Beranda / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Perempuan Itu ?

Share

Perempuan Itu ?

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2025-01-23 09:54:46

Plakk !!!!

Bu Sukma menampar Dimas dengan keras. Dimas terhuyung, saat tiba-tiba ibunya menyerang tanpa dia tahu apa alasannya. Tampaknya, Bu Sukma benar-benar murka dengan tindakan anak lelakinya.

"Kamu pikir, kamu itu siapa tanpa seorang wanita ? Kalau nggak ada ibuk kamu nggak bakalan lahir! lha ibuk mu iki ya wanita, Le. kamu nyakitin istrimu wi ya sama aja nyakitin ibuk ! Wes puas ntuk mu ngelarani ?"

ucap Bu Sukma meneriaki anaknya. sedangkan Dimas tampak memandang sang istri yang hanya diam tanpa membelanya.

"Buk... Ibuk, Dimas bisa jelasin semuanya buk,"

"Hallah, kadaluarsa ! Ibuk Rak butuh penjelasanmu. Kecewa ibuk, Dim ! Kurang opo bojo mu wi ? Kurang opo Zahra kui ? Ayu, gemati. Anak ya wes ono. Opo meneh to sing mbuk karepne ?"

"Buk... Ibuk, sik.. Dimas tak matur," Dimas berusaha merayu Ibunya. Ia berusaha meraih tangan Bu Sukma, tapi terus saja di tepis.

Zahra sebenarnya tak tega telah membuat pertikaian antara ibu dan Anak itu. Tapi ya, bagaimanapun juga Ibunya berhak tahu itu. Tentang bagaimana reaksi bu Sukma ya Resiko penumpang.

"Buk... "

"Opo awakmu rak kelingan, Dimas ?"

"Kamu itu bisa kuliah, bisa sukses itu karena siapa ? Nek nggak karena pengorbanan istrimu. Kelingan nggak, sing mok nggo kuliah wi duit e sopo ? Zahra rela jual rumah warisan demi awakmu berangkat kuliah luar negri. Kebangeten banget walesanmu !"

"Buk... "

"Kelingan rak ? Jaman e awak dewe susah, bojomu wi rela jualan donat muter pasar kondisi hamil gede. Kelingan rak awakmu ?"

"Ibuk... " Dimas di buat tak berdaya di hadapan dua wanita yang di cintainya itu,

"Sopo sing ngancani awakmu naliko susah ? Yo Zahra iki. Anak-anakmu sakit, pas awak dewe ra nde duit. Sabar banget Zahra, telaten ngurusi keluarga. Kelingan rak ? Lain Zahra opo sanggup ? Wes bubar pisahan. Wes, pokok ibuk nggak sudi ndue mantu liane Zahra ! Nggak Ridho ibuk. Lillahita'ala nggak Ridho!"

"Buk... Ibuk, Nisa kan juga Istri Dimas, buk... Dimas nggak selingkuh lho, Dimas menikahinya sah, walau secara agama."

"Helleh, istri istri opo, ta*k ! Wes, Nek kamu masih mau tak anggap anak, pegat en wi gendakan mu, Talak. rak sudi ibuk, blas rak sudi !"

"Buk... Dimas rasa, ibuk itu wanita yang bijak, paham juga agama, ibuk tidak bisa seenaknya saja mengharamkan poligami. Padahal poligami itu sunnah, buk. Sunnah Nabi, harusnya ibuk bisa dukung Dimas, dukung Dimas dalam hal kebaikan." ucap Dimas membela diri.

Dalam hati, Zahra merasa sakit banget atas ucapan Dimas. Beruntung mertuanya lebih membelanya dari pada anaknya sendiri.

"Pie, pie ? Pisan kas, jal ? Sekali lagi ? Dah merasa pinter ya, nyeramahi ibuk ? Nek trimo dapuranmu ae iso tak kilani ! Siapa yang ngusap ingusmu waktu bayi kalau bukan ibuk ?. Gaya ngomong sunnah, sunnah. Kapan ibuk bilang poligami haram ? Nggak, nggak Haram, tapi nggak gitu cara mu !"

