Share

Bab 6

Author: Lee Sizunii
last update publish date: 2025-03-28 23:57:33

Setelah kepergian Nathan, Yara masih berdiri di tengah kamar, menatap sekeliling dengan mata berbinar. Sebesar apa pun kekesalannya tadi, dia tidak bisa memungkiri bahwa kamar ini adalah surga kecil. Tempat tidur besar dengan seprai lembut, lemari berisi pakaian mewah, dan fasilitas lengkap yang bahkan belum pernah ia impikan sebelumnya.

"Gila ..., ini beneran kamar aku?" Yara bergumam sendiri, lalu tersenyum puas.

Tanpa ragu, dia menjatuhkan diri ke kasur empuk itu. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan kasur, ia langsung terbenam dalam kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Astaga, ini kasur atau awan?" ucapnya sambil menggelinding ke kanan dan kiri, menikmati setiap detiknya.

Setelah puas dengan kasur empuk itu, Yara pun segera berdiri. Dia membuka lemari dan mendapati berbagai koleksi pakaian mahal tergantung rapi.

Tangannya menyentuh satu per satu bahan baju itu dengan kagum. "Wow ..., kalau aku jual satu aja, bisa buat hidup sebulan." Dia tertawa kecil, merasa beruntung meskipun situasi ini tetap terasa absurd.

Namun, setelah puas mengagumi kamar dan barang-barangnya, tubuhnya mulai merasa lengket. "Oke, waktunya mandi."

Di kamar mandi, dia semakin dibuat terpukau. Bathtub mewah, shower modern, bahkan ada penghangat lantai. Tanpa pikir panjang, Yara berendam, menikmati setiap detik seperti ratu yang sedang menikmati spa pribadi.

"Ahh, kalau setiap hari kayak gini, aku bisa lupa kalau aku lagi dikontrak sama pria menyebalkan itu," ucapnya sambil memainkan busa di tangannya.

Setelah lebih dari setengah jam, Yara akhirnya selesai mandi dan mulai memilih baju. Dia sengaja memilih pakaian santai tapi tetap stylish—lagipula, kapan lagi dia bisa memakai pakaian mahal tanpa perlu membelinya sendiri?

Saat dia bercermin, senyum di wajahnya makin lebar. "Oke, Yara, kamu bisa menikmatinya. Tiga bulan aja kok. Santai."

Tapi kemudian perutnya berbunyi keras. Dia baru sadar bahwa dia belum makan malam.

"Wah, lapar banget. Ada makanan nggak ya? Dia pasti punya makanan kan? Tinggal cari dapurnya dimana."

Dengan rasa penasaran, dia keluar dari kamar, berjalan perlahan melewati ruangan besar itu. Apartemen ini luas, tanpa banyak sekat, dan begitu mewah. Bau harum makanan tiba-tiba menyapa hidungnya.

"Hmm, bau apa ini? Masakan?"

Yara mengikuti aroma lezat itu hingga sampai di dapur terbuka yang menghadap ke ruang makan. Matanya membesar ketika melihat pemandangan di depannya—Nathan, mengenakan celemek, dengan lengan kemeja putih yang tergulung rapi, sedang menyusun makanan di atas meja makan dengan ekspresi serius.

Yara hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Astaga ..., dia masak sendiri?" gumamnya pelan.

Nathan, yang menyadari keberadaan Yara, tetap fokus pada pekerjaannya dan hanya melirik sekilas. "Duduk."

Nada suaranya datar seperti biasa, tapi Yara masih terlalu terkejut untuk bereaksi cepat. Baru setelah beberapa detik, dia tersadar dan berjalan ke meja makan, duduk dengan sedikit kikuk.

"Kamu masak?" tanyanya, matanya berbinar penasaran.

"Hmm." Nathan hanya menggumam tanpa menoleh lalu melepaskan celemeknya dan duduk di hadapan Yara.

Yara semakin bersemangat. "Wah, aku kira kamu tipe orang yang tinggal di apartemen mahal tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Ini kelihatan enak banget. Kamu jago masak, ya?"

Nathan tidak menjawab. Dia fokus dengan makanannya.

"Tapi kenapa sih nggak pakai pembantu? Kan kamu tajir, masa harus masak sendiri?"

Nathan mendesah pelan, tampak mulai kehabisan kesabaran. "Makan aja."

Yara tersenyum kecil, merasa sedikit puas karena berhasil membuat Nathan bereaksi. Namun, dia tidak mau melewatkan kesempatan ini. Dengan riang, dia mulai menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.

Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya melebar. "Ya ampun, ini enak banget!" katanya dengan mulut masih penuh. "Serius, ini lebih enak dari restoran mahal!" Yara menggoyang-goyangkan kakinya layaknya anak kecil.

Nathan tetap diam, hanya menatap piringnya sendiri.

