LOGINPara petugas mulai menggeledah setiap sudut. Mereka memeriksa lemari, memotret interior rumah, dan mencatat nomor mesin mobil-mobil di garasi. Pak Darman hanya bisa berdiri gemetar saat beberapa petugas mendekatinya untuk menanyakan identitas dan latar belakangnya.
"Bapak Darman, Bapak benar-benar sadar telah menikahi Arumi Atmodjo semalam?" tanya salah satu penyidik dengan nada penuh selidik. Pak Darman melirik ke arah Arumi yang menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh paksaan. "I-iya, Pak. Saya sadar. Saya suaminya." Mendengar pengakuan langsung dari mulut Pak Darman, Kevin merasa dunianya runtuh. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kevin berbalik arah, berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan debu yang berterbangan di halaman, meninggalkan Arumi yang hancur di tengah pemeriksaan aset yang terasa seperti penggeledahan harga diri. Arumi jatuh terduduk di anak tangga teras. Di depannya, petugas memasang garis kuning di beberapa bagian rumah yang tidak bisa diproteksi oleh dokumen Pak Darman. Dan di sudut sana, ia melihat suaminya—pria tua miskin itu—menatapnya dengan rasa iba yang justru membuat Arumi merasa lebih hina daripada kematian itu sendiri. Menjelang sore, deru mobil para petugas kejaksaan akhirnya menghilang dari halaman rumah. Suasana yang tadinya bising dengan suara sepatu lars dan perintah-perintah kaku para penyidik, kini berganti menjadi keheningan yang mencekam. Namun, rumah itu bukan lagi rumah yang sama. Beberapa bagian ruangan kini dipasangi garis kuning "Dalam Pengawasan Negara", dan beberapa mobil mewah di garasi telah dibawa pergi menggunakan truk derek. Hanya bangunan utama dan beberapa aset inti yang berhasil selamat, semata-mata karena dokumen pernikahan Arumi dan Pak Darman yang diajukan Pak Hendra tadi siang dianggap sah secara administratif untuk sementara waktu. Arumi berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan. Kursi-kursi bergeser, laci-laci meja kerja ayahnya terbuka lebar, dan debu seolah menari-nari di bawah lampu kristal yang tidak lagi terasa mewah. Ia menatap tangannya yang kosong; cincin pertunangan dari Kevin masih melingkar di sana, namun rasanya sudah tidak memiliki arti lagi. "Mereka sudah pergi, Non," suara parau itu memecah keheningan. Arumi menoleh dan melihat Pak Darman berdiri di ambang pintu dapur. Pria tua itu tampak sangat lelah. Bahunya yang biasa membungkuk kini terlihat semakin jatuh, seolah memikul beban seluruh atap rumah itu. Ia tidak lagi memegang gunting rumput, melainkan memegang buku nikah berwarna cokelat yang diberikan petugas tadi. "Jangan panggil aku 'Non'!" bentak Arumi tiba-tiba, meluapkan seluruh emosi yang ia tahan sejak pagi. "Kamu tahu kan, di atas kertas itu, kamu suamiku? Tapi jangan pernah berani-berani bicara padaku seolah kita setara!" Pak Darman terdiam. Ia meletakkan buku nikah itu di atas meja kayu yang sudah disegel sebagian. "Saya tidak pernah minta ini, Non... eh, Arumi. Saya cuma orang tua yang mau mati dengan tenang. Tapi Tuan Broto yang memohon. Saya hanya ingin membantu agar kalian tidak tidur di jalanan." "Membantu?" Arumi tertawa histeris, air matanya menetes lagi. "Kamu menghancurkan hidupku! Kevin pergi! Dia menganggapku wanita murahan yang menikah dengan pembantunya sendiri demi harta! Apa itu yang kamu sebut membantu?" Di saat yang sama, Pak Broto keluar dari kamarnya. Wajahnya tampak menua sepuluh tahun hanya dalam sehari. Ia berjalan gontai menuju sofa dan duduk dengan lemas. "Sudahlah, Arumi... jangan salahkan Darman," ucap Pak Broto pelan. "Hendra baru saja menelepon. Jaksa masih akan menyelidiki validitas pernikahan kalian. Mereka curiga ini hanya taktik. Artinya, kalian harus benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri di dalam rumah ini. Jika mereka datang melakukan sidak dan melihat kalian tinggal di kamar terpisah atau tidak berinteraksi, semua aset ini akan langsung disita tanpa ampun." Arumi membelalakkan matanya. "Maksud Papa? Aku harus tinggal satu kamar dengan dia? Papa sudah gila!" "Bukan satu ranjang, Arumi. Tapi kalian harus berada dalam satu area pribadi. Kita harus meyakinkan publik dan hukum bahwa ini pernikahan nyata," lanjut Pak Broto tanpa berani menatap mata anaknya. Arumi merasa mual yang luar biasa. Ia membayangkan bau minyak kayu putih dan pakaian kusam Pak Darman ada di dalam kamar pribadinya yang harum bunga melati dan parfum Prancis. Ia menatap Pak Darman dengan rasa jijik yang tak tertutupi. Sementara itu, Pak Darman sendiri tampak tidak nyaman. "Tuan, saya... saya lebih baik tidur di gudang seperti biasa. Saya