แชร์

Tertekan

ผู้เขียน: Gudet
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-02 22:01:56

Para petugas mulai menggeledah setiap sudut. Mereka memeriksa lemari, memotret interior rumah, dan mencatat nomor mesin mobil-mobil di garasi. Pak Darman hanya bisa berdiri gemetar saat beberapa petugas mendekatinya untuk menanyakan identitas dan latar belakangnya.

"Bapak Darman, Bapak benar-benar sadar telah menikahi Arumi Atmodjo semalam?" tanya salah satu penyidik dengan nada penuh selidik.

Pak Darman melirik ke arah Arumi yang menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh paksaan. "I-iya, Pak. Saya sadar. Saya suaminya."

Mendengar pengakuan langsung dari mulut Pak Darman, Kevin merasa dunianya runtuh. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kevin berbalik arah, berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan debu yang berterbangan di halaman, meninggalkan Arumi yang hancur di tengah pemeriksaan aset yang terasa seperti penggeledahan harga diri.

Arumi jatuh terduduk di anak tangga teras. Di depannya, petugas memasang garis kuning di beberapa bagian rumah yang tidak bisa diproteksi oleh dokumen Pak Darman. Dan di sudut sana, ia melihat suaminya—pria tua miskin itu—menatapnya dengan rasa iba yang justru membuat Arumi merasa lebih hina daripada kematian itu sendiri.

Menjelang sore, deru mobil para petugas kejaksaan akhirnya menghilang dari halaman rumah. Suasana yang tadinya bising dengan suara sepatu lars dan perintah-perintah kaku para penyidik, kini berganti menjadi keheningan yang mencekam. Namun, rumah itu bukan lagi rumah yang sama. Beberapa bagian ruangan kini dipasangi garis kuning "Dalam Pengawasan Negara", dan beberapa mobil mewah di garasi telah dibawa pergi menggunakan truk derek.

Hanya bangunan utama dan beberapa aset inti yang berhasil selamat, semata-mata karena dokumen pernikahan Arumi dan Pak Darman yang diajukan Pak Hendra tadi siang dianggap sah secara administratif untuk sementara waktu.

Arumi berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan. Kursi-kursi bergeser, laci-laci meja kerja ayahnya terbuka lebar, dan debu seolah menari-nari di bawah lampu kristal yang tidak lagi terasa mewah. Ia menatap tangannya yang kosong; cincin pertunangan dari Kevin masih melingkar di sana, namun rasanya sudah tidak memiliki arti lagi.

"Mereka sudah pergi, Non," suara parau itu memecah keheningan.

Arumi menoleh dan melihat Pak Darman berdiri di ambang pintu dapur. Pria tua itu tampak sangat lelah. Bahunya yang biasa membungkuk kini terlihat semakin jatuh, seolah memikul beban seluruh atap rumah itu. Ia tidak lagi memegang gunting rumput, melainkan memegang buku nikah berwarna cokelat yang diberikan petugas tadi.

"Jangan panggil aku 'Non'!" bentak Arumi tiba-tiba, meluapkan seluruh emosi yang ia tahan sejak pagi. "Kamu tahu kan, di atas kertas itu, kamu suamiku? Tapi jangan pernah berani-berani bicara padaku seolah kita setara!"

Pak Darman terdiam. Ia meletakkan buku nikah itu di atas meja kayu yang sudah disegel sebagian. "Saya tidak pernah minta ini, Non... eh, Arumi. Saya cuma orang tua yang mau mati dengan tenang. Tapi Tuan Broto yang memohon. Saya hanya ingin membantu agar kalian tidak tidur di jalanan."

"Membantu?" Arumi tertawa histeris, air matanya menetes lagi. "Kamu menghancurkan hidupku! Kevin pergi! Dia menganggapku wanita murahan yang menikah dengan pembantunya sendiri demi harta! Apa itu yang kamu sebut membantu?"

Di saat yang sama, Pak Broto keluar dari kamarnya. Wajahnya tampak menua sepuluh tahun hanya dalam sehari. Ia berjalan gontai menuju sofa dan duduk dengan lemas.

"Sudahlah, Arumi... jangan salahkan Darman," ucap Pak Broto pelan. "Hendra baru saja menelepon. Jaksa masih akan menyelidiki validitas pernikahan kalian. Mereka curiga ini hanya taktik. Artinya, kalian harus benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri di dalam rumah ini. Jika mereka datang melakukan sidak dan melihat kalian tinggal di kamar terpisah atau tidak berinteraksi, semua aset ini akan langsung disita tanpa ampun."

Arumi membelalakkan matanya. "Maksud Papa? Aku harus tinggal satu kamar dengan dia? Papa sudah gila!"

