Masuk"Sial, sial, sial! Di mana pakaian dalamku?!" bisik Marlina panik, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang hampir pecah di keheningan kamar suite mewah itu.
Wanita bertubuh mungil itu bergerak secepat kilat, meskipun rasa sakit yang teramat perih dan berdenyut di bawah sananya membuat setiap tarikan langkahnya terasa menyiksa. Dengan tubuh yang masih gemetar karena sisa gairah dan ketakutan yang luar biasa, ia memunguti gaun hitam malamnya yang teronggok mengenaskan di atas lantai marmer. Sreekh Suara gesekan kain selimut yang tebal mendadak menghentikan pergerakan Marlina. Ia menoleh patah-patah, menatap ke arah ranjang berukuran king size dengan jantung yang berdegup kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Di sana, Rey Aldebaran tampak terusik dalam tidur lelapnya. Alis tebal pria itu bertaut sedikit, dan tubuh tegapnya bergerak pelan, mengubah posisi tidur. "Nngghh..." Rey melenguh rendah dalam tidurnya, suara baritonnya yang serak terdengar begitu mengintimidasi bahkan saat pria itu belum sepenuhnya terjaga. Marlina mematung, menahan napasnya rapat-rapat dengan wajah yang memucat. Jangan bangun, kumohon jangan bangun dulu! jeritnya histeris dalam hati. Rasa panik yang teramat sangat melingkupi kepalanya. Jika bosnya yang dingin dan arogan itu terbangun sekarang, Marlina tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana, apalagi setelah semua umpatan berani dan desahan memalukan yang ia keluarkan semalam. Tanpa berpikir panjang lagi, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Marlina buru-buru memakai pakaiannya secara acak. Ia tidak peduli lagi dengan rambut panjangnya yang berantakan atau ritsleting gaun belakangnya yang tidak bisa tertutup sempurna. Mengabaikan rasa sakit yang kian mendera di area intimnya, Marlina meraih tas tangannya, melepaskan high heelsnya agar tidak menimbulkan suara, lalu berlari sekencang mungkin keluar dari kamar suite mewah itu, melarikan diri sebelum sang singa terbangun dari tidurnya. Hanya berselang beberapa menit setelah suara pintu kamar hotel tertutup dengan bunyi klik yang halus, sepasang netra tajam milik Rey Aldebaran perlahan terbuka. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden membuat pria itu sedikit menyipitkan matanya. Rey meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku, sisa-sisa kehangatan semalam masih terasa jelas di dalam benaknya. Sudut bibirnya terangkat samar saat mengingat bagaimana sekretaris mungilnya yang ceroboh itu berulang kali memohon di bawah kukungannya. "Marlina..." panggil Rey, suaranya terdengar sangat serak khas orang baru bangun tidur. Ia membalikkan tubuhnya, mengulurkan tangan kekarnya ke sisi kanan ranjang untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Namun, jemarinya hanya menyentuh hamparan seprai katun yang terasa dingin. Tidak ada siapa-siapa di sana. Rey mendudukkan tubuh tegapnya, mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru kamar suite yang luas. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain selain dirinya. Netranya kemudian beralih ke lantai, melihat pakaian milik Marlina yang semalam berserakan kini sudah menghilang tanpa bekas. "Dia... kabur?" gumam Rey, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es. Pria itu tertawa hambar, sebuah tawa sarkasme yang menggema di dalam ruangan sepi. Rahangnya mengeras seketika, dan tangannya mengepal kuat di atas lutut. Harga dirinya sebagai seorang Rey Aldebaran, CEO raksasa Cakrawala Group yang selalu dipuja dan dikejar oleh banyak wanita kelas atas, mendadak merasa jatuh bebas ke titik terendah. Bagaimana bisa seorang sekretaris mungil yang ceroboh seperti Marlina Navasya berani melangkah pergi membelakanginya, meninggalkannya begitu saja setelah apa yang mereka lewatkan semalam? "Sialan. Berani sekali dia bermain-main denganku," desis Rey, matanya berkilat penuh amarah dan arogansi yang terusik. Tidak ingin mengambil pusing lebih lama dan membiarkan emosinya merusak pagi harinya, Rey memutuskan untuk bangkit dari ranjang. Ia hendak bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membasuh sisa alkohol yang masih membuat kepalanya sedikit