Mag-log inAcara dilanjutkan dengan ramah tamah dan santap siang bersama. Para tamu undangan melangkah mendekat secara bergiliran untuk memberikan ucapan selamat secara langsung kepada pasangan tersebut. Dokter Maya bersama beberapa pimpinan rumah sakit yang turut diundang melangkah mendekati Althea. "Selamat ya, Nyonya Althea, Tuan Kael. Perkembangan Tuan Muda Kalathea betul-betul sangat pesat dan sehat." "Terima kasih banyak, Dokter Maya," balas Althea ramah. "Ini semua juga berkat penanganan cepat dari tim dokter waktu itu." "Tuan Muda betul-betul mewarisi ketenangan Tuan Kael," puji Dokter Maya seraya memperhatikan Kalathea yang masih tertidur nyenyak meski suasana aula cukup ramai oleh cicitan suara tamu. "Suasana ramai begini sama sekali tidak membuat dia terbangun." Kael yang berdiri di samping Althea mengulas senyum tipis. "Dia tahu kalau dia ada di dalam lingkungan yang aman, Dokter." Sementara itu, dari sudut ruangan lain, Pak Setya—tetua keluarga yang sempat datang di tengah
Pagi hari di mansion utama Dirgantara disambut oleh cuaca yang sangat cerah. Sinar matahari hangat menerobos masuk melalui jendela-jendela besar berpanel kaca di aula lantai satu. Aroma wangi bunga melati dan mawar putih segar memenuhi seluruh sudut ruangan, menciptakan suasana yang teduh dan sakral. Di area aula tengah, dekorasi sederhana namun sangat elegan telah ditata rapi. Sebuah panggung kecil berlapis karpet putih tebal berdiri di dekat podium kayu jati, dikelilingi oleh susunan kursi-kursi berbalut kain beludru krem. Tidak ada spanduk megah atau hiasan mewah yang berlebihan, hanya susunan bunga segar dan pencahayaan hangat yang menenangkan. Kael berdiri di dekat tangga utama, mengenakan kemeja katun putih polos yang digulung rapi hingga ke siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang pas di tubuhnya. Pria itu sibuk mendengarkan laporan dari Bayu yang berdiri di sampingnya membawa daftar tamu undangan. "Seluruh tamu undangan yang hadir sesuai dengan daftar khusus yang
Suasana malam di mansion utama Dirgantara terasa sangat hening dan damai. Jam dinding kayu jati di lantai dua menunjukkan pukul dua dini hari. Pendar lampu tidur berwarna kuning hangat menerangi sebagian sudut kamar tidur utama.Althea terbangun pelan saat mendengar rengetan halus dari samping tempat tidur. Wanita itu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, namun rasa lelah pascapersalinan masih membuat gerakannya agak lambat.Sebelum jemari Althea sempat menyentuh tepi selimut, sosok tegap di sampingnya sudah bergerak lebih dulu. Kael langsung membuka matanya, bangkit dari posisi berbaring tanpa suara sedikit pun, dan berdiri tegak di samping ranjang."Kael... kamu belum tidur?" bisik Althea seraya mengusap matanya yang masih agak berat."Aku cuma tidur ayam, Althea," pangkas Kael rendah. Pria itu menyapu rambut halus di kening istrinya dengan jemari tangannya. "Kamu berbaring saja. Biar aku yang lihat Kalathea."Kael melangkah pelan menuju boks bayi kayu jati yang terletak tepa
"Semua perlengkapan dan nutrisi tambahan Nyonya Althea sudah dimasukkan ke dalam mobil pertama, Tuan Kael," lapor Bayu seraya merapikan dokumen medis di atas meja. Kael mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Althea. Pria itu sibuk mengancingkan mantel hangat berwarna krem pada tubuh istrinya, memastikan tidak ada celah udara dingin yang bisa menyentuh kulit Althea. "Kamu tidak perlu memakai mantel setebal ini, Kael," ujar Althea seraya tersenyum tipis. "Aku sudah merasa sangat sehat." "Udaranya cukup kencang di luar, Althea," pangkas Kael lembut namun tak terbantahkan. Tangannya merapikan kerah mantel Althea dengan sangat hati-hati. "Aku tidak mau kamu terkena angin sebelum masuk ke dalam mobil." Perawat senior melangkah mendekat seraya menyerahkan Kalathea yang sudah terbungkus rapi dengan kain bedong lembut bermotif awan. "Nyonya Althea, Tuan Kalathea siap untuk dibawa pulang. Semua indikator kesehatannya sangat prima." Althea mengulurkan kedua tangannya dengan si