Yara melanjutkan makannya dengan lahap, sesekali menggumamkan pujian tanpa berharap Nathan akan menanggapi. Tapi kemudian, Nathan membuka suara.

"Malam ini aku akan bekerja di ruang kerja. Itu di ujung sana." Ia menunjuk sebuah pintu kaca yang tidak jauh dari ruang makan. "Di apartemen ini tidak ada pembantu, jadi kalau lapar, cari sendiri di dapur."

Yara mengangguk ringan, tetap fokus pada makanannya. "Oke."

Nathan menyipitkan mata, merasa heran dengan sikap santai Yara. "Dan satu hal lagi," lanjutnya. "Saat aku ada di ruang kerja, aku tidak mau diganggu. Mengerti?"

Yara meneguk air putihnya dengan tenang, lalu mengangguk lagi. "Iya, iya. Tenang aja, aku bukan anak kecil."

Nathan hanya menatapnya sebentar, lalu berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi.

Begitu Nathan menghilang di balik pintu, Yara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menepuk perutnya yang kenyang.

"Gila, dia keren juga sih kalau lagi masak. Tapi tetep aja nyebelin."

Dia tertawa kecil sendiri, lalu berdiri untuk membereskan piringnya. Meskipun Nathan bilang dia bisa mencari makan sendiri, Yara tahu dia harus berhati-hati agar tidak terlalu mengandalkan kenyamanan ini. Bagaimanapun juga, ini semua hanyalah bagian dari kesepakatan.

Tiga bulan di bawah satu atap dengan Nathan?

Yara menghela napas panjang. "Kayaknya bakal jadi tiga bulan yang seru ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 84

    Pagi yang cerah itu membawa Yara dan Linda ke sebuah kedai sarapan tersembunyi di pinggiran kota. Linda sengaja memilih tempat yang tidak ramai dikunjungi orang, sebuah kafe kecil dengan arsitektur klasik yang dikelilingi pepohonan rindang. Di sini, jauh dari sorot lampu kamera dan bisik-bisik miring kaum sosialita London, Yara bisa menjadi dirinya sendiri.Mereka makan dengan lahap. Sepiring waffle hangat dengan siraman sirup maple dan buah beri segar tandas dalam waktu singkat, diselingi cerita ini itu dari Yara yang tak ada habisnya."Kak Linda tahu tidak? Nathan itu kalau tidur ternyata bantalnya harus ditumpuk tiga!" adu Yara sambil mengunyah potongan sosisnya.Linda tertawa renyah, menopang dagunya dengan tangan. "Benarkah? Padahal kalau di kantor, wajahnya kaku seperti tidak butuh bantal sama sekali."Selesai makan, Linda langsung menarik tangan Yara. "Ayo, perjalanan kita belum selesai. Hari ini kita harus bersenang-senang sampai kaki kita lemas!"Linda mengajak Yara jalan-jal

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 83

    Malam ini, sedan mewah milik Nathan membelah jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu kota London berkelebat di kaca jendela, menandakan bahwa pelarian manis mereka di pesisir pantai telah resmi berakhir. Hari yang seharusnya mereka habiskan untuk bersenang-senang selama tiga hari penuh terpaksa dipangkas begitu saja karena Nathan mendadak menerima telepon darurat mengenai urusan bisnis yang tidak bisa ditunda.Yara duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela. Meskipun ia mengiyakan dan memahami posisi Nathan sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Bahunya merosot saat ia menghela napas panjang, membayangkan betapa membosankannya kembali terkurung di dalam apartemen yang sepi dan megah itu sendirian.Mendengar helaan napas yang cukup berat itu, Nathan menoleh sekilas ke arah Yara tanpa melepaskan fokusnya dari roda kemudi. Pria itu menyadari perubahan raut wajah Yara yang mendadak mendung setelah mereka meninggalkan pen

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 82

    Cahaya pagi bergulir lembut, menembus kaca jendela besar yang gordennya telah tersingkap lebar. Saat Yara membuka kelopak matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah hamparan laut lepas yang berkilau keemasan diterpa matahari pagi. Rupanya, Nathan sudah bangun lebih dulu dan membuka pembatas antara kamar dengan dunia luar, membiarkan keindahan pantai Camber Sands langsung menyapa penglihatan Yara begitu ia terjaga.Bersamaan dengan kesadarannya yang terkumpul, aroma gurih dari ikan yang dipanggang dengan mentega dan rempah langsung memenuhi rongga hidungnya. Perut Yara seketika berbunyi, merespons wewangian yang begitu menggugah selera.Dengan rambut sedikit acak-acakan dan langkah kaki telanjang, Yara langsung turun dari ranjang. Ia berjalan menuju area pantry terbuka yang berbatasan langsung dengan jendela besar, memperlihatkan pemandangan taman kecil berumput hijau di samping penginapan. Di sana, Nathan sedang berdiri dengan apron gelap membungkus kaos santainya, terlihat begitu

