LOGINAku cuma bisa ngakak palsu. “Bukan ... bukan gitu,” ujarku melambaikan tangan dengan takut. "Maksud gue, sopir pribadi ... bos, gitu. Ada jedanya dikit buat nyapa kalian," jelasku entah kemana.
Fina mengangguk dengan tawa menyedihkan, "Ohhh ... ngomong dong, gue pikir supirnya Pak Rayhan, yaudah, yuk. Ojol gue udah nunggu, nih," ajaknya yang membuatku bisa bernafas lega.
Aku berjalan dengan langkah yang tergesa. Tanganku sibuk mengacak isi tas untuk mengambil ponsel yang entah terselip di mana.
“Mana sih?” ujarku membolak-balik isi tas. “Ah, ini dia.”
Aku mencari kontak dengan nama ‘bunda’ dan menekan tombol pangggilan.
“Halo, Kek,” sapaku begitu telepon mulai tersambung.
“Ini, Bunda. Kamu nyari kakek, Nay?”
Aku mengerutkan kening sejenak, “Oh, Bunda,” jawabku ber-oh ria. “Aku nginep di tempat temenku, Bun. Biar ke kantornya lebih deket,” jelasku padanya.
“Iya, Kayla. Bunda dukung. Biar kamu nggak capek di perjalanan hati-hati, ya. Kamu yang baik sama temen kamu itu. Ya udah Bunda mau lanjut dulu.”
Tuuut. Telepon tertutup begitu saja.
Aku menatap layar yang kembali berwarna gelap, “Aneh,” ujarku menggelengkan kepala.
Langkahku berjalan ke basement dengan lunglai lalu masuk ke mobil hitam mengkilat—yang kayaknya mahal banget dengan lemas. Karena... ternyata bukan cuma Pak Jaja yang ada di dalam.
“Eh?! Kenapa kamu juga di sini?” bisikku panik, begitu melihat Rayhan duduk di jok belakang, lengkap dengan tablet di tangannya.
Dia menatapku sekilas. “Mobil saya, apartemen saya, sopir saya. Masa saya nggak boleh ikut?”
Aku cuma bisa bengong ngeliatnya, lalu cepat-cepat duduk di sebelahnya. “Hah?”
Sepuluh menit kemudian, mobil mulai meluncur keluar dari basement, membelah jalanan sore Jakarta yang macetnya nggak ada obat. Kami diem. Kaku. Canggung. Aku sibuk melamun, dia sibuk baca dokumen kerja. Aku ngelirik, dia nunduk serius banget, kayak nggak sadar aku di sebelahnya. Tapi tiba-tiba...
“Saya nggak gigit, kamu boleh napas kayak biasa,” katanya tanpa menoleh.
Aku langsung noleh cepat. “Saya napas kok!”
Dia melirik sekilas. “Keliatan dari tadi kamu nahan napas. Santai aja, saya nggak akan nyuruh kamu nyetrika kemeja atau masak buat makan.”
Aku mendengus pelan. “Bagus. Soalnya saya nggak bisa masak.”
Dia menyeringai kecil. “Bagus juga. Soalnya saya nggak suka makan di rumah.”
Aku nyaris tertawa. Baru nikah beberapa jam, tapi udah saling cocok karena sama-sama nggak niat hidup kayak pasangan beneran. Mungkin ini awal yang nggak buruk-buruk amat... Atau justru... awal dari kekacauan yang lebih besar? Sore itu, aku resmi pindah ke apartemen mewah yang katanya jadi ‘rumah tangga pura-pura’ kami.
“Haaah ... akhirnya bisa napas lega. Seharian pura-pura nggak ada apa-apa itu capek banget, sumpah.” Aku menjatuhkan tas ke sofa dan melepaskan blazer kantor. Sementara Rayhan yang dari tadi diam, akhirnya jalan santai ke dapur, ambil air mineral, dan menyeruputnya pelan. Masih dalam mode CEO cool dan misterius.
Tapi pas dia balik badan, ekspresinya berubah. Lebih... santai. Tapi juga... agak waspada?
“Kayla,” panggilnya pelan, tapi tegas.
