LOGIN"Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.
Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sudArumi merasa jantungnya berdegup kencang lagi. Ternyata Maya bukan sekadar masa lalu biasa bagi Kevin tapi juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga besar Adiwangsa. Arumi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.Setelah kunjungan dari panti asuhan itu, pikiran Arumi tidak bisa tenang. Nama Maya terus berputar di kepalanya. Fakta bahwa Maya pernah menjadi donatur tetap bersama keluarga Adiwangsa menunjukkan bahwa wanita itu bukan sekadar pacar masa muda Kevin yang biasa. Arumi merasa ada sebuah cerita besar yang sengaja dikubur dalam-dalam oleh semua orang.Malam itu, keluarga besar Adiwangsa mengadakan makan malam rutin di rumah utama. Pak Broto juga hadir di sana, duduk berdampingan dengan ayah Kevin, Pak Surya Adiwangsa. Suasana ruang makan sangat formal dengan pelayan yang hilir mudik menyajikan hidangan pembuka. Arumi duduk di samping Kevin, dia tampak sangat cantik namun matanya terus memperhatikan gerak-gerik ayah mertuanya.Arumi menunggu mome
Di dalam mobil menuju acara Arumi terus memperhatikan wajah Kevin yang terlihat sangat mencintainya. Dia merasa bahwa siapa pun yang mengirim foto itu pasti orang yang sangat iri pada kehidupannya sekarang. Arumi berjanji dalam hati kalau dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak rumah tangga yang sudah dia bangun dengan rasa ikhlas dan kerja keras ini. Dia akan mencari tahu siapa pengirimnya tapi bukan untuk membuat keributan melainkan untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah wanita yang mudah ditakut-takuti oleh masa lalu.Malam itu acara berjalan lancar dan megah, Arumi menikmati acara itu dengan bahagia bersama Kevin, dan ngobrol dengan para tamu undangan yang di kenal oleh Kevin dan Arumi, malam semakin larut hingga acara itu selesai, mereka berdua pulang kerumah dan langsung istirahat di dalam kamar mereka.Esok harinya setelah Kevin kembali ke kantor dengan wajah yang masih tegang Arumi tidak bisa tinggal diam begitu saja. Rasa ingin tahunya muncul bukan karena rasa cemburu yang
"Kamu hebat ya Arumi bisa bersikap tenang padahal kamu tidak tahu betapa berantakannya Kevin dulu kalau sudah bosan dengan satu wanita" bisik Siska tanpa melihat ke arah Arumi.Arumi mematikan keran air lalu menoleh ke arah Siska dengan tatapan yang sangat tajam tapi tetap elegan. "Mbak Siska setiap orang punya masa lalu yang mungkin ingin mereka hapus tapi saya adalah masa depan Kevin jadi apa pun yang terjadi dulu tidak akan pernah merubah posisi saya sekarang sebagai istrinya".Arumi keluar dari toilet dengan langkah yang tegak meninggalkan Siska yang terpaku di sana. Dia kembali ke sisi Kevin dan sepanjang sisa acara dia tetap menjadi pusat perhatian sebagai istri yang sempurna. Arumi menyadari bahwa pernikahan di kelas atas memang penuh dengan orang yang ingin menjatuhkan tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga martabat rumah tangganya.Saat di dalam mobil perjalanan pulang Kevin memegang tangan Arumi dengan erat. "Maaf ya Arumi soal omongan teman-temank
"Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sud
Kehidupan Arumi sekarang sudah sangat teratur dan sibuk setiap hari. Dia bangun pagi saat matahari belum terlalu terik lalu menyiapkan keperluan Kevin sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Meskipun di rumah mereka punya banyak asisten rumah tangga Arumi tetap turun ke dapur untuk memastikan kopi Kevin tidak terlalu manis dan rotinya dibakar dengan pas.Pagi itu Kevin turun ke ruang makan sambil merapikan dasinya. Arumi menghampiri Kevin dan membantu merapikan kerah kemejanya supaya terlihat lebih gagah."Terima kasih Arumi kamu selalu tahu cara membuat penampilanku sempurna" kata Kevin sambil tersenyum puas melihat bayangannya di kaca ruang makan."Itu sudah jadi tugas aku Kevin kan kita harus selalu terlihat kompak di depan orang banyak" jawab Arumi pelan sambil memberikan tas kerja Kevin."Nanti malam jangan lupa ya kita ada undangan makan malam dengan kolega dari Singapura kamu pakai gaun yang kita beli di Paris kemarin saja" ujar Kevin lag
Siang harinya, mereka tiba di gedung perkantoran mewah di kawasan kota. Di hadapan para investor Eropa, Arumi dan Kevin adalah definisi dari "Pasangan Emas". Arumi tampil begitu berwibawa, mempresentasikan rencana ekspansi mereka dengan kecerdasan yang memukau para hadirin.Kevin duduk di sampingnya, sesekali merangkul bahu Arumi atau menggenggam tangannya saat negosiasi mencapai titik krusial. Siapa pun yang melihat mereka akan menyangka bahwa mereka baru saja melewati malam pengantin yang paling romantis dalam sejarah. Arumi memainkan perannya dengan sangat mahir; ia tertawa pada lelucon Kevin dan menatap suaminya itu dengan binar kebanggaan yang meyakinkan.Namun, setiap kali Kevin menyentuhnya, Arumi merasakan sebuah getaran yang hampa. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam sebuah sangkar emas yang sangat kokoh. Kevin mencintainya dengan cara memiliki, cara yang sama seperti Kevin mencintai koleksi mobil mewah atau saham perusahaannya.Selesai per







