LOGINGendang gong Altar Ibukota sudah ditabuh tiga kali. Masyarakat sekitar Istana Selatan, berbondong-bondong mendatangi Ibukota. Mereka semua sangat ingin menyaksikan peristiwa yang sudah ditunggu oleh semua manusia dari segala penjuru.
Penantian akan pengorbanan selama delapan belas tahun. Akhirnya hari ini tiba. Para Kaisar dari wilayah utara, timur dan barat pun telah menduduki tempat mereka masing-masing. Altar Ibukota itu dikepung oleh tempat duduk ke-empat Kaisar. Api Abadi sudah menyala bahkan saat sebelum acara dilaksanakan. Di tempatnnya, Kaisar Cang Jue menatap dengan dalam pada kobaran api. Alisnya mengernyit merasakan sesuatu yang familier. Mengundang pertanyaan dari Long Wei, jenderal tangan kanannya. "Yang Mulia, apa ada yang salah dengan Altarnya?" tanya Long Wei, pada sang Kaisar. Cang Jue melihat pada Long Wei, lalu melihat ke sekitar. "Kaisar Bai, Kaisar Xuan, menurutmu siapa yang bisa mengeluarkan Api Abadi di antara mereka?" tanya Cang Jue kemudian. Long Wei tampak berpikir. Ikut memperhatikan Kaisar Bai dan Kaisar Xuan yang duduk di seberang. "Kaisar Xuan Ming, adalah Dewa Kura-Kura Hitam. Dia seharusnya tidak memiliki elemen api sebagai spiritual binatang yang memiliki elemen air. Jika itu Kaisar Bai..." "Dia punya Api Abadi semenjak Dewa Harimau Putih bersemayam di tubuhnya, dan menjadi Dewa Kecil," Cang Jue melanjutkan ucapan Long Wei yang menggantung, "Bai Chen, sudah memberikan api abadi ini sejak acara belum digelar. Bagaimana sekarang menurutmu Long Wei?" Long Wei sepertinya sudah paham, dia mangut-mangut lalu sekilas menatap Kaisar Bai Chen yang sepertinya juga menatap Kaisar Cang Jue. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Bai Chen memusuhi Cang Jue, karena belum bisa menjadi Dewa Sakti Tertinggi—peringkat tertinggi yang diperebutkan oleh para Dewa Kecil Binatang Spriritual— di Benua Tianxu ini dan masih belum bisa menggeser Cang Jue dari posisi itu. "Mengingat kelicikan dari Bai Chen, aku tidak bisa menebak bahwa api abadi ini adalah niat baik, Yang Mulia," ucap Long Wei, mengatakan firasatnya. "Niat baik atau tidak, hanya akan tahu setelah api itu mengenai Putri Zhu," lolos Cang Jue, berkata. "PERHATIAN! SELURUH KAISAR BENUA TIANXU! BERIKAN SUAR KERJA SAMA UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN KAISAR ZHU, PHOENIX API!" Suara dari prajurit Ibukota itu, memberikan himbau agar semua Kaisar yang mendatangi Altar memberikan suar—ledakan kembang api sebagai simbol— kerja sama, yang biasa diberi warna hijau untuk menandakan bahwa pertemuan antar kerajaan di sini bukan unruk pertarungan. Melainkan hubungan bilateral antar kerajaan. Seluruh jenderal dari masing-masing Kaisar lantas meledakkan suar itu bersamaan, sampai kabut hijau membumbung tinggi di langit Altar Ibukota istana Selatan. Kasim—ajudan laki-laki yang dikebiri agar setia pada Kaisar dan tidak memiliki hasrat seksual untuk memiliki keturunan yang akan memperebutkan tahta Kerajaan—Kerajaan Phoenix Api, Zhu Yudie memasuki pinggiran Altar Ibukota ketika kabut hijau itu mulai memudar. Beliau adalah pelaksana tata acara di Upacara Pengorbanan ini. Dengan etika Kerajaan di Benua Tianxu, Kasim Zhu Yudie memutari Altar untuk memberikan hormat kepada masing-masing Kaisar yang diundang. Setelahnya, Kasim Zhu Yudie, berdiri di balai panggung di depan