"Bukan satu ranjang, Arumi. Tapi kalian harus berada dalam satu area pribadi. Kita harus meyakinkan publik dan hukum bahwa ini pernikahan nyata," lanjut Pak Broto tanpa berani menatap mata anaknya.

Arumi merasa mual yang luar biasa. Ia membayangkan bau minyak kayu putih dan pakaian kusam Pak Darman ada di dalam kamar pribadinya yang harum bunga melati dan parfum Prancis. Ia menatap Pak Darman dengan rasa jijik yang tak tertutupi.

Sementara itu, Pak Darman sendiri tampak tidak nyaman. "Tuan, saya... saya lebih baik tidur di gudang seperti biasa. Saya tidak berani masuk ke kamar Non Arumi. Itu tidak pantas."

"Kau harus berani, Darman! Ini perintah!" bentak Pak Broto dengan sisa-sisa wibawanya yang retak. "Hidup kami ada di tanganmu sekarang. Kalau kau gagal berperan, kita semua hancur!"

Pak Darman hanya bisa menunduk pasrah. Ia merasa seperti tawanan di dalam rumah tempatnya bekerja selama puluhan tahun. Di sisi lain, Arumi berjalan menuju jendela besar, melihat ke arah pintu gerbang. Ia berharap mobil Kevin akan kembali, berharap Kevin akan datang dan menyelamatkannya dari mimpi buruk ini.

Namun, yang ia lihat hanyalah garis kuning yang melintang di pagar, dan bayangan dirinya sendiri yang kini terperangkap dalam sebuah ikatan rahasia dengan pria yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari sekadar pemotong rumput.

"Pemeriksaan memang selesai," bisik Arumi pada pantulan dirinya di kaca. "Tapi penjara yang sebenarnya baru saja dimulai."

Malam mulai turun, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arumi merasa takut masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di sana, di depan pintu kamarnya, Pak Darman berdiri ragu-ragu dengan tas kecil berisi pakaian usangnya, menunggu instruksi selanjutnya dalam sandiwara yang paling menyakitkan ini.

Malam kian larut, namun suasana di dalam kamar utama Arumi terasa lebih dingin dari es. Kamar yang biasanya menjadi tempat paling nyaman bagi Arumi—dengan aroma lilin terapi dan seprai sutra yang lembut—kini terasa seperti sel penjara yang menyesakkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Menutupi Semua

    "Rapatnya selesai lebih cepat karena aku menekan mereka habis-habisan. Aku merindukanmu, jadi aku langsung pesan tiket pesawat pertama untuk pulang," kata Kevin dengan nada yang tidak biasanya, ia tampak sangat bersemangat.Malam itu, Kevin bersikap sangat berbeda. Dia yang biasanya langsung sibuk dengan urusan kantor, kali ini justru terus menempel pada Arumi. Saat Arumi hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Kevin mengikutinya dari belakang."Arumi, biarkan pelayan saja yang mengurus pakaian kotor itu. Sini, duduklah sebentar bersamaku," pinta Kevin sambil menarik tangan Arumi ke arah tempat tidur.Kevin merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi, sebuah gerakan manja yang sangat jarang ia lakukan. Arumi terpaksa mengusap rambut suaminya dengan lembut, meskipun pikirannya masih tertinggal di teras rumah Pak Darman. Ia merasa sangat canggung. Hanya beberapa jam yang lalu ia bersandar di bahu pria tua di desa, dan sekarang suaminya yang sah sedang mencari perhatian di pangku

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kembali ke Kota

    "Terima kasih untuk teh dan ceritanya, Pak. Saya merasa jauh lebih baik sekarang," kata Arumi.Pak Darman mengantar Arumi sampai ke depan pagar kayu. Tidak ada lagi pelukan yang penuh nafsu, hanya sebuah jabat tangan erat yang penuh rasa hormat. Namun, saat Arumi hendak melangkah pergi, Pak Darman membisikkan sesuatu yang membuat Arumi tertegun."Jaga diri baik-baik, Non. Akal sehat Non adalah pelindung Non, tapi hati Non adalah penunjuk jalan. Jangan biarkan orang lain memadamkan cahaya di mata Non."Arumi mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya. Dia merasa tenang, namun ketenangan itu sedikit terusik saat dia melihat sebuah mobil hitam misterius yang tadinya terparkir di ujung jalan kini mulai menyalakan lampu mesinnya saat mobil Arumi mulai bergerak.Arumi melangkah perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya di bawah pohon besar. Sebelum membuka pintu, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah kecil itu. Ia melihat Pak Darman masih berdiri di depa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Obrolan yang Dalam

