MasukDi sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke arah taman, Pak Darman duduk di atas sebuah kursi kayu kecil. Ia tidak berani menyentuh kasur, bahkan tidak berani menginjak karpet bulu milik Arumi. Pria tua itu hanya duduk membeku dengan tas kain kusam di pangkuannya. Ia masih mengenakan batik usang yang sama, terlihat sangat kecil dan tidak berdaya di tengah kemewahan kamar itu.
Arumi berdiri di depan cermin riasnya, namun ia tidak sedang bersolek. Ia memegang botol parfumnya dengan tangan gemetar, seolah-olah benda itu adalah senjata. "Jangan pernah berpikir untuk naik ke tempat tidur ini," desis Arumi tanpa menoleh. Suaranya rendah namun penuh dengan racun kebencian. "Tetaplah di sana. Kalau perlu, jangan bernapas terlalu keras. Aku tidak tahan mencium bau keringatmu di kamarku." Pak Darman hanya menunduk dalam. "Saya mengerti, Non. Saya akan duduk di sini sampai pagi. Saya juga tidak ingin berada di sini kalau bukan karena Tuan Broto yang memaksa." "Diam!" bentak Arumi. "Jangan sebut nama Papa. Kamu dan Papa sama saja, kalian berdua menghancurkan masa depanku!" Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu yang keras. Pak Hendra masuk tanpa menunggu jawaban. Wajahnya terlihat sangat tegang. "Ada intelijen kejaksaan yang berjaga di luar gerbang," bisik Hendra dengan nada waspada. "Mereka sedang mengamati lampu kamar ini. Mereka ingin memastikan apakah kalian benar-benar tidur di ruangan yang sama. Non Arumi, tolong matikan lampu utama dan nyalakan lampu tidur saja. Pak Darman, silakan berbaring di sofa atau di lantai dekat tempat tidur agar bayangan kalian terlihat menyatu dari luar." Arumi ingin berteriak protes, namun tatapan tajam Pak Hendra menghentikannya. Dengan perasaan muak yang nyaris membuatnya muntah, Arumi mematikan lampu. Ruangan itu kini hanya diterangi cahaya temaram dari lampu meja yang redup. "Lakukan, Darman. Ini demi keselamatan kita," perintah Hendra sebelum keluar dan mengunci pintu dari luar untuk keamanan sandiwara mereka. Dengan ragu-ragu dan gerakan yang sangat pelan, Pak Darman turun dari kursinya. Ia menggelar selembar kain tipis yang ia bawa dari gudang di atas lantai marmer yang dingin, tepat di samping tempat tidur Arumi. Ia merebahkan tubuh tuanya yang renta di sana, mencoba tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Arumi naik ke atas tempat tidurnya, namun ia tetap mengenakan pakaian lengkap dan memeluk bantalnya erat-erat, seolah-olah bantal itu adalah perisai. Ia memunggungi Pak Darman, air matanya jatuh membasahi seprai mahal itu dalam diam. Ia membayangkan Kevin. Seharusnya malam ini ia sedang menelepon Kevin, membicarakan masa depan mereka, bukan berbagi ruang dengan seorang pembantu tua. Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Kevin tidak bisa memejamkan mata. Ruang tamunya berantakan dengan botol-botol minuman dan dokumen-dokumen perusahaan keluarga Broto yang sempat ia kumpulkan. "Tidak mungkin," gumam Kevin sambil menatap foto Arumi di ponselnya. "Arumi tidak mungkin mencintai pria itu. Ini pasti ada hubungannya dengan penyitaan aset tadi siang." Kevin adalah pria yang cerdas. Meski ia merasa dikhianati dan marah besar, logika bisnisnya mulai bekerja. Ia merasa ada yang tidak beres dengan kecepatan pernikahan itu terjadi. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, Doni? Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa pria bernama Darman Yusuf itu. Rekam jejak medisnya, catatan sipilnya, dan semua aliran uang yang masuk ke rekeningnya dalam 24 jam terakhir. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dibeli oleh keluarga Broto dari pria tua itu." Kevin berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlip lampu kota dengan mata yang tajam dan dingin. "Jika ini hanya sebuah permainan untuk mengamankan harta, aku akan mengungkapnya, Arumi. Dan jika kamu terpaksa melakukannya... aku akan menghancurkan siapapun yang memaksamu, termasuk ayahmu sendiri." Kembali ke kamar Arumi, keheningan malam hanya dipecah oleh suara napas berat Pak Darman yang kelelahan. Arumi masih terjaga, matanya terbuka lebar di kegelapan. Ia merasa hina, merasa kotor, meski pria di lantai itu sama sekali tidak menyentuhnya. "Non..." suara Pak Darman terdengar sangat pelan, seperti bisikan angin. "Kubilang diam!" sahut Arumi ketus. "Saya cuma mau bilang... kalau nanti Non sudah aman, saya akan pergi sejauh mungkin. Saya tidak akan menagih apa-apa. Saya cuma mau Non tahu, saya juga merasa malu melakukan ini," ucap Pak Darman tulus. Arumi terdiam. Ia tidak menjawab, namun hatinya sedikit terusik oleh kejujuran pria tua itu. Meski begitu, rasa marahnya jauh lebih besar daripada rasa kasihan. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba tenggelam dalam kegelapan, berharap saat ia bangun besok, semua ini hanyalah mimpi buruk yang sudah berakhir. Namun ia tahu, besok pagi, ia masih akan menjadi istri dari seorang pria yang seharusnya hanya memotong rumput di halamannya. Pagi itu, suasana di kediaman Broto Atmodjo masih diselimuti kecanggungan yang mencekam. Arumi baru saja selesai membasuh wajahnya yang sembab, sementara Pak Darman sudah berada di luar kamar, kembali mengenakan topi capingnya dan memegang sapu lidi, seolah-olah kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Namun, keberadaan buku nikah di atas meja rias Arumi tetap menjadi saksi bisu yang nyata. Tiba-tiba, suara deru mobil sport yang sangat dikenal Arumi terdengar memasuki halaman. Jantung Arumi seolah melompat keluar dari dadanya. Itu mobil Kevin."Kamu hebat ya Arumi bisa bersikap tenang padahal kamu tidak tahu betapa berantakannya Kevin dulu kalau sudah bosan dengan satu wanita" bisik Siska tanpa melihat ke arah Arumi.Arumi mematikan keran air lalu menoleh ke arah Siska dengan tatapan yang sangat tajam tapi tetap elegan. "Mbak Siska setiap orang punya masa lalu yang mungkin ingin mereka hapus tapi saya adalah masa depan Kevin jadi apa pun yang terjadi dulu tidak akan pernah merubah posisi saya sekarang sebagai istrinya".Arumi keluar dari toilet dengan langkah yang tegak meninggalkan Siska yang terpaku di sana. Dia kembali ke sisi Kevin dan sepanjang sisa acara dia tetap menjadi pusat perhatian sebagai istri yang sempurna. Arumi menyadari bahwa pernikahan di kelas atas memang penuh dengan orang yang ingin menjatuhkan tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga martabat rumah tangganya.Saat di dalam mobil perjalanan pulang Kevin memegang tangan Arumi dengan erat. "Maaf ya Arumi soal omongan teman-temank
"Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sud
Kehidupan Arumi sekarang sudah sangat teratur dan sibuk setiap hari. Dia bangun pagi saat matahari belum terlalu terik lalu menyiapkan keperluan Kevin sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Meskipun di rumah mereka punya banyak asisten rumah tangga Arumi tetap turun ke dapur untuk memastikan kopi Kevin tidak terlalu manis dan rotinya dibakar dengan pas.Pagi itu Kevin turun ke ruang makan sambil merapikan dasinya. Arumi menghampiri Kevin dan membantu merapikan kerah kemejanya supaya terlihat lebih gagah."Terima kasih Arumi kamu selalu tahu cara membuat penampilanku sempurna" kata Kevin sambil tersenyum puas melihat bayangannya di kaca ruang makan."Itu sudah jadi tugas aku Kevin kan kita harus selalu terlihat kompak di depan orang banyak" jawab Arumi pelan sambil memberikan tas kerja Kevin."Nanti malam jangan lupa ya kita ada undangan makan malam dengan kolega dari Singapura kamu pakai gaun yang kita beli di Paris kemarin saja" ujar Kevin lag
Siang harinya, mereka tiba di gedung perkantoran mewah di kawasan kota. Di hadapan para investor Eropa, Arumi dan Kevin adalah definisi dari "Pasangan Emas". Arumi tampil begitu berwibawa, mempresentasikan rencana ekspansi mereka dengan kecerdasan yang memukau para hadirin.Kevin duduk di sampingnya, sesekali merangkul bahu Arumi atau menggenggam tangannya saat negosiasi mencapai titik krusial. Siapa pun yang melihat mereka akan menyangka bahwa mereka baru saja melewati malam pengantin yang paling romantis dalam sejarah. Arumi memainkan perannya dengan sangat mahir; ia tertawa pada lelucon Kevin dan menatap suaminya itu dengan binar kebanggaan yang meyakinkan.Namun, setiap kali Kevin menyentuhnya, Arumi merasakan sebuah getaran yang hampa. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam sebuah sangkar emas yang sangat kokoh. Kevin mencintainya dengan cara memiliki, cara yang sama seperti Kevin mencintai koleksi mobil mewah atau saham perusahaannya.Selesai per
Malam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.
Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger







