Inicio / Rumah Tangga / MADU YANG BERACUN / Bab 63 | Mertua Datang

Compartir

Bab 63 | Mertua Datang

Autor: Dara Kirana
last update Fecha de publicación: 2025-06-22 14:52:57

“Oh, ya, Jenar. Mulai hari ini Mama mau tinggal di sini, tinggal sama kalian dan cucu-cucu Mama yang lucu,” kata Bu Riana membuat Jenar semakin terkejut.

“Ke-kenapa begitu, Ma? Bagaimana dengan Eris?” Jenar gugup, tapi tetap berusaha agar ekspresi wajahnya biasa saja.

“Eriska Minggu depan mau ke Malaysia, dia dipindah tugas ke sana. Mama tidak mau di rumah sendirian, sepi, tidak ada teman ngobrol. Setelah Mama pikir lebih baik Mama tinggal sama kalian,” jelas Bu Riana.

Jenar menghela napas ka
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Laila Zahara
ceritanya bagus...cuma up nya lama
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • MADU YANG BERACUN   Bab 76 | Tak Ada Celah

    “Dedenya menendang,” kata Jasmine. “Kencang sekali, aku terkejut dibuatnya.” Dia menaikkan volume suara agar sampai ke telinga Embun.“Oh, ya ampun. Kamu buat Mas khawatir saja,” kata Lintang. Tangan itu mengusap pelan perut Jasmine. “Syukurlah kalau cuma dede main.”“Iya, Mas. Sepertinya dede senang ke sini.”“Embun menulikan telinga, membentengi hatinya, tidak memberi celah untuk luka yang sama. Iri itu pasti ada, tetapi dia tidak akan membiarkan perasaan itu menggoyahkannya. “Tentu saja senang, kan di sini tempat ibunya juga,” kata Lintang, dia tersenyum hangat. Tangan Embun terhenti lagi, telinganya tidak bisa mengabaikan kalimat itu. Muak, sungguh muak. Ia mengembus napas kasar lalu kembali lagi ke aktivisnya.“Siapa yang Mas Lintang maksud? Aku? Tidak sudih,” batin Embun. Bibirnya tersenyum tipis, sinis.Jasmine jengkel Embun tidak bereaksi apa-apa. Pancingannya tidak berhasil, hatinya membengkak. “Sial! Kenapa susah sekali sekarang?” batinnya.Tidak kehabisan cara, Jasmine pi

  • MADU YANG BERACUN   Bab 75 | Langkah Baru Dimulai

    Cahaya siang menembus jendela VIP Lotus Cafe menciptakan garis-garis hangat di meja, tempat Embun duduk.Sebelum datang, dia sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Dia hanya ingin semua yang telah direncanakan berjalan mulus.Tanpa sepengetahuan Lintang, dia sudah menyiapkan langkah untuk pergi. Tidak peduli lagi jika nanti lelaki itu akan memohon, dia tahu betul bagaimana suaminya itu. Dia tidak akan goyah.Embun merasa dirinya licik saat mengingat mengurus perkara ini dengan uang bulanan yang diberikan lelaki itu. Namun, dia mengabaikan rasa itu. Jika dia terus mengikuti hatinya yang selalu tidak enak, dia akan terus tersiksa.“Maafkan aku, aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari kayu yang kau beri. Bukan untuk kembali ke tempatmu, tapi untuk mendayung ke pulau seberang,” gumamnya lirih. Tidak lama seorang pria berpakaian rapi dan terlihat profesional muncul dari pintu. Dia adalah Vito Siba, pengacara yang Helena katakan beberapa hari yang lalu.“Selamat siang, Bu Embun.

  • MADU YANG BERACUN   Bab 74 | Kabar Buruk

    Eros menyeret langkah ke dalam rumah, tubuhnya terasa lemas dan penampilannya kacau. Hari ini dia seolah disambar petir, sesuatu yang sungguh mengejutkan. Perasaannya campur aduk. Cemas, kecewa dan bersalah menumpuk dalam dada.Dia tidak langsung naik, dia menjatuhkan diri di sofa lalu bersandar. Dia memijat pangkal mata, kepalanya terasa berat. Bising, penuh pertanyaan yang belum menemukan jawaban.“Eros!” Suara bu Riana mengejutkan lelaki itu. Tangannya berhenti, membuka mata lalu menoleh ke arah sumber suara.Terlihat ibunya berjalan cepat ke arahnya dan duduk di sampingnya. “Kamu dari mana saja? Mama sudah telepon berkali-kali, tidak diangkat. Sebenarnya ada apa ini? Jenar kenapa?” tanya Bu Riana, kepala Eros semakin berdenyut, tatapan mata wanita itu menuntut.Eros menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuh. “Jenar hanya dimintai keterangan,” sahut Eros. “Semuanya belum jelas.”“Keterangan apa? Jenar tidak melakukan apa-apa, kan?” cecar Bu Riana. Masih diperiksa, Ma,” jawabnya