Aku menoleh, masih sambil duduk selonjoran. “Ya?”
Dia mendekat dan berdiri di depanku, menatapku lurus-lurus. “Kita udah sah secara hukum, kan?” tanyanya, nadanya tenang tapi ada tekanan halus di ujung kata-katanya.
Aku menelan ludah, kasar. “I-iya ... tapi cuma kontrak ...”
Dia menyilangkan tangannya. “Tapi tetap aja, sah. Kamu istri sah saya. Kita tinggal serumah, dan nggak ada yang tahu kalau pernikahan ini cuma kontrak.”
Aku mengangguk pelan. “Terus ... maksudnya?”
Dia mendekat, lalu berjongkok di hadapanku, wajahnya cukup deket sampai aku bisa melihat detail bulu matanya yang lentik.
“Maksudnya ... kita juga boleh bersikap kayak suami istri beneran, dong?”
Jantungku langsung nari poco-poco. “Maksudnya ... bersikap gimana?” tanyaku dengan suara nyaris berbisik.
Dia menyeringai kecil, ekspresi setengah jail setengah serius. “Kayak ... misalnya saya manggil kamu sayang, kamu nggak nolak. Atau ... kita bisa nonton bareng sambil pelukan. Atau ... saya nyium kamu pas pamit kerja."
Aku refleks berdiri menjauhinya, mukaku terasa panas. “Lho?! Itu udah bukan pura-pura lagi, Pak—eh, Rayhan!”
Dia bangkit, ekspresi jailnya masih nempel di wajahnya. “Yah, katanya pura-pura jadi istri? Masa pura-puranya setengah-setengah?”
Aku membuka mulut, mau protes dengan pendapatnya ... tapi nggak ada kata yang keluar. Karena sekarang, dia berdiri cuma satu langkah dariku. Napasnya hangat. Tatapannya dalam.
“Ya udah lagian cuma bercanda,” pungkasnya meninggalkanku.
Aku masih terdiam. Jantungku keburu lari maraton. Tapi bodohnya ... bagian dari diriku malah penasaran, Kalau iya ... gimana rasanya diperlakukan kayak istri beneran? Tapi ... pas aku melangkah ke kamar, kasurnya cuma satu. King size, empuk, elegan, dan—YANG JELAS—nggak bisa dibelah dua.
“Ini … kasur?” tanyaku ragu, berharap itu cuma dekor.
“Nggak ada ranjang tingkat kalo itu yang kamu harapkan,” jawabnya santai sambil membuka kancing jasnya.
DEG.
Mampus. Kenapa dia ngelepas jasnya di depanku? Kenapa aku malah nunduk dan deg-degan kayak tokoh utama di drama Korea?
“Kamar lain?” ujarku melongok keluar dan melihat beberapa pintu yang tertutup.
“Ada. Tapi kosong,” jawabnya singkat. “Silahkan kalo mau tidur di lantai,” tambahnya yang semakin membuatku membulatkan mata.
“Hah?” ujarku tiba-tiba.
“Kamu ada gangguan pendengaran, ya?” tanyanya menatapku penuh selidik.
Aku mengerjap, seakan tersadar dengan tuduhannya. “Hah?”
Ia menunjukku dengan tangannya, “Tuh, kan. Hah hah terus.”
“Apa, sih. Enak aja, ya!” jawabku berdecak pinggang. “Gini-gini saya rajin ke THT! Mana mungkin saya budek!” ujarku menghentakkan kaki kesal. “Terus gimana caranya kita tidur?”
“Merem.”
“Hah?”