tidak berani masuk ke kamar Non Arumi. Itu tidak pantas." "Kau harus berani, Darman! Ini perintah!" bentak Pak Broto dengan sisa-sisa wibawanya yang retak. "Hidup kami ada di tanganmu sekarang. Kalau kau gagal berperan, kita semua hancur!" Pak Darman hanya bisa menunduk pasrah. Ia merasa seperti tawanan di dalam rumah tempatnya bekerja selama puluhan tahun. Di sisi lain, Arumi berjalan menuju jendela besar, melihat ke arah pintu gerbang. Ia berharap mobil Kevin akan kembali, berharap Kevin akan datang dan menyelamatkannya dari mimpi buruk ini. Namun, yang ia lihat hanyalah garis kuning yang melintang di pagar, dan bayangan dirinya sendiri yang kini terperangkap dalam sebuah ikatan rahasia dengan pria yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari sekadar pemotong rumput. "Pemeriksaan memang selesai," bisik Arumi pada pantulan dirinya di kaca. "Tapi penjara yang sebenarnya baru saja dimulai." Malam mulai turun, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arumi merasa takut masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di sana, di depan pintu kamarnya, Pak Darman berdiri ragu-ragu dengan tas kecil berisi pakaian usangnya, menunggu instruksi selanjutnya dalam sandiwara yang paling menyakitkan ini. Malam kian larut, namun suasana di dalam kamar utama Arumi terasa lebih dingin dari es. Kamar yang biasanya menjadi tempat paling nyaman bagi Arumi—dengan aroma lilin terapi dan seprai sutra yang lembut—kini terasa seperti sel penjara yang menyesakkan."Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sud
Kehidupan Arumi sekarang sudah sangat teratur dan sibuk setiap hari. Dia bangun pagi saat matahari belum terlalu terik lalu menyiapkan keperluan Kevin sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Meskipun di rumah mereka punya banyak asisten rumah tangga Arumi tetap turun ke dapur untuk memastikan kopi Kevin tidak terlalu manis dan rotinya dibakar dengan pas.Pagi itu Kevin turun ke ruang makan sambil merapikan dasinya. Arumi menghampiri Kevin dan membantu merapikan kerah kemejanya supaya terlihat lebih gagah."Terima kasih Arumi kamu selalu tahu cara membuat penampilanku sempurna" kata Kevin sambil tersenyum puas melihat bayangannya di kaca ruang makan."Itu sudah jadi tugas aku Kevin kan kita harus selalu terlihat kompak di depan orang banyak" jawab Arumi pelan sambil memberikan tas kerja Kevin."Nanti malam jangan lupa ya kita ada undangan makan malam dengan kolega dari Singapura kamu pakai gaun yang kita beli di Paris kemarin saja" ujar Kevin lag
Siang harinya, mereka tiba di gedung perkantoran mewah di kawasan kota. Di hadapan para investor Eropa, Arumi dan Kevin adalah definisi dari "Pasangan Emas". Arumi tampil begitu berwibawa, mempresentasikan rencana ekspansi mereka dengan kecerdasan yang memukau para hadirin.Kevin duduk di sampingnya, sesekali merangkul bahu Arumi atau menggenggam tangannya saat negosiasi mencapai titik krusial. Siapa pun yang melihat mereka akan menyangka bahwa mereka baru saja melewati malam pengantin yang paling romantis dalam sejarah. Arumi memainkan perannya dengan sangat mahir; ia tertawa pada lelucon Kevin dan menatap suaminya itu dengan binar kebanggaan yang meyakinkan.Namun, setiap kali Kevin menyentuhnya, Arumi merasakan sebuah getaran yang hampa. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam sebuah sangkar emas yang sangat kokoh. Kevin mencintainya dengan cara memiliki, cara yang sama seperti Kevin mencintai koleksi mobil mewah atau saham perusahaannya.Selesai per
Malam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.
Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger
Hari yang dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar Atmodjo dan Adiwangsa akhirnya tiba. Langit Jakarta seolah ikut merayakan, memberikan cuaca cerah yang menyempurnakan suasana di ballroom hotel bintang lima yang telah disulap menjadi taman firdaus bernuansa putih dan emas. Wangi bunga melati dan mawar putih merebak, menyambut para tamu terhormat yang datang untuk menyaksikan penyatuan dua imperium bisnis terbesar di negeri ini.Namun, di balik kemegahan itu, ada sebuah keharuan mendalam yang menyelimuti hati setiap orang yang mengetahui perjalanan panjang sang Putri Mahkota. Pintu besar ballroom terbuka perlahan. Musik instrumen yang syahdu mulai mengalun, mengiringi langkah Arumi yang didampingi oleh Pak Broto. Arumi tampak sangat memukau dalam balutan kebaya akad nikah berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menyapu lantai. Cadar tipis yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.Pak Broto menggenggam tangan pu







