เข้าสู่ระบบ"Bukankah dewi secantik ini tidak boleh dikorbankan?"
Itu adalah suara hati Cang Jue, yang tak dapat didengar oleh semua khalayak di sepanjang Altar Ibukota ini. Akan tetapi, Cang Jue masih menjadi pusat perhatian. Semuanya tampak tak suka dengan selaan kalimat yang semula dia timpalkan. Zhu Linglong yang baru memasuki altar, pun juga jadi menatapnya. "Siapa Kaisar tampan itu? Mengapa... cukup lucu?" tanyanya, dari dalam hati, dan sedikit tersenyum. Dan Cang Jue sadar betul bahwa dia kini dilihat dengan tatapan berbagai arti dari banyaknya kepala manusia di sini. Dia sedikit menggerakkan tengkuknya, berdecak dalam hati, "para manusia yang menarik," kemudian tersenyum miring. Lantas, Cang Jue mulai berdiri dari kursi tamunya. "Jika sudah menjadi pusat perhatian, maka sekalian saja," ucapnya, melantangkan kalimat. Dia berdiri penuh wibawa sambil mata memandang mengitari Altar. Melihat satu per satu, para Kaisar itu, dan berhenti pada satu titik, yakni dua mata indah Zhu Linglong. "Hormat Putri Zhu," ucapnya, memberikan senyuman kecil kepada Zhu Linglong. Zhu Linglong menggerakkan kelopak matanya untuk memandang Cang Jue dengan lembut, "terima kasih, Kaisar," singkatnya, merespon dengan suara lembutnya. Di tengah peristiwa itu, Kaisar Wilayah Barat, Xuan Ming tiba-tiba tertawa keras. Sampai seluruh pandang mata berubah menyorotnya. Dia turut berdiri, mengikuti gaya Cang Jue, "kau ingin membuat lelucon apa, Kaisar Cang Jue? Jaga martabatmu, meskipun kau seorang Kaisar muda, jangan mempermalukan diri," ujarnya, menatap lurus pada Cang Jue, sembari mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Cang Jue memiringkan kepalanya, menatap Kaisar Xuan Ming dengan netra tajamnya. "Apakah gara-gara jenggotku tak panjang seperti jenggotmu, Kaisar Xuan Ming?" balas Cang Jue, tidak nyambung. "Cih! Dasar konyol!" balas Xuan Ming, membidik marah. Berhasil meledakkan tawa semua nyawa, kecuali Kaisar Zhu Wuhuo, Putri Zhu Linglong, Long Wei dan Cang Jue itu sendiri. Long Wei, yang selalu berusaha menjaga martabat Cang Jue, jadi panas dingin. "Duh, Kaisar... tolong jangan melakukan sesuatu yang memalukan," lirihnya, berbisik di sebelah telinga Cang Jue. "Diamlah," lirih Cang Jue pula membalas bisikan Long Wei. Helaan napas berat Long Wei akhirnya lahir. Siapa lagi yang bisa menghalangi segala kemauan konyol Cang Jue? "Mohon maaf, Kaisar Cang Jue. Izinkan bagi saya untuk melanjutkan upacara ini," sela Zhu Yudie, membuat suasana kembali tenang. Cang Jue mengangguk sekilas, lalu berkata, "tapi, aku punya saran yang bagus untukmu, Kasim Zhu Yudie." Kalimat itu, tidak hanya mengejutkan Zhu Yudie. Tapi, semua orang. Mereka menggaungkan rasa penuh penasaran ketika memperhatikan gerak-gerik Cang Jue. Kaisar wilayah Utara itu, bergerak. Menuju balai Altar, dan kini telah berdiri dengan gagah di samping Kasim Zhu Yudie. Dia berbisik pada Zhu Yudie, "jika kau melanjutkan upacara hari ini, maka pengorbanan Putri Zhu akan sia-sia." Zhu Yudie membelalak, dia hampir berteriak jika Cang Jue tidak segera memberikan kode tatapan mata, seakan berkata, "tenanglah!" "Kasim, aku ini Dewa Kecil Naga Es Biru. Aku juga bisa memberikan ramalan asal kau tahu," ucapnya, langsung berbohong. Zhu Yudie pun tampak kebingungan, "tapi, sejak kapan Dewa Kecil Naga Es Biru memiliki kemampuan meramal?" tanyanya, karena memang tidak ada legendanya sama sekali di sejarah Dewa Naga Es Biru. Dan Cang