"Ayo, kalau kamu pengen dapet sunahnya poligami tak antar ke rumahnya mbak Nur. Janda tua miskin sebelah rumah. Ayo, kebetulan sebelah kakinya juga baru di amputasi jadi nggak bisa kerja. Anaknya ada 4 yang harus di hidupi. Ayo tak antar kalau mau dapat sunahnya poligami. Ikhlas to nduk ?" ucap Bu Sukma sembari memandang ke arah Zahra. Dimas tampak diam, sudah kalah telak dia bingung mau menjawab apalagi atas ucapan ibunya itu. Sementara Zahra tertawa puas dalam hati. Puas sekali rasanya, kesalnya sudah terwakilkan oleh ucapan mertuanya.

Poligami dengan alasan sunah, masih ada jaman sekarang ? Kebanyakan yang di cari hanya kesenangan semata.

Dimas berjalan mendekati bed dimana Nadia terbaring,

"Nyapo ? Arep opo?" tanya Bu Sukma lagi masih dengan nada tingginya,

"Nemenin Zahra lah buk, kan Zahra istrinya Dimas."

"Lho, iya ta ? Masih istrimu ? Memangnya masih mau Zahra jadi Istrimu ?"

"Ibuk, jangan gitu dong, Dimas nggak bisa buk, nggak mau. Dimas sayang sama Zahra."

"Hahahaha, sayang, sayang kok dilarani. Kalau sampai Zahra minta cerai, jangan harap kamu masih tak anggap anak. Wes ra sudi ! Ibuk lebih milih Zahra aja dari pada kamu,"

"Nggak buk, nggak. Zahra nggak akan gitu kan sayang ?" Dimas mendekati Zahra sementara Zahra hanya diam saja. Enggan untuk menjawab ucapan Dimas walaupun Dimas berusaha untuk memulai percakapan dengannya.

Malam itu, menjadi malam yang dingin di antara mereka. Satu ruangan tapi tak saling tegur sapa. Bu Sukma sesekali masih mengajak Zahra bicara, walau sekedar menanyakan kondisi Zahra. Tidak dengan Dimas. Justru cenderung di anggap tidak ada oleh keduanya.

Hingga pagi menjelang, bu Sukma masih telaten mengurus menantunya. sementara Dimas malah tertidur pulas di sofa.

"Ibuk... Ibuk istirahat saja, Zahra nggak apa kok buk,"

"Iya nduk, nanti. kamu makan dulu yuk, biar cepat sembuh." ucap Bu Sukma sembari menyodorkan sesuap bubur ke mulut Zahra.

"Ibuk, Zahra bisa sendiri kok, ibuk istirahat ya, semalaman ibuk ndak tidur, ibuk kalau mau pulang dulu nggak apa. Bersih-bersih diri dulu, Zahra di tinggal nggak apa,"

"Yo wes, kalau gitu... Ibuk pulang dulu yo nduk, sekalian ibuk masak sama ngurus yang di rumah, ngurus anak-anakmu. Adik-adikmu kan juga pada sekolah nanti."

"Iya buk, nggak apa. Maaf ya buk, Zahra malah ngerepotin ibuk."

"Halah, wes ora popo, penting kamu ndang sehat. Nggak usah di pikirkan itu si Dimas. Nanti kalau masih macem-macem, wes urusan e ibuk."

"Nggeh, Buk."

Sepi, sunyi kini yang di rasakan Zahra walau ada sang suami di sudut sana. Dimas masih tertidur dan dia enggan untuk membangunkannya.

Suatu hal yang tak pernah ia sangka juga, kisah Novel yang sering ia baca kini menimpa juga padanya. Di madu oleh suami? Ah, rasanya masih seperti mimpi.

Zahra membenahi posisi bednya hingga menjadi posisi rebahan, kemudian ia meraih ponselnya dan membuka sebuah aplikasi novel online yang belakangan ini menjadi hiburannya. sesekali juga ia mencoba menulis beberapa kisah hidupnya di sana.

"Neng... Kamu, sudah enakan ?" tanya Dimas tiba-tiba setelah ia bangun dari tidurnya.