Kael kembali memasuki kamar utama lantai dua setelah memastikan seluruh rombongan utusan asing tersebut benar-benar telah dikawal keluar dari area gerbang luar. Suasana kamar tidur kembali tenang dan hangat. Pendar lampu sudut memantul lembut di atas boks inkubator transparan. Saat Kael melangkah mendekati ranjang, Althea rupanya sudah terbangun dari tidurnya. Wanita itu duduk bersandar di atas bantal, matanya yang agak sembab menatap lurus pada Kael dengan raut wajah khawatir. "Kael..." panggil Althea pelan, suaranya terdengar agak serak. Kael seketika mempercepat langkahnya, duduk di tepi ranjang dan merangkul bahu Althea dengan lembut. "Kenapa bangun, Sayang? Suara di bawah mengganggu tidurmu?" Althea menggelengkan kepala, meraih tangan besar Kael yang ada di bahunya dan memeganginya erat-erat. "Aku terbangun saat kamu tidak ada di sampingku. Siapa yang datang malam-malam begini, Kael? Aku dengar suara mobil banyak di luar." Kael mendesah pelan, menundukkan kepala untuk menge
Kael tidak mengalihkan pandangan matanya dari wajah Althea yang tertidur lelap di dadanya. Tangan besarnya menepuk-nepuk pelan bahu istrinya, memastikan Althea tidak tersentak oleh kedatangan Bayu di tengah malam. "Berapa banyak orang yang mereka kirim?" tanya Kael dengan suara sangat rendah, hampir seperti bisikan tajam yang bergetar dingin di udara. Bayu melangkah lebih dekat, menundukkan kepalanya. "Ada empat mobil berisi perwakilan pengacara internasional dan dua anggota dewan komisaris cabang London, Tuan. Mereka memperkirakan akan mendarat di pelataran depan dalam waktu sepuluh menit." Kael mengulus senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin. "Mereka pikir pendaratan di tengah malam bisa membuatku lengah?" "Tim pengamanan luar sudah bersiaga di gerbang utama, Tuan Kael," lapor Bayu sopan. "Apakah Anda mau saya menahan mereka di luar gerbang besi?" "Tidak usah," pangkas Kael tegas. Pria itu menyandarkan kepala Althea di atas bantal empuk dengan kehati-hatian yang luar bia
Lampu koridor kantor mulai dimatikan satu per satu, meninggalkan lorong panjang yang semakin dingin dan sepi. Hanya cahaya redup dari emergency light yang tersisa, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Zayyan muncul tepat di saat suasana itu paling hening. Ia tidak langsung mendekat.
Pagi itu Althea sudah siap berangkat lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan pintu utama dengan penampilan rapi dan profesional, tas kerja di tangannya, sementara sopir sudah menunggu di dekat mobil. Suasana rumah masih tenang sampai suara mesin mobil lain terdengar dari luar gerbang. A
Althea baru saja menyelesaikan percakapan singkat dengan Kael ketika suara langkah sepatu yang familiar terdengar mendekat dari arah koridor. Ia menoleh sekilas dan mendapati mamanya Zayyan sudah berdiri di dekat mereka dengan senyum yang terlihat dibuat sehangat mungkin.“Wah ada Kael di sini, apa
Althea tetap duduk di kursi Zayyan. Map di tangannya masih terbuka. Matanya bergerak lebih lambat sekarang, karena setiap baris angka yang ia baca mulai membentuk pola yang terlalu jelas untuk diabaikan. “Dana ini keluar sebelum perusahaan hampir kolaps,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan







