LOGIN"Zahwa sayang... Tante ini bukan Ninja, sini... Ini namanya Umi Nisa. Umi baru Zahwa," ucap Dimas sembari duduk berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan putri kecilnya itu.
"Umi?" tanya Zahwa. "Iya, Umi. Umi itu seperti Bunda. Bunda nya Zahwa." "Kok baru? Memangnya Bunda sudah rusak ya yah? Kok beli bunda baru?" Dimas seperti menahan tawa, lalu menghela nafas, "bukan begitu sayang. Bunda ada kok, tapi Umi ini biar nemenin bunda Zahra. Jadi bundanya Zahwa nanti ada dua." "Enggak! Bunda nya kita cuma satu, Bunda Zahra! Tante ini pasti jahat kan, Yah ? Sini dek," ucap Rayyan sembari menarik tangan adiknya mundur beberapa langkah menjauhi Dimas dan Nisa. "Rayyan, Zahwa! Jaga bicaramu! Ayah tidak pernah mengajari kamu kasar, ya!" "Ayah lupa? Baru kemarin lho ayah ngajarinnya." ucap Rayyan, membuat Dimas geram. "Rayyan, Zahwa. Di panggil nenek tuh, nenek punya sesuatu buat kalian," ucap Dinda yang baru saja keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Mendengar berita baik itu, Rayyan dan Zahwa berlomba lari mencari sang nenek. "Mas, kata ibuk di suruh masuk dulu, nggak enak dilihat tetangga," ucap Dinda dengan sedikit berbisik. Tapi percuma saja kan, sudah terlanjur menjadi tontonan sekompleks saat Dimas keluar dari mobil dengan menggandeng seorang wanita bercadar dan itu bukan Zahra. Sekilas Dimas memandang sekitar, mengangguk tipis ke arah mereka lalu menggandeng Nisa masuk bersamanya. Di dalam rumah ada beberapa tetangga yang menjenguk Zahra saat turun dari mobil. Mereka mendengar kabar tadi pagi jika Zahra semalam di bawa ke rumah sakit. Sudah menjadi adat kebiasaan di daerahnya kalau ada orang sakit pasti pada besuk atau tilek. "Mbak, aku pulang sik ya. Mbak Zahra cepat sehat. Budhe pulang dulu," ucap wanita seusia mertuanya sembari memberinya amplop putih, begitu juga dengan beberapa ibu ibu lainnya. Mereka juga pamit pulang, mereka berjalan melewati Dimas dan Nisa dengan tatapan yang sedikit aneh, sinisnya khas para ibu ibu yang siaga pelakor. "Ngapain kamu kesini lagi dan bawa dia juga!?" ucap bu Sukma tanpa mau menoleh sedikitpun ke arah anaknya. "Bu, tapi kan ini rumah Dimas jug... " "Sssss, sss ora. Ora ono! Ndak ada, ini rumah ibuk bukan rumahmu lagi, wes. Ibuk ndak mau kamu kesini bawa dia! Ibuk ndak sudi! Pergi! Bawa juga itu sund*lmu!" "Buk, namanya Nis... " "Mas, sudah... Biar Nisa pergi aja, jangan lawan ibu, mas. " "Sa.. Tunggu sa," Dimas mencekal pergelangan tangan Nisa. Bu Sukma melengos, lalu ia memilih pergi ke dapur, apalagi Zahwa sudah mulai rusuh di belakang. Awalnya Zahra hendak bangkit, tapi di cegah oleh mertuanya. "Dah, kamu istirahat saja biar ibuk yang layani anak-anak," Zahra kini hanya duduk di kursi memainkan jarinya sembari menunduk. untuk saat ini dia tak mau banyak bicara. Biarlah, biar suaminya jadi urusan ibunya untuk saat ini. Dia juga ingin melihat sejauh mana Dimas memperjuangkan wanita yang di bawanya itu. Sakit memang, tapi sudah terjadi mau gimana lagi? Semua juga bukan atas kehendaknya. "Neng... Kita pulang yuk, kita selesaikan baik baik di rumah," ucap Dimas sembari berjongkok di depan Zahra serta meraih tangannya. Zahra masih berdiri di belakang Dimas setelah ia