Altar itu. "Berikan hormat, untuk Yang Mulia Kaisar Phoenix Api, Zhu Wuhuo," ucapnya dengan lantang. Hingga muncul Kaisar Zhu Wuhuo diikuti dengan dua kasim yang lain, mengiringi langkah Raja Phoenix Api untuk bergabung di altar, duduk di sebelah Kaisar Cang Jue. "UPACARA DIMULAI! KASIM TERHORMAT ZHU YUDIE DIPERSILAHKAN MENGATUR UPACARA!" Setelah seruan prajurit itu didengar oleh semua tamu, Kasim Zhu Yudie mulai membuka gulungan daun lontar yang dia bawa sejak memasuki altar. Dia melantangkan isi dari gulungan itu. "ETIKET DAN ATURAN UPACARA PENGORBANAN DARAH SANG PHOENIX!" "UPACARA AKAN DILAKSANAKAN DALAM WAKTU SATU JAM MENDATANG, TEPAT SAAT GARIS CAHAYA MATAHARI MELEWATI ALTAR IBUKOTA! "DILARANG KEPADA TAMU YANG HADIR UNTUK MENDEKATI ALTAR KETIKA PEMBAKARAN JIWA PUTRI ZHU LINGLONG SEDANG DILAKSANAKAN!" "APABILA ADA YANG MELANGGAR ETIKET, MAKA DIA AKAN MENJADI MUSUH SELURUH BENUA TIANXU!" Pada etiket itu, semua kaisar saling pandang. Merasakan aturan yang cukup mengerikan jika dilanggar. "ETIKET PENUTUP, SEMUA TAMU DIMINTA UNTUK MEMBERIKAN RASA HORMAT DAN CINTA KASIH KEPADA PUTRI ZHU LINGLONG YANG SUDAH BERJASA DALAM KESEJAHTERAAN BENUA TIANXU!" Zhu Yudie, selesai membacakan aturan upacara dari lontar yang dibuat sendiri oleh Chi Yan. Kini, upacara itu diberikan jeda, untuk menunggu satu jam. Membuat kondisi altar cukup riuh, semua membicarakan hal yang mereka pertanyakan. Sambil menunggu waktu satu jam itu sendiri. "YANG MULIA, PUTRI ZHU LINGLONG MEMASUKI ALTAR IBUKOTA!" Riuh renyah semua manusia yang berada di Altar Ibukota semakin merata. Mereka semua benar-benar sangat menunggu akan momentum ini. Momentum penampakan sang Putri yang sudah delapan belas tahun dikurung tanpa menampakkan diri barang satu kali pun. Perlahan-lahan, suara seruling dan kecapi berbunyi. Mengalunkan alunan nada indah. Membuat suasana menjadi sunyi, tergantikan oleh takjubnya mereka akan suara seruling itu. "Bagaimana bisa ada suara seruling dan kecapi? Padahal, tidak ada paduan pelayan musik di sini," heran Long Wei, yang masih berdiri gagah di samping Cang Jue. "Zhu Que?" tanya Cang Jue, dari balik hatinya usai mendengar kalimat keheranan dari jenderalnya. Ekor mata Cang Jue langsung bergerak cepat. Cang Jue mengepalkan tangan kanannya pada tumpuan kursi yang dia duduki. Bola matanya fokus tertuju pada sisi pintu masuk Altar Ibukota. Dari pintu itu perlahan-lahan mulai muncul dayang-dayang istana Phoenix Api, yang membuat Cang Jue menggertakkan giginya kesal. Tak sabar ingin segera melihat rupa putri Zhu Linglong. Hingga akhirnya, setelah dayang-dayang itu habis, muncul kemudian satu langkah kaki. Dari kakinya, Cang Jue memperhatikan dengan seksama. Ketika kaki itu melangkah, gaun hanfu merah delimanya sedikit terangkat, mengekspos kulit betis kaki sang Putri yang sangat putih dan terlihat begitu halus bersandalkan sepatu bulu-bulu phoenix. Pandang mata Cang Jue mulai bergerak naik, menelusuri keindahan hanfu merah delima, bermotifkan lukisan burung phoenix dan pernak-pernik kecil dari batu giok kristal biru. Sangat indah, hingga Cang Jue terus menaikkan arah pandang matanya, menuju wajah sang Putri. Begitu melihat titik wajah sang Putri, jantung Cang Jue rasanya berhenti berdetak. Selama satu detik, dia terperangkap akan pesona di luar akal dan sangat luar biasa dari figur