Jue, juga memang hanya sekedar mengarang cerita. Semua, demi untuk mengubah rencana upacara pengorbanan ini. Cang Jue kembali menatap Zhu Linglong. Dan selalu terpukau, "sejak aku harus menyelamatkan nyawanya," gumamnya dari dalam hati. Cang Jue kembali fokus pada Zhu Yudie, "kemampuan meramalku baru saja turun, Kasim. Ini adalah rahasia... aku jarang membocorkannya," karang Cang Jue, berusaha mempengaruhi. Zhu Yudie memang nampak terpengaruh, apalagi Cang Jue adalah Dewa Kecil Naga Es Biru, Dewa Sakti Tertinggi, segala hal mustahil tentu saja menjadi mungkin. "Lalu, apa ramalan yang benar, Kaisar Cang Jue?" "Umumkan saja, matahari ternyata membawa energi buruk. Upacara diundur besok." "Baiklah, Kaisar Cang Jue." Cang Jue lantas tersenyum kecil. Dia mulai kembali berjalan, mengabaikan segala tatap mata yang memandangnya seakan menertawakan. Terutama, Bai Chen. Cang Jue berdecih, "Bai Chen yang malang," ucapnya sangat pelan, dan kini sudah kembali duduk di kursinya sendiri. "Yang Mulia!" heboh Long Wei, "apa yang baru saja kau katakan pada kasim Zhu Yudie? Semua orang penasaran," bisik Long Wei melanjutkan kehebohannya. Cang Jue mencebik, "kalau semua orang penasaran kenapa mereka tidak tanya padaku?" "Karena, mereka tidak berani melawan Dewa Sakti Tertinggi," cengir Long Wei, mendapatkan respon datar dari Cang Jue. "PERHATIAN!" Suara lantang Zhu Yudie, mengagetkan semua orang. Gesture kasim itu berubah, lebih serius. "ETIKET UPACARA AKAN DIUNDUR SATU HARI!" "Mana mungkin!" sergah Kaisar Zhu Wuhuo, "jika diundur apakah pengorbanan ini akan tetap menghargai putriku?" Dia berdiri dari duduknya yang semula tenang, kini menatap Zhu Yudie dengan cukup marah. "Yang Mulia, Kaisar Zhu, pengunduran ini datangnya dariku," sahut Cang Jue, dia turut berdiri, "aku adalah Dewa Sakti Tertinggi di seluruh kerajaan Benua Tianxu. Dan, aku baru saja mendapatkan ramalan dari Dewa melalui batinku. Bukankah... kalian akan dihukum jika tidak menghargai ramalan atau tanda firasat dari Dewa Sakti Tertinggi?" "Kaisar... Hamba mohon maaf, tetapi yang dikatakan Kaisar Cang Jue benar. Kita manusia biasa masih harus menghormati Dewa Sakti Tertinggi. Ini adalah hirarki turun temurun." "Tapi siapa yang bisa menjamin ramalan itu benar?" lolos Kaisar Xuan Ming dari tempat duduknya. Membuat Cang Jue menoleh kepadanya. Kaisar Utara itu lalu mengeluarkan sihir cahaya putih dari telapak tangannya. Itu adalah dekret dari segel Alam Langit. "Kalian semua lihat ini, dekret Dewa Sakti Tertinggi. Siapa yang bisa mengingkari ini?" Semuanya diam. Tak ada lagi yang bisa menjawab. Membuat Cang Jue menang seketika. Dia akhirnya duduk, seraya berkata, "lanjutkan Kasim Zhu, jangan bantah ramalanku." Semua Kaisar yang lain, terpaksa diam. Termasuk Zhu Wuhuo, yang akhirnya memberikan tatapan tajam kepada Zhu Yudie. Dia mengepalkan buku-buku jarinya. Ada perasaan yang memantik hasrat marahnya pada Cang Jue. Namun, dia hanya bisa terduduk dengan cepat di kursinya, "lanjutkan," ucapnya singkat kepada Zhu Yudie, sambil terus mengepalkan tangan. Zhu Yudie mengangguk penuh hormat. Dia kembali melanjutkan etiket upacara. "RAMALAN DEWA SAKTI TERTINGGI, MATAHARI SEDANG BERADA DALAM ENERGI NEGATIF!" "PUTRZI ZHU LINGLONG TETAP MEMASUKI ALTAR!" "API ABADI HARUS DIMATIKAN!" "DAN DINYALAKAN SAAT UPACARA BERLANJUT!" Usai mengatakan itu, Zhu Yudie turun dari balai panggung altar. Dia kemudian kembali menghampiri Kaisar