berdenyut. Namun, tepat saat ia menyibak selimut tebal yang menutupi bagian bawah tubuhnya, pergerakan Rey mendadak terhenti total. Matanya yang tajam melirik ke arah bekas tempat tidur Marlina semalam. Di atas seprai putih bersih yang tampak kusut masai itu, terdapat sebuah noda kontras yang menarik perhatiannya. Sebuah bercak merah pekat yang berukuran tidak terlalu besar, namun terlihat sangat jelas di bawah siraman cahaya matahari pagi. Rey mematung di tepi ranjang, menatap lekat-lekat noda tersebut. Sebagai pria dewasa, ia tahu betul arti dari bercak merah yang tertinggal di atas seprai putih itu. Itu adalah darah kesucian yang mengalir karena hantaman kasarnya semalam. Pria itu perlahan menaikkan sebelah alis tebalnya, kemarahan yang sedari tadi membakar dadanya mendadak surut, berganti dengan rasa terkejut yang teramat sangat sekaligus sebuah kepuasan terselubung yang tak bisa ia sembunyikan. Sudut bibirnya perlahan melengkung, membentuk sebuah senyuman misterius yang teramat seksi sekaligus berbahaya. Rey bergumam rendah dengan suara baritonnya yang sarat akan kepemilikan mutlak, "Jadi... dia masih perawan?""Bicaranya yang jelas, Rey!" bentak Baskoro Aldebaran, memukul meja makan berkayu jati ukiran Jepara hingga denting alat makan perak beradu nyaring. "Jangan cuma diam dan menatap ayahmu seperti itu!" Di meja makan megah berkapasitas dua belas orang yang kini hanya diisi oleh dua pria beda generasi itu, Rey Aldebaran duduk menegakkan punggungnya. Kemeja mewahnya masih melekat rapi, namun dua kancing atasnya sudah terbuka, menandakan kelelahan dan tingkat emosi yang menumpuk. "Lalu aku harus bicara apa, Ayah?" sahut Rey dingin, memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh penekanan. "Bukannya Ayah menyuruhku pulang hanya untuk mendengar titah mutlak yang sudah Ayah susun sendiri?" "Ini demi ekspansi Aldebaran Group ke Eropa!" tegas Baskoro, memajukan tubuhnya. "Dewan komisaris mulai mempertanyakan fokusmu. Belakangan ini caramu memimpin terlalu impulsif. Dan tadi siang... laporan dari orang-orangku bilang kau membuat keributan di kafetaria kantor cum
"Siapa, Tuan Rey?" tanya Marlina Navasya ragu, matanya menatap cemas pada rahang kokoh Rey Aldebaran yang tampak mengeras kaku. Rey tidak langsung menjawab. Pria tegap itu mengangkat teleponnya, menempelkan benda tipis bernilai puluhan juta itu ke telinganya tanpa melepas genggaman hangat jemarinya di tangan Marlina. "Ada apa lagi?" sapa Rey dengan suara bariton rendah yang teramat dingin, seolah sedang berbicara pada musuh bebuyutannya."Begitu caramu menyapa ayahmu sendiri, Rey?" suara berat dan berwibawa dari pria paruh baya di seberang telepon bergema halus, menyiratkan kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di kediaman utama. Kau harus pulang." "Aku sibuk," balas Rey singkat, hendak mematikan sambungan telepon tersebut. "Jangan mencoba bertindak lancang!" potong suara di seberang sana dengan nada menekan yang makin menajam. "Ini bukan sekadar makan malam biasa. Kita perlu membahas ekspansi bisnis ke Eropa dan laporan dewan komisaris
"Kalian sudah gila, ya?!" seru Marlina dengan napas memburu, menatap tajam keempat wanita yang masih mengepungnya di sudut pantri. "Mana ada hubungan apa-apa antara aku dan Tuan Rey! Kalian ini suka sekali mereka-reka cerita!" "Halah, alasan!" sahut Siska dengan nada mengejek, melipat tangan di depan dada. "Mana ada atasan yang mau-maunya menggendong sekretarisnya di atas bahu kalau cuma gara-gara urusan kantor! Jelas-jelas muka Tuan Rey tadi merah karena cemburu buta!" "Betul! Pipimu juga merah banget tuh, Marlina!" timpal Maya ikut memanas-manasi. "Ngaku saja, deh! Kalian sudah resmi pacaran, kan? Atau jangan-jangan... sudah tinggal bersama?!" Marlina merasakan darahnya mendidih seketika. "Kalian kalau bicara jangan asal, ya! Aku tidak punya hubungan spesial apa pun dengan Tuan Rey! Dan tolong, singkirkan tangan kalian dari jalaniku sekarang juga!" "Ih, ngambek, Guys!" cibir salah satu staf keuangan sambil tertawa kecil. "Tanda-tanda orang yang ketahuan menyembunyikan status nih