Zahra tak menjawab. Ia masih sibuk dengan ponselnya.

"Neng... Kamu masih marah sama, mas ?" tanya Dimas. Lantas ia menarik kursi di sebelah Zahra dan duduk di dekatnya.

"Neng... " ucapnya lagi. Kini ia tampak meraih tangan sang istri. Kali ini, Zahra tak menepisnya. Walau hatinya kembali teriris ketika mengingat Foto telanjang suami dan perempuan itu di ponsel Dimas.

"Mas... Kamu tahu nggak... Betapa bahagianya seorang wanita ketika ada seorang pria yang gentle datang meminta wanita itu pada walinya untuk di pinang ? Ya, sebahagia itu aku Mas. Waktu Mas Dimas bilang ke Bapak mau menikahi Zahra. Waktu itu... Zahra bilang sama bapak, bahwa Mas Dimas adalah orang yang baik, bertanggung jawab dan pandai beragama. Bapak pun setuju aku menerima pinangan Mas Dimas. Sejak saat itu, hidupku semakin berwarna. Mas Dimas juga selalu bisa membuat Zahra semakin cinta setiap hari. Apalagi setelah kehadiran Rayyan. Kasih sayang serta perhatian Mas Dimas tak pernah berubah, bahkan semakin membuat hatiku tergila-gila mas. Mas Dimas juga selalu meratukan ku. Saat itu, aku merasa... Ya, akulah wanita paling beruntung. Tak pernah ku rasakan kisah kisah di novel novel online yang mana mereka selalu mengeluhkan suami yang dzolim, yang pelit, punya mertua jahat dan ipar yang julid. Aku bahagia, aku bersyukur dan aku merasa, akulah Khadijah-mu di bumi ini, akulah Fatimah-mu di bumi ini. Seperti mana impianku, Menjadi Khadijah yang selalu di ratukan Muhammad, dan tak pernah di duakan sepanjang hidupnya. Seperti Fatimah yang di muliakan Ali, pun tak pernah di duakan sepanjang hidupnya. Nyatanya, aku salah. aku keliru... Aku bukan Khadijah itu, akulah Saudah yang harus rela berbagi ranjang pada madunya. Bedanya, Muhamad tak pernah bohong. Dan Nabiku yang mulia tak pernah bersembunyi di balik sunah demi menuruti nafsunya. Beliau murni karena ingin menolong janda dan para budak. Nabiku yang mulia berpoligami karena tujuan dakwahnya. Kamu ? "

"Neng... A... "

Krieeek....

Tiba-tiba pintu itu terbuka, dan tampaklah seorang wanita dengan pakaian serba hitam, syar'i lengkap dengan cadarnya. Zahra tampak memandangnya dengan penuh tanya,

"Neng... Itu... Nisa."

"Perempuan itu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
jijik ama dimas dan jalangnya syari kedok buat nutupin jalangnya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Madu Suamiku   Madu Suamiku (The End)

    Gelap. ​Hal terakhir yang kuingat saat kesadaranku direnggut adalah kegelapan yang teramat dingin, sunyi, dan bunyi denging panjang yang memekakkan telinga. Namun, di balik kegelapan itu, jiwaku seolah dipaksa mendengar jeritan-jeritan pilu dari dunia atas yang kutinggalkan.​Aku mendengar raungan Mas Zean yang terus memanggil namaku, hancur bagai laki-laki yang kehilangan seluruh arah hidupnya. Aku mendengar isak tangis Resti yang histeris. Dan sayup-sayup, aku merasakan getaran hebat dari pijatan di dadaku, disusul suara Zulfa yang bergetar parau memohon agar aku kembali demi anak-anak, demi dia yang kini telah mengikat janji suci sebagai maduku.​“Kembali, Ra... Tolong kembali. Jangan biarkan pernikahan ini menjadi penyesalan seumur hidup kami...”​Mungkin, Tuhan belum mengizinkanku pulang hari itu. Embusan napas yang sempat terhenti itu ditarik kembali oleh takdir. Aku terbangun beberapa hari kemudian di ruang rawat yang sunyi, menatap dua wajah yang begitu kuyu dan bersimbah air

