공유

Mahkota Darah sang PHOENIX
Mahkota Darah sang PHOENIX
작가: Aksarajjawi

1. Ramalan Chi Yan

작가: Aksarajjawi
last update 최신 업데이트: 2025-11-17 21:06:51

Zhu Wuhuo, Kaisar Selatan Istana Phoenix Api itu, mondar-mandir di Kuil Api Agung. Khawatir menunggu hasil ramalan Chi Yan. Berharap dan juga cemas. Apakah akan ada sesuatu yang bisa dirubah? Benaknya bertanya-tanya.

Namun, petir menggelegar. Membuat Istana Phoenix Api bergetar. Seluruh istana gempar, sang Kaisar Phoenix mendekat pada sang Pendeta. Membuat Kaisar terburu-buru bertanya dengan nada cemasnya, "Chi Yan. Kenapa aku tidak mendapatkan pencerahan dari jawaban langit? Kenapa mereka memarahi istanaku?" tanya Zhu Wuhuo, dengan kegelisahan yang menggerogoti hati kecilnya.

Pendeta Kuil Api Agung, Chi Yan, meringkuk. Bersujud dengan khidmat kepada sang Kaisar, dan kemudian menatap dengan lekat kepada sang kaisar. "Yang Mulia! Langit telah menjawab dengan jujur. Tidak ada lagi yang bisa menjadi alternatif untuk menghalau pengorbanan Putri Zhu Linglong. Jika tidak terjadi, maka dunia ini akan-"

"Jangan dilanjutkan pendeta. Pergilah dari hadapanku. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi!" titah Kaisar sambil terduduk, marah. Dia memijat pelipisnya sendiri. Tanpa peduli dengan Chi Yan yang sudah menjauh. Sudah frustasi dengan ramalan yang dikatakan oleh Chi Yan.

Zhu Wuhuo juga membubarkan semua keluarga kekaisaran yang ada ketika menyaksikan ramalan langit dari Chi Yan itu. Hingga menyisakan dia sendirian di Kuil Api Agung itu. Mendadak air matanya luruh, membengkakkan gejolak sakit di hatinya karena teringat akan masa dikala Zhu Yan masih di sisinya. Permaisurinya yang cantik. Yang selalu dia rindukan. "Zhu Yan... apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan putri kita dari ramalan pengorbanan ini?"

🖇️🪶

Setiap seribu tahun sekali, Kekuasaan Langit tertinggi Benua Tianxu menurunkan Dewa Kecil—roh binatang spiritual— untuk menjalani ujian agar layak mendapatkan tempat sebagai Dewa Abadi di kekuasaan Langit tertinggi.

Kali ini, Istana Phoenix Api mendapatkan gilirannya. Zhu Que—Burung Phoniex Merah Delima, Dewa Kecil Phoenix Api— diturunkan dalam tubuh seorang Putri dari Kerajaan Phoenix Api.

Sayangnya, Zhu Que masuk ke tubuh yang diramalkan oleh Pendeta Agung di Kuil Api, Chi Yan—bahwa hidupnya harus dikorbankan saat dia berusia 18 tahun untuk menghindarkan Benua Tianxu dari bencana ramalan alam Langit.

Gadis berambut hitam panjang dengan mahkota phoenix api kecil di rambutnya, kini sudah tumbuh dewasa setelah delapan belas tahun mendekam di Paviliun Chi Yan Dian tanpa berani untuk menampakkan diri keluar dari sana. Dia selalu menghadapi fakta bahwa dunia memang merindukan kematian dan darahnya.

Wajah cantiknya lugu, dia tersenyum sendu saat melihat kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga indah dari taman di halaman Paviliun Chi Yan Dian. Hanya binatang-binatang fana itu yang selalu membuat Zhu Linglong merasa punya kehidupan.

Zhu Linglong, bisa melihat altar megah itu dari kamarnya. Di balik jendela, apabila dia membuka tirainya. Altar megah, yang akan menjadi kuburan jiwa nya nanti. Setiap dari dia menatap altar itu sambil membayangkan detik-detik terakhirnya.

Pikiran Zhu Linglong tertegun, dia teringat oleh salah satu perkataan seorang pelayan. "Suatu saat, altar itu akan menjadi tempat pengorbananmu Tuan Putri. Kami pasti akan merindukanmu selalu."