"Aku tidak mau lagi berpura-pura tidak dekat denganmu di kantor ini," cetus Rey Aldebaran tegas, menatap lurus sepasang mata bulat milik Marlina. Marlina Navasya yang mendengarnya seketika membelalakkan matanya kaget. "Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rey!" "Kenapa tidak mau?" tuntut Rey, alis tebalnya bertaut rapat dengan raut wajah yang mulai mengeras. "Saya tidak mau jadi bahan gosip satu gedung ini!" sembur Marlina tajam, emosinya yang baru saja mereda mendadak tersulut kembali. "Saya tidak mau dipandang sebagai wanita gatal yang menggunakan posisinya untuk menggoda atasannya sendiri! Anda pikir enak berada di posisi saya, hm?!" Rey menatap Marlina dengan tatapan yang sangat masam. Pria tegap itu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, lalu bersedekap dada sembari bergumam dengan nada cemburu yang begitu kentara. "Bilang saja kau memang sengaja ingin tetap lajang di mata orang-orang kantor, kan?" celoteh Rey sinis dengan suara pelan namun sangat jelas terdengar. "Supaya kau bi
"T-Tuan Rey, tolong lepaskan tangan Nona Navasya," panggil Yoga memberanikan diri, melangkah maju satu langkah sembari menatap takut-takut pada sang CEO. "Nona Navasya tampak kesakitan, Tuan." Rey Aldebaran memutar kepalanya perlahan. Sepasang netra kelabunya yang sedingin es mengunci lurus pada staf IT muda itu dengan kilatan membunuh yang amat pekat. "Kau mau ikut campur dalam urusanku, Yoga?" tanya Rey dengan suara bariton rendah yang sanggup membekukan seluruh aliran darah orang yang mendengarnya. "Saya cuma kasihan pada Nona Navasya, Tuan—" "Mulai hari ini kau dipecat," potong Rey singkat, datar, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Kemas barang-barangmu dari divisi IT sekarang juga dan keluar dari gedungku sebelum jam satu siang." Suara pekikan kaget dari puluhan karyawan yang menyaksikan adegan itu seketika pecah membelah keheningan kafetaria. Semua orang saling berbisik panik melihat kejamnya keputusan sang atasan. "T-Tuan Rey! Jangan gila!" teriak Marlina Navasya tidak teri
"Anda benar-benar keterlaluan, Rey!" cetus Marlina Navasya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Rey Aldebaran masih bersandar santai di bantal ranjang penthousenya, menatap wanita bertubuh mungil itu dengan alis terangkat tipis. "Keterlaluan bagaimana? Aku hanya menegaskan batasan, Marlina." "Batasan?!" pekik Marlina melompat turun dari kasur, membiarkan selimut tebal itu meluncur jatuh. "Anda mengancam akan menghancurkan karir orang lain hanya karena dia berbicara pada saya! Anda pikir Anda siapa, Rey?! Anda merasa punya kekuasaan penuh untuk mengatur hidup saya dan memperlakukan saya seperti barang milik Anda?!" "Kau memang milikku, Marlina," sahut Rey datar, nada suaranya begitu arogan tanpa penyesalan sedikit pun. Marlina tertawa hambar, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa kecewa dan kesal yang memuncak. Tanpa memedulikan tatapan Rey yang tertegun, Marlina meraih pakaian kerjanya yang tersangkut di kursi, lalu memakaikannya kembali ke tubuhnya denga
Sepanjang perjalanan menuju lokasi meeting, Rey beberapa kali meliriknya dari sudut mata. Setiap kali Marlina menyadarinya dan menoleh, Rey langsung mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke luar jendela.Saat tiba di lobi hotel tempat pertemuan, Rey berjalan sedikit lebih cepat, lalu tiba-tiba be
Sejak beberapa hari terakhir, Marlina mulai sadar bahwa Rey selalu punya cara untuk menyentuhnya, entah sengaja atau tidak. Dia memutuskan untuk tidak memberi reaksi. Jika Rey ingin bermain, dia tidak akan menjadi pihak yang kalah.Pagi ini, saat Rey memanggil ke ruangannya, Marlina hanya berdiri t
Udara malam menusuk kulit saat mereka keluar dari restoran. Satu per satu pegawai berpamitan, sebagian memilih naik taksi, sebagian diantar temannya. Rey berjalan pelan ke arah mobilnya, lalu menoleh. "Marlina." Suara itu datar, tapi ada sesuatu yang memaksa Marlina berhenti. "Ya, Tuan Rey?""A
"Wah, lihat ini. Kenapa aku gelisah sekali." Mata lelaki tampan itu nampak gelisah. Menjaga jarak ternyata bukan hal yang mudah. Awalnya Rey pikir, mengikuti saran Marlina akan meredakan gosip. Nyatanya, itu hanya membuatnya gila. Setiap kali dia keluar dari ruangannya dan melihat Marlina terta







