Masuk"Katakan sekali lagi dengan jelas, Marlina. Apa kau benar-benar menolakku?" bisik Rey Aldebaran dengan nada bariton yang teramat rendah, penuh dominasi yang mutlak.
Belum sempat Marlina membuka mulut untuk menjawab, Rey sudah menyambar bibir ranum sekretarisnya itu dengan sebuah ciuman yang penuh dengan dominasi. Ciuman itu begitu kasar, menuntut, dan mengunci seluruh pergerakan Marlina hingga wanita bertubuh mungil itu tidak memiliki celah untuk bernapas. Marlina awalnya memberontak, tangan mungilnya memukul dada bidang Rey berkali-kali, berusaha menjauhkan wajah tampan sang atasan yang terasa begitu pekat memabukkan. "Mmhh... Tuan... lep--" Marlina melenguh di sela-sela ciuman mereka, mencoba memalingkan wajahnya. Namun, Rey tidak memberikan ruang sedikit pun. Sentuhan tangan Rey yang bergerak liar di bagian sensitif tubuh Marlina, dipadukan dengan efek alkohol koktail yang kian membakar kesadarannya, membuat seluruh pertahanan Marlina runtuh seketika. Rasa hangat yang menggelitik di perutnya mendadak berubah menjadi sengatan gairah yang tak tertahankan. Marlina menyerah, jemarinya yang gemetar perlahan naik dan meremas rambut tebal Rey, membalas ciuman lelaki itu dengan sisa-sisa kesadaran yang semakin mengabur. Rey membuka matanya sedikit, menatap lekat-lekat mata Marlina yang terpejam erat, menikmati setiap pagutan intens dan sentuhan dingin darinya. Sudut bibir sang CEO terangkat samar, menyadari bahwa ia telah memenangkan pergulatan batin sekretaris cantiknya malam itu. "Kau sangat manis, Marlina," gumam Rey pelan di sela pagutan mereka yang kian memanas. Merasa mendapatkan lampu hijau yang selama ini tersembunyi, lelaki itu membimbing langkah Marlina yang sudah lemas ke arah ranjang berukuran king size di tengah ruangan. Tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, Rey mendorong tubuh mungil Marlina hingga mereka berdua berguling di atas hamparan seprai putih yang lembut. Rey melepaskan ciuman mereka perlahan, menyisakan benang saliva yang langsung terputus seiring hembusan napas mereka yang memburu. Tanpa memberi waktu bagi Marlina untuk berpikir jernih, Rey mulai menundukkan kepalanya, menciumi leher jenjang Marlina dengan gigitan-gigitan kecil yang sensual, lalu bergerak turun menuju tulang selangka wanita itu. "Ah... Tuan Rey... Ah..." desah Marlina pelan, melengkungkan punggungnya saat sensasi menggelitik menyerang saraf-sarafnya. Bersamaan dengan itu, tangan kekar Rey bergerak ke atas, meremas dada bulat wanita itu dengan cengkeraman yang pas dan menuntut. Marlina kembali mendesah pelan, matanya semakin sayu, dan cengkeraman tangannya pada bahu kokoh Rey kian mengerat. Tak kuat lagi menahan gejolak hasrat yang semakin menggebu-gebu di dalam dada, Rey dengan sigap membalikkan posisi tubuh mungil wanita itu. Jemarinya yang tangkas mencari ritsleting di bagian belakang gaun hitam malam milik Marlina, menurunkannya dengan satu sentapan halus agar lebih mudah melucuti pakaian yang menghalangi pandangannya. Setelah berhasil menarik dress hitam itu hingga menumpuk di lantai, Rey menegakkan tubuhnya sejenak. Ia mulai membuka pakaiannya sendiri satu demi satu. Melempar jas mahal, dasi, dan kemejanya ke sembarang arah, menunjukkan bentuk tubuhnya yang begitu indah, tegap, dan sarat akan otot yang proporsional. Marlina menelan ludahnya kasar, menatap dengan mata membelalak saat melihat kejantanan lelaki itu yang begitu mengintimidasi di bawah remang lampu kamar hotel. Rasa takut mendadak menyergap sebagian kecil akal sehatnya yang tersisa. "Tuan... itu... saya takut..." rengek Marlina dengan wajah yang sedikit memucat, mencoba menggeser