Se connectermet malam, besok bersambung yaa...
Jika sebelum melangkah masuk ke rumah ini Bhaskoro sempat mengira Nenek Rani adalah sosok keji di balik pembunuhan ibu kandungnya, kini perasaannya berbalik total.Rasa hormat dan kasih sayang yang tulus justru membuncah di dalam dadanya untuk wanita sepuh yang selama ini hidup sebatang kara di rumah sederhana tersebut.Tanpa menunda waktu, hari itu juga Bhaskoro langsung mendatangkan sepasukan tukang bangunan profesional.Ia memerintahkan agar sekeliling area pekarangan rumah dipasangi pagar kokoh demi sistem keamanan yang lebih terjamin, merenovasi seluruh bagian atap dan dinding yang mulai melapuk, serta merombak total draf furnitur lama dengan jajaran perabotan luks keluaran terbaru.Biarlah sampai kapan pun beliau tetap menganggapku sebagai cucu tirinya, dan aku akan merawat beliau layaknya nenek kandungku sendiri. Kasihan beliau... di balik ketegasannya, beliau sebenarnya teramat sangat mencintai Papaku, batin Bhaskoro sembari berdiri melipat tangan di dada, memperhatikan seoran
Penyesalan yang teramat sangat dalam terpancar jelas dari sepasang mata lamur si nenek yang kini berkaca-kaca menatapnya pasrah.Dada Bhaskoro naik-turun menahan sesak. Amarah yang hampir meledak membuat kepalanya terasa mendidih. Ternyata, sosok wanita tua yang ada di hadapannya inilah pembunuh ibu kandungnya...?"Namun... belakangan ini, sebelum kakekmu menghilang misterius, Nenek baru mengetahui sebuah kebenaran yang jauh lebih mengerikan," potong si nenek tua cepat, buru-buru menyeka air matanya dengan tisu."Ternyata, serangan santet dari dukun sewaan Nenek dulu gagal total, karena terhalang oleh pagar gaib dari jimat milik kakekmu. Tapi tragisnya, Inau Palijau tetap terbunuh malam itu... karena ada seorang pria kejam yang sejak lama tergila-gila padanya, sekaligus diam-diam berniat ingin menguasai bongkahan Intan Trisakti warisan Ikas Palijau. Nah, dialah pelaku asli pembunuh berdarah dingin yang menghabisi nyawa istri muda kakekmu!""A-apa...? J-jadi... j-jadi, b-bukan Nenek pel
Bhaskoro sama sekali tidak berniat mencari pelampiasan hasrat biologis ke sembarang wanita, meskipun Dewi Ramita telah memberikan saran tersebut secara terbuka.Begitu tiba di ibu kota, ia justru memilih langsung merebahkan tubuh kokohnya di atas kasur empuk di dalam kamar penthouse mewah miliknya.Rasa penat yang menderanya membuat sang triliuner malas kelayapan ke mana-mana malam itu.Padahal, dengan pundi-pundi uangnya yang kini sudah tidak berseri lagi, nominal fantastis bukan lagi perkara besar baginya.Selembar kartu debit emas berisi saldo hingga lima puluh miliar rupiah yang ia serahkan secara cuma-cuma untuk Dewi Ramita sebelumnya, hanyalah secuil kartu kecil dari samudra kekayaan melimpah yang saat ini ia miliki dan nikmati.Di tengah kesunyian kamarnya, Bhaskoro sebenarnya merasa agak aneh pada dirinya sendiri.Mengapa ia bisa begitu mudah dan tanpa keraguan sedikit pun memberikan kartu debit bernilai fantastis itu untuk Dewi Ramita dan Abas kecil?‘Apakah karena wajahnya ma
Bhaskoro makin kaget, saat kedua tangan halus Dewi Ramita menarik kepalanya dan...!“Sapukan cairan ini ke wajahmu dengan menggesekanya, setelahnya sebagian kamu telan. Agar kamu terbebas dari godaan ratu siluman jahat itu,” terdengar pelan suara Dewi Ramita, suaranya ini seolah keluar dari alam lain saja.Bhaskoro tanpa buang waktu langsung melahap fefek temben yang berumput tebal ini dan aromanya bikin Bhaskoro terkaget-kaget, sebab mirip dengan milik Surti.Aroma wangi jamu yang menyegarkan dan seketika membuatnya bernafsu, padahal tadi malam dan tadi pagi dia sudah bergelut ganas dengan Surti, tapi saat ini, nafsunya kini naik ke ubun-ubun, tanpa bisa di cegah lagi. Dari kaget berubah jadi ganas, dan ini justru makin memperbanyak cairan kenikmatan itu keluar dari sela-sela belahan lubang sempit di antara rerimbunan lebat ini, makin menggeliat lagi tubuh indah Dewi Ramita, saat clitnya yang gedenya sama seperti kacang kedelai di sedot kencang bibir Bhaskoro.“Aughh….iyaah sedikit
