Se connecterRobert—adalah cucu pertama mereka, sosok yang paling mereka sayangi dan kasihi sepenuh hati. Sebagai pewaris utama, kelak dia akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga yang melimpah, baik dari pihak kakek-neneknya maupun dari orang tuanya sendiri.
Secara finansial, hidup Robert sangatlah sempurna. Dia memiliki segalanya, kekuasaan, jabatan, dan uang yang tak terbatas. Namun sayangnya, kesempurnaan itu tidak berlaku untuk kisah percintaannya. Sudah dua kali dia mengalami kegagalan dalam melangkah ke jenjang pernikahan. Yang pertama, tunangannya ternyata berselingkuh di belakangnya. Dan yang kedua, gadis yang dia ajak ta'arufan dengan niat yang sangat baik justru direbut oleh teman dekatnya sendiri. Kegagalan demi kegagalan itu meninggalkan luka yang cukup dalam. Itu membuat dirinya trauma untuk menikah dan bahkan trauma untuk mengenal cinta. Robert bahkan sudah bicara terang-terangan di depan seluruh keluarga besarnya jika dia ingin menjomblo seumur hidup dan tidak ingin lagi berurusan dengan wanita. Tentu saja keinginan itu ditentang habis-habisan oleh semua orang, termasuk kedua orang tua Robert sendiri. Mereka sudah mencoba menjodohkannya berkali-kali dengan perempuan dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan atas, sosialita, pejabat, hingga wanita sederhana, tapi pria itu selalu menolak dengan tegas. Dia seolah menutup pintu hatinya rapat-rapat, tidak memberi celah sedikit pun bagi siapa pun untuk masuk. Kini, usianya sudah menginjak angka 35 tahun. Fakta itu membuat Yeri dan Paul semakin gelisah dan takut. Mereka tidak ingin sang cucu menjadi perjaka tua selamanya hanya karena tak kunjung menikah. Setelah berpikir keras dan berembuk panjang lebar, akhirnya keduanya mendapatkan sebuah ide gila namun mereka anggap paling efektif. Caranya? Menjebak Robert untuk tidur dengan seorang gadis lalu memaksanya agar mau bertanggung jawab. "Cucu Nenek laki-laki apa perempuan?" tanya Mawar penasaran. Belum sempat Yeri menjawab, Aulia sudah membisikkan sesuatu di telinga anaknya dengan nada teguran, "Jangan panggil dia Nenek, War, nggak sopan! Panggil dia Nyonya." Mawar sedikit mengerutkan kening, merasa tidak nyaman dengan peraturan itu, tapi dia tetap menuruti permintaan mamanya. "Maaf, maksudku Nyonya," ucapnya dengan nada yang sedikit dingin. "Laki-laki," jawab Yeri singkat dan tegas, tanpa ada perubahan ekspresi sedikit pun di wajahnya. Mawar semakin bingung, rasa tidak masuk akal dalam benaknya makin memuncak. "Memangnya laki-laki bisa diperkosa?? Setauku yang diperkosa di mana-mana itu perempuan." Ucapan itu seolah membuat Yeri merasa kesal dan tidak sabar. Dia mengangkat tangannya sedikit seolah hendak menghentikan pembicaraan yang menurutnya tidak berguna itu, lalu berkata dengan nada ketus, "Aku nggak ada waktu untuk menjawab pertanyaan nggak pentingmu itu. Sekarang kalian lebih baik pulang saja." Mendengar itu, wajah Aulia seketika pucat pasi. Rasa panik menyelimuti dirinya. Tanpa berpikir panjang, dia segera bergerak mendekat, lalu berlutut tepat di kaki Yeri, posisinya terlihat begitu rendah dan memohon. "Nyonya, Nyonya, jangan begitu!!" serunya dengan nada penuh keputusasaan. "Tolong pilih anak saya, Mawar. Meskipun dia belum pernah pacaran, meski dia masih polos... tapi saya jamin, Mawar bisa memperkosa cucu Tuan dan Nyonya. Setidaknya tolong berikan kesempatan untuk dia mencobanya." Yeri membuka mulutnya seolah hendak menolak lagi, "Tapi aku—" Ucapannya terhenti seketika saat suaminya, Paul, yang sedari tadi hanya diam mengamati, mengulurkan tangannya lalu menepuk pelan punggung tangan istrinya. Sentuhan itu membuat Yeri seolah mengerti sesuatu, dan dia segera