LOGINDi depan ruang sidang, beberapa orang sudah duduk menunggu. Namun pandangan Maira langsung tertarik pada satu sosok yang berdiri dekat pintu.
Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas hitam, tapi wajahnya terlihat jauh lebih kusut dibandingkan biasanya. Di sampingnya berdiri seorang pengacara, merapikan berkas-berkasnya sambil sesekali berbisik pada Revan, namun Revan tidak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada Maira sejak detik ia muncul di lorong.Maira merasakan tatapan it“Aku nggak akan sembuh lagi, Na.” Davin sambil tersenyum mengatakan itu pada Aruna. "Kamu jangan mendahului Tuhan, Mas. Dokter sekalipun tidak bisa menentukan usia manusia." Aruna tak suka melihat Davin menyerah untuk hidupnya. “Aku sudah siap dipanggil kapanpun itu karena harapan terakhirku sudah terwujud.” Davin terus tersenyum sambil memandangi wajah cantik yang sangat ia rindukan. "Tuh kan kamu ngomongnya makin ngaco." Aruna bersinar. "Daripada bahas ini lebih baik kamu klarifikasi, apa maksudnya kamu mengalihkan nama perusahaan atas nama aku dan semua saham kamu kasih ke aku?" Aruna tidak bisa menahan diri lagi. "Kamu lihat sendiri bagaimana kondisi aku?" Davin masih tak bosan menatap Aruna. "Ke siapa lagi yang akan aku berikan perusahaan yang kita bangun sama-sama kalau bukan ke kamu?" “Kamu benar-benar udah gak ada harapan lagi, Mas?” Suara Aruna mulai serak. Davin menggeleng. "Udah gak ada lagi, Na. Sekarang aku jauh lebi
Taksi berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta besar di kawasan Jakarta Selatan. Lampu-lampu gedung masih menyala terang, aroma antiseptik langsung menyergap begitu Maira melangkah masuk. Jantungnya berdetak tak karuan, telapak tangan dingin meski ruangan ber-AC. Maira dan Zila masih kemana-mana dengan taksi karena mereka belum mencari kendaraan sendiri untuk selama di Indonesia. Zila berjalan di samping Maira, sesekali melirik Maira yang wajahnya tampak tegang dan alasannya Zila sudah tau. “Tarik napas, Na,” bisik Zila, “aku akan selalu ada di samping kamu, nggak akan terjadi apa-apa.” Zila berpikir Maira trauma bertemu dengan cinta sekaligus luka masa lalunya. Maira mengangguk kecil, meski napasnya tetap terasa sesak. Langkahnya melambat saat matanya menangkap dua sosok paruh baya berdiri di depan sebuah ruangan rawat inap VIP. Maira sangat mengenal mereka, tapi Maira juga sesak melihat mereka seolah-olah menatap luka yang masih basah.
Enam belas jam dalam pesawat Maira habiskan hanya untuk mendengarkan celotehan tak berfaedah Zila dan Jevan. Mulut mereka berhenti berisik hanya ketika makan dan tidur saja. Maira menghela napas saat menyeret koper keluar dari bandara internasional Soekarno-Hatta. “Aku kira kita tidak akan balik ke sini lagi,” ujar Zila sambil memperhatikan sekitar mencari-cari taksi online yang sudah dia pesan sebelumnya. “Semuanya tergantung takdir, Zil,” balas Maira seadanya. "Izin Bu Maira. Mau sekalian bareng sama saya? Saya bisa antar langsung ke alamat Ibu." Dan si Jevan muncul lagi dengan segala tipe modusnya untuk Maira. "Kamu pergi ke sana, kami sudah pesan taksi online," ketus Zila. "Maaf nih ye, aku cuma ngajak bicara Bu Maira, bukan gadis kadaluarsa." Jevan menjulurkan lidah mengejek Zila. “Bener-bener kamu ya.” Saat Zila hendak keluar taring, disitulah Maira angkat bicara. "Udah, Zil." Maira mengusap pelan punggung sahabatnya it
Ruang rawat itu kembali sunyi setelah Wita dan Rio masuk. Bau antiseptiknya menekan, dipadukan dengan bunyi alat medis yang berdetak pelan, seolah ikut menghitung waktu yang semakin menipis untuk Revan. Wita melangkah lebih dulu, menarik kursi dan duduk di sisi kasur. Wajah Revan tampak pucat, matanya setengah terpejam, napasnya naik turun tidak beraturan. Ia terlihat jauh berbeda dari Revan yang dulu—pria keras kepala dengan sorot mata penuh ambisi. “Van,” panggil Wita pelan, hampir seperti bisikan. “Revan.” Tak ada tanggapan. Wita menelan ludah, lalu menguatkan diri. Ia meraih tangan anaknya yang dingin itu. “Mama mau bicara sebentar, boleh?” Beberapa detik berlalu sebelum kelopak mata Revan bergerak perlahan. Matanya terbuka sedikit, menampilkan kosong sebelum akhirnya fokus pada wajah Wita. Rasanya sudah lama sekali Wita tidak ditatap oleh Revan meskipun setiap hari Wita menemani Revan di rumah sakit. “Kamu capek ya?” tanya Wita sangat lembut, “tapi Mama mau ngobrol se
Maira pulang ke rumah keluarganya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Setelah bermalam di mansion Zila, bersantai memang, tetapi pikiran sama sekali tidak bisa diajak untuk istirahat.Maira tidak bisa berhenti memikirkan Revan. Maira tidak bisa membayangkan seperti apa mantan suaminya sekarang.Jika memang Revan ingin menyuruhnya pergi, kenapa harus dengan cara seperti ini?“Kenapa kamu begitu misterius, Mas?” gumam Maira sambil tetap fokus menatap jalanan.Jalanan masih sedikit lengang, udara pagi terasa dingin menusuk ke tulang, seolah ikut menekan dada yang belum juga lega.Mobil berhenti di halaman rumah besar. Maira turun dengan gaya anggun seolah tidak ada yang dia pikirkan di depan banyak pekerja di taman rumahnya.Namun, saat semua pekerja itu lengah dan tidak ada lagi yang menyapanya, barulah bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat dengan lingkar mata samar akibat kurang tidur semalaman.Maira menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam bangunan m
“Ya Allah, apa tadi aku sudah keterlaluan sama Papa Rio?” Maira masih berpikir meskipun sekarang posisinya Maira sedang menyetir."Sebenarnya ini ya mas yang bikin kamu selingkuh dari aku?" Maira terpesona seperti orang bodoh dalam kisah ini. "Aku kira kamu benar-benar laki-laki jahat, ternyata ini cara kamu agar aku pergi."Sekarang Maira mengumpulkan perselingkuhan Revan pasti ada hubungannya dengan panyakit yang Revan derita.Maira masih merasa bersalah atas sikap acuhnya pada mantan ayah mertuanya tadi. Tapi mau mau bagaimana lagi, setiap melihat wajah-wajah yang telah menyakitinya di masa lalu, Maira tidak bisa menahan rasa perih di hatinya.Tidak ingin pusing memikirkan masalah ini sendirian, Maira memutuskan untuk membicarakan Tasya di mansion sahabatnya itu. Jaraknya lumayan jauh dari posisi Maira saat ini, tapi Maira tidak bisa menahan diri untuk menceritakan semuanya dan tidak akan afdol rasanya jika Maira bercerita lewat telepon saja.*****Mobil Maira akhirnya memasuki hal