Zhu. Meninggalkan keramaian yang bertanya-tanya. Cang Jue menatap semua khalayak yang mulai meninggalkan Altar, karena upacara sudah ditunda. Semakin sepi, menyisakan Zhu Linglong sendiri. Cang Jue terus menatapnya, putri cantik itu berjalan dengan anggun menuju altar yang semula berisi api, namun kini sedang padam. Dia duduk di sana sendirian. Long Wei berdehem, "Kaisar, jangan melakukan hal konyol lagi. Kita juga harus pergi dari sini." Cang Jue melangkah, mengikuti saran Long Wei. Perlahan meninggalkan altar. Dengan sekali waktu, Cang Jue melirik lagi ke arah Zhu Linglong. Gadis itu sudah berdiri dari duduknya. Dan mulai mengikat dirinya sendiri dengan tali serat bulu Phoenix, duduk di atas tungku api. Cang Jue mengepalkan tangannya, "aku pasti akan membawamu pergi dari sana secepatnya!" ujarnya berambisi dalam hati."Apa yang coba sedang kau bicarakan Xiao Yuan?" Zhu Linglong berdiri dari duduknya. Memberikan perhatian yang lebih penuh untuk melihat presensi Xiao Yuan sendiri. Xiao Yuan memandang Zhu Linglong. Dia menatap wanita yang mirip dengan kakaknya itu sangat saksama. Lamat-lamat tanpa sekalipun nyaris gak berkedip. "Setiap pendekar yang datang selalu mengincar gulungan itu, Nona Xiao Long," ucapnya, jujur. Mengutarakan pengalaman selama dia menampung banyak pendekar di pekarangan biliknya ini. "Apa benda itu memang sangat dicari oleh para pendekar ketika mereka datang kemari?" tanya Cang Jue, ikut berdiri di sebelah Zhu Linglong. Xiao Yuan mengangguk. "Tetua mungkin tidak terlalu peka. Tapi, aku selalu bisa membaca gelagat orang." Pikiran Cang Jue bersuara, "anak ini... intuisinya tinggi. Apakah, dia memang sudah melatih teknik intuisi? Tapi, dia baru sekecil ini?" "Tapi kalian berdua tenang saja. Itu bukan hal jahat di kediaman ini. Nanti, selagi kalian membantu, aku akan membiarkan
Xiao Guanying mengerutkan dahinya. Mengatur napasnya sendiri. Memikirkan dengan pekat. Apakah benar dia memang harus segera memberitahukan rahasia yang memang sengaja dia simpan selama ini? "Bagaimana Tuan Pemilik Rumah?" kata Zhu Linglong, dia bertanya dengan menekankan nada. Pria tua itu tercekat. Kontan menatap Cang Jue secara spontan. "Maaf. Sepertinya sekarang bukan saatnya aku menceritakan. Tetapi, dalam beberapa hari ke depan, mungkin ada serangan. Rahasia umum Sekte Ying di dunia persilatan pasti pendekar tidak ada yang tidak tahu. Selebihnya, aku belum bisa memberikan kalian penjelasan." Akhirnya, Xiao Guanying memilih untuk tetap menjaga rahasia itu sementara. Daripada langsung membeberkannya kepada pendekar yang saat ini masih terasa abu-abu secara identitas."Baiklah." Mau tak mau, Cang Jue mengiyakan. "Kalau begitu, terima kasih untuk telah menerima kami di kediaman kalian," ucap Cang Jue, setengah membungkukkan badannya.Xiao Guanying tertawa kecil. Menggaruk tengkukn
Permintaan dari Xiao Guanying membuat Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang. Ada degup cepat yang mendera jantung mereka. Sedetik kemudian, mereka serentak untuk menatap Xiao Guanying. "Untuk itu. Tidak bisa, Tuan. Bagaimanapun, ini adalah identitas kami, jadi... memang harus seperti ini cara kami berpenampilan. Dengan menutup wajah, agar kami tidak dikenal dengan rupa. Tapi, cukup jasa kami yang dikenang." Cang Jue menatap lekat, memberikan penjelasan ringan itu kepada Xiao Guanying. Meskipun tampak kerutan di dahinya. Xiao Guanying memilih untuk mengakhiri itu dengan senyuman. "Baiklah, terkadang pendekar memang suka untuk merahasiakan identitas. Asalkan niat baik, rupa dan penampilan tidaklah penting," kata Xiao Guanying, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat rasa legah timbul di benak Cang Jue dan Zhu Linglong. Satu langkah penyusupan. Berhasil mereka tempuh. Dengan sangat mulus. "Lalu, di mana kiranya tempat tinggal untuk kami?" tanya Zhu Linglong, merebut per