Zhu Linglong mengingat dengan jelas, pelayan itu kemudian mati di tangan Prajurit Kerajaan karena telah membocorkan hal itu kepadanya.

Tapi, apa gunanya pelayan itu mati? Zhu Linglong sudah terlanjur tahu, bahwa dalam beberapa hari lagi dia akan berulang tahun. Menggenapkan usia 18 tahun nya. Agar bisa mengorbankan diri kepada langit, demi menyelamatkan dunia. Setiap mengingatnya, hatinya bergetar. Sedih kala menghadapi fakta bahwa dia memang hidup hanya untuk mati dan berkorban. Tanpa sadar, tetes-tetes air matanya membasahi pipi kurusnya.

"Jangan menangis seperti itu, adik Linglong."

Ucapan dari seorang pemuda dengan wajah putih yang sedikit tampan itu, membuat pikiran Zhu Linglong pecah. Dia menolehkan wajahnya, dan mengusap kasar pipi untuk menghapus air matanya, "Kakak Qingyun?" panggilnya, menyebut nama sepupunya—anak adik Zhu Wuhuo—.

"Hai, apa kabar adikku? Lihatlah, aku bawakan Arak Bunga Pepaya dari Lembah Kelereng Suci. Kamu tidak mau coba?" Zhu Qingyun, memberikan satu kendi kecil kepada Zhu Linglong. Dan ikut duduk di tangga pintu masuk Paviliun Chi Yan Dian bersama Zhu Linglong.

"Arak Bunga Pepaya?" ulang Zhu Linglong, bertanya.

Zhu Qingyun tersenyum lebar. Dia memperhatikan binar mata Zhu Linglong yang membulat. Nampak kagum dengam barang yang dia bawa.

"Kau minumlah. Arak ini susah didapatkan. Demi mendapatkannya, aku harus banyak bertarung dengan hewan-hewan iblis," terang Zhu Qingyun, seraya tersenyum bangga.

Zhu Linglong melirik Zhu Qingyun sekilas. Wajah sepupunya itu nampak bangga sekali. Membuatnya tersenyum singkat.

Sayangnya, senyuman itu hanya bertahan sangat singkat. Berganti lagi dengan raut wajah sedih Zhu Linglong, yang kembali sadar akan sisa-sisa hidupnya yang tidak lagi lama.

Membuat Zhu Qingyun ikut merasakan sedih. "Kenapa senyumanmu hanya bertahan sedetik saja? Kau tidak menghargai jerih payah kakakmu ini, Linglong?"

Zhu Linglong menggeleng pelan, "mana mungkin aku tidak menghargai jerih payah Kakak Qingyun. Aku hanya merasa sayang pada kendi ini."

"Kalau kendi itu membuatmu sedih, maka buang saja! Aku tak mau melihatmu sedih, Linglong."

Perkataan tulus Zhu Qingyun mengundang atensi dari Zhu Linglong. Dia menoleh sepenuhnya, "Kakak Qingyun? Kira-kira berapa lama lagi aku akan berulang tahun?"

Pertanyaan itu, membuat Zhu Qingyun tertunduk. Dia tak mau menjawabnya. Lantas mengepalkan tangannya dengan erat.

"Kakak? Kenapa Kakak tidak mau menjawab?" Zhu Linglong berusaha menggali. Agar sepupunya itu, mau menjawabnya, dan berhenti pura-pura menghiburnya.

Namun, Zhu Qingyun tetap tak bisa mengangkat kepalanya. Hatinya terkulai lemah, dia tak bisa sama sekali menjawab pertanyaan yang sangat menyakitkan itu. Sama saja dengan bunuh diri bagi Zhu Qingyun.

Melihat kebimbangan Zhu Qingyun, Zhu Linglong menarik senyumnya. Berusaha berbicara dengan aura kecantikannya, "Kakak Qingyun. Hidupku sudah dihitung. Setiap aku berulang tahun, aku selalu menghitung sisa waktuku di dunia ini. Dan juga... ketika aku berulang tahun, kau akan selalu membawakan arak baru. Tapi, kali ini... arak ini adalah persembahan terakhirku, Kak. Tolong tuangkan di saat aku meleburkan diri di api altar pengorbanan."

"Tidak! Tidak akan!"