"Lagian, lo berdua sesama CEO kerjaannya tukar pikiran mulu, tapi masalah hati bisa-bisanya lo kecolongan, Ray," goda Fina, menyenggol lengan Adrian dengan akrab.Rayhan mendengus, ia meraih gelas minumannya, lalu menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. "Gue masih nggak habis pikir aja. Seorang Adrian yang kalau di forum bisnis omongannya cuma seputar saham dan ekspansi pasar, tiba-tiba bisa se-sat-set ini ngelamar anak orang."Adrian hanya tersenyum tipis, ia merapikan sedikit kemejanya untuk menghilangkan rasa gugup. "Kalau udah ketemu yang pas, buat apa ditunda-tunda, Ray? Lo sendiri dulu pas nikahin Kayla juga nggak pakai lama, kan?"Skakmat. Rayhan langsung terdiam, membuatku dan Fina spontan tertawa keras melihatnya mati kutu."Tuh, dengerin!" sahut Fina puas. "Sahabat lo aja lebih pinter nyari celah daripada lo yang biasanya paling hobi ceramah.""Iya, iya, gue kalah," pasrah Rayhan sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Namun, sedetik kemudian wajahnya melembut. Ia me
Rayhan menarik napas panjang, sebelum is menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gila ya lo, Fin. Diam-diam menghanyutkan. Gue pikir lo bakal jadi perawan tua yang sibuk ngurusin perusahaan orang lain, ternyata malah langsung melipir ke Paris.""Mulut lo ya, Ray!" Fina melempar tisu yang sudah diremas ke arah Rayhan, yang langsung disambut tawa renyah oleh suamiku. "Gue tuh cuma malas denger ceramah lo berdua kalau gue masih dalam proses penjajakan. Jadi begitu dia ngajak serius, ya langsung gue sikat."Aku masih memegangi kartu undangan tebal itu, mengusap ukiran namanya dengan ibu jari. Rasa tidak percaya masih menggelitik dadaku. "Fin, tapi kenapa harus di Paris? Maksud gue... lo bakal tinggal di sana?" tanyaku, mendadak ada rasa kehilangan yang mencubit hatiku. Baru tadi siang dia bilang tidak akan pernah meninggalkanku, tapi sekarang dia memberikan undangan pernikahan di belahan bumi yang berbeda.Fina yang seolah bisa membaca perubahan raut wajahku langsung menghela napas. Dia me
Aku membuka mulut, menerima suapan steak pertama dari Rayhan dengan perasaan yang membuncah. "Enak?" tanya Rayhan lembut, matanya menatapku penuh perhatian. Aku mengangguk cepat sambil mengunyah. "Enak banget." "Gila ya, dunia serasa milik berdua," celetuk Fina ketus, sengaja mendengus keras-keras sambil menusuk potongan melon di piringnya dengan brutal. "Gue yang mesen kamar, gue yang nyetir, gue yang nyulik bumil, tapi ujung-ujungnya gue cuma jadi nyamuk di pojokan." Rayhan tertawa renyah, sama sekali tidak terganggu dengan protes sahabatku itu. "Makanya, Fin, buruan cari pasangan. Biar nggak sirik tiap liat orang bahagia." "Idih, ogah! Ribet amat hidup musti laporan sana-sini kayak Kayla," balas Fina cepat, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Dia beralih menatapku, tatapannya melembut. "Tapi serius, Kay. Habisin itu makanan. Lo kurusan banget setelah keluar dari rumah sakit kemarin. Pipi lo sampai tirusan gini." "Ini efek rambut aku digulung aja kali, Fi
“Kay? Kamu di kamar mandi?”Suara berat Rayhan terdengar semakin dekat, disusul bayangannya yang muncul di balik celah pintu kamar mandi yang memang sengaja kubuka sedikit.“Aku masuk, ya,” lanjutnya, melebarkan pintu.Aku menatapnya tanpa kedip dari dalam bathtub, masih dengan badan yang setengah terendam air hangat. “Ray? Kok... kok kamu bisa di sini?” tanyaku tak percaya.Bukan hanya karena kehadiran suamiku yang tiba-tiba di sini—di tengah jam kerja—tetapi karena penampilannya saat ini. Rayhan memakai kemeja kerjanya yang rapi, namun tubuh bagian atasnya hampir seluruhnya tertutup oleh sebuah buket bunga mawar putih dan baby's breath yang ukurannya luar biasa besar. Saking besarnya, wajah gantengnya sampai agak tertutup kelopak bunga.Rayhan menurunkan sedikit buket bunga raksasa itu ke dada, menampakkan senyumnya yang khas—senyum teduh yang selalu sukses bikin semua kepanikanku hilang seketika.“Fina yang nyuruh,” jawabnya enteng, melangkah masuk ke area kamar mandi yang luas lal
