Partager

29. Terbangun.

Auteur: Aksarajjawi
last update Date de publication: 2025-11-28 01:08:39
Zhu Yixiao mengamati raut wajah adik sepupunya yang kini tertunduk sedih. Dirinya tidak pernah tahu apa saja yang terjadi di Istana Phoenix Api. Tapi yang pasti, Zhu Yixiao adalah salah satu yang tidak ingin Zhu Linglong dikorbankan.

"Mengapa bisa seperti itu, Linglong?" tanya Zhu Yixiao kemudian.

Zhu Linglong menoleh kepadanya. Memberikan seluruh perhatian dan pandang matanya. Tampak kegelisahan dan rasa takut yang samar. Namun wajahnya tetap cantik.

"Karena, ada etiket dari istana Phoeni
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   108. Kosmik Semesta

    "Tenangkan dirimu Zhu Linglong." Kalimat yang keluar dari Zhu Que, bahkan lebih tenang daripada kata 'tenang' itu sendiri. Emosi Zhu Linglong semula, bak diguyur oleh salju. Suara Zhu Que merendahkan egonya secara singkat. Gadis itu menambah langkah lagi, maju. Kali ini memandang penuh saksama terhadap Zhu Que. "Bagaimana aku bisa tenang, Zhu Que? Kau memintaku untuk mundur dari hal yang sedang mulai kuperjuangkan," tanggap Zhu Linglong. Matanya melemparkan tatap ketulusan. "Bagaimana jika akan ada resiko pembongkaran identitas bahkan sebelum kau sempat membuka siasat ramalan palsu, Zhu Linglong?" tanya Zhu Que. Dewa Kecil berwujud Phoenix Merah Api itu kini mulai memberikan rasa nyaman dalam nada bicaranya. Seolah, memahami akan dilema yang didera hati tubuh pemiliknya. "Aku sudah melakukan penyamaran seperti ini." Zhu Linglong memutar tubuhnya sendiri. Sampai hanfu yang dikenakannya mengembang saat gerakan berputarnya cepat menyerok angin. "Lihatlah," kata Zhu Lin

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   107. Tidak Sesederhana Itu

    "Ada kesalahan besar yang telah terjadi di sini Zhu Linglong. Baik kau dan Cang Jue telah melanggarnya. Aku mesti bicara dengan gamblang padamu. Untuk itu, biarkan aku berdua denganmu, jangan ada Cang Jue atau pun orang lain," balas Zhu Que. Suara Dewa Kecil itu semakin menghanyutkan. Selain gelisah, juga tampak dingin. Tidak seperti saat biasanya burung Phoenix itu berbicara dengan Zhu Linglong seperti biasanya. "Sungguh? Kau benar benar butuh waktu hanya berdua saja?" "Ya. Sampaikan kepada Cang Jue. Ini terkait hal penting akan nyawamu juga. Anak itu pasti mau menurut." Sekarang juga, Zhu Linglong tak lagi bisa bersandiwara. Meskipun harus memecah rasa tenang di hati Cang Jue, tetapi hal ini tampaknya cukup genting. Apalagi, petunjuk datang dari Zhu Que yang akhirnya bangun setelah sekian lama. "Cang Jue," panggil Zhu Linglong, lagi-lagi gadis itu menghentikan langkah. Di tengah ramainya orang-orang berlalu lalang di jalanan kota ini. "Kenapa, Zhu Linglong?" Cang Jue mengu

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   106. Suatu Hal

    Xiao Yuan memperhatikan kedua orang dewasa itu bergantian. Ada akal yang terpendam di dalam hatinya. "Memang, sebuah fakta harus diceritakan kepada dua pendekar ini," batinnya berbicara. "Pertunjukan Musim Festival Tahunan akan dihelat sekitar tiga hari lagi, Xiao Que. Biasanya para bandit sewaan kerajaan Barat akan menghabiskan waktu di rumah bordil. Setelahnya, mereka akan datang ke kediaman ini. Dengan tujuan merampas gulungan yang sama seperti yang kalian incar," jelas Xiao Yuan, matanya serius. Bagian sisi tajam milik Cang Jue kontan terpancing. Laki-laki itu mendalamkan arah pandang matanya. Tertuju pusat pada Xiao Yuan. "Jadi, apa mereka membawa informasi atau sedikit petunjuk?" "Bisa saja. Bagaimanapun, mereka itu orang pelarian yang dipenjara namun dibebaskan hanya untuk menyerang kami. Keluarga Kerajaan mengatur seolah mereka tak punya andil, padahal para bandit itu adalah suruhan mereka." Perawakan Xiao Yuan terasa semakin tegang. Anak kecil itu tampak lebih tua daripa

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   105. Jasa dibalas jasa!