Meskipun Zhu Qingyun mengamuk, berusaha menolak segala fakta. Namun, Zhu Linglong tetap tersenyum. Dia menarik Zhu Qingyun dalam pelukannya kemudian memejamkan mata, agar mereka sama-sama lupa akan sisa waktu yang dimiliki oleh Zhu Linglong.

Sedang, pada dimensi alam bawah sadar Zhu Linglong. Dewa Kecil Phoenix Api, Zhu Que si burung Phoenix Merah Delima yang bersemayam di dalam jantung Zhu Linglong mencebik kesal. Menunggu dengan tak sabar, "kapan aku diizinkan untuk mengeluarkan kekuatan agar Zhu Linglong ini tak bisa membunuhku bersama dengan tubuh lemahnya ini?!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
Aksarajjawi
wahh terima kasih yaa
goodnovel comment avatar
ArenLucu
terima kasih ya, ikutin terus cerita ini luv
goodnovel comment avatar
Lilis
hai aku udah mampir
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   108. Kosmik Semesta

    "Tenangkan dirimu Zhu Linglong." Kalimat yang keluar dari Zhu Que, bahkan lebih tenang daripada kata 'tenang' itu sendiri. Emosi Zhu Linglong semula, bak diguyur oleh salju. Suara Zhu Que merendahkan egonya secara singkat. Gadis itu menambah langkah lagi, maju. Kali ini memandang penuh saksama terhadap Zhu Que. "Bagaimana aku bisa tenang, Zhu Que? Kau memintaku untuk mundur dari hal yang sedang mulai kuperjuangkan," tanggap Zhu Linglong. Matanya melemparkan tatap ketulusan. "Bagaimana jika akan ada resiko pembongkaran identitas bahkan sebelum kau sempat membuka siasat ramalan palsu, Zhu Linglong?" tanya Zhu Que. Dewa Kecil berwujud Phoenix Merah Api itu kini mulai memberikan rasa nyaman dalam nada bicaranya. Seolah, memahami akan dilema yang didera hati tubuh pemiliknya. "Aku sudah melakukan penyamaran seperti ini." Zhu Linglong memutar tubuhnya sendiri. Sampai hanfu yang dikenakannya mengembang saat gerakan berputarnya cepat menyerok angin. "Lihatlah," kata Zhu Lin

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   107. Tidak Sesederhana Itu

    "Ada kesalahan besar yang telah terjadi di sini Zhu Linglong. Baik kau dan Cang Jue telah melanggarnya. Aku mesti bicara dengan gamblang padamu. Untuk itu, biarkan aku berdua denganmu, jangan ada Cang Jue atau pun orang lain," balas Zhu Que. Suara Dewa Kecil itu semakin menghanyutkan. Selain gelisah, juga tampak dingin. Tidak seperti saat biasanya burung Phoenix itu berbicara dengan Zhu Linglong seperti biasanya. "Sungguh? Kau benar benar butuh waktu hanya berdua saja?" "Ya. Sampaikan kepada Cang Jue. Ini terkait hal penting akan nyawamu juga. Anak itu pasti mau menurut." Sekarang juga, Zhu Linglong tak lagi bisa bersandiwara. Meskipun harus memecah rasa tenang di hati Cang Jue, tetapi hal ini tampaknya cukup genting. Apalagi, petunjuk datang dari Zhu Que yang akhirnya bangun setelah sekian lama. "Cang Jue," panggil Zhu Linglong, lagi-lagi gadis itu menghentikan langkah. Di tengah ramainya orang-orang berlalu lalang di jalanan kota ini. "Kenapa, Zhu Linglong?" Cang Jue mengu

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   106. Suatu Hal

    Xiao Yuan memperhatikan kedua orang dewasa itu bergantian. Ada akal yang terpendam di dalam hatinya. "Memang, sebuah fakta harus diceritakan kepada dua pendekar ini," batinnya berbicara. "Pertunjukan Musim Festival Tahunan akan dihelat sekitar tiga hari lagi, Xiao Que. Biasanya para bandit sewaan kerajaan Barat akan menghabiskan waktu di rumah bordil. Setelahnya, mereka akan datang ke kediaman ini. Dengan tujuan merampas gulungan yang sama seperti yang kalian incar," jelas Xiao Yuan, matanya serius. Bagian sisi tajam milik Cang Jue kontan terpancing. Laki-laki itu mendalamkan arah pandang matanya. Tertuju pusat pada Xiao Yuan. "Jadi, apa mereka membawa informasi atau sedikit petunjuk?" "Bisa saja. Bagaimanapun, mereka itu orang pelarian yang dipenjara namun dibebaskan hanya untuk menyerang kami. Keluarga Kerajaan mengatur seolah mereka tak punya andil, padahal para bandit itu adalah suruhan mereka." Perawakan Xiao Yuan terasa semakin tegang. Anak kecil itu tampak lebih tua daripa

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   105. Jasa dibalas jasa!