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 81

    Galeri seni pribadi Zhen Chu terletak di sebuah gedung tua yang telah direnovasi dengan sentuhan industrial modern yang sangat kental. Begitu pintu besi besar itu terbuka, Clara disambut oleh keheningan yang elegan. Dinding-dinding putih bersih di sana dihiasi oleh berbagai kanvas dengan teknik pewarnaan yang berani, diterangi oleh lampu sorot yang memberikan kesan magis pada setiap goresan kuas.Zhen berjalan perlahan di samping Clara, kedua tangannya disembunyikan di saku celana kainnya. Ia tampak sangat menguasai setiap inci ruangan ini."Kau lihat lukisan abstrak di sana?" Zhen menunjuk pada sebuah kanvas besar dengan dominasi warna biru laut dan percikan emas yang acak. "Itu berjudul The Silent Escape. Pelukisnya membuatnya saat dia merasa terjebak di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak pernah tidur. Dia merasa, satu-satunya cara untuk tetap waras adalah dengan menciptakan dunianya sendiri."Clara mendekat, menatap lukisan itu dengan saksama. "Biru ini... terasa sangat dalam. Sepe

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 80

    Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran fine dining itu memantulkan cahaya temaram, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus menyesakkan bagi Clara. Dia menghampiri Zhen yang tengah berbicara dengan seseorang.Saat Clara mendekat, pria tersebut pergi membawa tablet yang baru saja di perlihatkan ke Zhen."Sudah datang?" Zhen bangkit sambil tersenyum dan menarik kursi untuk Clara. "Silahkan duduk." Clara sejenak menatapnya, tapi dia tetap duduk.Zhen Chu duduk di hadapannya, terlihat sangat tenang."Kenapa kau melakukan ini, Zhen? Bukankah sudah kukatakan jangan dekat-dekat denganku?" ucap Clara ketus, meski ia tidak beranjak dari kursi beludru itu.Zhen tidak langsung menjawab. Ia mengambil botol vintage wine dan menuangkannya perlahan ke gelas Clara. "Kalau aku bilang, ini karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu, apa kau percaya?"Clara mendengus sinis. "Gombalanmu tidak mempan, Zhen. Aku ingatkan kau, aku

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 79

    Angin laut malam mulai terasa menggigit kulit saat semburat jingga di cakrawala Camber Sands perlahan ditelan kegelapan. Pasir putih yang tadinya hangat kini berubah dingin di bawah telapak kaki. Yara, dengan rambut yang agak acak-acakkan karena tiupan angin kencang, berjalan sedikit tertatih sambil memegangi lengan Nathan."Nathan... aku lapar," rengek Yara. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang kehabisan baterai setelah seharian bermain di taman bermain.Nathan menoleh, menatap Yara yang tampak sedikit pucat namun matanya masih berbinar. "Lapar, hm? Tadi siang sepertinya kau makan udang bakar seperti orang kesurupan. Sekarang sudah lapar lagi?"Yara mendongak, mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Itu kan tadi siang! Bermain air dan berlari mengejarmu itu membakar banyak kalori tahu! Perutku sudah bernyanyi keroncongan sejak sepuluh menit yang lalu."Nathan terkekeh, suara tawa rendah yang selalu berhasil membuat perut Yara terasa geli. Ia menarik

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 37

    Malam baru saja tiba, menyelimuti kota dengan sunyi dan remang lampu jalanan yang temaram. Di dalam ruang inap bernuansa netral itu, udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulit, tapi tak seberapa dibandingkan dinginnya suasana hati Yara.Gadis itu duduk menyamping di sofa pojok ruangan

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 36

    Langkah kaki Yara terasa berat saat kembali ke ruang inap Nathan. Gelas es coklat yang tadi masih dingin kini mulai mengembun, airnya menetes di jari-jarinya yang gemetar. Pikirannya masih kalut. Wajah wanita tadi, ucapannya, tatapan sinis orang-orang—semuanya seperti terpatri di otaknya.Ketika ia

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 35

    Langkah kaki Yara terdengar tergesa saat ia keluar dari ruang inap Nathan. Wajahnya masih menyisakan rona merah, entah karena kesal, malu, atau ..., terlalu banyak deg-degan dalam sekali waktu."Ugh!" Yara menggerutu sambil mengepalkan tangan kecilnya, mengabaikan tatapan Nathan saat dia keluar dar

  • Mainan Malam Sang Miliarder    Bab 33

    Langit mendung menggantung rendah, seolah menyesuaikan dengan kondisi Nathan pagi itu. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, Nathan tetap bersikeras untuk berangkat ke kantor.Wajahnya pucat pasi, tapi sorot matanya tetap tegas. Ia berdiri di depan cermin, membenarkan dasi dengan tangan gemetar. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status