tubuhnya mundur ke ujung ranjang. "Sudah terlambat untuk mundur," sahut Rey dengan suara serak yang teramat seksi. Rey tidak menunggu lebih lama lagi. Ia merangkak mendekat, menarik pertahanan terakhir yang melekat pada tubuh wanita itu, lalu membuka kedua kaki mungil Marlina lebar-lebar di bawah kukungan tubuh tegapnya. Awalnya, Rey hanya memberikan gesekan-gesekan pelan yang menggoda di area sensitif Marlina, membuat wanita itu meremas seprai hotel dengan frustrasi. Namun, sedetik kemudian, satu dorongan kasar dan mantap dari Rey berhasil membuat milik lelaki itu masuk dengan sempurna, menembus batas kesucian yang selama ini dijaga erat oleh Marlina. "AAAARRGHH! Sakit! Tuan, sakit sekali!" Marlina menjerit kesakitan, air mata spontan meleleh di sudut netranya. Tubuhnya gemetar hebat merasakan sensasi yang begitu penuh, sesak, dan menusuk tajam hingga ke ujung rahimnya. Sementara itu, Rey mendongak, memejamkan mata rapat-rapat saat mengeluarkan suara desahan yang berat, serak, dan teramat seksi. Rasa hangat dan jepitan ketat yang ia rasakan hampir membuatnya kehilangan kendali dalam sekejap. Pria itu menunduk kembali, tangan kekarnya bergerak untuk meremas leher wanita itu pelan demi menyalurkan ketegangan, lalu ia mulai menggerakkan miliknya perlahan namun mematikan. "Sshh... diamlah, Marlina. Nikmati saja," bisik Rey, suaranya bergetar menahan pelepasan. "Nngghh... Tuan Rey... sakit... sakit sekali..." Marlina meremas lengan berotot lelaki itu sembari mendesah tak karuan. Rasa sakit yang menyiksa di awal perlahan-lahan terkikis, berganti dengan sensasi nikmat luar biasa yang aneh dan intens menyerang seluruh tubuh mungilnya. Melihat Marlina yang kian tenggelam dan semakin menikmati permainan panas yang ia ciptakan, ego dominan di dalam diri Rey kian melonjak. Ia mengubah posisi tubuh mereka agar tautan mereka semakin dalam, sembari mempercepat tempo permainannya secara drastis. Sentakan demi sentakan kasar yang dilakukan Rey membuat tubuh mungil Marlina berguncang hebat di atas ranjang. "Tuan... hentikan... saya... akh! Cukup..." rengek Marlina, memohon minta berhenti karena rasa nikmat yang terlalu kewalahan untuk ia tanggung, namun mulutnya justru terus mendesah tanpa henti, memanggil nama sang CEO berulang kali di kegelapan malam yang panjang itu. Keesokan paginya, keheningan kamar suite mewah itu perlahan terusik. Berkas-berkas sinar matahari yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden jendela yang besar, menyoroti kekacauan pakaian yang berserakan di atas lantai marmer. Cahaya hangat itu perlahan membangunkan Marlina dari tidur lelapnya yang teramat melelahkan. Marlina melenguh kecil, mencoba menggerakkan badannya. Namun, saat ia berniat untuk bangkit berdiri, sebuah rasa sakit yang teramat perih dan berdenyut di bawah sana langsung menyerang seluruh tubuhnya. Wanita itu memekik pelan, memegangi pinggangnya yang terasa luar biasa encok. Marlina terdiam, melamun sebentar memperhatikan langit-langit kamar hotel yang asing. Ingatan-ingatan tentang koktail pink, koridor VIP, umpatannya pada sang bos, hingga sentuhan-sentuhan panas yang terjadi di atas ranjang ini mendadak berputar cepat seperti kaset rusak di otaknya. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dengan perlahan dan perasaan cemas yang luar biasa, Marlina memberanikan diri melirik ke arah samping kanannya, menatap hamparan selimut tebal yang menggunduk. Detik itu juga, matanya langsung membulat sempurna, napasnya seolah terhenti di tenggorokan melihat sosok pria berwajah tampan yang masih tertidur pulas tanpa mengenakan busana sama sekali di sebelahnya. "Astaga, Marlina! Apa yang sudah kau lakukan?!""Bicaranya yang jelas, Rey!" bentak Baskoro Aldebaran, memukul meja makan berkayu jati ukiran Jepara hingga denting alat makan perak beradu nyaring. "Jangan cuma diam dan menatap ayahmu seperti itu!" Di meja makan megah berkapasitas dua belas orang yang kini hanya diisi oleh dua pria beda generasi itu, Rey Aldebaran duduk menegakkan punggungnya. Kemeja mewahnya masih melekat rapi, namun dua kancing atasnya sudah terbuka, menandakan kelelahan dan tingkat emosi yang menumpuk. "Lalu aku harus bicara apa, Ayah?" sahut Rey dingin, memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh penekanan. "Bukannya Ayah menyuruhku pulang hanya untuk mendengar titah mutlak yang sudah Ayah susun sendiri?" "Ini demi ekspansi Aldebaran Group ke Eropa!" tegas Baskoro, memajukan tubuhnya. "Dewan komisaris mulai mempertanyakan fokusmu. Belakangan ini caramu memimpin terlalu impulsif. Dan tadi siang... laporan dari orang-orangku bilang kau membuat keributan di kafetaria kantor cum
"Siapa, Tuan Rey?" tanya Marlina Navasya ragu, matanya menatap cemas pada rahang kokoh Rey Aldebaran yang tampak mengeras kaku. Rey tidak langsung menjawab. Pria tegap itu mengangkat teleponnya, menempelkan benda tipis bernilai puluhan juta itu ke telinganya tanpa melepas genggaman hangat jemarinya di tangan Marlina. "Ada apa lagi?" sapa Rey dengan suara bariton rendah yang teramat dingin, seolah sedang berbicara pada musuh bebuyutannya."Begitu caramu menyapa ayahmu sendiri, Rey?" suara berat dan berwibawa dari pria paruh baya di seberang telepon bergema halus, menyiratkan kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di kediaman utama. Kau harus pulang." "Aku sibuk," balas Rey singkat, hendak mematikan sambungan telepon tersebut. "Jangan mencoba bertindak lancang!" potong suara di seberang sana dengan nada menekan yang makin menajam. "Ini bukan sekadar makan malam biasa. Kita perlu membahas ekspansi bisnis ke Eropa dan laporan dewan komisaris
"Kalian sudah gila, ya?!" seru Marlina dengan napas memburu, menatap tajam keempat wanita yang masih mengepungnya di sudut pantri. "Mana ada hubungan apa-apa antara aku dan Tuan Rey! Kalian ini suka sekali mereka-reka cerita!" "Halah, alasan!" sahut Siska dengan nada mengejek, melipat tangan di depan dada. "Mana ada atasan yang mau-maunya menggendong sekretarisnya di atas bahu kalau cuma gara-gara urusan kantor! Jelas-jelas muka Tuan Rey tadi merah karena cemburu buta!" "Betul! Pipimu juga merah banget tuh, Marlina!" timpal Maya ikut memanas-manasi. "Ngaku saja, deh! Kalian sudah resmi pacaran, kan? Atau jangan-jangan... sudah tinggal bersama?!" Marlina merasakan darahnya mendidih seketika. "Kalian kalau bicara jangan asal, ya! Aku tidak punya hubungan spesial apa pun dengan Tuan Rey! Dan tolong, singkirkan tangan kalian dari jalaniku sekarang juga!" "Ih, ngambek, Guys!" cibir salah satu staf keuangan sambil tertawa kecil. "Tanda-tanda orang yang ketahuan menyembunyikan status nih
"Aku tidak mau lagi berpura-pura tidak dekat denganmu di kantor ini," cetus Rey Aldebaran tegas, menatap lurus sepasang mata bulat milik Marlina. Marlina Navasya yang mendengarnya seketika membelalakkan matanya kaget. "Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rey!" "Kenapa tidak mau?" tuntut Rey, alis tebalnya bertaut rapat dengan raut wajah yang mulai mengeras. "Saya tidak mau jadi bahan gosip satu gedung ini!" sembur Marlina tajam, emosinya yang baru saja mereda mendadak tersulut kembali. "Saya tidak mau dipandang sebagai wanita gatal yang menggunakan posisinya untuk menggoda atasannya sendiri! Anda pikir enak berada di posisi saya, hm?!" Rey menatap Marlina dengan tatapan yang sangat masam. Pria tegap itu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, lalu bersedekap dada sembari bergumam dengan nada cemburu yang begitu kentara. "Bilang saja kau memang sengaja ingin tetap lajang di mata orang-orang kantor, kan?" celoteh Rey sinis dengan suara pelan namun sangat jelas terdengar. "Supaya kau bi