    "Apa yang coba sedang kau bicarakan Xiao Yuan?" Zhu Linglong berdiri dari duduknya. Memberikan perhatian yang lebih penuh untuk melihat presensi Xiao Yuan sendiri. Xiao Yuan memandang Zhu Linglong. Dia menatap wanita yang mirip dengan kakaknya itu sangat saksama. Lamat-lamat tanpa sekalipun nyaris gak berkedip. "Setiap pendekar yang datang selalu mengincar gulungan itu, Nona Xiao Long," ucapnya, jujur. Mengutarakan pengalaman selama dia menampung banyak pendekar di pekarangan biliknya ini. "Apa benda itu memang sangat dicari oleh para pendekar ketika mereka datang kemari?" tanya Cang Jue, ikut berdiri di sebelah Zhu Linglong. Xiao Yuan mengangguk. "Tetua mungkin tidak terlalu peka. Tapi, aku selalu bisa membaca gelagat orang." Pikiran Cang Jue bersuara, "anak ini... intuisinya tinggi. Apakah, dia memang sudah melatih teknik intuisi? Tapi, dia baru sekecil ini?" "Tapi kalian berdua tenang saja. Itu bukan hal jahat di kediaman ini. Nanti, selagi kalian membantu, aku akan membiarkan

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   104. Xiao Yuan

    Xiao Guanying mengerutkan dahinya. Mengatur napasnya sendiri. Memikirkan dengan pekat. Apakah benar dia memang harus segera memberitahukan rahasia yang memang sengaja dia simpan selama ini? "Bagaimana Tuan Pemilik Rumah?" kata Zhu Linglong, dia bertanya dengan menekankan nada. Pria tua itu tercekat. Kontan menatap Cang Jue secara spontan. "Maaf. Sepertinya sekarang bukan saatnya aku menceritakan. Tetapi, dalam beberapa hari ke depan, mungkin ada serangan. Rahasia umum Sekte Ying di dunia persilatan pasti pendekar tidak ada yang tidak tahu. Selebihnya, aku belum bisa memberikan kalian penjelasan." Akhirnya, Xiao Guanying memilih untuk tetap menjaga rahasia itu sementara. Daripada langsung membeberkannya kepada pendekar yang saat ini masih terasa abu-abu secara identitas."Baiklah." Mau tak mau, Cang Jue mengiyakan. "Kalau begitu, terima kasih untuk telah menerima kami di kediaman kalian," ucap Cang Jue, setengah membungkukkan badannya.Xiao Guanying tertawa kecil. Menggaruk tengkukn

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   103. Di tangan Xiao Guanying

    Permintaan dari Xiao Guanying membuat Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang. Ada degup cepat yang mendera jantung mereka. Sedetik kemudian, mereka serentak untuk menatap Xiao Guanying. "Untuk itu. Tidak bisa, Tuan. Bagaimanapun, ini adalah identitas kami, jadi... memang harus seperti ini cara kami berpenampilan. Dengan menutup wajah, agar kami tidak dikenal dengan rupa. Tapi, cukup jasa kami yang dikenang." Cang Jue menatap lekat, memberikan penjelasan ringan itu kepada Xiao Guanying. Meskipun tampak kerutan di dahinya. Xiao Guanying memilih untuk mengakhiri itu dengan senyuman. "Baiklah, terkadang pendekar memang suka untuk merahasiakan identitas. Asalkan niat baik, rupa dan penampilan tidaklah penting," kata Xiao Guanying, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat rasa legah timbul di benak Cang Jue dan Zhu Linglong. Satu langkah penyusupan. Berhasil mereka tempuh. Dengan sangat mulus. "Lalu, di mana kiranya tempat tinggal untuk kami?" tanya Zhu Linglong, merebut per

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status