruang tamu, menggenggam tas tangannya begitu erat hingga buku jarinya memutih. Mario hanya bisa menatap barang-barang mereka yang sudah menumpuk dekat pintu, koper, kardus, dan beberapa tas besar yang tadi mereka sendiri bantu kemas. Rumah yang biasanya terasa luas dan nyaman kini berubah jadi ruang penghakiman yang menyesakkan. “Revan, Mama mohon, pikirkan lagi,” kata Wita dengan suara Wita bergetar, bukan sekadar sedih, tetapi juga terpukul oleh kenyataan bahwa putranya benar-benar