"T-Tuan Rey, tolong lepaskan tangan Nona Navasya," panggil Yoga memberanikan diri, melangkah maju satu langkah sembari menatap takut-takut pada sang CEO. "Nona Navasya tampak kesakitan, Tuan." Rey Aldebaran memutar kepalanya perlahan. Sepasang netra kelabunya yang sedingin es mengunci lurus pada staf IT muda itu dengan kilatan membunuh yang amat pekat. "Kau mau ikut campur dalam urusanku, Yoga?" tanya Rey dengan suara bariton rendah yang sanggup membekukan seluruh aliran darah orang yang mendengarnya. "Saya cuma kasihan pada Nona Navasya, Tuan—" "Mulai hari ini kau dipecat," potong Rey singkat, datar, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Kemas barang-barangmu dari divisi IT sekarang juga dan keluar dari gedungku sebelum jam satu siang." Suara pekikan kaget dari puluhan karyawan yang menyaksikan adegan itu seketika pecah membelah keheningan kafetaria. Semua orang saling berbisik panik melihat kejamnya keputusan sang atasan. "T-Tuan Rey! Jangan gila!" teriak Marlina Navasya tidak teri
"Anda benar-benar keterlaluan, Rey!" cetus Marlina Navasya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Rey Aldebaran masih bersandar santai di bantal ranjang penthousenya, menatap wanita bertubuh mungil itu dengan alis terangkat tipis. "Keterlaluan bagaimana? Aku hanya menegaskan batasan, Marlina." "Batasan?!" pekik Marlina melompat turun dari kasur, membiarkan selimut tebal itu meluncur jatuh. "Anda mengancam akan menghancurkan karir orang lain hanya karena dia berbicara pada saya! Anda pikir Anda siapa, Rey?! Anda merasa punya kekuasaan penuh untuk mengatur hidup saya dan memperlakukan saya seperti barang milik Anda?!" "Kau memang milikku, Marlina," sahut Rey datar, nada suaranya begitu arogan tanpa penyesalan sedikit pun. Marlina tertawa hambar, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa kecewa dan kesal yang memuncak. Tanpa memedulikan tatapan Rey yang tertegun, Marlina meraih pakaian kerjanya yang tersangkut di kursi, lalu memakaikannya kembali ke tubuhnya denga
Sepanjang perjalanan menuju lokasi meeting, Rey beberapa kali meliriknya dari sudut mata. Setiap kali Marlina menyadarinya dan menoleh, Rey langsung mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke luar jendela.Saat tiba di lobi hotel tempat pertemuan, Rey berjalan sedikit lebih cepat, lalu tiba-tiba be
Sejak beberapa hari terakhir, Marlina mulai sadar bahwa Rey selalu punya cara untuk menyentuhnya, entah sengaja atau tidak. Dia memutuskan untuk tidak memberi reaksi. Jika Rey ingin bermain, dia tidak akan menjadi pihak yang kalah.Pagi ini, saat Rey memanggil ke ruangannya, Marlina hanya berdiri t
Udara malam menusuk kulit saat mereka keluar dari restoran. Satu per satu pegawai berpamitan, sebagian memilih naik taksi, sebagian diantar temannya. Rey berjalan pelan ke arah mobilnya, lalu menoleh. "Marlina." Suara itu datar, tapi ada sesuatu yang memaksa Marlina berhenti. "Ya, Tuan Rey?""A
"Wah, lihat ini. Kenapa aku gelisah sekali." Mata lelaki tampan itu nampak gelisah. Menjaga jarak ternyata bukan hal yang mudah. Awalnya Rey pikir, mengikuti saran Marlina akan meredakan gosip. Nyatanya, itu hanya membuatnya gila. Setiap kali dia keluar dari ruangannya dan melihat Marlina terta