    "Apa yang coba sedang kau bicarakan Xiao Yuan?" Zhu Linglong berdiri dari duduknya. Memberikan perhatian yang lebih penuh untuk melihat presensi Xiao Yuan sendiri. Xiao Yuan memandang Zhu Linglong. Dia menatap wanita yang mirip dengan kakaknya itu sangat saksama. Lamat-lamat tanpa sekalipun nyaris gak berkedip. "Setiap pendekar yang datang selalu mengincar gulungan itu, Nona Xiao Long," ucapnya, jujur. Mengutarakan pengalaman selama dia menampung banyak pendekar di pekarangan biliknya ini. "Apa benda itu memang sangat dicari oleh para pendekar ketika mereka datang kemari?" tanya Cang Jue, ikut berdiri di sebelah Zhu Linglong. Xiao Yuan mengangguk. "Tetua mungkin tidak terlalu peka. Tapi, aku selalu bisa membaca gelagat orang." Pikiran Cang Jue bersuara, "anak ini... intuisinya tinggi. Apakah, dia memang sudah melatih teknik intuisi? Tapi, dia baru sekecil ini?" "Tapi kalian berdua tenang saja. Itu bukan hal jahat di kediaman ini. Nanti, selagi kalian membantu, aku akan membiarkan

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   104. Xiao Yuan

    Xiao Guanying mengerutkan dahinya. Mengatur napasnya sendiri. Memikirkan dengan pekat. Apakah benar dia memang harus segera memberitahukan rahasia yang memang sengaja dia simpan selama ini? "Bagaimana Tuan Pemilik Rumah?" kata Zhu Linglong, dia bertanya dengan menekankan nada. Pria tua itu tercekat. Kontan menatap Cang Jue secara spontan. "Maaf. Sepertinya sekarang bukan saatnya aku menceritakan. Tetapi, dalam beberapa hari ke depan, mungkin ada serangan. Rahasia umum Sekte Ying di dunia persilatan pasti pendekar tidak ada yang tidak tahu. Selebihnya, aku belum bisa memberikan kalian penjelasan." Akhirnya, Xiao Guanying memilih untuk tetap menjaga rahasia itu sementara. Daripada langsung membeberkannya kepada pendekar yang saat ini masih terasa abu-abu secara identitas."Baiklah." Mau tak mau, Cang Jue mengiyakan. "Kalau begitu, terima kasih untuk telah menerima kami di kediaman kalian," ucap Cang Jue, setengah membungkukkan badannya.Xiao Guanying tertawa kecil. Menggaruk tengkukn

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   103. Di tangan Xiao Guanying

    Permintaan dari Xiao Guanying membuat Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang. Ada degup cepat yang mendera jantung mereka. Sedetik kemudian, mereka serentak untuk menatap Xiao Guanying. "Untuk itu. Tidak bisa, Tuan. Bagaimanapun, ini adalah identitas kami, jadi... memang harus seperti ini cara kami berpenampilan. Dengan menutup wajah, agar kami tidak dikenal dengan rupa. Tapi, cukup jasa kami yang dikenang." Cang Jue menatap lekat, memberikan penjelasan ringan itu kepada Xiao Guanying. Meskipun tampak kerutan di dahinya. Xiao Guanying memilih untuk mengakhiri itu dengan senyuman. "Baiklah, terkadang pendekar memang suka untuk merahasiakan identitas. Asalkan niat baik, rupa dan penampilan tidaklah penting," kata Xiao Guanying, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat rasa legah timbul di benak Cang Jue dan Zhu Linglong. Satu langkah penyusupan. Berhasil mereka tempuh. Dengan sangat mulus. "Lalu, di mana kiranya tempat tinggal untuk kami?" tanya Zhu Linglong, merebut per

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   57. Slide Politik

    Pipi lembut Zhu Linglong bersemu. Di dalam dekapan tubuh peluk Cang Jue. Dia samar mendengar kalimat, tapi tak terlalu jelas. Ingin memastikannya, Zhu Linglong mendorong pelan tubuh Cang Jue yang memeluknya. Mata Zhu Linglong mengerjap beberapa kali. “Kau tadi … berbicara apa, Cang Jue?” Tapi, la

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   56. Kultivasi Intuisi, End.

    Gelombang dingin mengudara. Keberadaan tubuh Zhu Linglong dan Cang Jue yang juga ikut menghilang secara nyata telah menyatu dengan teknik intuisi. Mereka berdua ikut menciptakan ruang kekuatan mereka. Sama dengan Mo Laxian, Cang Jue dan juga Zhu Linglong memusatkan energi pada basis intuisi kekuat

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   55. Taktik : Ilmu Pengecoh Udara

    Bongkahan es di gua bergemeretak saat tanahnya bergetar. Bunyinya berdecit. Seimbang dengan irama atmosfir yang kini menguar di antara ketiga manusia itu. Kerikil-kerikil kecil terseok tak berdaya saat kaki-kaki Mo Laxian, Cang Jue dan Zhu Linglong mulai menggeser di dasar. Melebar selebar bahu. M

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   54. "Panggil aku Cang Jue."

    Mengedipkan mata sekali, di dalam dekapan Cang Jue, Zhu Linglong menjawab, "permintaan apa, Kaisar?" "Panggil aku Cang Jue." Kalimat itu menggeletik benak dada Zhu Linglong. Matanya menyapu netra indah milik Cang Jue. Hawa dingin gua es yang bercampur dengan tetesan embun emas hasil energi yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status