  • Madu Suamiku   Akad Dadakan

    "Sorry Zean. Tapi ini permintaan Zahra. Aku udah berusaha nolak, tapi Istrimu sendiri yang kekeuh. Kalau kamu mau menolak, protes. Lanhsung sampaikan saja kepada Zahra. Aku sudah menyerah," ucap Resti Pasrah. "Zahra... kamu dengar Mas, kan? Mas nggak mau! Demi Allah, Mas cuma mau kamu, Ra!"​Zulfa pun sama terkejutnya. Wajah dokter itu mendadak pias sempurna. Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang infus di dekatnya. "Mbak Resti... Mas Dani... ini salah. Aku nggak bisa. Aku ini sahabatnya Zahra! Aku tidak pernah punya niat untuk merebut posisinya, demi Allah!"​Zulfa menatap Zahra dengan tatapan terluka dan menggeleng cepat. "Zahra, please... jangan hukum aku seperti ini. Aku murni ingin menyembuhkanmu, bukan menggantikanmu!"​Di atas brankar, di tengah badai penolakan dan kepanikan dari dua orang yang paling dicintainya, Zahra perlahan menggerakkan tangannya. Alat pulse oximeter di jarinya berbunyi semakin cepat seiring dengan detak jantungnya yang tidak stabil

  • Madu Suamiku   Permintaan Terakhir

    Suara Zulfa memecah keheningan koridor. Mendengar ucapan itu, Resti, Dani, dan semua yang ada di sana spontan menoleh ke arah Zulfa. Suasana sempat bergeming sejenak, diselimuti kecanggungan dan ketegangan yang aneh di tengah situasi kritis ini.​Zulfa yang menyadari tatapan penuh selidik. terutama dari Resti. tidak mundur. Ia justru melangkah maju dengan tegas. "Ayo... kenapa pada bengong? Kita tidak punya banyak waktu bukan?!" ucap Zulfa, suaranya naik satu oktav demi menyadarkan mereka semua. ​Semua orang langsung tersentak. Dokter piket yang menyadari urgensi situasi segera mengangguk. "Baik, Dokter Zulfa, mari ikut saya ke ruang tindakan laboratorium untuk skrining kilat dan proses donor." Tanpa membuang waktu, Zulfa langsung melangkah cepat mengekor di belakang dokter, membiarkan jubah putih dokternya berkibar di koridor rumah sakit.​Peninggalan Zulfa menyisakan keheningan baru di depan ruang ICU.​Zean kembali terduduk dengan kedua tangan menopang kepala. Pikirannya carut-mar

  • Madu Suamiku   Kabar Buruk

    Pria itu tertegun menatap Zulfa yang baru saja keluar dari koridor poli kandungan dengan jas putih dokternya. "Zahra... belum sampai sini, Dok?"​"Belum, Mas," Zulfa mengernyitkan dahi, ikut bingung. "Malahan ini aku sudah nunggu dari satu jam lalu loh. Aku pikir dia nungguin kamu di luar. Soalnya pagi tadi pas aku telepon, dia bilang mau datang bareng kamu."​"Nggak ada, Dok. Saya baru selesai meeting dengan klien, pulang sebentar ganti baju langsung kesini," sahut Zean, napasnya mulai tidak beraturan. Jantungnya berdegup makin kencang. "Aku pikir Zahra sudah nunggu di sini. Karena tadi pagi dia bersikeras minta janjiannya langsung ketemu di klinik."​Raut wajah Zulfa langsung berubah serius melihat kecemasan Zean. "Coba Mas Zean hubungi nomor siapa gitu. Soalnya dari tadi saya sudah telepon nomor Zahra berkali-kali tapi tidak aktif. Atau barangkali Zahra punya nomor telepon darurat lain yang bisa dihubungi?"​"Ck..." Zean berdecak frustrasi.​Ia segera mengeluarkan ponselnya dari sa