wajah sang Putri. Matanya berkilauan seperti kristal dari surga. Rambutnya beterbangan kecil seperti ditiup oleh angin-angin yang mabuk karena melihatnya. Perpaduan hidung mancung dan bibir mungil yang begitu sempurna. Menampilkan pesona kecantikan kasta surgawi, yang sama sekali tak pernah Cang Jue temui sebelumnya. Bahkan, Dewa Zhu Que tak memiliki kecantikan itu. "Cantik sekali," lolos Cang Jue dengan polos, yang didengar oleh semua tamu di Altar Pengorbanan itu. Membuat semua tamu itu memusatkan mata padanya, menatap dengan bidikan sinis seolah berbicara "tidak sopan!" "Bukankah dewi secantik ini tidak boleh dikorbankan?""Apa yang coba sedang kau bicarakan Xiao Yuan?" Zhu Linglong berdiri dari duduknya. Memberikan perhatian yang lebih penuh untuk melihat presensi Xiao Yuan sendiri. Xiao Yuan memandang Zhu Linglong. Dia menatap wanita yang mirip dengan kakaknya itu sangat saksama. Lamat-lamat tanpa sekalipun nyaris gak berkedip. "Setiap pendekar yang datang selalu mengincar gulungan itu, Nona Xiao Long," ucapnya, jujur. Mengutarakan pengalaman selama dia menampung banyak pendekar di pekarangan biliknya ini. "Apa benda itu memang sangat dicari oleh para pendekar ketika mereka datang kemari?" tanya Cang Jue, ikut berdiri di sebelah Zhu Linglong. Xiao Yuan mengangguk. "Tetua mungkin tidak terlalu peka. Tapi, aku selalu bisa membaca gelagat orang." Pikiran Cang Jue bersuara, "anak ini... intuisinya tinggi. Apakah, dia memang sudah melatih teknik intuisi? Tapi, dia baru sekecil ini?" "Tapi kalian berdua tenang saja. Itu bukan hal jahat di kediaman ini. Nanti, selagi kalian membantu, aku akan membiarkan
Xiao Guanying mengerutkan dahinya. Mengatur napasnya sendiri. Memikirkan dengan pekat. Apakah benar dia memang harus segera memberitahukan rahasia yang memang sengaja dia simpan selama ini? "Bagaimana Tuan Pemilik Rumah?" kata Zhu Linglong, dia bertanya dengan menekankan nada. Pria tua itu tercekat. Kontan menatap Cang Jue secara spontan. "Maaf. Sepertinya sekarang bukan saatnya aku menceritakan. Tetapi, dalam beberapa hari ke depan, mungkin ada serangan. Rahasia umum Sekte Ying di dunia persilatan pasti pendekar tidak ada yang tidak tahu. Selebihnya, aku belum bisa memberikan kalian penjelasan." Akhirnya, Xiao Guanying memilih untuk tetap menjaga rahasia itu sementara. Daripada langsung membeberkannya kepada pendekar yang saat ini masih terasa abu-abu secara identitas."Baiklah." Mau tak mau, Cang Jue mengiyakan. "Kalau begitu, terima kasih untuk telah menerima kami di kediaman kalian," ucap Cang Jue, setengah membungkukkan badannya.Xiao Guanying tertawa kecil. Menggaruk tengkukn
Permintaan dari Xiao Guanying membuat Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang. Ada degup cepat yang mendera jantung mereka. Sedetik kemudian, mereka serentak untuk menatap Xiao Guanying. "Untuk itu. Tidak bisa, Tuan. Bagaimanapun, ini adalah identitas kami, jadi... memang harus seperti ini cara kami berpenampilan. Dengan menutup wajah, agar kami tidak dikenal dengan rupa. Tapi, cukup jasa kami yang dikenang." Cang Jue menatap lekat, memberikan penjelasan ringan itu kepada Xiao Guanying. Meskipun tampak kerutan di dahinya. Xiao Guanying memilih untuk mengakhiri itu dengan senyuman. "Baiklah, terkadang pendekar memang suka untuk merahasiakan identitas. Asalkan niat baik, rupa dan penampilan tidaklah penting," kata Xiao Guanying, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat rasa legah timbul di benak Cang Jue dan Zhu Linglong. Satu langkah penyusupan. Berhasil mereka tempuh. Dengan sangat mulus. "Lalu, di mana kiranya tempat tinggal untuk kami?" tanya Zhu Linglong, merebut per