menghentikan kepergiannya. "Kita selesaikan saja di pengadilan mas," "Neng, please. Kita jalani sama sama ya, aku kamu, juga Nisa dan anak anak. Aku nggak bisa tanpa anak anak," "Kalau tanpaku bisa?" "Neng... " "Pengadilan buka setiap hari Senin sampai kamis Mas. Kamu yang urus apa aku yang urus? " "Mbak Zahra, tolong jangan seperti itu ya mbak, tolong jangan tinggalkan mas Dimas. Mas Dimas sangat menyayangi mbak Zahra. Cintanya mas Dimas ke mbak Zahra lebih besar dari cintanya ke Nisa. Biar Nisa aja yang mundur mbak. Biarlah, biarlah Nisa sendiri nanti yang akan merawat anak Nisa. Nggak apa apa kok. Da... " "Sa? Kamu hamil? " tanya Dimas sembari matanya melotot. "Kamu Hamil?" tanya Zahra berbarengan dengan pertanyaan Dimas. "Hm, usianya 7 minggu." jawab Nisa sembari memegang perutnya yang masih rata sementara Zahra memgusap kepalanya dengan kasar. Lalu ia bangkit dan hendak berjalan meninggalkan Dimas dan Nisa. "Sudahlah. Terserah! Lanjutkan saja pernikahan kalian! Aku tak ingin dia lahir tanpa bapak. Dan kamu juga harus bertanggung jawab mas!" ucap Zahra sambil berlalu pergi. "Neng... Neng, tunggu Neng... " "Stop! Berhenti disitu! Jangan dekati aku dan jangan temui aku tiga hari kedepan!" ucap Zahra sebelum akhirnya ia menaiki tangga menuju kamarnya di rumah ini. Dimas mengusap kepalanya dengan kasar. Walaupun begitu ia tetap menggandeng Nisa untuk keluar dari rumah itu menuju rumahnya di Malang kota. Semilir angin membuat ujung jilbabnya berkibar. Ia tengah berdiri di sisi jendela kamar yang menghadap langsung keluar. Dari kamarnya itu terlihat pemandangan indah. Gunung yang tinggi serta hamparan sawah yang terbentang luas. Sesekali ia menyeka air matanya yang terus lolos. Dan bergantian mengusap perutnya yang kini tengah di tinggali janin juga dari Dimas. "Bagaimana mungkin... " Gumamnya. "Mas Dimas tidak mungkin bisa menceraikan ku, begitu juga dengan dia, kami sama sama hamil. Astagfirullah," gumamnya lagi sembari mengelus dadanya yang terasa terhimpit. Posisinya sekarang menjadi semakin rumit. Sedetik kemudian ia merasa tangan halus merangkul pundaknya, "Loh... Din, kok kesini. Adik adik gimana? Sama siapa?" "Sama ibuk mbak. Mbak Zahra, sampai kapanpun Dinda tidak akan rela mbak Zahra pisah sama mas Dimas. Dinda nggak rela kalau mas Dimas menikah dengan wanita itu. Dia pasti jahat ya, dengan tega merebut suami orang. Padahal sama sama perempuan!" ucap Dinda sembari menatap nyalang pada ilalang yang melambai akibat terpaan angin. "Namanya Nisa, Dinda. Kamu harus terbiasa manggil namanya, karena Mbak Nisa juga kakak Ipar Dinda." "Ndak mbak, di hati Dinda kakak ipar Dinda cuma mbak Zahra. Mbak Zahra tidak tergeser dan tidak ter gantikan" "Tapi tersandingkan di hati masmu," Sahut Zahra. "Mbak. Aku janji akan membantunu menyingkirkan dia." "Dinda.. Lihat mbak sini, dengerin mbak Zahra ya, tugasmu cukup belajar aja yang benar, biar kelak jadi orang sukses. Lagipula... Kamu tidak akan bisa menyingkirkan mbak Nisa karena aku tidak mau ada anak tak berdosa yang menanggung akibatnya." "Apa? Dia Hamil juga mbak?" "Iya, dia hamil juga," "Ed*n! G*la! &$&$ tu orang! Mas Dimas juga ngapain sih, ck! Udah jelas jelas punya istri yang baik, cantikk, sholihah, mandiri gini masih aja cari yang lain. Nggak jelas pula. Sumpah jij*k aku punya kakak kayak dia!" "Sssst, ndak boleh gitu, mas Dimas kakaknya Dinda. Sampai kapanpun nggak ada yang namanya mantan kakak." "Ya tapi kan a... " Tok tok tok "Nduk, ayo makan dulu. Sudah di tunggu anak-anak." ucap Bu Sukma dari luar kamarnya. Mereka berdua pun akhirnya keluar kamar dan menuju meja makan. Rumah itu kini tampak sepi. Menjelang sore tepatnya jam dua siang, anak anak terbiasa tidur. Zahra duduk di sofa ruang tamu sembari memainkan ponsel nya yang sebenarnya tak ada apa apanya. Sesekali dia juga menatap tempat dimana suami dan madunya berdiri siang tadi, Tetiba bayangan itu terlintas lagi di matanya. "Nduk... " "Eh, ibuk... " Zahra menggeser posisinya untuk memberi tempat bu Sukma duduk. "Kamu mikirin apa nduk ? Masih mikirin Dimas? Jangan terlalu stres, ingat kata dokter apa... Dimas biar ibuk aja yang urus. Kalau udah ndak mau di urusin ya udah ibuk nggak mau anggap anak lagi, biar dia mikir! Dia masih milih wanita itu tanpa ibuk atau milih kamu. Yang jelas ibuk ada di belakangmu" "Buk, kalau ibuk ada di posisi ku ibuk akan gimana?" "Ibuk ndak bisa bayangin sakitnya seperti apa, nduk. Mungkin ya ibuk ndak sanggup. Beruntungnya bapak dulu adalah pria terbaik yang ibu kenal. Bapak tidak pernah menduakan ibuk. Bapak setia sampai akhir hayatnya." "Buk... Sekarang Dia hamil anak mas Dimas. Hiks," Lagi lagi dia menangis di pelukan ibunda Dimas. "Nduk... Sekarang ibuk tidak akan memaksamu lagi untuk tetap tinggal. Ibuk hargai keputusan kamu, ibuk ndak tega lihat kamu begini. Tapi yang perlu kamu ingat, rumah ini selalu terbuka lebar untukmu. Kamu tetap menantu ibu satu satunya, sampai kapanpun." "Ntahlah buk, Zahra tidak bisa berpikir sekarang." Tiga hari berlalu dan selama tiga hari itu pula Dimas selalu datang kerumah ibunya untuk membujuk sang istri. Sayangnya sampai saat ini pun Zahra belum ingin ditemui. Ia selalu menghindar saat Dimas datang. Al hasil Dimas hanya bisa menemui dan bermain dengan anak anak. Sore Itu Bu Sukma tengah sibuk menyiapkan pesanan catering dari tetangga desa. Dinda membantu menjaga Zahwa dan Rayyan, sementara Zahra membantu ibu mertuanya. "Buk... " "Pie nduk?" tanya Bu Sukma sembari mengupas kulit mentimun untuk lalapan. "Zahra sudah ambil keputusan dan memikirkannya dengan matang." Bu Sukma pun meletakkan pisau dan mentimun nya. lalu memandang menantunya dengan serius. "Apa nduk cah Ayu?" "Zahra akan... " "Bunda.... Kata bu Guru besok kak Ray di suruh bawa fotokopy akta sama KK." "Astaga Ray... Bunda lupa, iya iya, besok ya... " Percakapan mereka terhenti saat Rayyan datang tiba tiba. "Besok bener ya bund... Soalnya teman teman kakak sudah semua kemarin." "Iya... Nanti bunda ambilkan dulu dirumah ya. Sudah main dulu sana." Bocah tujuh tahun itu pun kembali berlari keluar. Tampaknya, Bu Sukma masih menatapnya intens demi menunggu jawaban Zahra. "Nduk...?? "Mendengar kata 'kado' dikombinasikan dengan warna maroon pekat dan pita hitam yang kini terpampang nyata di depan matanya, kantuk Zean seolah menguap dalam satu detik. Matanya langsung terbuka lebar, menatap nanar benda di tangan Zahra.Darah Zean mendadak berdesir sedingin