Mag-log in'Dia ? Dia kah wanita yang berhasil membuat lelakiku berpaling ? Dia ? Dia kah mentari yang berhasil menyaingi sinar rembulan ? Ah, ternyata dugaanku keliru. Dia bukan seorang pelac*r atau kupu kupu malam. Dia bukan wanita yang gemar berpakaian layaknya telanjang. Tapi... '
"Mbak, perkenalkan saya... Nisa," ucap wanita bercadar itu membuyarkan lamunan Zahra tentangnya. "Mbak, maaf jika kedatanganku ini mengganggu mbak, tapi Mas Dimas yang memintaku datang kesini," Dimas pun langsung berdiri dan memberikan kursi tempat duduknya untuk Nisa. Ia sengaja memberikan ruang bagi kedua wanitanya untuk berdekatan. Setelah Nisa duduk, Zahra memalingkan wajahnya dan menghadap ke sisi tembok, membelakangi Nisa. Tampak tak sopan memang kelihatannya. Tapi Zahra kini tengah berusaha menyembunyikan luka dalam hatinya serta air mata yang terus berdesakan ingin keluar. "Mbak... Maaf, beribu kali maaf aku ucapkan. Aku rasa mbak sudah tahu siapa Nisa ini. Nisa tahu mbak sakit, Nisa juga sakit kok mbak... Kita sama sama sakit. Tapi, bagaimanapun, ini semua sudah terjadi mbak. Aku harap, mbak bisa ikhlas menerima Nisa sebagai adik madu mbak Zahra. Maaf aku... " "Apa kamu mencintainya ?" sela Zahra. Keduanya pun saling terdiam. Hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang masih beraturan. Nisa terdengar menarik nafas lebih dalam lagi, lantas ia mendongakkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Zahra dengan mantap. "Ya, aku mencintainya, mbak. Maaf aku sudah mencintai suami mbak Zahra sedalam ini. Aku sudah mencintai seperti Aisyah yang mencintai Baginda Nabi, dan aku yakin, kaulah Khadijahnya mbak. Kamu adalah wanitanya yang tak pernah terganti walau ada aku disisinya." Zahra tampak tersenyum miris. Lagi-lagi seperti ada sayatan pisau yang mengaga di hatinya. "Tidak. Aku bukan Khadijah. Bukankah kau tahu, sepanjang hidupnya Khadijah tak pernah di madu." Zahra akhirnya menghadap ke arah Nisa kembali. ia hendak bangkit untuk ambil minum di nakas sebelah ranjangnya. Dimas pun berniat membantu Zahra yang tampak kesusahan. Tapi Zahra menepisnya, "Tidak perlu, aku bisa sendiri." ucapnya, lantas meraih gelas itu dan meminumnya sedikit demi sedikit. "Sini mbak, biar Nisa yang taruh." ucap Nisa. Kali ini Zahra menerima bantuan Nisa. Lantas ia kembali membaringkan tubuh di ranjang rumah sakit itu. "Mbak... a... " "Bagaimana jika aku memintamu untuk pergi ?" Lagi-lagi keduanya terdiam setelah pertanyaan Zahra terlontar. Dimas justru malah memandang keduanya dengan kagum. Awalnya ia berpikir pertemuan keduanya akan berujung keributan seperti halnya yang sering ia lihat di media sosial. Vidio vidio tentang pertengkaran dua wanita yang memperebutkan seorang lelaki. Tidak. Keduanya justru membahasnya dengan cara mereka sendiri. Lagi-lagi Nisa mengatur nafasnya. "Mbak... Jika aku bisa, aku sudah mundur dari dulu. Aku sudah berusaha untuk mencoba melepaskan. Sayangnya, entah mengapa aku selalu kalah. Aku selalu saja terhipnotis dengan apapun yang ada dalam suami kita. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku pasrah, dan mungkin memang inilah takdirku, takdir menjadi yang kedua." "Dia... Suamiku. Bukan suami kita." "Mbak, a... " Krieeek, Kemudian pintu itu kembali terbuka. Bu Sukma datang bersama seorang perawat yang membawa beberapa berkas laporan perkembangan kesehatan Zahra. Bu Sukma pun tampak bingung melihat seorang yang asing berada di kamar anak menantunya. Walaupun begitu, dengan membaca situasi, Bu Sukma mulai menyimpulkan siapa sosok itu. "Assalamu'alaikum, buk." ucap Nisa sembari mengulurkan tangan pada ibu dari suaminya itu. Sayangnya, Bu Sukma mengabaikan dan langsung menuju ke Zahra. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Nisa menatap Hakim dengan tatapan yang entahlah. Dan dia juga mulai terlihat tak nyaman. Hingga kemudian suara Bu Sukma memecah keheningan. "Sayang, nduk. Kamu baik baik saja kan ?" Zahra mengangguk. Kemudian seorang perawat itu memeriksa kondisi Zahra. Ia menyampaikan bahwa kondisi Zahra kini sudah jauh lebih baik. Hanya butuh banyak istirahat aja untuk memulihkan kembali tubuhnya setelah pendarahan semalam. "Jadi, kapan saya bisa pulang mbak ? Saya sudah rindu dengan anak-anak." "Ini sebentar lagi sudah boleh pulang, mbak. Sebentar ya, sabar...nunggu dokternya visit." Jawab perawat cantik itu dengan ramah. "Oh, ya. Baik mbak. Terimakasih ya" "Bisa pindah dulu ya mbak, ke ruang perawatan sebelah." ucap perawat tersebut.Zahra memang harus pindah dari ruang UGD, mengingat kini kondisinya sudah baik baik saja. Setelah perawat itu pergi, Zahra hendak turun dari bed nya. Dimas berusaha membantu, tapi masih di tepisnya. "Aku bisa sendiri," ucapnya. Bu Sukma pun melirik Hakim dengan tajam, lalu mengambil alih tangan Zahra dan menuntunnya ke kamar sebelah yang sudah di persiapkan oleh petugas klinik. Nisa berjalan keluar ruangan juga. Tapi tidak untuk mengikuti Zahra dan Bu Sukma. Ia tampak berjalan cepat menyusuri koridor klinik tersebut dengan perasaan yang tak terbentuk lagi. "Sa... Sa... Nisa, tunggu Sa !" Dimas mengejar Nisa yang berjalan semakin cepat. "Sa !" "Apa sih mas ? Sudahlah, jangan kejar aku. Sana kamu sama mbak Zahra aja. Sudah, cukup mas, sudah aku lelah, aku menyerah ! Biarkan aku mundur saja," "Sa.. Tolong...!!!" "Aku nggak sanggup, mas. Sakit hatiku. Sakit hatiku melihat mbak Zahra yang begitu mencintaimu, sakit hatiku melihat betapa sayangnya ibumu dengannya. Sedangkan denganku ? . Aku tidak meminta lebih darimu kok mas. Soal cinta, biarlah menjadi urusanku. Sakit itu juga sudah resiko. Tapi aku hanya ingin, ingin di akui sah secara agama dan Negara agar anakku nantinya punya akta yang jelas. Punya orang tua yang lengkap di catatan aktanya. Tapi... Ah, sudahlah. Sepertinya sulit untuk ku gapai. Biarlah. Biarlah sakit ini ku rasakan sendiri. Pergilah mas. Temui mbak Zahra. Aku tahu gimana rasa sakitnya." ucap Nisa. "Sa... Tolonglah, kali ini.... Saja. Kita berjuang lagi ya, sekali lagi. Aku yakin, Zahra nanti pasti akan menerimamu kok. Aku yakin. Ia hanya butuh waktu. Ya... Sedikit lagi... Ku mohon, jangan pergi." "Ibumu ?" "Ibu... Biarlah jadi urusanku." Nisa terdiam sesaat dan lagi-lagi ia selalu terhipnotis dengan ucapan Dimas hingga akhirnya ia luluh lagi. Dimas pun menggandeng tangan Nisa berjalan menuju ruang dimana Zahra di pindahkan. Di dalam sana, Zahra tengah berbincang dengan bu Sukma. Dan seketika keduanya terdiam saat Dimas dan Nisa masuk ke ruangan itu dengan bergandengan tangan. Tak ada percakapan saat mereka berempat dalam satu ruangan tersebut. Baik Dimas, Nisa, Zahra dan Bu Sukma. semuanya sama sama diam dan enggan membuka percakapan. Tak berapa lama, seorang dokter cantik datang, lalu memeriksa kondisi Zahra yang sudah tampak membaik. "Semuanya bagus, iya... Istirahat yang cukup ya mbak, jangan lupa vitaminnya di minum biar dedeknya sehat." "Loh, apa dok ? Dokter bilang apa tadi ? Saya hamil dok ?" Zahra pun kaget