Mag-log inSheila menginjak pedal rem sekuat tenaga. Tubuh tegap Malik terlempar ke sana-kemari di dalam kabin saat mobil akhirnya berhenti memutar dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Sheila benar-benar syok luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya terengah-engah, dan jantungnya berdegup kencang seolah siap melompat keluar dari dadanya."Sial... hampir saja mati!" rutuknya gemetar.Kedua tangannya cengkeram erat lingkar kemudi. Sheila membenamkan wajah di antara sela-sela setir, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih memompa kencang.Namun dari kursi penumpang, Malik justru terkekeh pelan. Kekehannya yang parau dan berat spontan membuat Sheila menoleh tajam dengan tatapan menyala bak api berkobar."Keren, Mbak... Bisa balapan begitu... Keren..." gumam Malik acuh tak acuh, sukses membuat emosi Sheila kembali memuncak."Diam, Malik! Aku tahu kamu mabuk, tapi aku gak nyangka efek mabukmu bakal semenggerikan ini!" omel Sheila frustrasi, benar-benar kesal bukan main.Namun, saa
Di dalam perjalanan, efek alkohol keras berkadar tinggi yang meminumnya secara paksa itu mulai menggerogoti tubuh Malik secara brutal. Aliran darahnya bergejolak dahsyat; badannya mendadak panas-dingin dan pandangannya mulai membayang kabur. Malik mendesis, sesekali melengguh rendah merasakan kesadarannya yang merayap turun drastis.Tak ada pilihan lain. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang kian menipis, Malik menepikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan yang sepi. Pria itu menyandarkan kepalanya pada lingkar kemudi, napasnya memburu kasar dengan wajah yang sudah memerah padam bak tomat matang.Jemari Malik yang gemetar berusaha merogoh ponsel di saku celananya. Layar ponsel yang begitu menyilaukan terlihat sangat kabur di matanya. Ia menggeser layar acak, berusaha mencari kontak Leo."Nah... ini..." bisik Malik parau. Kesadarannya kian hilang digulung efek mabuk berat.Tutuut... tutuut... tutuut...Panggilan tersambung. Di dering keempat, terdengar bunyi klik.Malik yang
Malik menoleh dan menatap wajah Leo dengan serius. Ia mengangguk pelan."Ikuti saja alurnya, Leo. Aku tak butuh sekadar omongan, aku cuma butuh pembuktian," ucap Malik tegas, tak mau berpura-pura.Mendengar itu, Leo mengangguk yakin. "Pasti itu, Lik!"“Tapi menurutku, kamu tetap bersikap bengis aja deh, Le, di depan Pak Aris kalau sama aku,” ucap Malik, entah bagaimana bisa melontarkan usul seperti itu.Leo mengerutkan dahi, menatap heran. "Kenapa memangnya?" tanyanya benar-benar bingung.Sebelum Malik sempat menjawab, Aris sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar."Maaf ya, Lik, agak lama. Tadi ada urusan lumayan serius sama mucikarinya," kilah Aris. Malik tentu saja tidak percaya, tetapi ia hanya mengangguk malas. Biarlah Aris menganggapnya bodoh."Loh, Leo?" sapa Aris begitu menyadari kehadiran pria lain di sana.Leo mengangguk canggung. Namun demi membuktikan niatnya pada Malik, ia langsung memainkan perannya."Iya, Pak. Saya kebetulan lewat, dan
Ternyata sosok itu adalah Leo. Malik kaget bukan main saat melihat pria itu berdiri di sana. Malik langsung beranjak berdiri menatap ke arahnya."Leo? Sedang apa kamu di sini?" tanya Malik heran.Leo menghela napas panjang."Kamu benar-benar lupa ya, Lik? Aku kan sudah bikin janji sama kamu. Lihat sekarang, sudah jam setengah sepuluh! Selama tiga puluh menit aku menunggu di kafe seberang cuma buat memperhatikan kamu," ucap Leo. Nadanya kini sama sekali berbeda. Nada permusuhan dan tatapan iri dengki yang biasanya ada pada pria itu benar-benar meluap lenyap."Astaga, Leo! Maaf ya, Le... Aku benar-benar lupa," balas Malik. Ia terperangah, sungguh tak menyangka dirinya bisa melupakan janji penting itu."Udahlah, gak apa-apa. Untung aku inisiatif menyusulmu ke sini. Oh iya, lagi apa di sini? Keren banget buset, nongkrong di restoran semahal ini," ucap Leo seraya mengedarkan pandangannya.Seumur hidup, ia tak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Walau Leo punya cukup uang, untuk
Makin terperangah lah Malik mendengar perkataan kedua yang makin tak ingin ia dengar itu."Cukup, Ris! Ini keterlaluan! Aku bukan pria seperti itu, jangan samakan aku denganmu!" ucap Malik memprotes tegas, bahkan rahangnya mengeras dan tatapan matanya seketika menggelap.Aris hanya terkekeh melihat reaksi emosional Malik."Santai, santai, Lik. Sebenarnya aku cuma menguji kamu kok. Aku mau lihat kamu mau atau tidak. Kalau mau ya aku senang, tapi kalau enggak, ya gak apa-apa. Asal sama istriku saja deh, biar bersih juga kan... Jangan sampai celap-celup sana-sini kayak aku.""Hah? Apa, Ris?" sela Malik cepat. Tangannya menggenggam gelas jus itu dengan sangat erat, seolah siap meremukkannya detik itu juga. Makanan-makanan mahal dan mewah di hadapannya sama sekali tak tersentuh. Malik benar-benar kehilangan nafsu makan mendengar perkataan sahabatnya yang di luar nalar."Bercanda, Lik! Aku gak ngomong apa-apa, jangan mikir macam-macam. Aku masih sama kok kayak Aris yang kamu kenal," kekeh A
Waktu bergulir begitu cepat. Pukul tujuh malam, Malik dan Aris sudah berada di sebuah kafe mewah—tempat yang dipilih langsung oleh Aris untuk pertemuan mereka."Ada apa, Ris?" tanya Malik tanpa mau berbasa-basi."Santai saja, Lik. Kita ngobrol-ngobrol dulu. Kamu akhir-akhir ini sibuk banget ngurusin kerjaan. Sekarang pesan apa pun yang kamu mau, aku traktir," ucap Aris dengan nada congkak, bukannya senang justru Malik malah merasa risih."Aku apa saja deh, Ris," balas Malik singkat, tak mau muluk-muluk.Aris melambaikan tangan memanggil salah seorang pelayan wanita."Mau pesan apa, Pak?" tanya pelayan berkulit sawo matang itu ramah. Ia mengenakan seragam kerjanya dengan potongan cukup ketat. Meskipun dadanya berukuran sedang, bentuknya terpampang menonjol hingga membuat tatapan Aris menjadi liar. Pria itu menelan ludah seraya mengumbar senyum genit, membuat si pelayan tampak risi dan serba salah."Ris, mau pesan apa tuh?" tegur Malik tajam karena menyadari raut tak nyaman di wajah pel