Pria tua yang seluruh rambutnya sudah putih dan panjang itu tampak tersenyum kecil. Bukannya tidak terlihat, karena Cang Jue dan Zhu Linglong jelas bisa menangkap ekspresinya. Pria itu pun memajukan langkahnya. Sambil menautkan kedua tangannya ke belakang. "Namaku Xiao Guanying. Aku bukan ketua di sini. Aku, hanya meneruskan mandat dari Tetua Xiao Ying, untuk menjaga rumah ini tetap berdiri sekalipun banyak badai dari luar," jelasnya. Sekaligus memperkenalkan diri sekaligus kedudukan dan tugasnya di tempat ini. Kedua hati milik Cang Jue dan Zhu Linglong sama-sama terhembus legah. Mereka benar-benar dapat merasakan ada satu lagi kaitan gulungan yang mereka cari, perlahan-lahan mulai melengkapi pertanyaan rumpang dan sekaligus menjadi titik pembukaan keduanya untuk bisa menyelesaikan pencarian masalah ramalan palsu. Akhirnya, ada titik terang lebih dekat yang mempertemukan keduanya terhadap sisa-sisa informasi penting dari Xiao Ying dan Wu Cheng yang belum bisa dipecahkan bahkan t
"Kita ikuti saja dia Cang Jue," kata Zhu Linglong. Gadis itu memberikan saran. Cang Jue jelas mendengar saran itu. "Mengikutinya?" tanya Cang Jue, berpikir kritis."Karena di cukup berpenampilan berbeda dadi orang kebanyakan. Entah itu membawa kita ke Kediaman Keluarga Xiao atau tidak. Tapi, tak ada salahnya berbuat baik Cang Jue, seandainya kita bisa menemukan rumah mereka dan sedikit membantu," jelas Zhu Linglong, dengan nada lembut seperti biasanya.Cang Jue mengerti. Akhirnya, ia menyaksikan anak itu dengan saksama. Tampak, dia selesai memunguti kayu-kayunya. Memapah para kayu itu dan menggendong ke punggungnya. Dia tampak berjalan ke sebuah gang. Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang sebelum mereka benar-benar melanjutkan langkah. Menyusuri sebuah gang kecil yang cukup pekat dengan bau tanah basah. Seperti banyak lumut di sekitarnya.Gang kecil itu membimbing mereka hingga tiba di sebuah pekarangan luas. Pekarangan itu menampilkan penampakan rumah megah dan cukup besa
Cang Jue mendengar dengan jelas kalimat pertanyaan Zhu Linglong. Istrinya itu, sedang diliputi rasa cemas. Cang Jue sendiri juga peka. Keadaan memang tampak memusatkan perhatian pada mereka. "Aduh sayang..." Cang Jue melimbungkan tubuhnya ke Zhu Linglong begitu saja. Sampai gadis itu tampak panik. Buru-buru menerima tubuh Cang Jue. Orang-orang yang memperhatikan mereka sebelumnya langsung mendelik. Kontan mengalihkan pandangan. Mereka adalah tipe manusia yang sangat risih melihat kemesraan di tempat umum. "Cang Jue, kau ini kenapa?" lirih Zhu Linglong. Nada marahnya tertahan. Tetapi, dia masih setia menahan tubuh Cang Jue agar tak tersungkur. Kini, terasa seperti... Zhu Linglong sedang mengajak Cang Jue berdansa. Berposisi dengan dirinya yang malah merengkuh pinggang Cang Jue dengan badan setengah membungkuk. "Istriku sayang... aku sangat mencintaimu. Tak ingin terpisah darimu. Meskipun, mataku sedang terluka. Dan hidungku sedang dijahit. Tapi... kau tetap setia kepadaku. Sampa