mendengar ucapan sang dokter. Begitu juga Dimas yang langsung mendongak ketika dokter itu berkata. "Loh, memangnya ibuk belum bilang mbak ?" tanya dokter itu. Lantas Zahra memandang ibu mertuanya yang kini mengangguk sembari tersenyum haru. Ya, Bu Sukma sudah tahu sejak semalam setelah di lakukan pemeriksaan. "Maasyaallah," ucap Zahra penuh haru. Di saat seperti ini, justru Tuhan menitipkan malaikat kecil lagi dalam rahimnya. "Iya, mbak Zahra sudah hamil 4 minggu. Masih sangat rentan. Walau terhitung kuat juga, karena setelah pendarahan semalam dia masih bertahan. Sehat sehat ya mba,". "Makasih dokter" ucap Zahra. Tepat jam 11 siang, Zahra keluar dari rumah sakit. Bu Sukma menuntunnya sampai lobi depan. Mereka tengah menunggu kedatangan Dani yang sudah di beri kabar oleh Bu Sukma bahwa hari Ini Zahra akan pulang. "Bu, bareng Dimas saja, Dimas bawa mobil kok." "Nggak usah, nggak perlu !" "Buk... Kasihan Zahra lho. Dia kan harus banyak istirahat dan... " "nggak usah, nggak butuh.. terno ae wedok sund*l iku .. aku emoh ndelok wong e ndek kene! (Nggak usah, nggak perlu ! Mending kamu antar aja itu pelac*r itu ! Nggak sudi aku melihatnya disini !)" "Buk, Nisa ini istriku juga, bukan pelacur !" bentak Dimas. Bu Sukma enggan menjawab lagi. Hanya meliriknya sekilas dan beruntungnya, Mobil Daninsudah tiba di lokasi hingga pertengkaran itu tidak terjadi lagi. Dimas terdengar menarik nafas setelah ibu dan Istrinya memasuki mobil Dani dan pergi meninggalkannya bersama Nisa di tempat itu. "Sa... Maafin ibu aku ya, ibu aku aslinya orangnya baik kok. Dia penyayang. Aku yakin lama kelamaan ibu juga akan nerima kamu. Tolong sabar sebentar ya." Nisa pun mengangguk. Kemudian Dimas mengajak Nisa bersama dengan mobilnya menuju rumah ibunya. Sepanjang perjalanan, Dimas terus berusaha meyakinkan Istri keduanya bahwa semua akan baik-baik saja. Tiba di rumah ibunya, Dimas memarkirkan mobil di halaman. Di teras terlihat Rayyan dan Zahwa asik bermain bersama Lintang. Seketika mereka pun menghentikan permainannya saat melihat mobil Ayahnya berhenti. Rayyan masih agak trauma walau sudah bisa tersenyum, sedangkan Zahwa sudah kegirangan melihat kedatangan sang Ayah, seolah sudah melupakan semua kejadian yang terjadi kemarin. "Ayaaaaah," Zahwa berlari dan langsung memeluk sang ayah. Dimas pun membalas pelukan anak gadisnya itu. Lumayan lama, hingga kemudian, Zahwa tersadar akan sesuatu. "Ayah... Kenapa Ayah bawa Ninja pulang ke rumah Yang ti ?"Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk hari yang seharusnya sempurna, tapi malah berantakan.Zahra berdiri diam. Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng.Begini caranya hidup bercanda, batinnya.Ia melangkah masuk.Di dalam, kursi pelaminan masih berjajar megah. Background floral-nya tetap berdiri gagah. Tenda catering masih terisi hampir penuh. mungkin para tetangga pulang terburu-buru, mungkin juga tidak ada yang tega menyentuhnya, saat kehebohan tadi pagi terjadi.Zahra menyentuh gaun pengantin yang ia pakai. Kain putih itu masih sempurna. Sayangnya, gaunnya tidak pernah mendapat giliran berada di tengah keramaian.Sunyi.Tapi bukan sunyi yang menyedihkan. lebih seperti... jeda.Zean menyusul masuk beber
"Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Udara terasa berat, bukan karena panas, melainkan karena perasaan yang tak terucap. Zahra menatap lurus ke depan, jemarinya saling bertaut di pangkuan, sesekali menghela napas pendek. Di luar, deretan masjid mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. suara merdu yang saling bersahutan, menggema dari pengeras suara, menandai waktu yang kian mendekati sholat Jumat.Lantunan itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah rasa tegang yang menggantung di dalam mobil. Seolah setiap ayat membawa doa, juga kegelisahan yang berlapis. Rayyan duduk diam, sembari sesekali memperhatikan wajah bundanya. Sementara Zahwa terlelap di pangkuan bundanya, belum sepenuhnya terba
"Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra. "Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja.""Ya udah. Mana mereka ? Biar aku bawa mereka sekarang." Zahra mau langsung menerobos untuk nyari anak-anak, tapi di hadang lagi oleh Dimas. "NO ! kuncinya sama aku." ucap Dimas sembari mengacungkan kunci seolah mengejek Zahra. "Kamu kunci mereka, Mas ? Gila kamu Mas ! Siniin kuncinya. Pasti merkeka ketakutan sekarang. Bener-bener gila kamu !" "Eits. Enggak ! Nggak akan aku serahkan sebelum kamu mau balik lagi sama aku ! Menikah sama aku lagi, dan aku akan kembalikan mereka. Kalau tidak, Nggak akan !" "
Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin tegang setelah ponsel Dimas berbunyi.Dimas semakin lepas kendali hingga mobil yang ia bawa menuju tempat yang asing menurutnya. Tiba di sebuah tempat, sebuah Villa, Dimas menyeret Rayyan dan Zahwa keluar dari mobil. Menyeretnya dengan kasar hingga mereka menangis, dan membanting mereka di lantai kamar vila itu sambil Dimas marah-marah tidak jelas."Aduh Mas, kemana kita harus cari mereka. Kita udah muter-muter satu jam, tapi tidak ketemu. Aku khawatir." ucap Zahra cemas.Sementara Zean masih fokus dengan kemudi sembari sesekali melirik jalanan. Tapi tetap saja dia juga tak melihatnya."Apa kita lapor polisi aja ya, Mas?"Zean diam sesaat. Berusaha berpikir dengan fikiran jernih."Sepertinya
"Kenapa kamu disini, nduk ? Terus, ini..." Bu Sukma tampak kaget, sembari memandangi Zahra yang tiba-tiba didepannya dan masih mengenakan baju pengantin."Iya, aku disini bu. Anak-anak dimana bu, kenapa mereka belum sampai sana. Dimana mereka ?""Loh. Tadi pagi sudah berangkat, jam 7 pagi sama Dimas, Zahra. Tadi mereka sudah pada dndan, sudah berangkat. Dimas juga tadi berangkatnya buru-buru kok. Ibu rencananya juga mau ikut. Tapi tiba-tiba perut ibu mules setelah sarapan tadi, mangkanya ibu suruh Dimas berangkat aja duluan, takutnya telat.""Ya Allah. Nggak ada bu. Nggak ada Mas Dimas dan anak-anak sampai sana. Aku sudah nungguin dari tadi pagi, tapi nggak ada. Mereka tidak datang.""Ya Allah nduk. Tenan ! Dimas wes berangkat dari pagi. Demi Allah !""Ya tapi nggak ada, buk ! Enggak ada. Iya kan mas ?" Zahra menoleh ke Zean seolah minta validasi."Nggih, Bu Sukma. Dimas ataupun anak-anak belum datang. Itulah sebabnya kami kesini. Kami khawatir, soalnya nomor Dimas tidak bisa dihubung
Langit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti."Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terlihat jelas, Jarum jam panjang yang terus berputar melewati angka sepuluh."Gimana Sayang, belum datang juga ?" tanya Zean mendekat."Belum Mas, aduuuh... gimana ya mas, udah mau dimulai ya akadnya ? Aduh... ini mana sih Mas Dimas ?! Semalam janjinya pagi mau di antar tepat waktu, tapi sampai jam segini kenapa mereka belum sampai sini sih," Zahra semakin panik. Apalagi melihat jarum jam yang terus berputar dan seorang penghulu sudah duduk di kursi yang disediakan. Para saksi dan para tamu juga sud