  • MADU YANG BERACUN   Bab 73 | Permulaan yang Runtuh

    Setelah Jenar dibawa oleh polisi, Bu Riana segera menghubungi Eros. Namun, sudah beberapa kali teleponnya tidak dijawab. Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel di depan dada. Dia mencobanya lagi namun hasilnya tetap sama. Matanya menangkap jam dinding yang menggantung dan melihat angkanya. “Ya, Tuhan, bisa-bisa aku lupa Eros pagi ini ada meeting,” gumamnya. Segera jari-jarinya mengetik pesan dan mengirimkannya.“Sebenarnya ada apa ini?” gumamnya penuh tanya. “Apa yang disembunyikan Jenar selama ini?”“Semoga saja benar yang dikatakan Jenar, hanya salah paham,” ucapnya penuh harap. Ia segera berlalu ke dapur, tenggorokannya mendadak terasa kering.“Oma! Mama sudah pergi, ya?” kata Embun yang tiba-tiba muncul di anak tangga paling atas.Bu Riana menoleh. “Iya, Sayang. Kamu main saja sama Mbak dan adik, ya,” sahut Bu Riana. Gadis kecil itu patuh dan berbalik pergi. “Kasihan cucuku, bagaimana kalau dia tahu kalau ibunya dibawa polisi. Semoga saja Jenar sece

  • MADU YANG BERACUN   Bab 72 | Dibawa Paksa

    Senin depan datang dengan cepat, tetapi terasa lama bagi Jenar. Dia sangat senang, pagi ini dia bersiap dengan semangat setelah urusan anaknya selesai.Eros dapat melihat kebahagiaan sang istri yang terpancar dari wajahnya. Dia ikut senang melihat rona itu, meskipun di dalam hati dia merasa sedikit berat.“Sudah cantik,” ucap Eros, melihat istrinya meneliti make up di depan cermin. Mungkin dia sudah cukup lama tidak masuk kantor makanya seperti itu, pikir Eros. Jenar tersenyum, senang sekaligus malu.“Terima kasih,” ucapnya malu-malu.“Maaf, Mas tidak bisa antar kamu di hari pertama ini karena Mas ada meeting pagi,” kata Eros. Dia mendekat lalu memeluk Jenar dari belakang. Mereka melihat pantulan di cermin.“Tidak apa-apa. Mas izinkan aku saja, aku sudah senang.”“Ya, Mas percaya kamu.” Kalimat Eros membuat Jenar berbunga-bunga.Mereka turun sarapan. Bu Riana tampak tidak senang melihat Jenar dengan pakaian kantornya. Mereka makan dengan tenang dan damai pagi itu, dihiasi celotehan luc

  • MADU YANG BERACUN   Bab 71 | Manis Di Lidah Lelaki

    Hari yang ditunggu Jenar pun tiba. Namun, pagi ini dia justru sibuk mengurusi Ethan yang tiba-tiba demam. Bayi itu terbangun pukul empat pagi dengan tangisan keras. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya cukup tinggi. Jenar mendadak lesu, kecewa. Namun, khawatir keadaan anaknya.Terpaksa dia mengundur masuk kerja hingga beberapa hari. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Eros meminta hal yang sama. Ini membuatnya hanya bisa menghela napas berat. Jenar tak setega itu meninggalkan Ethan yang sakit demi pekerjaan, meskipun dia mempunyai rencana lain dibalik itu. Wanita itu hanya harus memastikan jalannya tetap lancar, meski ada kendala sedikit.Tidak mengapa dia mengalah sedikit, daripada restu suaminya dicabut. Itu lebih berbahaya dibanding menunda masuk kantor beberapa hari.Senin ini harusnya Jenar sudah berada di kantor, tetapi semuanya batal karena Ethan sakit. Dengan berat hati dia menelpon papanya dan memberitahukan keadaan tersebut.Pak Wijaya pun meminta Jenar masuk kantor

  • MADU YANG BERACUN   Bab 68 | Surat Undangan

    Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supa

    last updateÚltima actualización : 2026-04-04
  • MADU YANG BERACUN   Bab 64 | Langit Malam yang Indah

    Lintang berdiri di balkon kamar, memandangi gemerlap bintang di langit yang terlihat indah malam ini. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah membuat perasaannya tenang.“Aku bersyukur sekali, akhirnya Embun sadar. Meskipun harus membiarkannya sendiri dulu saat ini, tapi itu bukanlah suatu hal yang buruk.

    last updateÚltima actualización : 2026-04-03
  • MADU YANG BERACUN   Bab 60 | Wanita Pengganggu

    Mendengar suara orang yang ditunggu-tunggu, Jenar dan Jasmine berdiri dari duduknya. Keduanya tersenyum sinis dengan tatapan mengejek. “Halo Mba? Aku kemari hanya ingin tahu bagaimana kabarmu,” kata Jasmine manis lalu menatap Jenar sekilas dengan senyum penuh arti. Embun berdecih mendengar kata-ka

    last updateÚltima actualización : 2026-04-02
  • MADU YANG BERACUN   Bab 61 | Pagi yang Menegangkan

    Bel rumah Jenar berbunyi, wanita yang tengah menemani anak-anaknya bermain di ruang depan langsung berdiri.“Pasti ada yang ketinggalan lagi,” gumam Jenar menuju pintu dan mengira itu suaminya.“Ya, ada apa ….” Ucapan Jenar menggantung ketika mendapati dua lelaki berseragam cokelat. Rasanya dia ing

    last updateÚltima actualización : 2026-04-02
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status