    Arumi tersentak kecil. Bayangan wajah Kevin yang sedang bekerja di Surabaya, bayangan statusnya sebagai Nyonya Adiwangsa, dan kenyataan bahwa kontrak pernikahan mereka sudah lama berakhir, mendadak muncul seperti pagar yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang mereka bukan lagi suami istri, bahkan secara rahasia sekalipun. Apa yang sedang dia lakukan ini adalah sebuah pengkhianatan yang sangat nyata."Pak... tunggu sebentar," bisik Arumi sambil memegang tangan Pak Darman yang mulai meraba ke arah atas.Pak Darman menghentikan gerakannya. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Arumi dengan tatapan yang penuh tanya namun tetap sabar. "Ada apa, Non? Apa Bapak terlalu kasar?""Bukan, Pak. Bukan itu," Arumi membalikkan badan, menatap Pak Darman dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya... saya mendadak takut. Kita sekarang bukan siapa-siapa lagi, Pak. Saya istri orang. Saya takut kalau saya kebablasan, saya tidak akan bisa kembali lagi ke hidup saya yang dulu."Arumi mencoba merapikan pakaiannya

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Menuntut

    Arumi masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya. Dia mengambil ponsel rahasianya dengan tangan gemetar. Dia sangat ingin menelepon Pak Darman, hanya untuk mendengar suara parau yang menenangkan itu. Arumi meraba perut dan dadanya sendiri, merasakan sensasi panas yang tidak tersalurkan. Dia mengingat betapa nikmatnya saat Pak Darman bergerak cepat di dalam dirinya, memberikan rasa sesak yang membahagiakan."Kenapa hidupku jadi begini," bisik Arumi sambil menahan tangis.Dia merasa tersiksa. Di satu sisi dia adalah istri terhormat yang harus menjaga martabat, namun di sisi lain, dia adalah wanita yang sedang kelaparan akan cinta yang nyata. Kehidupan kota yang gemerlap ini tidak bisa memberikan kehangatan yang ia dapatkan dari pelukan seorang pria tua di pinggiran desa. Gairah yang menumpuk itu kini menjadi beban yang sangat berat bagi Arumi.Malam itu, Arumi tidur di samping Kevin yang sudah mendengkur halus. Di dalam mimpinya, dia kembali ke kamar kayu di desa. Dia merasakan tangan Pa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Semakin Tinggi

    Setiap malam setelah pulang dari kantor, Kevin biasanya langsung sibuk dengan tabletnya atau menonton berita ekonomi di ruang tengah. Dia jarang bertanya tentang bagaimana perasaan Arumi, atau apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia merasa sudah cukup menjadi suami yang baik dengan memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang."Arumi, besok kita harus hadir di pembukaan galeri seni milik Pak Surya. Pastikan kamu pakai kalung berlian yang baru aku beli ya," ujar Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya."Iya Kevin, aku sudah siapkan," jawab Arumi singkat dari balik pintu kamar mandi.Lama Arumi di kamar mandi mulai menjadi rutinitas baru. Di sana, di balik pintu yang terkunci, Arumi duduk di tepi bathtub sambil menggenggam ponsel kecil yang ia sembunyikan di dalam kotak kosmetik. Dia baru saja mengirim paket berisi ponsel serupa ke desa untuk Pak Darman lewat kurir rahasia. Arumi menunggu dengan jantung berdebar sampai sebuah pesan singkat masuk."Non, ponselnya sud

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kerinduan

    "Arumi, kenapa dari tadi kamu terus memegang lehermu? Dan kenapa kamu terlihat sedikit pincang saat berjalan?" tanya Kevin dengan nada yang mulai menyelidik.Arumi membeku sejenak. Ia sadar bahwa tubuhnya memang masih terasa sedikit pegal dan perih akibat gerakan cepat Pak Darman yang luar biasa tadi pagi."Oh, ini... sepertinya aku salah posisi tidur saat di perjalanan tadi, Kevin. Mobilnya kan sempat mogok dan aku harus menunggu lama di tempat yang kurang nyaman," jawab Arumi cepat dengan alasan yang sudah ia siapkan.Kevin mengangguk pelan, meskipun matanya masih menatap Arumi dengan aneh. "Lain kali kalau mobil bermasalah, langsung telepon aku saja agar aku kirim helikopter. Aku tidak mau istriku harus menderita di tempat sembarangan."Malam itu, saat mereka sudah berada di kamar tidur dan Kevin mencoba untuk mendekati Arumi untuk bermesraan, Arumi segera berpura-pura mengantuk dan membelakangi Kevin. Ia merasa tidak sanggup jika harus disentuh Kevin saat ingatan tentang penyatuan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status