Pria tua yang seluruh rambutnya sudah putih dan panjang itu tampak tersenyum kecil. Bukannya tidak terlihat, karena Cang Jue dan Zhu Linglong jelas bisa menangkap ekspresinya. Pria itu pun memajukan langkahnya. Sambil menautkan kedua tangannya ke belakang. "Namaku Xiao Guanying. Aku bukan ketua di sini. Aku, hanya meneruskan mandat dari Tetua Xiao Ying, untuk menjaga rumah ini tetap berdiri sekalipun banyak badai dari luar," jelasnya. Sekaligus memperkenalkan diri sekaligus kedudukan dan tugasnya di tempat ini. Kedua hati milik Cang Jue dan Zhu Linglong sama-sama terhembus legah. Mereka benar-benar dapat merasakan ada satu lagi kaitan gulungan yang mereka cari, perlahan-lahan mulai melengkapi pertanyaan rumpang dan sekaligus menjadi titik pembukaan keduanya untuk bisa menyelesaikan pencarian masalah ramalan palsu. Akhirnya, ada titik terang lebih dekat yang mempertemukan keduanya terhadap sisa-sisa informasi penting dari Xiao Ying dan Wu Cheng yang belum bisa dipecahkan bahkan t
"Kita ikuti saja dia Cang Jue," kata Zhu Linglong. Gadis itu memberikan saran. Cang Jue jelas mendengar saran itu. "Mengikutinya?" tanya Cang Jue, berpikir kritis."Karena di cukup berpenampilan berbeda dadi orang kebanyakan. Entah itu membawa kita ke Kediaman Keluarga Xiao atau tidak. Tapi, tak ada salahnya berbuat baik Cang Jue, seandainya kita bisa menemukan rumah mereka dan sedikit membantu," jelas Zhu Linglong, dengan nada lembut seperti biasanya.Cang Jue mengerti. Akhirnya, ia menyaksikan anak itu dengan saksama. Tampak, dia selesai memunguti kayu-kayunya. Memapah para kayu itu dan menggendong ke punggungnya. Dia tampak berjalan ke sebuah gang. Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang sebelum mereka benar-benar melanjutkan langkah. Menyusuri sebuah gang kecil yang cukup pekat dengan bau tanah basah. Seperti banyak lumut di sekitarnya.Gang kecil itu membimbing mereka hingga tiba di sebuah pekarangan luas. Pekarangan itu menampilkan penampakan rumah megah dan cukup besa
Cang Jue mendengar dengan jelas kalimat pertanyaan Zhu Linglong. Istrinya itu, sedang diliputi rasa cemas. Cang Jue sendiri juga peka. Keadaan memang tampak memusatkan perhatian pada mereka. "Aduh sayang..." Cang Jue melimbungkan tubuhnya ke Zhu Linglong begitu saja. Sampai gadis itu tampak panik. Buru-buru menerima tubuh Cang Jue. Orang-orang yang memperhatikan mereka sebelumnya langsung mendelik. Kontan mengalihkan pandangan. Mereka adalah tipe manusia yang sangat risih melihat kemesraan di tempat umum. "Cang Jue, kau ini kenapa?" lirih Zhu Linglong. Nada marahnya tertahan. Tetapi, dia masih setia menahan tubuh Cang Jue agar tak tersungkur. Kini, terasa seperti... Zhu Linglong sedang mengajak Cang Jue berdansa. Berposisi dengan dirinya yang malah merengkuh pinggang Cang Jue dengan badan setengah membungkuk. "Istriku sayang... aku sangat mencintaimu. Tak ingin terpisah darimu. Meskipun, mataku sedang terluka. Dan hidungku sedang dijahit. Tapi... kau tetap setia kepadaku. Sampa







