FAZER LOGIN"Nggak lama kok, Oma, biasa saja. Tapi ngomong-ngomong Oma bawa LC dari mana?"
Pelukan hangat itu perlahan terlepas, dan seketika pandangan tajam nan dingin Robert langsung tertuju sepenuhnya pada sosok Mawar yang berdiri mematung di sana. Tatapannya begitu menusuk, seolah sedang menelisik setiap detail pada diri gadis itu. "Hussh!! Yang sopan ngomongnya, Rob." Yeri menegur dengan lembut sambil mencubit pelan lengan cucunya, lalu segera menoleh pada Mawar yang sejak tadi menatap Robert tanpa berkedip sedikit pun, seolah terhipnotis. "Dia ini namanya Mawar, dia akan menjadi pembantu barumu." "Pembantu baru??" Robert mengerutkan keningnya dalam, merasa ragu. Seminggu yang lalu pembantu lamanya memang berhenti bekerja, dan itu tanpa alasan yang jelas. Wanita itu tiba-tiba saja menghilang meninggalkan rumah tanpa kabar, dan dihubungi pun sulit. Namun Omanya mengatakan bahwa pembantu lama itu sudah sempat pamit padanya, mengaku ingin berhenti bekerja karena ingin membuka usaha di kampung halaman. "Iya, pembantu baru. Kan kemarin-kemarin Oma sudah bilang kalau Oma yang akan mencari pembantu baru untukmu, jadi sekarang Oma bawa orangnya," jelas Yeri dengan nada mantap dan yakin. Robert terdiam sejenak, lalu kembali menatap Mawar dari ujung kaki perlahan naik hingga ke wajah dengan pandangan yang menilai dan sedikit meremehkan. "Berapa umurmu, Mawar?" tanyanya. Yeri langsung menoleh ke samping dengan gelagat panik, karena sejak tadi gadis itu tak kunjung bersuara. Saat dilihatnya, Mawar justru sedang melamun kaku sambil menatap Robert dengan mulut sedikit terbuka, benar-benar takjub melihat ketampanan pria di hadapannya. "Hei, Mawar! Itu kamu ditanya sama cucuku!" seru Yeri sambil menyenggol kuat lengan Mawar, hingga membuat gadis itu tersentak kaget dan sadar dari lamunannya. "Berapa umurmu?" Robert bertanya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih serius dan tegas. "Dua ... Dua puluh tu ... Maksud saya dua puluh dua!" Mawar tergagap-gagap, wajahnya memerah padam menahan malu karena hampir salah bicara. Untunglah dia bisa memperbaikinya dengan cepat sebelum ketahuan. Dia ingat betul pesan Aulia sebelum berangkat. Ibunya memintanya untuk berbohong soal umur, mengaku 22 tahun padahal aslinya sudah 27. Dikhawatirkan jika usia aslinya diketahui, Yeri akan berubah pikiran dan membatalkan segalanya. "Kamu yakin, kamu bisa masak dan membereskan rumah?" Robert tampak masih sangat ragu. Apalagi mendengar usia yang masih terbilang muda, dan ditambah lagi wajah Mawar yang baby face, membuatnya terlihat sangat imut dan polos, seolah belum terbiasa bekerja keras atau menanggung beban hidup. "Tentu saja bisa dong, Rob." Kali ini Yeri yang buru-buru menjawab mewakili, wajahnya tampak panik takut kalau Mawar salah bicara atau justru malah gugup dan diam saja. "Oma 'kan ngambilnya dari yayasan, sudah pasti Mawar bisa semuanya, handal dan terlatih," bohong Yeri dengan percaya diri dan nada yang sangat meyakinkan. Robert menghela napas pendek, lalu mengangguk tanda setuju. Sejujurnya dalam hatinya dia sangat meragukan Mawar, tapi tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan. "Ya sudah, kamu keterima kerja. Sekarang masuk dan langsung ke dapur, buatkan aku nasi goreng." "Nasi goreng?" Mata Mawar seketika membulat lebar, kali ini dia benar-benar kaget setengah mati. Padahal masakan yang terdengar simpel seperti nasi goreng saja sebenarnya dia belum pernah membuatnya seumur hidup! "Iya, nasi goreng. Apa ada masalah?" Robert menatapnya tajam, sorot matanya begitu dalam seolah bisa membaca kepanikan gadis itu. Mawar menggeleng cepat. "Enggak kok, Sayang. Eh, maaf maksudku Pak Robert!" serunya terbata-bata. Dia salah sebut lagi karena terlalu gugup dan terpana melihat ketampanan pria di hadapannya. "Panggil aku Pak Bos saja," perintah Robert dengan nada dingin. "Baik, Pak Bos," jawab Mawar cepat, suaranya terdengar patuh. Robert pun melangkah masuk ke dalam rumah dengan gagah, diikuti Yeri dan juga Mawar yang memegang tas jinjingnya dengan erat. Mata gadis itu langsung berkeliling liar, menatap setiap sudut bangunan mewah di dalamnya dengan takjub. Ini kali pertamanya dalam seumur hidup, dia menginjakkan kaki masuk ke rumah orang sekaya ini. 'Gila gila, ini mewah banget!! Semuanya terlihat mahal dan elegan. Kalau aku beneran jadi istrinya, aku benar-benar akan jadi seorang Nyonya muda kaya raya.' 'Tapi kerja apa kira-kira calon suamiku ini, ya? Atau semua yang dimilikinya bersumber dari nenek dan kakek sipitnya?' batin Mawar berteriak kegirangan, membayangkan nasibnya yang akan berubah drastis menjadi orang berada. "Ini dapurnya," ucap Robert ketika langkahnya terhenti di dapur mewah miliknya, lengkap dengan peralatan canggih yang berkilauan. Sementara itu pikiran Mawar sudah melayang jauh. Matanya memandang sekeliling dengan penuh hasrat, membayangkan bahwa semua kemewahan ini kelak akan menjadi miliknya sepenuhnya. Karena terlalu sibuk melamun dan tidak memperhatikan jalan, kakinya tersandung alas kakinya sendiri. Bruk! Tanpa bisa ditahan, tubuh mungilnya terhuyung ke depan dan langsung menubruk punggung Robert yang sedang berdiri membelakanginya. Karena dorongan yang cukup keras, keseimbangan Robert pun ikut hilang. Mereka berdua akhirnya jatuh berguling di lantai yang dingin, dengan posisi Mawar tepat berada di atas tubuh Robert yang telentang. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja, hidung mereka hampir bersentuhan. Mawar terpaku, jantungnya seketika berdegup kencang seolah ingin meledak keluar dari rongga dada. Rasa sakit karena jatuh seketika berganti menjadi getaran aneh yang menyenangkan. Di matanya, saat ini terlihat wajah tampan Robert dari jarak yang sangat dekat, membuat hatinya serasa dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang menari-nari dengan riang. Namun berbeda dengan Mawar, Robert justru terdiam kaku. Matanya terpaku menatap manik mata hitam legam milik gadis yang sedang menimpanya itu. Tidak ada yang salah dengan mata itu, justru bola mata gadis itu terlihat sangat cantik dan jernih. Namun anehnya, semakin lama dia menatapnya, semakin Robert merasa familiar. Seolah-olah dia sudah pernah melihat tatapan itu sebelumnya, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. 'Aneh... Perasaan aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, tapi kok aku merasa matanya sangat akrab dan familiar banget, ya?' batin Robert bertanya-tanya, mencoba mengorek ingatannya namun nihil. Merasakan ini adalah kesempatan emas, Mawar pun memanfaatkan momen tersebut. Dengan perlahan, dia mendekatkan wajahnya, bibir mungilnya bahkan sudah monyong, berniat untuk langsung menyambar bibir tipis Robert. 'Gimana, ya, rasanya mencium cowok ganteng? Apakah rasanya akan manis, atau ada sedikit asem-asemnya?' Bersambung....."Joe, apa resepsinya kita batalin aja?" Opa Paul berdiri di sisi panggung, matanya menyapu ballroom hotel yang sudah tertata hampir sempurna. Lampu kristal di atas berkilauan, menyinari deretan meja yang tertutup kain sutra putih dengan rapi. Namun kemegahan itu terasa dingin, tak menyentuh hatinya yang sedang gelisah. Wajah tuanya tampak pucat dan lelah, kerutan di dahi semakin dalam oleh kecemasan. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk yang megah itu, matanya berharap sekelebat gaun putih akan muncul di sana—seolah semua kekacauan ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun waktu terus berlalu, dan perempuan yang seharusnya menjadi ratu hari ini tak kunjung terlihat. Hanya keheningan yang menyambut setiap harapannya. Daddy Joe yang berdiri beberapa langkah dari ayahnya langsung menggeleng. Punggungnya ditegakkan, meski pundaknya terasa begitu berat menanggung beban yang tak terlihat. "Jangan dibatalin, Pi." Opa Paul menoleh dengan dahi berkerut dalam, matan
"Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Rob! Bangun, Rob!"Suara lembut namun tegas milik Oma Yeri memecah keheningan, disertai sentuhan tangan keriput yang menggoyangkan bahu Robert pelan.Pria itu tadinya hanya duduk bersandar santai di sofa tunggu sambil membolak‑balik halaman majalah, namun karena waktu perawatan Mawar dan Oma Yeri terasa begitu panjang dan lama, rasa bosan perlahan menyergapDia pun akhirnya berbaring memanjangkan kaki yang kaku. Keadaan yang tenang dan nyaman itu membuat matanya perlahan terpejam—tanpa disadari, dia pun terlelap dalam tidur yang sangat dalam."Robert!!"Goyangan pada lengan sang cucu kini terasa lebih kuat. Seketika mata Robert terbuka lebar, napasnya sedikit tersentak kaget. Dalam sekejap kesadaran kembali penuh, dan dia tersadar sepenuhnya: segala kejadian yang begitu nyata dan mendebarkan itu tadi... ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka."Ih... kenapa cuma mimpi?" gumamnya pelan, nada suaranya penuh rasa kecewa yang mendalam. Dia masih bisa merasakan samar‑samar detak jantung yan
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
"Oh ya, Sayang ... Video tutorial dari Mama kemarin sore sudah kamu tonton sampai selesai, kan?"Kemarin sore Aulia memang mengirimkan sebuah video, yang menurutnya itu akan menjadi panduan bagaimana cara memperkosa pria dengan benar anti gagal."Video tutorial apaan, orang yang Mama kirim padaku i
Mawar hanya menggeleng perlahan. Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa tertarik, bahkan mendengar kata-kata itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.Menurutnya, apapun yang dijanjikan tidak akan bisa menghapus rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Namun, meski melihat sikap a
Robert—adalah cucu pertama mereka, sosok yang paling mereka sayangi dan kasihi sepenuh hati. Sebagai pewaris utama, kelak dia akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga yang melimpah, baik dari pihak kakek-neneknya maupun dari orang tuanya sendiri.Secara finansial, hidup Robert sangatlah sempurna. Di