menoleh ke arah suaminya. Paul lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Yeri, membisikkan beberapa kata yang tidak terdengar oleh siapa pun di sekitar mereka. Setelah mendengar bisikan itu, ekspresi Yeri perlahan berubah. Dia mengangguk perlahan, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Aulia, menariknya dengan lembut agar wanita itu kembali berdiri. "Baiklah, kami akan memberikan anakmu kesempatan. Tapi jangan pernah sekali-kali kecewakan kami!" ujarnya dengan nada yang tegas dan penuh peringatan, seolah ada konsekuensi berat yang akan menimpa mereka jika permintaan ini tidak dipenuhi dengan baik. Wajah Aulia langsung berseri-seri, rasa lega dan gembira memenuhi hatinya. Dia mengangguk berulang kali dengan antusias, lalu menjawab dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan, "Tentu, Nyonya! Saya janji!" *** "Ma... Mama ini apa-apaan sih?! Kenapa Mama nggak bilang dari awal kalau misi itu ternyata memperkosa seorang pria dan kenapa Mama setuju, bahkan Mama yang terlihat begitu memohon??" Begitu keduanya pulang ke rumah kontrakan mereka, Mawar langsung meluapkan segala kekesalan yang sejak tadi tertahan di dadanya. Wajahnya memerah menahan marah, suaranya meninggi karena rasa tidak percaya yang begitu besar. Dia benar-benar tak habis pikir—bagaimana mungkin mamanya tega menyetujui hal gila semacam itu, bahkan sampai bersedia berlutut dan memohon agar dia dipilih. Dan yang lebih membuatnya merasa sakit hati, jika dia melakukan apa yang diminta, berarti keperawanannya, sesuatu yang selama ini dia jaga dengan sepenuh hati, akan dipertaruhkan begitu saja. "Kamu kenapa berisik banget sih Mawar?? Nikmati saja kenapa sih??" Reaksi Aulia justru membuatnya semakin terkejut. Wanita itu seolah tidak peduli sedikit pun dengan kemarahan dan perasaan anaknya. Sejak mereka tiba di rumah, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada selembar amplop tebal yang ada di tangannya. Dia membukanya, lalu mulai menghitung lembaran uang di dalamnya dengan tatapan puas. Uang itu adalah pemberian dari Yeri, yang diberikan begitu mereka meninggalkan restoran—uang muka senilai 30 juta sebagai tanda bahwa kesepakatan itu sudah disetujui. Dan Aulia tahu betul, jumlah yang akan mereka terima nanti jika misi ini berhasil akan jauh lebih besar, bahkan cukup untuk mengubah seluruh hidup mereka. "Bagaimana bisa aku menikmati kalau caranya seperti ini, Ma??" tanya Mawar lagi, matanya memandang mamanya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Ini 'kan sama saja seperti aku jual diri." Mendengar ucapan itu, Aulia berhenti sejenak dari kegiatannya. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri agar tidak terbawa emosi seperti Mawar. Dia sadar, jika mereka sama-sama marah dan berselisih paham, hal itu hanya akan merusak segalanya, dan semua kesempatan yang sudah didapatkan dengan susah payah ini akan hilang begitu saja. "Sayang, ke mari lah ...." panggilnya dengan nada yang lebih lembut. Dia menepuk-nepuk permukaan sofa di samping tempatnya duduk, memberi isyarat agar Mawar mendekat dan duduk di sebelahnya. "Mama akan jelaskan sesuatu padamu." Mawar hanya berdiri diam di tempat, tidak bergerak sedikit pun. Dia masih merasa kecewa dan kesal, dan menurutnya tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, karena semuanya sudah terlihat begitu jelas. "Apa lagi?? Semuanya sudah jelas, Ma. Aku dijual sama cucunya nenek dan kakek bermata sipit itu," jawabnya ketus, suaranya terdengar getir. "Percayalah, Sayang ... Ini tidak seperti kamu dijual, atau kamu menjual diri," ujar Aulia dengan nada yang lembut namun penuh keyakinan. Dia bangkit sedikit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus puncak kepala Mawar, berusaha menenangkan hatinya sekaligus meyakinkannya bahwa apa yang dia lakukan ini bukanlah hal yang buruk. "Itu buktinya Mama dapat uang dari nenek sipit tadi, sudah jelas aku dijual," ungkap Mawar dengan nada yakin. Baginya, adanya uang yang berpindah tangan saja sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan—seolah-olah dirinya sudah dianggap sebagai barang yang bisa dihargai dan ditukar dengan sejumlah uang. "Uang ini baru DP, Sayang. Tapi jika misi itu berhasil kamu jalankan ... Tuan dan Nyonya tadi akan memberikan kita hadiah. Apa kamu mau tau apa hadiahnya??""Joe, apa resepsinya kita batalin aja?" Opa Paul berdiri di sisi panggung, matanya menyapu ballroom hotel yang sudah tertata hampir sempurna. Lampu kristal di atas berkilauan, menyinari deretan meja yang tertutup kain sutra putih dengan rapi. Namun kemegahan itu terasa dingin, tak menyentuh hatinya yang sedang gelisah. Wajah tuanya tampak pucat dan lelah, kerutan di dahi semakin dalam oleh kecemasan. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk yang megah itu, matanya berharap sekelebat gaun putih akan muncul di sana—seolah semua kekacauan ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun waktu terus berlalu, dan perempuan yang seharusnya menjadi ratu hari ini tak kunjung terlihat. Hanya keheningan yang menyambut setiap harapannya. Daddy Joe yang berdiri beberapa langkah dari ayahnya langsung menggeleng. Punggungnya ditegakkan, meski pundaknya terasa begitu berat menanggung beban yang tak terlihat. "Jangan dibatalin, Pi." Opa Paul menoleh dengan dahi berkerut dalam, matan
"Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Rob! Bangun, Rob!"Suara lembut namun tegas milik Oma Yeri memecah keheningan, disertai sentuhan tangan keriput yang menggoyangkan bahu Robert pelan.Pria itu tadinya hanya duduk bersandar santai di sofa tunggu sambil membolak‑balik halaman majalah, namun karena waktu perawatan Mawar dan Oma Yeri terasa begitu panjang dan lama, rasa bosan perlahan menyergapDia pun akhirnya berbaring memanjangkan kaki yang kaku. Keadaan yang tenang dan nyaman itu membuat matanya perlahan terpejam—tanpa disadari, dia pun terlelap dalam tidur yang sangat dalam."Robert!!"Goyangan pada lengan sang cucu kini terasa lebih kuat. Seketika mata Robert terbuka lebar, napasnya sedikit tersentak kaget. Dalam sekejap kesadaran kembali penuh, dan dia tersadar sepenuhnya: segala kejadian yang begitu nyata dan mendebarkan itu tadi... ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka."Ih... kenapa cuma mimpi?" gumamnya pelan, nada suaranya penuh rasa kecewa yang mendalam. Dia masih bisa merasakan samar‑samar detak jantung yan
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
"Nggak lama kok, Oma, biasa saja. Tapi ngomong-ngomong Oma bawa LC dari mana?"Pelukan hangat itu perlahan terlepas, dan seketika pandangan tajam nan dingin Robert langsung tertuju sepenuhnya pada sosok Mawar yang berdiri mematung di sana. Tatapannya begitu menusuk, seolah sedang menelisik setiap d
"Oh ya, Sayang ... Video tutorial dari Mama kemarin sore sudah kamu tonton sampai selesai, kan?"Kemarin sore Aulia memang mengirimkan sebuah video, yang menurutnya itu akan menjadi panduan bagaimana cara memperkosa pria dengan benar anti gagal."Video tutorial apaan, orang yang Mama kirim padaku i
Mawar hanya menggeleng perlahan. Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa tertarik, bahkan mendengar kata-kata itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.Menurutnya, apapun yang dijanjikan tidak akan bisa menghapus rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Namun, meski melihat sikap a