"Kita berdua kini telah sah menjadi target dari si Ratu Siluman yang jahat itu. Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang agar bisa selalu aman?" Bhaskoro bertanya lurus, mengunci pandangannya tepat ke manik mata Dewi Ramita.Janda jelita itu terdiam sesaat. Ia membuang pandangan ke arah rintik hujan luar teras, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat."Aku belum bisa berpikir jernih saat ini, Bang. Prioritas utamaku sekarang adalah fokus menjaga keselamatanku dan Abas, agar kami jangan sampai menjadi korban berikutnya dari keganasan Dewi Plaminta," cetus Dewi Ramita terdengar defensif."Hmm... kalau begitu, maukah kamu dan Abas pindah ke kediamanku di Jakarta? Di sana sistem keamanannya ketat, kalian pasti jauh lebih aman," tawar Bhaskoro, langsung menyodorkan tumpangan luks tanpa keraguan.Dewi Ramita menyunggingkan senyuman tipis yang sarat misteri, lalu kepalanya menggeleng perlahan."Belum saatnya, Bang. Kalau aku dan Abas nekat pindah ke rumah Abang saat ini, ko
Di barisan jok depan, keheningan yang tegang terhampar pekat. Baik Dewi Ramita maupun Bhaskoro memilih untuk saling mengunci mulut dalam seribu bahasa.Mereka hanya sesekali saling melempar tatapan dalam melalui spion tengah dan sudut mata, membiarkan rahasia ranjang mistis yang baru saja terbongkar itu berkecamuk hebat di dalam pikiran masing-masing."Mampir dulu, Bang?" Dewi Ramita menatap lekat wajah Bhaskoro setelah jip mewah itu berhenti sempurna di depan teras rumah sederhananya.Pandangannya sesekali beralih memperhatikan Abas kecil yang tampak begitu sibuk menurunkan tumpukan barang belanjaan dari bagasi, lalu menggotongnya masuk ke dalam rumah dengan penuh semangat.Bhaskoro tidak menolak tawaran tersebut. Ia melangkah turun dari mobil, seulas senyuman tipis terukir di bibirnya saat mendengarkan celotehan riang Abas.Bocah itu tiada hentinya berseru girang karena akhirnya bisa memiliki mainan mobil-mobilan menggunakan kendali jarak jauh (remote control) yang selama ini hanya b
Bhaskoro tak punya pilihan selain menuruti setiap kehendak ‘Dewi Ramita’. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mengendalikan persendiannya.Tubuhnya bergerak sendiri mendekat, sementara aroma khas yang manis, pekat, dan memabukkan itu menyergap hidungnya, langsung membuat darahnya mendidih.Hawa
Tanpa mau membuang waktu dalam basa-basi yang menyiksa, Bhaskoro langsung melayangkan interogasi, tentang janji berikan 'jimat' itu.“Dewi Ramita... aku rasa kamu pasti sudah tahu apa yang saat ini sedang melilit hidupku, bukan? Tolong, tidak usah berteka-teki lagi denganku.” Bhaskoro membuka perca
Setelah gosok gigi dan cuci muka, Bhaskoro kembali ke ranjang empuk di mana Diana sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.Begitu merasakan ada tubuh berat di sisinya, Diana terbangun dan kontan terkekeh manjalitaaah, saat Bhaskoro memeluk dan menciuminya.“Pingin lagi yaah shaaay,” bisik Diana, Bahskoro te
Begitu memasuki kamar, keduanya langsung saling pagut dalam tensi panas, Bhaskoro dan Diana seakan ingin tuntaskan kegagalan mereka dulu bercinta saat di Bogor –di rumah Diana--."Kangen sekali aku Bang, dulu itu kita tak sempat melakukannya," desah Diana. Bhaskoro hanya senyum dingin dan kembali me







