LOGIN"Oh ya, Sayang ... Video tutorial dari Mama kemarin sore sudah kamu tonton sampai selesai, kan?"
Kemarin sore Aulia memang mengirimkan sebuah video, yang menurutnya itu akan menjadi panduan bagaimana cara memperkosa pria dengan benar anti gagal. "Video tutorial apaan, orang yang Mama kirim padaku itu video porno!" sahut Mawar ketus, sedikit malu sekaligus kesal mengingat isi video yang dikirimkan mamanya. "Iya memang video porno. Tapi video itu penting untuk kamu lihat sampai selesai lho, karena itu bisa membantumu paham caranya, Sayang," jawab Aulia santai, seolah itu adalah materi pelajaran biasa yang harus dipelajari. "Iya aku paham." Mawar mengangguk cepat. "Jadi kamu tonton sampai selesai, kan?" "Iya." Mawar menjawab dengan yakin, meski sebenarnya dia sedang berbohong besar. Padahal aslinya tidak sama sekali. Baru melihat beberapa detik di awal adegan saja, perutnya sudah terasa mual dan dia merasa sangat jijik, hingga dia buru-buru mematikan layar ponselnya dan tak berani membukanya lagi. Ting, Tong! Ting, Tong! Suara bel rumah terdengar nyaring memecah keheningan. Aulia langsung tersenyum lebar, dia yakin 100% bahwa itu adalah Nyonya Yeri yang datang tepat waktu untuk menjemput Mawar. "Itu pasti Nyonya Yeri. Kamu harus berangkat sekarang, Sayang." Aulia perlahan mengangkat kedua tangannya, lalu menangkup kedua pipi Mawar dengan lembut. Sorot matanya tampak begitu berbinar, penuh harap dan doa. "Semoga berhasil ya, Sayang. Kalau kamu berhasil, kita akan jadi orang kaya. Kita nggak akan hidup miskin lagi, nggak akan makan mie instan terus, nggak punya hutang dan nggak akan dihina lagi sama tetangga," ucapnya penuh semangat. "Dan ingat juga, kalau ada yang tanya umurmu ... jawab saja 22 tahun, ya?" "Iya, Ma." Mawar mengangguk cepat, berusaha menampilkan wajah tegar. Meski dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia merasa sangat ragu, dan dia tahu bahwa apa yang akan dia lakukan itu salah dan bertentangan dengan hati nuraninya, tapi melihat Aulia begitu berambisi dan bahagia memikirkan kekayaan, Mawar pun mau tidak mau akhirnya setuju. Mungkin hanya dengan cara inilah jalan untuk mengubah nasib mereka berdua. Tentu saja sebagai anak yang sangat menyayangi mamanya, satu-satunya keluarga yang dia miliki, Mawar rela melakukan apa saja asalkan bisa melihat Aulia tersenyum bahagia. *** Di perjalanan menuju rumah Robert, suasana di dalam mobil itu terasa sangat hening. Tidak ada percakapan sama sekali antara Mawar dan Yeri. Namun, meski mulutnya diam, pikiran Mawar justru sangat berisik. Ribuan pertanyaan dan kekhawatiran berputar kencang di kepalanya. Dia terus berdoa dalam hati, memohon semoga misi yang diembannya ini berhasil lancar jaya. Dia tidak boleh mengecewakan Aulia, apalagi Nyonya Yeri dan Tuan Paul. Dan yang paling penting, satu harapan terbesar yang dia panjatkan: semoga calon majikannya itu bersih dan tidak panuan. "Mawar ... ambil ini," ucap Yeri tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya yang terdengar datar membuat Mawar tersentak kaget dan langsung menoleh cepat. "Itu apa, Nek?" Mawar mengerutkan keningnya, matanya meneliti sebuah botol kecil berbahan kaca bening yang disodorkan wanita tua itu ke hadapannya. "Ini obat perangsang, Mawar. Nanti kalau sudah di sana, kamu bisa menetesi ini ke dalam minuman atau makanan Robert. Tapi ingat, hanya 3 tetes saja, nggak boleh lebih, ya? Dan yang paling penting, jangan sampai ketahuan," instruksi Yeri dengan tegas. "Kenapa saya harus melakukan hal seperti itu padanya, Nek?" tanya Mawar bingung, merasa tindakan itu terdengar sedikit berlebihan. "Itu semua sebagai bantuan supaya misimu berhasil besar kemungkinannya, Mawar. Kamu 'kan masih pemula, jadi butuh bantuan sedikit," jawab Yeri singkat. "Oh begitu. Baiklah ... Saya akan melakukannya." Mawar mengangguk patuh, lalu segera menyimpan botol kecil itu dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang dibawanya. "Pokoknya kamu nggak boleh mengecewakan aku dan suamiku. Dan semisal misi ini gagal ... kamu dan Ibumu wajib mengembalikan uang DP yang sudah kuberikan," tambah Yeri dengan nada mengancam. "DP-nya dikembalikan?" Mawar sontak terkejut mendengar pernyataan itu. Bayangan mamanya yang begitu senang menghitung uang itu tiba-tiba terlintas, membuatnya panik. "Iyalah. Kan kamu gagal, jadi ya harus kembaliin uangnya," sahut Yeri santai namun dingin. "Baik, Nek," jawab Mawar dengan suara sedikit bergetar. "Ya sudah, ayok kita turun sekarang. Kita sudah sampai di rumah cucuku." Tidak terasa mobil mewah yang mereka tumpangi telah berhenti di halaman sebuah rumah yang sangat megah dan luas. Yeri segera turun lebih dulu dengan anggun, dan begitu Mawar ikut turun dan mengangkat wajahnya, pandangannya tepat bertemu dengan seseorang yang baru saja melangkah keluar dari pintu utama rumah itu. Mata Mawar seketika membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka menahan napas. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang pria tampan nan mempesona sedang berdiri di sana, mengenakan setelan jas formal hitam yang sangat rapi dan mahal. Bukan hanya wajahnya yang rupawan saja, tapi kulitnya yang putih, postur tubuhnya yang tinggi besar dan gagah, semuanya tampak sempurna tanpa cela. Bahkan menurut mata Mawar, pria itu jauh lebih ganteng daripada aktor Korea yang biasa dia tonton di ponselnya. "E-ehh... Oma baru dateng, ya?" sapanya dengan suara yang berat namun ramah dan lembut. Yeri segera mendekat, lalu memeluk tubuh kokoh itu dengan sayang. "Pagi cucu Oma yang ganteng. Maaf, ya, Sayang... Oma datangnya agak lama." 'Cucu??' Mawar membatin keras, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang bukan main. 'Jadi dia yang namanya Robert?? Calon bosku sekaligus calon suamiku?? Ganteng banget sumpah... bikin rahimku anget.'"Joe, apa resepsinya kita batalin aja?" Opa Paul berdiri di sisi panggung, matanya menyapu ballroom hotel yang sudah tertata hampir sempurna. Lampu kristal di atas berkilauan, menyinari deretan meja yang tertutup kain sutra putih dengan rapi. Namun kemegahan itu terasa dingin, tak menyentuh hatinya yang sedang gelisah. Wajah tuanya tampak pucat dan lelah, kerutan di dahi semakin dalam oleh kecemasan. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk yang megah itu, matanya berharap sekelebat gaun putih akan muncul di sana—seolah semua kekacauan ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun waktu terus berlalu, dan perempuan yang seharusnya menjadi ratu hari ini tak kunjung terlihat. Hanya keheningan yang menyambut setiap harapannya. Daddy Joe yang berdiri beberapa langkah dari ayahnya langsung menggeleng. Punggungnya ditegakkan, meski pundaknya terasa begitu berat menanggung beban yang tak terlihat. "Jangan dibatalin, Pi." Opa Paul menoleh dengan dahi berkerut dalam, matan
"Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Rob! Bangun, Rob!"Suara lembut namun tegas milik Oma Yeri memecah keheningan, disertai sentuhan tangan keriput yang menggoyangkan bahu Robert pelan.Pria itu tadinya hanya duduk bersandar santai di sofa tunggu sambil membolak‑balik halaman majalah, namun karena waktu perawatan Mawar dan Oma Yeri terasa begitu panjang dan lama, rasa bosan perlahan menyergapDia pun akhirnya berbaring memanjangkan kaki yang kaku. Keadaan yang tenang dan nyaman itu membuat matanya perlahan terpejam—tanpa disadari, dia pun terlelap dalam tidur yang sangat dalam."Robert!!"Goyangan pada lengan sang cucu kini terasa lebih kuat. Seketika mata Robert terbuka lebar, napasnya sedikit tersentak kaget. Dalam sekejap kesadaran kembali penuh, dan dia tersadar sepenuhnya: segala kejadian yang begitu nyata dan mendebarkan itu tadi... ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka."Ih... kenapa cuma mimpi?" gumamnya pelan, nada suaranya penuh rasa kecewa yang mendalam. Dia masih bisa merasakan samar‑samar detak jantung yan
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
"Nggak lama kok, Oma, biasa saja. Tapi ngomong-ngomong Oma bawa LC dari mana?"Pelukan hangat itu perlahan terlepas, dan seketika pandangan tajam nan dingin Robert langsung tertuju sepenuhnya pada sosok Mawar yang berdiri mematung di sana. Tatapannya begitu menusuk, seolah sedang menelisik setiap d
Mawar hanya menggeleng perlahan. Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa tertarik, bahkan mendengar kata-kata itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.Menurutnya, apapun yang dijanjikan tidak akan bisa menghapus rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Namun, meski melihat sikap a
Robert—adalah cucu pertama mereka, sosok yang paling mereka sayangi dan kasihi sepenuh hati. Sebagai pewaris utama, kelak dia akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga yang melimpah, baik dari pihak kakek-neneknya maupun dari orang tuanya sendiri.Secara finansial, hidup Robert sangatlah sempurna. Di