es, dan rahangnya seketika mengeras rapat. Warna itu... terlalu familier dengan gaun wanita yang ditemuinya kemarin di kafe. Teror itu ternyata tidak menunggu lama untuk sampai ke depan pintu rumahnya.Ketegangan yang mengunci wajah Zean terbaca begitu jelas oleh radar intuisi Zahra. Sepasang mata istrinya menyipit, memancarkan binar kecurigaan yang kian menebal. Merasa ada yang tidak beres dengan sikap diam suaminya, Zahra langsung menarik kembali kotak kado itu dari depan dada Zean.Tanpa babibu, Zahra merobek kertas kado maroon itu dengan sedikit kasar tepat di depan mata Zean. Sesekali ia melirik tajam, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah suaminya yang tampak kian pias.Sreeek!Kertas pembungku
Kalimat Zahra siang itu di kafe Jepang sempat menggantung di udara, sebelum akhirnya obrolan mereka teralih oleh pesanan makanan yang datang. Namun, bagi Zean, gema dari kata-kata istrinya tidak pernah benar-benar hilang. Kalimat itu terus berputar, merayap, dan menggerogoti pikirannya sepanjang sisa hari.Hingga malam pun tiba.Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Suasana di dalam rumah minimalis mereka sudah sunyi. Rayyan dan Zahwa sudah lama terlelap di kamar masing-masing setelah menyelesaikan tugas sekolah mereka.Di kamar utama, lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di atas nakas yang memantulkan bayangan redup ke dinding. Zahra baru saja selesai mengoleskan night cream di wajahnya. Ia menoleh ke arah ranjang, mendapati Zean sudah berbaring dengan posisi telentang.Namun, Zean tidak tidur.Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Salah satu lengannya diletakkan di atas dahi, sementara guratan ha
Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan jalanan kota yang terik. Zean memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan menuju kafe bergaya Jepang yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari gedung Dirgantara Group. Di kursi penumpang, Zahra langsung mencopot sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sandal flat nyaman yang selalu ia simpan di bawah jok mobil. Begitu posisi duduknya sudah santai, ia langsung mulai bercerita dengan menggebu-gebu. "Mas, kamu tahu nggak? Rapat tadi tuh bener-bener alot banget. Pak Direktur sampai minta pasal-pasal sengketa lahan itu dibedah ulang satu-satu. Untung aja aku sama tim udah nyiapin kontra-analisisnya dari kemarin malam. Kalau nggak, wah... bisa habis kita didebat sama pihak lawan. Terus ya, tadi tuh sempat ada interupsi dari bagian operasional yang bikin suasana agak tegang..." Zahra terus mengoceh panjang lebar, tangannya sesekali bergerak heboh menggambarkan suasana ruang rapat. Namun, setelah beberapa menit berbica
Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kibor komputer, sesekali membolak-balik dokumen berlogo garuda dengan dahi sedikit berkerut, fokus sepenuhnya pada analisis hukum yang sedang ia susun."Aduh, yang statusnya sudah berubah jadi 'Nyonya Zean' ini sibuk banget, sih. Padahal kan yang punya kantor mertuanya sendiri," goda sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kubikel.Zahra mendongak, mendapati Maya dan srikandi divisi legal lainnya, Citra, sudah berdiri sambil membawa cangkir kopi masing-masing. Senyum jahil langsung terbit di wajah kedua temannya itu.Zahra seketika meletakkan pulpennya, wajahnya mulai memanas. "Apa sih, May, Cit. Jangan mulai deh, ini berkas buat sidang besok senin belum beres.""Halah, bilang a
Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tersenyum Zahra di depan lobi kantor tadi. Senyum yang begitu tulus, yang justru membuat rasa bersalah di dalam hatinya kian mencuat tajam."Arghhh !!! Enggak-enggak. Ini harus sudah selesai sebelum semuanya kacau! Nggak bisa. Aku nggak mau... Zahra kembali terluka."Suaranya meninggi, menggema di dalam ruang mobil yang tertutup rapat. Kilasan masa lalu, tentang air mata Zahra dan luka lama yang susah payah mereka sembuhkan, mendadak berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Zean tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang. Tidak akan pernah."Agrrrhhhh. Bodoh kamu Zean! Ceroboh!"Brakk!Zean memukul setir mobilnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan
“Siap, Pa!”Meja makan yang biasanya menjadi tempat paling tenang di rumah itu, pagi ini berubah layaknya area komando. Wangi nasi goreng mentega buatan Zean beradu dengan aroma minyak telon yang masih menguar dari tubuh Zahwa.Zahra keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, blus broken white dipadukan dengan celana kulot abu-abu. Rambutnya dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut di tengkuknya. Meski wajahnya sudah segar, sisa-sisa kepanikan tadi tampaknya belum sepenuhnya menguap.“Kakak! Itu dasinya miring, Nak. Sini Bunda benerin,” panggil Zahra begitu melihat Rayyan berjalan malas sambil menyandang tas ranselnya yang tampak terlalu berat untuk anak kelas 1 SMP.Rayyan mendekat, membiarkan jemari bundanya bergerak cekatan membenarkan dasinya.“Bunda, Rayyan hari ini ada Melukis jam pertama. Kalau telat, disuruh lari keliling lapangan sama Pak Bambang.”“Makanya makannya dicepetin, Kak,” sahut Zean dari balik meja makan, meletakkan sepiring besar nasi gore
Zahra menoleh. Ia melihat Dimas berlari ke arahnya dengan nafas terengah-engah. "Sorry Neng, ganggu. Aku cuma mau nitip ini buat anak-anak kok." "Jangan di tolak, please. Mungkin Itu untuk yang terakhir kalinya kok Neng, untuk kedepannya aku belum bisa janji bisa ngasih mereka lagi. Tetap aku usa
"Hiks... Hiks... Nin.. Aku bener-bener bingung, aku benar-benar merasa berada di titik terendahku. Aku merasa Tuhan benci sama aku, aku rasa Tuhan nggak adil, dan aku juga merasa kotor. Tapi untuk belakang ini, aku sudah penuh lima waktu kok, Nin. Aku sudah benar-benar taubat. Aku... ""
"Iya, tapi Dia lebih jago sih dari Ayah. Skillnya lebih oke. Haha," ucap Bundanya, lalu ia berjalan ke pintu mobil dan mengajak Dara masuk. Tak berapa lama, kendaraan roda empat itu melesat meninggalkan area parkir PT. Relin Group. Perusahaan produk lokal yang di bangun oleh Pak Rustam sejak keciln
"Apa mereka memperlakukanmu tidak baik? Sering memukulimu kah? Atau... sering mencacimu ya?" tanya Bundanya sembari melihat mata Nisa. Kemudian beralih menatap badan Nisa yang sekarang kurus, tak seperti dulu saat terakhir kali Bundanya melihatnya. Sejenak Nisa terdiam. Setelah beberapa detik dia p