  • Madu Suamiku   Insting gawat darurat

    Sepeninggalan Zahra, suasana rumah terasa sedikit berbeda. Meski anak-anak sudah besar, Zean tetap harus memastikan pagi ini berjalan lancar. Rayyan yang sudah kelas 1 SMP tampak tenang menghabiskan sarapannya, sementara Zahwa yang kelas 3 SD sibuk merapikan tas sekolahnya di ruang tengah.​"Kak, hari ini pulang sekolah jam berapa? Biar Papa tahu jam jemputnya," tanya Zean sembari merapikan dasinya di depan cermin ruang tamu.​"Jam satu siang, Pa. Hari ini ada ekskul sebentar," jawab Rayyan mandiri.​"Oke. Papa antar kalian sekarang. Kakak sama Adik ayo masuk mobil."​Setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah masing-masing, Zean langsung memacu mobilnya menuju sebuah restoran di dekat area perkantoran. Hari ini dia ada janji temu penting dengan seorang klien korporasi besar terkait kasus sengketa tanah yang cukup pelik. Sebagai pengacara ternama, Zean harus tampil prima dan fokus, meskipun sebagian pikirannya masih tertinggal pada kondisi kesehatan istrinya.​Pertemuan hukum itu

  • Madu Suamiku   Pagi yang... Indah ?

    Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Zahra membuka kelopak matanya. Kamar masih temaram, namun jiwanya terasa begitu terjaga. Menatap wajah Zean yang masih terlelap pulas di sampingnya, Zahra tersenyum tipis. sebuah senyum yang menyimpan misteri mendalam. Perlahan, ia menyibak selimut, melangkah turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. ​Pagi itu, Zahra mendadak menjelma menjadi sosok yang luar biasa ceria. Tubuhnya yang kemarin pias dan lemas, kini bergerak lincah ke sana kemari. Ia merapikan ruang tamu yang sempat agak berantakan, menyapu lantai, hingga beralih ke dapur. Aroma harum nasi goreng mentega dan ayam suwir langsung memenuhi penjuru rumah, bersanding manis dengan kotak-kotak bekal anak yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Tidak sampai di situ, seragam sekolah Rayyan dan Zahwa, serta kemeja kerja Zean pun sudah ia setrika halus dan disiapkan di hanger kamar masing-masing.​Bahkan, dirinya sendiri pun sudah mandi, berdandan tipis, dan mengenakan pa

  • Madu Suamiku   tiada Zahra, Nisa pun jadi. tapi sayang....

    "Nisa, Din, Lupa? " jawab Zahra. "Hah? Mau ngapain lagi dia kesini sih mbak. Udah bagus-bagus hidup kita tenang tanpa kehadiran dia. Mau ngapain lagi dia kesini, Mau ngerusuh lagi? Mending mbak Zahra bawa pergi lagi aja deh,""Sssst, nggak boleh gitu. Panggilin ibuk dulu gih,""Tapi mbak... ""Ngg

  • Madu Suamiku   Rujak Cingur buatan Zahrq

    "Iya, Zahwa juga mau lah."Setelah mendapat iming-iming es krim, anak-anak baru mau ikut Ayahnya bermain."Mas, aku kasih waktu 15 menit di luar. Setelah itu balikin lagi kesini. Jangan jauh-jauh ya,""Tenang aja Za, aku ini ayah kandungnya. Nggak mungkin aku menyakiti mereka." ucap Dimas sembari m

  • Madu Suamiku   kasih Bunda tiada Tara 2

    "Apa mereka memperlakukanmu tidak baik? Sering memukulimu kah? Atau... sering mencacimu ya?" tanya Bundanya sembari melihat mata Nisa. Kemudian beralih menatap badan Nisa yang sekarang kurus, tak seperti dulu saat terakhir kali Bundanya melihatnya. Sejenak Nisa terdiam. Setelah beberapa detik dia p

  • Madu Suamiku   Pertikaian ... LAGI!

    "Maaf, kalau di mata ibuk Zahra sudah sangat lancang ya, Zahra tampak bukan wanita baik baik ya Buk ? Maaf, di sini Zahra juga butuh bertahan hidup. Kalau hanya nungguin mas Dimas, mengandalkan Mas Dimas. Zahra... Ya Zahra nggak bisa apa-apa. Anak anak Zahra butuh makan, butuh biaya sekolah, keperl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status