Fina mematikan sambungan telepon, lalu menatapku tajam. “Rayhan itu pinter, Kay. Dia tau kapan harus ngasih ruang buat istrinya, dan dia tau lo bakal aman di tangan gue. Sekarang, diem dan istirahat. Atau gue panggilin perawat buat nyuntik lo biar bisa tidur?” ujarnya, mengancam.Aku tertawa renyah, lalu memejamkan mata. “Iya, iya. Gue istirahat.”Aku perlahan tenggelam dalam ketenangan itu, membiarkan diriku untuk sekadar menjadi manusia—tanpa embel-embel ibu hamil, istri, atau karyawan—setidaknya untuk hari ini.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru saja aku terlelap, suara gesekan kain dan langkah kaki Fina yang menjauh memaksa mataku terbuka. Aku melihat Fina sedang berdiri di depan cermin besar, memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan."Mau ke mana?" tanyaku serak. Sembari menyandarkan tubuhku.Fina menoleh, menatapku dengan sebelah alis yang teragnkat. "Keluar bentar. Ada urusan kecil yang harus gue selesaiin di lobi.""Urusan apa? Bukannya tadi katanya mau full
“Nyebelin?” potongnya cepat.“Iya.”“Tapi ada gunanya,” lanjutnya sendiri sambil membuka pintu mobil.Aku menggeleng lemah, lalu mengikuti Fina yang sudah turun terlebih dahulu. Fina melingkarkan lengannya ke lenganku, menarikku masuk pelan.“Ayo,” katanya. “Hari ini lo bukan Kayla yang biasanya. Lo Kayla yang menjadi princess dalam sehari.”Fina berjalan ke meja resepsionis dengan langkah percaya diri. Seolah semua ini memang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Aku hanya mengikuti di sampingnya sambil terus memperhatikan sekeliling.“Fin...,” panggilku pelan saat dia selesai berbicara dengan resepsionis.“Hm?”“Lo udah nyiapin ini dari kapan?”Fina mengambil kartu akses lalu menoleh ke arahku. “Dari hari ketiga.”Aku berkedip. “Hah?”Dia mengangkat bahunya acuh. “Dari hari ketiga setelah lo masuk rumah sakit.”Aku terdiam. Sementara Fina kembali meraih lenganku dan membawanya berjalan menuju lift, sementara benakku masih memproses jawabannya.“Lo serius?”“Iya.”“Tapi kenapa?”.
Aku keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Mataku udah sembab, napas ngos-ngosan karena abis nahan tangis yang belum kunjung reda. Tapi tetap aja, rasanya kayak masih ada yang nyangkut di dada, sesak dan ngilu. Begitu masuk ke ruangan, Fina langsung menoleh dari balik layar monitornya dan t
Aku menutup pintu toilet dengan tergesa, lalu menguncinya cepat. Tanganku gemetar, dadaku sesak, dan pandanganku mulai buram, seburam isi kepalaku yang penuh keraguan. Aku terdiam, menatap cermin kecil yang menggantung di atas wastafel. Bayangan diriku di sana terlihat ... aneh. Bibirku kering, mat
Aku menoleh ke arahnya, menggelengkan kepala dengan wajah seolah menggambarkan mana gue tau. “Baru juga sampe kantor, mana belum lima menit,” ujarku setengah frustasi.“Kalo ada apa-apa kabari gue, Kay,” ujar Fina yang kuhadiahi anggukan kepala sebagai jawaban.Langkahku terasa berat ketika aku mul
Ia menatapku sekilas sebelum kembali fokus pada ponselnya, “Saya ada kunjungan ke Eropa seminggu ke depan,” ujarnya santai seperti tak ada maalah.Darahku langsung mendidih di ubun-ubun begitu mendengar alasannya, aku memejamkan mataku sejenak, dan menghela nafasnya panjang, “Kamu gila, ya? “ ujark







